
"Loh, kok mati? apa jangan-jangan Hilmi marah ya, karena belum aku beri jawaban yang pasti" gumamnya. Dina pun mengirimkan pesan ke Hilmi untuk menanyakan mengapa teleponnya dimatikan. "Kok telponnya dimatiin, kamu marah Hil?" tulisnya. "Hilmi...."
"Hil.. kamu marah kah?"
"Balas dongg". Dina terus-terusan mengirimkan pesan untuk memastikan bahwa Hilmi tidak marah kepadanya. Karena tidak kunjung mendapatkan balasan, akhirnya Dina hanya bisa menunggu.
__ADS_1
Setelah beberapa jam kemudian, ponsel Hilmi tak berhenti berbunyi, pasalnya mendapatkan banyak pesan dari Dina. Ia pun langsung mengirimkan pesan balasan untuk memberitahu apa yang terjadi, "Din, maaf ya, tadi baterai ponselku low, jadi langsung mati gitu aja, trus langsung aku charge, dan ini baru penuh, maaf ya" "Aku nggak marah kok" imbuhnya.
Mendengar ponselnya berbunyi tanda pesan masuk, Dina bergegas membukanya, karena dari tadi menunggu balasan Hilmi, "huhh.. lega, akhirnya dia membalas pesanku dan dia tidak marah" gumamnya. "Aku kira tadi kamu marah gara-gara aku belum menjawab pertanyaan kamu tadi" balasnya. "Enggak kok, aku gak marah. Kan itu terserah kamu, aku gak maksa, yang penting aku udah berkata jujur, selebihnya terserah kamu." "Tapi jika mungkin kamu juga memiliki perasaan yang sama, aku ingin mengajak kamu ke jenjang yang lebih serius (nikah)" "Nikah?" ulang Dina.
"Emm, aku faham kok, mungkin kamu belum sepenuhnya yakin sama aku karena kita baru kenal. Tapi, aku hanya ingin menghindari fitnah, daripada kita nanti hanya chatan terus dan lama-lama saling suka, cinta dan akhirnya pacaran, kan kita sendiri yang rugi. Jadi aku hanya ingin kita dekat tanpa ada fitnah dan pintu menuju zina." "Bukannya aku sok gimana ya, aku gini juga gara-gara aku suka sama kamu, aku gak mau nantinya malah bisa menjerumuskan kamu, faham kan maksud aku?" tambahnya.
__ADS_1
(Emm bener juga ya, tapi kalau ke jenjang serius aku mana siaap, aku masih terlalu kecil, umurku masih 20 tahun, ya meskipun dia lebih tua dari aku tapi karena wajahnya kayak seumuranku, tapi gimana ya) batinnya bingung. Ia pun membalas pesan Hilmi, "ya, gimana ya, kayaknya aku belum siap, aku belum bisa apa-apa, masak pun belum mahir, dan pokoknya serba kekurangan, bahkan aku gak sepintar kamu serta bukan wanita sholihah. Sepertinya aku gak akan masuk kriteria yang kamu inginkan" ujarnya. "
"Semua orang pastinya memiliki kelebihan dan kekurangan, kalo untuk masalah masak itu bisa kita coba lakukan bersama, nanti lama-lama kamu juga bisa. Dan untuk sholihah, kamu mau taat dan nurut sama suami aja udah cukup. Kita sama-sama mencari ridho Allah, manusia sendiri juga gak akan bisa mengukur tingkat kesholihahannya, kecuali penciptanya". Jawab Hilmi.
Sebenarnya Dina udah yakin sama Hilmi, tapi ia malu dengan masa lalunya, ia pun bingung mau menceritakan kisah suramnya, ia takut saat Hilmi mengetahui semuanya, ia malah gak suka, dan gak mau dekat-dekat lagi dengan Dina. "Tapi,, gak tau deh, belum bisa jawab sekarang" balasnya (ia pun menangis).
__ADS_1