Gadis Yang Ternodai

Gadis Yang Ternodai
Episode 06


__ADS_3

Di pagi hari, Dina terlihat pucat karena semalam dia tidak bisa tidur setelah kejadian tersebut. Melihat Dina yang tidak seperti biasanya, Sulis memberikan perhatian. "Mbak kok pucat? Mbak Dina sakit ya?" tanyanya. "Enggak kok lis, mungkin cuma kecapekan aja, kemarin gak bisa tidur, hehe". "Pasti mbak Dina kangen rumah ya?" ledeknya. "Mungkin seperti itu.." jawabnya dengan tersenyum. Mendengarkan percakapan tersebut, Amar langsung menghampiri mereka, "Dina sakit?" tanyanya. "Iya, katanya kemarin gak bisa tidur, kangen bapak sama ibunya" jawab Sulis. "Aku tanya ke Dina, malah kamu yang jawab tanpa jeda". "Biarin lah, sewot amat. Ya udah ah, aku mau pergi keluar, main sama teman. Cepat sembuh ya kak Dina" ujarnya dan meninggalkan mereka berdua di kamar.

__ADS_1


"Kamu kepikiran kejadian tadi malam?" tanya Amar. Dina hanya terdiam. "Maafkan aku ya" ucap Amar sembari mendekat, Sontak Dina langsung menjauh dan memberanikan diri untuk bertanya kapankah dirinya diantar pulang. "Kapan paman antar Dina pulang?", "Minggu depan" jawabnya dengan santai. "Dari kemarin minggu depan terus, tapi nggak berangkat-berangkat". "Kali ini serius, minggu depan aku antar kamu pulang" ujar Amar meyakinkan. "Tapi ada syaratnya" tambahnya. "Apa?"

__ADS_1


"selama satu minggu sebelum pulang, aku tidur di kamar ini bersamamu. Ini kan kamarku, jadi aku bebas tidur disini". Dina bingung harus jawab apa, namun jika tidak diiyakan, maka ia tidak akan bisa pulang untuk selamanya. "I-iya" jawabnya ragu. "Aku tidak akan macam-macam. aku hanya ingin tidur di kamarku, karena di luar dingin" alasan Amar.

__ADS_1


Hari demi hari ia lewati dengan tangisan dan keterpaksaan, ini tak seperti yang diharapkan sebelumnya, dimana tujuannya ingin mencari ketenangan, kini harus menerima kesengsaraan yang mendalam. Satu minggu berlalu dengan perlakuan yang sama, kini akhirnya ia segera diantarkan pulang. Namun, sehari sebelum Dina pulang, Amar kembali melancarkan aksinya untuk memuaskan nafsunya. Dimana, malam itu saat terakhir tidur bersama Dina, ia tak bisa menahan dirinya, selain memeluk dan mencium bibir gadis malang itu, ia juga mulai meraba paha Dina, dan menuju ke alat kelaminnya. Amar tidur di atasnya dan hendak memasukkan alat kelaminnya, namun dengan usaha keras Dina, ia berhasil menghalanginya dan menangis tak ingin itu terjadi. "Paman, tolong jangan lakukan itu. Aku keponakanmu" pintanya. "Aku gak peduli, aku cinta kamu, aku sayang kamu. Kamu harus jadi milikku" "Enggak paman, jangaaaan" rintihnya sembari menutupi alat kelaminnya. Meskipun Amar terus memaksanya dengan keras, Dina juga dengan keras menghalanginya, dan ia berlari menuju kamar Sulis yang tidur satu kamar dengan ibunya. Sehingga Amar akan berani mendekati dan tidak bisa memaksanya lagi, "eh mbk Dina, ada apa mbak?", tanya Sulis yang terbangun. "Nggak apa-apa, aku tidur disini ya, kan besok aku pulang, jadi aku ingin tidur bersama kalian" jawab Dina. "Oh iya, sini-sini, mbak tidur di tengah ya" ujar Sulis. Akhirnya Dina merasa lebih tenang, meskipun harus tidur bertiga bersama Sulis dan ibunya.

__ADS_1


__ADS_2