Game Of Love

Game Of Love
Semua Pria Tampan Memang Seperti Itu


__ADS_3

Baru enam hari dia menginjakkan kaki di Sekolah Menengah Atas, sudah banyak prestasi memalukan yang dia peroleh, mulai dari Julukan Aneh, Pandangan Menakutkan dari Guru-Guru Sekolah, Hinaan Pemilik Wartel, tetapi yang paling parah yang dia rasakan adalah di hindari Sang Pujaan Hati.


Seorang pria setampan dia, tentu saja tidak ingin diperlakukan seperti itu. Mereka akan selalu bermain aman bersembunyi di balik topeng ketampanan dan keangkuhan.


Tetapi semua itu merupakan proses baru bagi Tommy, dia yang juga selalu bermain aman dulu saat menjalani hidup pertama dalam mengejar cinta, membuat Tommy memendam perasaan itu dalam-dalam. Proses seperti itu dapat merubah kepribadian seseorang.


Usia mental yang tua tidak bisa menjadikan dia matang dalam urusan cinta. Apalagi kutu buku seperti dia. Sampai akhir masa hidup pertama yang dia jalani, tidak pernah sekalipun Tommy merasakan percintaan yang romantis, dia pernah beberapa kali berpacaran, namun semua itu hanya seperti hubungan pertemanan dekat dengan seorang perempuan. Sebab itulah dia memiliki masalah.


Bukan sang gadis pujaan hati yang memiliki masalah itu, di hari pertama memberikan nomor telepon saja Icha sudah pasrah dan sering duduk di dekat telepon rumahnya menunggu sang pemburu bertindak.


Dia tidak ingin orang lain di rumahnya yang mengangkat telepon tersebut. Karena orang yang dia tunggu tidak juga bertindak. Bahkan strategi yang dia kira adalah tepat, memiliki timing bagus, dapat membuat penasaran gadis pujaan hati, tidak berlaku sama di sisi yang lain.


Mereka sekarang berada di zaman SMA, jiwa-jiwa muda yang masih tulus tak ternoda masih bisa dijumpai, membiarkan waktu berlalu dengan alasan membuat target menjadi penasaran adalah kesalahan lain untuk anak-anak di usia remaja ini. Mungkin itu berguna untuk jiwa dewasa yang sudah mengalami percintaan berkali-kali.


Jiwa muda Icha juga sudah mengalami proses dalam beberapa hari tersebut, bahkan sudah bebas malah tidak merasa tertekan lagi akan masalah tersebut, sehingga dia jelas siap bertempur dengan sang pemburu yang hanya bermodal bambu runcing.


Waktu berlalu cukup lambat terasa. Malam hari tiba dan Sang Waktu yang Tommy rasakan itu tidak ingin membuat dia menjadi lebih tenang, karena besok adalah hari minggu. Dia tidak bisa diam menunggu hari itu berlalu seperti dulu.


Saat hari sudah berganti pun. Di setiap detik dan menit yang berlalu. Tommy selalu memandang ke arah jam dinding yang tidak bisa berbicara, percuma terasa. Sebab satu hari memang selalu akan dilalui selama dua puluh empat jam. Ayam saja tahu waktu itu. Jadi tidak perlu berharap melihat jam yang bisu.


Evolusi emosi seorang pria itu mudah dipelajari. Terhina karena ucapan, terhina karena sikap, Dihina dengan tindakan, yang paling parah, jika dia sendiri yang merasa Terhina.


Padahal sang pujaan hati memang tidak bisa keluar saat itu, ada yang harus Icha kerjakan dan tak bisa ditunda, belum lagi anak SMA zaman itu tak ada modal untuk mentraktir makan orang lain.


Karena menunggu waktu yang tidak juga berlalu dengan cepat, Sedangkan tombol Play Button itu selalu terulang terus menerus secara otomatis, Bagaikan sebuah siksaan tersendiri yang hanya bisa dia dirasakan di dunia ini. Hari itu dia menyadari kekuatan yang dia dimiliki itu bagaikan pedang bermata dua.


“Aduh maaf aku ngak bisa, besok-besok aja ya.”


“Aduh maaf aku ngak bisa, besok-besok aja ya.”


Jiwa yang terbakar membuat hati menjadi panas. Bahkan suara telepon ditutup itu pun membuat nya lebih tersulut emosi.


Tetapi cinta tulus yang dia miliki memadamkan ladang hati yang hangus. Perlahan akan muncul tunas baru yang membawa keindahan jika bersemi.


**


Senin ini Upacara bendera berlangsung dengan aman, tidak ada satupun kejadian yang mengganggu, Bahkan sekarang Tommy tidak memperhatikan sang pujaan hati saat upacara berlangsung, menghindari adegan gerak lambat, Tidak. Bukan juga karena dia sedang marah Kepada sang pujaan hati, malah karena dia sudah berdamai dengan amarah itu sendiri.


Hari ini Viktor yang adalah teman sebangku Tommy pindah ruangan. Bagi beberapa siswa satu minggu pertama adalah masa perkenalan dan penjajakan dengan siswa lain, jika mereka merasa Tidak Cocok di suatu kelas maka mereka dapat meminta pindah kepada wali kelas mereka.


Tidak cocok, kata itu tidak mungkin bagi dua orang sahabat dekat seperti Tommy dan Viktor. Jelas mereka cocok satu sama lain tetapi juga bertolak belakang di sisi lainnya.


Viktor adalah pemuda berdarah Batak, mudah bergaul dengan siapa saja, dia juga memiliki wajah tampan seorang pria dengan kekhasan tersendiri. Berkulit putih dan tinggi tidak kalah dengan Tommy, bahkan sebenarnya mereka berdua diam-diam memiliki banyak penggemar rahasia. Perkumpulan rahasia itu ternyata sudah dimulai sejak mereka SMP dan sekarang semakin banyak bertambah.


Pria batak itu tidak mengetahui hal tersebut, tetapi jelas Tommy tahu kelakuan gadis-gadis itu yang berkumpul hanya untuk bertukar cerita tentang detail kecil yang mereka berdua lakukan bersama Viktor. Prestasi yang telah dikumpulkan Tommy selama seminggu ini ternyata tidak terlepas dari bantuan gosip-gosip kecil yang disebar fans-fans rahasia mereka itu.


Karena prestasi yang dia miliki jelas berawal dari usaha keras yang juga telah dia lakukan. Hampir setiap hari dia melakukan Body Contact kepada orang-orang berbeda selama seminggu ini. Dia tidak malu akan hal itu, tetapi karena inilah dia mulai banyak disukai anak-anak perempuan Kelas I dari kelas lain. jadi isu mulai beredar sebab agar tidak ada gadis lain dari perkumpulan mereka yang menyukai Tommy.


Body Contact yang dia lakukan tidaklah agresif, bahkan bagi mereka yang merasakan hal tersebut malah merasa sentuhan yang dia lakukan itu lembut dapat menyejukkan hati. Gadis mana yang tidak ingin disentuh oleh Pria tampan bak penyanyi K-Pop yang banyak membius hati para gadis. Mungkin hanya Icha tapi siapa yang tahu.


Sedangkan tujuan Tommy bukan mengambil ingatan mereka, tidak sama sekali. Dia bahkan tidak mencatat memori-memori itu. Dia hanya ingin melakukan beberapa Jajak Pendapat yang keakuratannya dapat dijamin 100%. Tindakan tersebut berawal dari ketidak sengajaan, seorang gadis yang duduk di meja belakangnya secara tidak sengaja bersentuhan dengan Tommy.


Jadi dia mulai melakukan Jajak Pendapat tersebut, satu orang tersangka dikembangkan lagi menjadi penyelidikan mendalam dan dia menemukan beberapa tersangka lain, dari para tersangka baru ini dia temukan lebih banyak lagi jaringan-jaringan baru, hari ini mungkin Icha tidak akan tenang karena dibelakang Tommy sekarang ada sekitar puluhan pendukung rahasia yang siap bergosip. Kengerian para Fans Fanatik jelas tidak bisa dilawan dia bahkan memberi mereka gelas FF.


Kepindahan kelas Viktor juga membawa kesedihan sendiri bagi para Fans Fanatik mereka tersebut, Duet mereka sudah terkenal selama ini, tapi bagi Tommy itu bukan hal yang menyedihkan, sebab Viktor bukan pindah sekolah dia hanya pindah kelas, Walaupun dia tahu alasan sebenarnya perpindahan kelas Viktor itu ternyata karena dia juga menyukai Icha.


Tanpa menggunakan kekuatannya pun Tommy jelas mengetahui hal tersebut dari SMP, mungkin karena alasan ini juga lah dulu dia mulai merelakan perasaan cinta yang ada dan mengubur itu dalam-dalam, Sekarang berbeda dia hanya biasa saja menanggapi hal tersebut.


**


Suara langkah kaki seorang guru membuat Tommy menghentikan kegiatan menulis yang dia lakukan. Dia dapat melihat seorang Gadis yang menunduk malu mengikuti sang guru dari belakang saat memasuki kelas mereka.


Sweeter berwarna pink menutupi seragam gadis itu, Wajah sang gadis tidak terlihat karena rambut panjang bergelombang miliknya juga menutupi wajah tersebut. Namun, jelas dapat terlihat bentuk tubuh yang sempurna menampakkan diri, kaki mulus yang putih bersih keluar lebih dahulu terlihat menyambut dari bawah rok abu-abu, tubuh yang tinggi sempurna seperti seorang model membuat mata pria di kelas mereka mulai tertarik, semua pria di kelas mereka pun mulai membuat kegaduhan juga terdengar beberapa suara siulan dari mereka.


“Hari ini kita mendapatkan murid pindahan dari Kota Bandung.”


“Ibu harapkan kalian dapat lebih cepat bergaul.”


“Memberikan suasana belajar yang nyaman dan tenang adalah Motto sekolah kita, jadi semua dapat diam sekarang.”


Peringatan dari Bu Evelyn pun membuat semua orang menjadi diam kembali, suasana menjadi tenang seketika, bahkan angin saja tidak berani masuk ke kelas sejak guru Kesenian mereka itu memberi peringatan.


“Ayo perkenalkan dirimu.”


Sang guru menatap gadis cantik tersebut dengan tatapan serius, membuat dia makin tertunduk malu, tangan gadis itu sekarang terlihat sedang meremas tali tas sekolah yang dia gunakan. Mencoba memberanikan diri dia mulai sedikit demi sedikit mengangkat kepala yang tertunduk.


“Irma...” nama itu muncul dikepala Tommy seketika setelah memandang gadis tersebut.


Tatapan mereka berdua bertemu sesaat gadis itu hendak memperkenalkan diri, masih teringat jelas dikepala Tommy gadis cantik yang sekarang berdiri didepan semua orang itu adalah Pacar Pertama yang dia miliki.

__ADS_1


Wajah cantik dan putih mulus Khas gadis bandung yang memiliki gen keturunan Belanda, jelas dapat membuat Irma mendapatkan karpet Welcome di mata semua pria dalam Kelas IC, sedangkan di Mata sebagian besar perempuan di kelas itu tulisan Close lah yang dapat terlihat.


“Halo semua, Namaku Irma Damayanti.”


“Aku pindahan dari Kota Bandung, di Kota Air belum ada teman sekalipun, jadi ku harap kita bisa menjadi teman baik.”


“Akuuu.. yang akan menjadi teman pertama mu di sini.”


Teriakan Ari memecah keheningan di kelas tersebut, setelah itu bahkan suara gaduh terdengar semakin kencang, seperti para pendemo yang bersama-sama bersuara, hampir semua pria yang duduk di bangku-bangku belakang Kelas mulai menyamakan persepsi mereka, meja mereka pukul-pukul dengan keras, bibir pun mereka tarik untuk membuat beberapa suara siulan nyaring dapat terdengar kembali, bahkan Bu Evelin saja kesulitan menghentikan luapan emosi murid-murid pendemo di Kelas tersebut.


Saat kegaduhan terjadi yang coba di hentikan oleh Aparat di dalam kelas tersebut. Pandangan kedua insan saling bertatapan. Mungkin saat itu mereka berdua sedang mengalami adegan slow motion di dunia mereka masing-masing.


Saat kericuhan sudah mulai dapat di reda, sang guru mempersilahkan Irma duduk disebelah Tommy yang memang kosong karena perpindahan kelas Viktor, Bu Evelyn tidak mengetahui tindakan tersebut dapat membuat murid baru ini mendapat Agresi dari Perkumpulan Fans Fanatik Tommy ke depan. Tetapi apa yang dapat mereka lakukan, sang Idol pasti melindungi Irma.


“Bagaimana mungkin ini terjadi, bukankah perpindahan Irma ke sekolah ini saat aku berada di Kelas Dua?” ucap Tommy dalam hati.


Tommy segera mencari-cari ingatan kehidupan pertama dan jelas merasa aneh sebab ingatan itu semakin kabur terlihat, dia bahkan merasa pusing karena mencoba kembali mengingat kejadian dulu.


Reinkarnasi adalah proses lahir kembali dalam bentuk kehidupan lain, sedangkan yang dia alami adalah kembali ke tubuh yang lebih muda, artinya dia mengalami perjalanan waktu dan bukan melakukan sebuah reinkarnasi.


Kesalahan konsepsi awal dalam pemahaman tersebut membuat Tommy tidak siap terhadap perubahan-perubahan yang terjadi, Kehilangan memori yang awalnya dia kira tidak mungkin terjadi sebab kekuatan sempurna yang dapat dia buka kapan saja mengejutkan pemuda itu hari ini.


Takdir, Perjalanan Hidup, Tindakan-tindakan masa lalu, semua itu adalah perputaran kehidupan, jika sudah dipenuhi oleh ingatan lain, dapat menghapus data yang sudah terlebih dahulu tersimpan di folder yang sama dengan nama yang sama.


“Maaf, bisakah aku duduk di sini.”


Suara Irma terdengar membangunkan Tommy dari pemikiran tajam yang coba dia lakukan, dia bahkan lupa berdiri untuk memberikan jalan gadis itu duduk di bangku pojok tempat Viktor sebelumnya.


“Eh, maaf aku sedang banyak pikiran jadi tidak memperhatikan.”


“Mari silahkan duduk.”


Pelajaran pertama hari itu dilanjutkan, Bu Evelyn adalah guru kesenian dan muatan lokal, hari ini dia mengajarkan murid-murid kelas tersebut cara menganyam. Karena minggu lalu mereka sudah diminta menyiapkan beberapa kertas karton berwarna untuk proses mengajar ini semua orang jelas siap.


“Tommy, karena teman sebangku mu tidak membawa bahan untuk menganyam hari ini, jadi kalian berdua dapat bersama melakukan praktik hari ini.”


Tommy hanya mengangguk setuju kepada guru kesenian tersebut, yang jelas itu merupakan kesempatan kedua yang tidak mungkin dia lepas hari ini. Kembali berduaan bersama pacar pertama, menjadi kesenangan tersendiri sekarang. Dia dengan cuek menatap gadis cantik tersebut yang saat ini bersemangat siap memotong kertas karton warna-warni dengan sebuah pisau Cutter.


“Pernah menggunakan Cutter sebelum ini?”


Pertanyaan ringan tersebut diucapkan Tommy untuk membuka obrolan mereka berdua.


“Pernah kok, memangnya kenapa kamu bertanya seperti itu kamu ngak percaya?”


Dengan lembut Tommy memengang tangan kanan Irma yang sedang menggenggam Cutter.


“Tangan mu terlalu halus untuk memegang sebuah pisau pemotong, lalukan seperti ini...”


“Dan seperti ini...”


“Luruskan jari telunjuk di Cutter yang kamu pegang seperti ini, sedangkan jari kiri...”


Sekali lagi Tommy membetulkan posisi jari kiri Irma yang mencuat seakan memberikan tanda “Potong Aku”, jadi dia membenarkan posisi tersebut agar sang gadis tidak terluka.


“Jari kiri yang memegang kertas harus dalam posisi dimasukkan agak dalam layaknya jari saat kita saat sedang memotong bawang, sesuaikan dengam penggaris agar kamu tidak terluka.”


Dengan penjelasan detail yang Tommy berikan mulai membuat wajah Irma menjadi merah, suhu tubuh gadis itu tiba-tiba menjadi panas, mungkin juga bukan karena penjelasan tersebut yang membuat gadis itu tersipu malu, tetapi karena sentuhan yang dia berikan.


“Ada apa dengan sikap Pria ini, apakah dia menyukai ku?”


“Aduh... aku malu dilihat orang-orang, seperti ini.” pikir Irma dalam hati.


“Bagaimana apakah kamu sudah paham?” Tommy bertanya.


“Kenapa wajah mu terlihat merah? bukan kah kita berdua harus menyelesaikan ayaman ini dengan cepat, orang lain sudah mulai jauh meninggalkan kita berdua ke tahap selanjutnya.”


“Bahkan kita belum menggores kertas karton ini, kalau tidak cepat kita bisa ketinggalan lebih jauh dari orang lain.”


“Jangan bilang kamu malu?”


“Hah malu ngak kok.” Irma terkejut mendengar perkataan Tommy yang bertubi-tubi.


“Begini Irma, jangan salah paham terhadap yang kulakukan tadi.”


“Jika aku tidak mengajari mu, kemungkinan besar kamu akan melukai dirimu sendiri, jika itu terjadi maka kamu akan dirawat di UKS dan aku akan kerepotan menyelesaikan praktik ini jika sendirian.”


“Walaupun kamu cantik, aku tidak ingin nilai kita berdua turun, bahkan sebelum bulan pertama masuk sekolah, jadi jangan salah paham dengan tindakan ku tadi.”


Tak ada yang dapat disangkal Irma kali ini, biarpun wajah cantik itu ingin menyembunyikan sedikit kesenangan di hati karena disanjung cantik, dia hanya menurut pagi ini, walau beberapa kali Tommy terus menyentuh tangan gadis ini untuk mengajarkan gerakan-gerakan aman yang harus dia lakukan.

__ADS_1


“Sial, Sial... lagi-lagi patung bundaran ini menghancurkan target ku dalam sekali serang.”


“Seandainya aku yang dipegang Tommy.”


“Enak banget dia memegang tangan murid baru.”


“Nanti ku coba membujuk Irma agar bertukar tempat dengan ku, aku ingin menggantikan tempat Viktor”


Pandangan anak perempuan dan anak laki-laki di kelas mereka melihat kedua orang ini jelas berbeda, ada yang tidak suka dan ada yang malah mengidam-idamkan menjadi Irma. Akan tetapi pada intinya pandangan semua itu adalah pandangan iri penuh kecemburuan terhadap mereka berdua.


**


Jam istirahat pertama pun datang, Tommy langsung meninggalkan kelas mereka dia melangkah dengan semangat menuju ke perpustakaan, tanpa mengetahui gosip-gosip mulai beredar pada saat jam istirahat ini.


“Kabar terbaru guys, hari ini Tommy memegang tangan murid baru dengan mesra”


“Dengan mesra apaan, dia hanya mengajarkan gadis itu cara memegang cutter biar tidak melukai tangan halus yang tidak pernah bekerja keras itu”


“Andaikan aku ada diruang kalian tadi”


“Siapa nama gadis itu? apakah cantik?”


“Anak baru ya, asal mana dia”


Menelusuri dinding-dinding kayu di lorong belakang sekolah membuat Tommy juga merasakan kerinduan lain terhadap sekolah itu, memberikan kenangan lama yang membangkitkan semangat, sebelum melangkah ke bangunan perpustakaan yang berbeda, dia berpapasan dengan beberapa siswi kelas I dari kelas lain, segera dia menebar senyum.


Senyum indah yang dia miliki seperti memberikan magnet tersendiri bagi siswi-siswi kelas satu yang berpapasan di lorong panjang tersebut.


Saat memasuki bangunan perpustakaan sebuah tatapan sinis ditujukan ke arahnya, tetapi dia memberikan senyum hangat kepada orang yang memberi tatapan itu, membuat tatapan sinis tadi berubah menjadi tatapan aneh penuh takjub.


“Halo Dewi Fortuna, ku harap hari ini selalu membawa keberuntungan,” ucap Tommy kepada Erla.


“Jangan merayu, mungkin itu sifat asli mu ya, baru aja ku dengar kamu sudah nyosor murid baru?”


“Mana uang ku, tolong kembalikan sekarang” ucap Erla.


“Ih kak Erla galak amat sih, padahal aku suka kak Erla yang kemaren saat diwartel, ini aku kembalikan”


Semua orang disana jelas mendengar kata Wartel yang disebutkan Tommy, membuat mereka berpikir macam-macam tentang apa hubungan antara dia dan Clara sebab kata Wartel saat itu sudah mulai merujuk arti negatif bagi sebagian siswa siswi SMA.


Dengan senyum licik kali ini Tommy mengulurkan tangan yang berisikan uang Rp.13.000 yang dia pinjam dari Gadis Blasteran tersebut, dia jelas sekali bersiap untuk melakukan ritual suci kekuatannya. Sebab mulai hari itu dia sudah sedikit tertarik kepada Gadis Elf ini.


Saat Clara mengulurkan tangan dia menangkap tangan itu berpura-pura menaruh uang ditelapak tangan Clara, Tommy dengan sengaja memegang tangan Clara dan Kontak mata antara mereka pun terjadi, jelas saja Clara terkejut dan membelalakkan mata melihat kelakuan Tommy.


Sekali lagi adegan dunia berputar di sekitar Tommy terulang kembali, tangan kiri yang menangkap dan yang melakukan Body Contact pun tiba-tiba bergetar hebat.


Dia membelalakkan mata sama Seperti Clara, menatap tepat di mata coklat indah milk Clara, bahkan setelah kontak fisik dan tatapan yang bertemu itu membuat mereka sama-sama terkejut, satu sama lain sekarang mereka berdua mematung cukup lama.


Tangan tidak terlepas. Pandangan tidak berpaling. seluruh kejadian itu bahkan dilihat oleh puluhan orang di perpustakaan hari ini.


“Kamu, bagaimana mungkin..” ucapan Tommy menghentikan adegan panas berpegangan tangan dan saling pandang itu di mata orang lain.


“Apa maksudmu aku tidak mengerti, sebaiknya hentikan pegangan mu banyak orang lain melihat.” ucap Erla menghentikan perkataan Tommy.


Dia langsung memperhatikan sekitar dan terlihat puluhan orang yang ada di perpustakaan pun mematung melihat adegan panas mereka berdua tadi. Mata Tommy pun sempat terdiam sekali lagi memaku pada sosok gadis di pojok ruang baca yang juga melihat adegan tersebut.


“Semua Pria Tampan memang seperti itu.”


“Mudah membuang dan mengganti orang yang mereka sukai.”


Icha terdiam menyambut tatapan Tommy dengan bergumam dalam hati, tanpa dia sadari bibit kecemburuan muncul di mata gadis tersebut. Sedangkan sang Romeo merasa bersalah melakukan hal itu didepan orang-orang, hanya karena kejadian tadi bersama Irma dia sudah mulai berani sekarang.


Memang tidak ada yang salah dari kejadian itu, tetapi entah mengapa Jiwa yang tulus meraung-raung seperti telah melakukan kesalahan terhadap sang gadis pujaan, sedangkan Icha menatap Tommy dengan tatapan jijik, Dia mensyukuri penolakan yang dia lakukan beberapa hari lalu, jika tidak dalam pikiran gadis ini maka dia akan menjadi korban lelaki tampan itu ke depan, bisikan lembut Melisa mulai terdengar di telinga Icha.


“Sudah ku bilang kan, Semua Pria Tampan Memang Seperti itu, mudah membuang perempuan dan menggantinya dengan yang baru.”


“Hati-hati nanti kamu yang menjadi Korban, itu hanya trik yang dia pakai memberikan Ikat Rambut kepada mu, dia jelas punya banyak trik seperti itu, lihat saja Kak Erla juga diperlakukan sama.”


"Bahkan dia sudah mengajak Kak Erla ke Wartel, siapa sih yang ngak naksir dengan Gadis Blasteran itu, dia bahkan lebih cantik dari kamu Cha."


Walaupun Irma adalah Pacar Pertama nya saat SMA dulu tetapi perasaan itu mungkin hanya suka yang Tommy coba paksa kan menjadi hubungan, Sedangkan Clara dia hanya gadis cantik yang ada di Ingatan Tommy sebagai seorang kakak kelas.


Hari itu kesalahan pahaman pertama terjadi di hati Icha, karena Ikat Rambut yang dia sodorkan waktu itu memang benar-benar berasal dari Hati dan Cinta yang benar-benar tulus yang dirasakan. Hari ini Tommy sekali lagi memiliki rintangan lain.


***


Halo Pembaca,


Tetap Like, Vote dan Komentar ya.

__ADS_1


Maaf belum di edit, jadi jika ada kesalahan kata dan Typo, Author meminta maaf.


Thanks XL


__ADS_2