
Jika mukjizat itu ada. Suatu hari takdir akan mempertemukan kita berdua kembali. Sejauh langit dari Bumi. Sekarang Ingatan ku akan sosok mu tidak akan ku lupakan semudah itu. Gadis dengan rambut emas bergelombang seperti helaian bulu domba. Bahkan senyum mu dapat membuat ku yang sekarat menunggu kematian. Hidup Kembali ....
**
Sore itu Tommy terbangun di sebuah kamar yang berukuran tiga kali empat meter. Dia terduduk diatas ranjang sambil memegang kepala yang terasa pusing. Beberapa flashback tiba-tiba tergambar dalam ingatan. Dia yang baru saja mengalami tabrakan hebat bahkan bingung sekarang, karena terbangun di kamar tidur lamanya.
Memperhatikan seluruh tubuh tetapi, tidak ada tanda-tanda mengalami luka. Bahkan goresan yang paling ringan sekalipun. Semakin pusing memikirkan semua kejadian yang dia alami sekarang.
Beberapa flashback mulai terjadi lagi. Tergambar dalam ingatan dan datang bertubi-tubi. Saat ini rasa takut datang menyelimuti.
Sebab dia menyadari kondisi tubuhnya tidak lagi setua dulu. Segera dia berlari ke sebuah cermin besar yang ada di pojok kamar.
Terkejut melihat kondisi tubuh yang sekarang berada di tubuh yang berbeda. Karena tubuh ini adalah tubuh mudanya saat masih berada di umur belasan tahun. Merasa semua tidak masuk akal atas kejadian yang dia alami.
Tommy mulai menarik nafas dalam-dalam dan mencoba menenangkan diri. Dia kembali duduk di ranjang dan memejamkan mata. Mengingat semua kejadian yang masih jelas terekam di kepalanya.
Dalam ingatan yang dia miliki, dia adalah seorang pria berusia tiga puluhan. Merupakan lulusan terbaik dari salah satu Universitas Teknik di Negeri Paman Sam beberapa tahun lalu, yang berpusat di Cambridge.
Setiap mata kuliah dan pelajaran yang dia terima, jelas masing dia ingat dengan baik. Beberapa penelitian dan pencapaian luar biasa yang dia lakukan bersama teman-temannya pun. Masih ada di kepalanya sekarang. Bahkan sampai kejadian kecelakaan waktu itu.
Tommy sadar bahwa baru saja mengalami kecelakaan yang mungkin dapat membuat dia tidak bisa selamat.
Wajah terakhir yang ada di ingatannya adalah sebuah wajah cantik perempuan bule yang sedang berusaha menolong. Perempuan itu seorang dokter yang mencoba mengevakuasi dirinya dan memberikan pertolongan pertama.
Namun naas bagi Tommy dalam perjalanan menuju Rumah Sakit terdekat. Dia sudah tidak terselamatkan.
Tetapi kenyataan yang dia hadapi sekarang berkata lain. Semua itu hanya berada di dalam ingatannya sekarang.
Kenyataan lain juga kembali membangunkan Tommy dari lamunan dan khayalan.
Teriakan Sang Ibu terdengar keras memanggil dia dari luar kamar. Suara tersebut membuat dia tersadar kembali. Dengan segera Tommy melangkah kan kaki ke pintu kamar dan membuka Pintu tersebut.
Rumahnya berbahan kayu sederhana yang banyak terdapat di Indonesia. Masih jelas di dalam ingatan. Tentang rumahnya yang dulu merupakan tempat terhangat di Planet Bumi ini. Dimana dia mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya dan sambutan hangat dari kedua adiknya.
“Mungkin ini adalah yang terbaik. Kembali ke masa muda lagi” ucap Tommy lirih dalam hati.
Tommy Orlando itulah nama yang diberikan kepadanya. Saat ini dia sedang memandangi Sang Ibu dengan penuh rasa haru.
Sang Ibu terlihat masih sangat muda. Dengan segala kecantikan yang tersisa di ingatan Tommy.
“Nak, kenapa memandang mama seperti itu? memangnya kamu kangen banget ya sama mama, sampai-sampai terharu begitu melihat mama”
Perkataan itu kembali menyadarkan Tommy akan kenangan tentang Ibunya. Tempat dihari dia mengalami kecelakaan.
Hari itu juga merupakan setahun memperingati hari kematian ibunya tersebut. Membuat dia sekarang penuh rasa haru dan rindu yang mendalam kepada sosok wanita di usia akhir empat puluh tahunan tersebut.
Dia langsung memeluk Sang ibu. Akan tetapi beberapa flashback mulai tergambar kembali. Tommy sangat yakin itu bukan bagian dari ingatan miliknya. Melainkan flashback kehidupan dari ibunya sendiri.
Dengan cepat dia melepaskan pelukan tersebut. Karena baru beberapa detik memeluk ibunya. Tommy mencoba mengalihkan pembicaraan dengan menanyakan ayahnya, agar tidak membuat Sang Ibu kecewa.
“Mah, Papah dimana?”
“Kamu mencari papah mu?”
“Ya mudah saja, dia sedang di kamar seperti biasa bermalas-malasan sambil nonton TV.”
Dia segera membuka gorden kamar kedua orang tuanya dan melangkah masuk kedalam. Dengan segera dia memeluk sang ayah. Karena rasa rindu yang mendalam kembali merasuki dirinya.
"Hey nak apa yang kamu lakukan" ujar ayahnya heran terhadap kelakuan aneh anaknya itu hari ini.
Namun sekali lagi sebuah flash back kembali terjadi. Kali ini bukan perasaan rindu yang mendalam yang ingin dia lepaskan kepada kedua orang tuanya tersebut.
Tetapi malah sebuah perasaan yang tidak masuk akal, karena bisa melihat semua memori dan flashback kehidupan kedua orang tuanya itu.
Semua itu dia rasakan dengan jelas dan seolah-olah Tommy juga mengalami semua kejadian-kejadian dalam ingatan kedua orang tuanya.
Dia yang terkejut akan semua itu. Segera mencari alasan untuk masuk ke kamar dan mengurung diri disana.
Di dalam kamar yang sekarang tertutup rapat, Tommy kembali mencoba memahami setiap detail beberapa ingatan yang sekarang juga ada di kepalanya.
Setelah semua yang dia alami sekarang. Sebuah pemikiran mengaitkan semua itu.
“Oke, oke... jika Time Travel yang ku alami adalah sebuah keanehan, aku bisa menerimanya dengan baik, tapi apalagi ini.”
“Semacam kekuatan kah? sehingga aku bisa mengalami setiap memori milik orang lain” ucap Tommy dalam hati.
Setelah makan malam dia memilih untuk mencatat semua yang dia alami itu kedalam sebuah buku. Mencoba mengurai kejadian-kejadian yang pernah dia juga alami dulu. Dia mengambil beberapa kesimpulan berdasarkan tulisan-tulisan yang telah dia buat.
Jika Tommy melakukan sentuhan fisik kepada orang lain dalam waktu satu jam dan dalam jarak maksimal dua meter. Dia bahkan bisa mendengarkan perkataan dan pikiran orang yang dia sentuh.
Bahkan teori ini sudah dia coba beberapa kali malam itu, saat makan malam dengan keluarganya.
Dan jika telapak tangannya bersentuhan dengan kulit orang lain selama 1-3 detik. Dia bisa mengambil semua memori dan kejadian yang di ingat orang tersebut sebagai bagian dari memorinya sendiri.
Kemampuan aneh yang dia miliki tersebut tidak berakhir hanya sampai disitu.
Kemampuan paling kuat yang dia miliki adalah sesuatu yang mirip dengan istilah Hyperthymesia Syndrome atau Highly Superior Autobiographical Memory (HSAM).
Artinya, dengan kemampuan ketiga ini dia dapat dengan mudah mengingat semua kejadian yang dia alami secara langsung, seperti saat dia sedang membaca, belajar, bermain, atau hanya menjalani kehidupan sehari-hari.
Tetapi jelas kemampuan ketiga ini tidak serupa dengan sindrom HSAM. Karena dia bisa memutar dan mengulang semua kejadian di ingatannya tersebut dengan mudah.
Seperti sebuah folder di komputer. Dia hanya perlu memencet Play Button di ingatannya.
Namun, jika dia tidak berkonsentrasi dan mencari ingatan tersebut juga menekan tombol Play Button. Dia bahkan bisa melupakan ingatannya itu, seperti sebuah folder yang jika tidak dibuka tidak akan kita ingat isi di dalamnya.
Malam itu dengan Analisa dan Hipotesis sederhana yang telah dia buat dalam beberapa kesimpulan, Tommy mulai merancang masa depan di kehidupan keduanya ini.
**
Udara pagi dingin sekarang berhembus melalui ventilasi kamar. Tommy yang sedang asyik melanjutkan tidurnya, menarik selimut semakin ke atas.
Menikmati udara sejuk yang dapat membuat semua orang betah tinggal berlama-lama di ranjang.
Tetapi pagi ini dia bahkan tidak bisa bermalas-malasan dan bangun kesiangan, Sang ibu terus saja menggedor pintu kamar, menyuruhnya untuk segera mandi dan sarapan, karena dia harus pergi ke sekolah.
Sang ibu tidak mau anaknya itu terlambat masuk sekolah hari ini, Sebab hari ini adalah hari pertama bagi anaknya untuk belajar di Sekolah Menengah Atas.
Dengan malas dia pun bangun dari tempat tidur dan bersiap berangkat ke sekolah, tidak seperti anak-anak zaman sekarang, yang pergi menggunakan sepeda motor bahkan mobil ke sekolah.
Dia pergi ke sekolah dengan berjalan kaki beberapa kilo meter, tetapi bagi Tommy ini adalah pengalaman yang luar biasa yang bisa dia ingat dan dia alami kembali.
Mungkin karena di zaman itu kendaraan masih sangat mahal dan sangat sedikit diproduksi, belum lagi akses jalan yang belum merata di semua tempat. Jika pun ada memiliki sebuah kendaraan jelas dia mungkin menggunakannya.
Dengan semangat membara dia pergi dengan mantap ke SMA barunya tersebut, sebab dalam ingatan Tommy hari ini adalah hari dimana dia kembali bisa bertemu dengan Cinta Pertama nya di SMP.
Tiba di sekolah tepat waktu, dia segera memilih tempat duduk seperti layaknya orang-orang yang baru masuk sekolah.
Tommy jelas memilih tempat duduk paling depan dan berada di pojok kanan ruang kelas, karena dekat dengan pintu keluar.
Alasannya sederhana, sebab jika dia memilih tempat duduk paling depan dia bisa menyerap pelajaran dengan mudah dan dipaksa fokus memperhatikan guru yang mengajar. Selain itu dia juga bisa merasakan semilir angin dari pintu kelas yang terbuka lebar sehingga tidak akan sering kepanasan saat belajar.
Karena hari ini adalah hari senin maka semua siswa harus mengikuti Upacara Bendera, jadi semua orang di ruangan kelas pun bersiap dan melangkah ke lapangan sekolah.
Disana Tommy dipilih rekan-rekannya sebagai pemimpin barisan untuk kelasnya tersebut. Sebab bagi mereka tubuh Tommy yang tinggi dan terlihat gagah sangat cocok sebagai perwakilan kelas IC yang mereka masuki sekarang, belum lagi wajah Tommy yang juga menarik.
__ADS_1
Hari itu bahkan tidak mendung namun sedikit berangin, Tommy dengan gagah berdiri di pojok kanan paling depan di barisan kelasnya.
Seperti biasa semua pimpinan barisan yang ditunjuk maju ke depan untuk memimpin dan merapikan barisan sebelum upacara dimulai.
Tommy pun melangkah ke depan barisan bersama dengan pimpinan barisan dari kelas-kelas lainnya.
“Siap Grak, Setengah lencang kanan Grak..”
Suara Tommy juga terdengar lantang dan kuat merapikan barisan yang dia pimpin. Tetapi tepat pada saat itu sebuah Angin Kencang bertiup di lapangan sekolah mereka.
Bahkan kejadian itu menyebabkan beberapa rok anak perempuan lain terangkat, namun bagi Tommy saat itu yang ada di matanya hanyalah sesosok gadis cantik yang berdiri di deretan Kelas IA.
Anehnya sebuah gerakan slow motion terjadi, kejadian itu pun nyata di kehidupannya sekarang.
Rambut hitam menjuntai sampai bahu bergerak perlahan terlihat karena di tiup angin, membuat wajah cantik gadis yang dia pandang tertutup oleh rambut indah tersebut.
Wajah yang oval menyeruak sempurna dengan kulit putih mulus perlahan terlihat di mata Tommy.
Gadis cantik itu membetulkan rambut yang sekarang acak-acakan akibat tiupan angin. Adegan yang tidak bisa dipercepat itu membuat jantungnya semakin berdetak kencang melihat gadis tersebut.
“Ketua Kelas IC...”
“Pimpinan Barisan Kelas IC...”
Pandangan Tommy seperti elang yang siap menerkam target. Mengunci target tersebut dan siap untuk di mangsa. Dia tidak sadar bahwa kejadian hari ini adalah kejadian pertama paling memalukan bagi sejarah hidupnya.
“Pimpinan Barisan Kelas IC”
“Hey, murid yang masih berdiri didepan, segera kembali ke barisan,” Teriakan peringatan lantang dari seorang guru terdengar semua orang di sekolah itu.
Lamunannya terganggu. Tommy segera terbangun dari adegan slow motion yang dia lihat. Bahkan dia tidak sadar belum melanjutkan perintah untuk barisan yang dia pimpin. Semua tangan pasukan di barisan yang dia pimpin pun masih membentuk posisi setengah lengan lencang kanan.
Seluruh pandangan siswa di sekolah pagi ini tertuju pada Tommy dan seorang gadis yang dia pandang. Bahkan gadis yang sedang dia lihat juga menatap balik ke arahnya. Sementara semua pimpinan barisan yang lain sudah kembali ke barisan masing-masing.
Dengan wajah memerah karena rasa malu Tommy mempersiapkan kembali barisan. Dia juga kembali menuju ke barisan setelahnya. Sehingga Upacara Bendara pagi ini pun dilanjutkan kembali.
Setelah upacara selesai semua orang kembali keruangan. Beberapa kenalan Tommy di SMP yang mengenalnya menghampiri ke ruang kelas IC.
Mereka jelas tidak akan membiarkan hal tersebut dilupakan dengan mudah. Satu persatu teman-temannya berkerumun di Kelas IC dan mulai menggoda. Hari itu Tommy mendapat julukan baru yaitu “Patung Bundaran.”
Mendengar hal tersebut dia bahkan teringat cerita misterius di kotanya tentang Legenda Patung Bundaran. Di Kota Air tempat Tommy menetap dan bersekolah, ada sebuah patung pahlawan daerah setempat yang bahkan menjadi Icon Kota itu.
Tetapi di baliknya tersimpan berbagai cerita menyeramkan. Konon katanya sosok pahlawan tersebut meninggal karena berjuang melawan penjajah.
Namun karena dia meninggal sebelum pernah sekalipun menikah, jadi setiap gadis yang keluar di malam hari melewati patung bundaran tersebut. Jika mereka menatap patung tersebut maka patung itu akan menatap balik.
“Woy...!”
Sebuah teriakan keras membangunkan Tommy dari lamunan, suara itu berasal dari Viktor sahabat dekatnya di SMP yang sekarang satu kelas dengannya.
“Jangan Jadi Patung,” suara Viktor kembali terdengar kedua kalinya bahkan Tommy segera memperhatikan perkataan sahabatnya itu.
“Guru mau masuk kelas, cepat persiapkan semua murid.” ucap Viktor kembali.
Mendengar itu Tommy terkejut, sejak kapan tugas menyiapkan murid yang menjadi tugas Ketua Kelas itu disematkan padanya, tetapi semua siswa yang dia lihat sekarang di kelas memberikan tatapan setuju.
Tampaknya mereka semua sudah berkoalisi kembali memilih dia secara sepihak mengambil posisi Ketua Kelas yang penuh tanggung jawab.
Mereka benar-benar licik. Mereka menghindari semua itu. Jika dia tahu akhirnya menjadi seperti ini. Dia tidak akan mengambil posisi sebagai pimpinan barisan tadi.
Memperhatikan sekitar dia melihat seorang guru wanita di awal usia 40 tahunan memasuki kelas mereka. Guru itu jelas masih sangat cantik, kulitnya putih dan memiliki gaya yang gaul mengikuti perubahan.
Namanya bu Yulia, guru pertama yang mengajar hari ini. Bu Yulia adalah guru Matematika di sekolah mereka.
“Berdiri... Beri Hormat”
Memang keinginan awalnya memperhatikan pelajaran guru cantik tersebut. Karena sudah mengetahui mata pelajaran yang diberikan, jadi dia melanjutkan apa yang dia catat tadi, Sebab dia masih terfokus pada tujuan hidup yang sedang dia tulis.
Sehingga pagi ini sampai pelajaran bu Yulia selesai yang dikerjakan Tommy hanya berpura-pura memperhatikan dan menulis buku catatan tersebut.
Di dalam catatan itu terdapat daftar nama-nama guru yang menjadi target dan yang ingin dia copy memorinya.
Begitulah pelajaran pertama hari ini selesai dan tiba saatnya jam istirahat. Tommy langsung saja melesat menuju ke ruang guru.
Untuk mengejar kesuksesan rencana yang dia susun harus sempurna. Tommy yang memiliki mental dan pemikiran seorang pria dewasa. Jelas siap mendukung semua kerja kerasnya ke depan. Ini adalah anugerah yang tidak bisa di lewatkan begitu saja.
Di ruangan guru dia segera saja mendatangi Pak Suban yang adalah seorang guru fisika, walaupun kepintarannya sekarang lebih tinggi dari guru itu. Karena di kehidupan pertamanya Tommy merupakan lulusan MIT di Cambridge, Amerika Serikat.
Itu semua tidak menyurutkan niatnya untuk mempelajari sifat dan kemampuan setiap guru yang dia miliki, serta menambah pemahaman lain terhadap orang-orang yang berada di sekitarnya. Di depan guru tersebut di langsung menyodorkan tangan.
“Halo Pak Suban, mohon maaf mengganggu waktu bapak, saya Tommy Siswa kelas IC, salam kenal dan mohon bimbingan bapak ke depan,” dengan sopan Tommy memperkenalkan diri.
Pak Suban dengan linglung menerima jabatan tangan dari murid kelas I yang sekarang berdiri di depannya itu.
Dunia sekarang berputar di dalam pandangan Tommy setidaknya itulah yang terjadi selama 1-3 detik saat berjabat tangan dengan guru fisika tersebut, semua Pengetahuan, Pengalaman, Kejadian dan bahkan memori tergelap Pak Suban pun ikut masuk kedalam kepalanya, terlihat senyum tipis di bibir Tommy.
“Terima Kasih atas Ilmu yang telah bapak berikan, ke depan sekali lagi mohon bimbingan bapak,” ucap Tommy dengan senyum yang sekarang melebar di bibir.
Setelah itu dia segera pergi dari ruang guru dan melangkah keluar menuju perpustakaan sekolah, meninggalkan Pak Suban dengan sejuta pertanyaan di kepalanya.
Bagi Tommy dalam satu hari dia hanya ingin menyalami sekitar 3 orang saja agar tidak terlalu membebani otaknya, sehingga hari ini mungkin target pertama adalah, Pak Suban.
“Apa yang sebenarnya anak itu inginkan?, hari ini aku masuk pada jam kedua dan belum mengajarkan apa-apa”
“Jadi apa maksudnya berterima kasih,” Guru Fisika itu hanya menggaruk-garukan kepala yang tidak terasa gatal. Dia bergumam dalam hati sambil memandang Tommy yang melangkah keluar.
“Pak Suban apa yang Kalian berdua bicarakan?”
Tiba-tiba suara seorang guru menyadarkan Pak Suban, dia pun menjelaskan yang terjadi pada guru olah raga tersebut dan membuat guru itu tertawa dengan lantang.
“Ha ha... Pak Suban, kamu sekarang menjadi target pandangannya, awas hati-hati lo pak.” ucap guru tersebut.
“Apa maksud mu?” Pak Suban yang bertambah bingung, jelas bertanya.
“Patung Bundaran, kamu tidak mengingat nya? itu loh murid yang tadi berdiri mematung di tengah lapangan upacara tadi pagi”
“Oh pantas aku seperti mengenalnya,” ucap Pak Suban yang terheran-heran mengingat Tommy.
**
Di lorong sekolah yang terbuat dari kayu. Walau terlihat bangunan itu sudah usang, sebab bangunan tersebut merupakan bangunan yang di pugar kembali dari zaman belanda dulu. Tommy sekarang melangkah kan kaki menuju ke Perpustakaan Sekolah dengan senyum di wajah.
Dia masih memiliki sekitar tiga puluh menit lagi waktu tersisa sebelum pelajaran jam kedua dimulai. Jelas tujuannya kali ini ke perpustakaan, sebab di sini lah semua pengetahuan dan ilmu itu dapat diperdalam.
Walaupun dalam kepalanya sudah berada pengalaman hidup yang luar biasa, dan dia memiliki otak yang pintar. Jelas dia tidak ingin menyia-nyiakan kehidupan keduanya ini.
Dia harus memperdalam dasar-dasar ilmu yang dia miliki serta menambahkan segala pelajaran dan ilmu pengetahuan dasar yang tidak dia miliki di kehidupan pertama.
Saat melangkah kan kaki ke perpustakaan sekolah, Seorang penjaga perpustakaan berdiri menyambutnya. Di sekolah ini tidak ada yang lebih cantik dari Gadis penjaga perpustakaan ini.
Karena dia adalah anak blasteran Indonesia dan Australia, kecantikannya bahkan bisa dikatakan adalah nomor satu di Kota Air tempat Tommy berasal. Dia juga murid terpintar di SMA 1 tempat Tommy bersekolah sekarang.
Dapat dikatakan orang ini adalah rival satu-satunya yang dapat menyaingi Tommy dalam kepintaran. Tetapi Tommy tidak menganggap terlalu tinggi gadis cantik tersebut, sebab di hatinya sekarang sudah di isi oleh seorang gadis pujaan hati.
“Eh, Clara... gadis Elf ini masih seperti dulu, cantik dan misterius,” Tommy bergumam dalam hati.
__ADS_1
Tommy memang sempat melirik penjaga perpustakaan cantik itu. Dalam ingatannya gadis tersebut pergi ke Australia dan melanjutkan study di kota asal ibunya setelah lulus dari SMA.
Menurut Tommy hari ini sedikit aneh, karena gadis cantik yang menjaga perpustakaan tersebut juga melirik ke arahnya. Sebab yang dia tahu gadis itu sangat cuek kepada setiap orang. Melihat orang pun dia bahkan malas.
Jadi sampai sekarang dia yang duduk di kelas III SMA. Sama sekali tidak pernah berpacaran, tetapi Tommy bahkan tidak memikirkan lirikan itu dan hal-hal lain.
Dia terus saja mengeluarkan semua buku-buku yang ada disana yang menurutnya wajib dipelajari dengan cepat.
Suara tumpukan buku terdengar diruang perpustakaan saat Tommy menaruh buku-buku itu didepan Clara.
“Aku harus cepat-cepat kembali ke kelas bisakah kakak mendaftar kan buku-buku ini atas nama ku secepatnya?”
“Ini kartu perpustakaan milik ku,” ucap Tommy yang menyerahkan kartu perpustakaan miliknya.
Kakak Kelas Cantik yang berada didepan Tommy itu pun hanya berdiam diri, dia tidak menjawab Tommy segera tetapi dia hanya memandang ke arah pemuda di depannya itu dengan pandangan sedikit aneh, melihat itu jelas Tommy merasa ada yang salah.
“Apakah ada yang salah dengan wajah ku? mungkin kah aku bisa membuat hati kak Erla berdetak kencang melihat wajah ku” ucap Tommy mulai menggoda gadis cantik di depannya itu.
“Eh, tidak ada, maafkan aku.”
“Peraturan perpustakaan tidak mengizinkan untuk meminjam buku lebih dari sepuluh judul perhari. Jadi ku sarankan kamu mengembalikan sisanya segera,” gadis yang ternyata biasa dipanggil Erla tersebut dengan nada sedikit dingin menyambut godaan Tommy tadi.
“Ah, aku sudah membangunkan singa yang tidur” ucap Tommy menyesal dalam hati.
“Ayo lah Kak Erla, jangan sampai ucapan kakak mengaburkan kecantikan yang ada”
“Bantu aku yah... yah... kali ini aja kak”
“Aku perlu mempercepat pelajaran dan menambah ilmu pengetahuan ku, Agar semua cita-cita dapat ku gapai,” upacan Tommy terdengar sedikit muluk, memelas dan dengan tulus juga meminta pada Erla.
Jelas saja semua yang di katanya adalah benar, sebab tujuannya sekarang memang lah menggapai semua impian itu.
Tampaknya gadis cantik blasteran Australia itu tidak bisa melawan wajah memelas dan ucapan tulus dari Tommy. Sehingga dia diperbolehkan meminjam begitu banyak buku, dengan syarat buku-buku yang diluar hitungan gratis harus dibayar dengan sewa Rp.1.000/hari.
Tanpa pikir panjang lagi Tommy mengeluarkan uang tabungan yang selama ini menjadi bagian dari celengan ayam miliknya.
Dia pun mengucapkan selamat tinggal kepada uang di celengan ayam itu. Memang uang itu hanya sebagian dari tabungannya yang sudah dia kumpulkan sejak dia berada di kelas 4 SD.
“Membungkusnya pakai ini aja kak Erla”
“Sini ku bantu membungkuskan buku-buku ini,” ucap Tommy yang saat itu sudah mempersiapkan dua kantong kain besar.
Ada sekitar tiga menit tersisa sebelum lonceng dibunyikan tanda pelajaran jam kedua dimulai, kali ini Tommy membawa buku-buku tersebut yang terbungkus di dua buntelan kain besar dengan susah payah kembali ke kelas.
Walaupun badan nya cukup bidang dan terbentuk, tetapi karena bungkusan itu cukup besar dan berat dia menjadi agak kesusahan.
Melangkah masuk ke ruangan kelas, semua orang terdiam saat melihat kelakuan Patung Bundaran ini yang membawa buku-buku sangat banyak di hari pertama masuk sekolah.
“Hey Patung Bundaran, bisa baca buku juga ternyata”
Hampir semua orang di kelas menertawakan kelakuan Tommy, namun karena mental yang sudah dibilang cukup dewasa jelas dia hanya diam saja tidak membalas ejekan teman-temannya itu.
Pelajaran pun dilanjutkan setelah guru masuk ke kelas, Tommy seperti tadi dia hanya fokus mencatat ini dan itu. Dia juga mencoba mencatat sebagian kejadian yang dialami Pak Suban.
Tanpa terasa beberapa jam pun sudah berlalu, hari ini setelah beberapa guru sudah selesai mengajar, pelajaran di hari pertama pun selesai. Mereka semua bersiap pulang dan kembali ke rumah masing-masing.
Dengan susah payah sekali lagi Tommy membawa buku-buku yang dia pinjam dari perpustakaan. Karena beratnya buku-buku itu bahkan bahu yang terlihat kokoh tersebut juga terasa sedikit keram.
Saat hendak meninggalkan sekolah melalui ke Pintu Gerbang. Dia melihat seorang gadis cantik berdiri didepan pintu gerbang sekolah mereka.
Yah... gadis itu adalah gadis yang tadi pagi dia lihat saat upacara bendera. Cinta Pertama nya.
Gadis itu berdiri di depan gerbang sekolah dengan memegang beberapa buku di tangan. Kembali dia menatap Sang Gadis Pujaan hati dengan tatapan penuh cinta dan perasaan yang mendalam.
Karena ingatan akan cinta pertama nya itu sungguh melekat di hati. Anehnya setiap dia menatap gadis tersebut Angin Kencang kembali berhembus. Adegan Slow Motion itu pun kembali terjadi.
Suara hembusan angin terdengar jelas, sebab angin itu bertiup dengan kencang dan kembali menerpa wajah gadis yang sedang dia pandang.
Rambut yang halus dan hitam mengkilap diterbangkan oleh angin tersebut. Kibaran rambut yang indah dalam adegan slow motion itu kembali membuat dada Tommy merasakan perasaan kagum dan kesempurnaan yang mengaduk namun juga menenangkan hatinya.
Gadis tersebut perlahan membenarkan rambutnya yang tertiup angin. Jika di ibaratkan sekarang adalah seperti kejadian langka seumur hidup baginya.
Targetnya itu bagaikan seekor rusa yang elok dan tiba-tiba berhenti di depannya. Kemudian dengan santainya memakan rumput tanpa menghiraukan sekitar.
Jelas saja naluri Pemburu yang diturunkan sejak zaman purba itu bangkit. Dia ingin membunuh rusa itu dalam sekali lemparan tombak. Segera dia merogoh kedalam tas miliknya dan mengambil sebuah Ikat Rambut dari sana.
Ikat Rambut tersebut adalah milik ibunya dan hanya dia pakai sebagai pengikat alat tulis yang berantakan.
Karena pagi ini dia tidak bisa menemukan karet gelang di rumah, jadi dia mengambil Ikat Rambut baru milik ibunya itu.
Tetapi siapa yang peduli bahkan dengan bambu runcing saja seorang Pemburu Sejati dapat membunuh seekor Rusa dengan tembakan yang tepat di tubuhnya.
Dia maju secara perlahan mendekati rusa buruannya tersebut. Dengan acuh tak acuh dia pun menyodorkan Ikat Rambut tersebut ke gadis yang sekarang berdiri di depannya itu.
“Jangan jadi seperti hantu yang membuat orang lain takut, setidaknya Ikat Rambut mu, agar tidak acak-acakan” ucapnya dengan gaya yang cool khas seorang pria.
Anehnya gadis itu pun mengambil ikat rambut yang diberikan Tommy, walau sebelum itu dia sempat menatap Tommy sebentar sebelum mengambil ikat rambut tersebut.
Dengan gagah Tommy melangkahkan kaki segera meninggalkan gadis tersebut tanpa berbicara lebih banyak, walaupun beban di pundak terasa berat sekarang, karena buku-buku yang dia bawa.
Sekuat tenaga dia menahan beban tersebut karena dia yakin gadis tadi masih terus memperhatikan dari jauh, saat sudah berada cukup jauh dari sana, teman-temannya yang memperhatikan adegan itu segera menggoda Tommy.
“Uh, Gentlemen memang berbeda”
“Naluri lelaki ku meraung-raung melihat kejadian tadi, aku berharap juga mendapat keberanian seperti mu, bisa memberikan sesuatu secara langsung kepada gadis yang ku suka”
“Tom, kamu naksir ya sama Icha?”
Mendengar ucapan salah seorang temannya, Jantung Tommy serasa seperti ditembak. Tiba-tiba berdetak kencang. Setiap aliran darah berlari lebih cepat seperti sedang melakukan sprint dan memompa lebih kencang darah-darah yang berasal dari jantung menuju bagian wajah, dalam hitungan detik merubah wajahnya menjadi merah.
Perkataan tadi itu menyadarkan Tommy. Memang dia mengetahui nama gadis tersebut, tetapi seperti ada sesuatu yang memblokir pikirannya dari tadi pagi, dia bahkan tidak sedikit pun memikirkan nama gadis itu.
Dia kembali mengingat sebuah nama, Arissa Cloud panggilan sehari-harinya adalah Icha, di kehidupan sebelumnya Tommy bahkan tidak berani mengajak gadis itu berbicara.
Memang kejadian hari ini terulang kembali seperti dulu. Tetapi karena Tommy malu atas kejadian saat Upacara Bendera waktu itu. Dia bahkan enggan menatap Icha yang juga berdiri di gerbang sekolah waktu itu, Apalagi memberikan Ikat Rambut sebelumnya, dia tidak akan berani.
Kejadian sekarang jelas berbeda. Tommy yang memiliki mental pria dewasa sekarang, lebih menganggap kejadian hari ini adalah biasa dan tidak membuat dia malu seperti dulu.
Jantungnya yang sempat berdetak kencang tadi saat menatap Icha pun dapat dia atasi. Bahkan dia melangkah dengan percaya diri sekarang.
Dia menyadari sesuatu hari ini, bahwa Setiap Kehidupan Itu Berharga. Jadi dia tidak akan menyia-nyiakan lagi kehidupan ini.
Sambil mengingat perkataan tadi, hari ini dia menambahkan satu tujuan hidup lagi agar lebih berwarna, yaitu mengejar setiap Cinta yang dia rasakan.
“Kamu Naksir ya sama Icha?”
Perkataan teman nya itu terus terngiang di kepala, sepanjang perjalanan pulang.
————
Halo Pembaca,
Hari ini Author memutuskan untuk melakukan Remake Cerita ini, cerita ini hanya fantasi dan karangan Author saja.
Dukung Author dengan cara Like, dan Komentar ya, untuk Vote seadanya saja dan se ikhlas nya, sebab like dan komentar positif dari kalian lah yang memberi Author semangat
__ADS_1
Perbaikan Edit (1)
Thanks XL