
Merasa ada yang aneh dengan teman akrabnya, Dina memutuskan untuk pergi ke rumah Revi. Setibanya di sana, responnya memang biasa tetapi ada sesuatu yang sepertinya dirahasiakan oleh temannya, bahkan ia juga langsung menanyakan seberapa jauh hubungan Dina dengan Hilmi, apa si cowok ini sudah mengungkapkan perasaannya dan mereka jadian. "Eh apa sih rev, kita itu cuma temenan, gak ada pengungkapan dan acara jadian-jadian. Emang kenapa sih?" tanya Dina sedikit curiga. "enggak papa sih, cuma aneh aja, dulu dia pernah ungkapin perasaannya ke aku, tapi sekalipun gak pernah ke rumahku. Trus sekarang gak ada ungkapan rasa ke kamu tapi langsung ke rumah kamu". Mendengar jawaban itu, Dina sedikit janggal dan pastinya ia memiliki rasa cemburu, namun ia mencoba tenang, "Mungkin dia malu karena ada rasa ke kamu, kalo sekarang kan gak ada rasa ke aku jadi dia santai dan menganggap sebagai teman biasa" jawab Dina. "Eh rev, aku pamit dulu ya, tadi lupa punya cucian banyak" Dina pun pamit pulang karena situasi di sana sepertinya kurang mendukung.
__ADS_1
Setibanya di rumah, Dina pun masih mengingat-ingat perkataan Revi tadi (masak iya, Revi gak suka kalo aku dekat dengan Hilmi? Kan dia sendiri yang ngenalin aku?) batinnya. Kemudian ia membuka ponselnya, ada pesan masuk dari Hilmi, "Lagi apa din?", "baru pulang dari rumah Revi" balasnya. "oh, udah makan belum?" (tumben perhatian, nanyain makan, gumam Dina) "udah" dijawabnya.
__ADS_1
Suatu hari, Dina lagi-lagi mendapatkan kejutan dari Hilmi, yang pertama datang tiba-tiba, kalau sekarang tiba-tiba menanyakan tentang perasaan. "Din, menurut kamu, aku gimana sih?" tanyanya basa basi, "emm gimana ya, biasa aja" jawab Dina santai, "kalo kamu dapat cowok kayak aku suka nggak?" tanyanya mulai serius, "hehe, enggak tahu ya", "emm jangan bilang gak tau, aku serius din"
__ADS_1
Hilmi pun melakukan panggilan suara ke Dina, "Halo, assalamualaikum" suara Hilmi di balik telepon. "Wa'alaikum salam" timpal Dina. "Mau ngomong apa Hil, kayaknya serius banget?" "Dengerin baik-baik ya, hehe" jawabnya "iya pak guru" "sebenarnya aku suka sama kamu, tapi bukan berarti sekarang aku ngajak kamu pacaran dan kita jadian seperti kebanyakan anak remaja sekarang", "terus?" sahut Dina, "emm gimana ya, kamu sebenarnya juga ada rasa nggak sih sama aku? jujur ya jawabnya", Dina pun terdiam karena bingung dan malu saat ingin menjawabnya, sebenarnya dia juga suka sama Hilmi, tetapi malu mengungkapkannya "hmm.. gimana yaaa" jawabnya. "oh ya udah deh, gak dijawab juga gak papa kok" "Jangan gitu dong Hil, sebelum aku jawab, aku mau tanya, memangnya kamu suka sama aku karena apa?" tanya Dina, "aku suka kamu karenaa... ya gimana ya, rasa itu memang ada tapi tak bisa diungkapkan dengan kata-kata din" jawabnya, "ya mungkin kamu gak percaya dengan apa yang aku katakan, karena kita juga baru saja kenal..(belum juga selesai ngomong, tiba-tiba ponselnya mati karena baterai sudah melemah, sehingga ia harus mencharge terlebih dahulu. Sementara Dina, mengira bahwa Hilmi marah karena dirinya belum juga memberi jawaban.
__ADS_1