
Hari yang gelap dan berangin mulai menyelimuti Kota. Jalanan beraspal kini dipenuhi debu-debu pasir halus yang berterbangan. Tommy yang sedang menulis dihentikan oleh kata-kata Irma. Entah apa yang ada dipikiran gadis ini sekarang.
“Tom, akhir-akhir ini kulihat kamu sedikit diam dari biasanya, apakah ada masalah?” sambil memainkan pulpen dengan jari tangannya Irma bertanya.
“Aku hanya memikirkan Viktor Ir.”
“Viktor? ada apa sama dia Tom?”
“Sikap Viktor sedikit berubah akhir-akhir ini, dia lebih tertutup bahkan sudah jarang kami ngobrol seperti biasa.”
“Mungkin dia sedikit sibuk kali Tom, atau ada penyebab lain, memangnya kamu ngak nanya ke dia masalah dia apa?” Irma mengucapkan kata-kata itu dengan santai, sambil kembali mencatat beberapa pelajaran dari Guru Fisika yang sedang menjelaskan di depan.
Hari memang berlalu, tetapi beberapa kejadian yang ada tidak bisa dengan mudah dilupakan. Biasanya tiga sampai empat kali seminggu Viktor dan Tommy selalu keluar, mengerjakan ini dan itu tetapi sekarang semua seperti menjalani kehidupan masing-masing.
Sebenarnya Tommy tahu penyebab perubahan sikap Viktor sekarang. Dia hanya tidak ingin membahas itu, yang dia lakukan pun sebenarnya menyusun sebuah rencana untuk membantu Viktor. Mungkin saja dapat mengembalikan wajah ceria Viktor seperti dulu.
“Aku kurang tahu Irma, yang pasti...Viktor itu orang yang selalu terlihat ceria, dengan sikap diam ini dia sudah memberi tahu kepada semua orang bahwa dia sedang memiliki masalah.”
"Aku hanya tidak ingin dia menunjukan perubahan itu kesemua orang," ucap Tommy lagi menjawab.
“Kamu benar, beberapa gosip juga sudah menyebar sekarang, kuharap bukan karena itu masalahnya,” Irma menatap Tommy kali ini. Tatapan itu penuh arti. Dia seakan ingin bertanya lebih banyak tetapi tidak mampu mengutarakannya.
Dalam hati Irma berkata-kata tetapi, mulutnya kelu untuk mengutarakan, sambil menatap Tommy dia berujar.
“Ku harap bukan seperti gosip itu Tom, kamu dan dia jangan sampai bertengkar hanya gara-gara seorang gadis.”
Tommy memalingkan pandangan wajahnya ke Irma. Senyum tipis tersirat di wajah pemuda itu. Dia mendengar apa yang Irma katakan dalam hatinya. Dia tidak menampik gosip yang sudah mulai menyebar itu. Anak muda memang harus ditempa dengan permasalahan agar dapat berpikir lebih dewasa.
Entah apakah Irma bisa tau bawah Tommy mengerti isi hatinya, Irma hanya terdiam dan tersenyum balik menatap Tommy.
Kali ini Tommy menatap keluar kelas. Dia merasakan tiupan lembut angin yang datang. Seolah ingin mencari penyejuk untuk suasana yang tidak mengenak kan saat ini.
**
“Clara, silahkan kerjakan soal nomor tiga dan empat,” seorang guru Matematika kelas III, melirik ke arah Erla dan memintanya untuk menyelesaikan kedua soal yang dia berikan.
Clara memang sering diminta untuk menyelesaikan soal seperti itu, juga menjelaskan secara singkat cara dan solusi untuk setiap jawaban soal yang ada, Dia sudah terbiasa dengan perlakuan tiap guru. Toh dia juga sebenarnya memang suka berbagi ilmu.
“Baik pak,” Gadis cantik itu pun berdiri, dia melangkah menuju papan tulis. Kali ini penampilan Clara berubah. Rambutnya dipotong pendek dengan gaya Bob yang di blow kedalam, sehingga terlihat lebih bouncy. Sedikit semir pirang menghiasi rambutnya.
Selain cantik penampilan baru Clara ini tentu saja lebih menarik, dia tidak lagi terlihat seperti Putri penunggu Perpustakaan. Clara dengan cepat menyelesaikan beberapa soal yang diberikan tadi.
Namun, dia menjelaskan cara mencari jawaban soal tersebut dengan enggan. Tidak sedetail biasanya.
Clara sosok gadis ini adalah Cantik dan Smart, juga misterius karena dia jarang bisa bergaul dengan orang-orang, ikon ini selalu melekat di diri Clara dari dahulu.
Hingga muncul beberapa isu dan julukan yang dia terima yaitu “Cantik-cantik tapi jutek“ pada tahun sekarang yaitu tahun 2000 kata jutek memiliki konotasi negatif, jadi orang menggunakan kata itu untuk mengejek. Dan memang awalnya julukan itu ditujukan untuk menjatuhkan reputasi gadis ini.
Tetapi kecantikan Clara malah menjadi tidak terbendung. Isu ini merebak dan membuat dia menjadi malah lebih tenar dan kerepotan tentunya. Perpustakaan sekolah yang jarang di datangi orang-orang. Beberapa tahun ini menjadi sangat sibuk. Semua terjadi hanya berselang beberapa bulan saja saat dia baru diterima menjadi Pustakawan disana pada waktu itu.
“Wah Jutek, hari ini kamu ngak semangat seperti biasanya, Lagi PMS lo yah? atau kamu sudah dihamili buku?”
Sindiran dari seorang gadis yang duduk dibelakang bangku Clara, membuat beberapa orang memalingkan muka mereka melihat langsung ke arah Clara, mereka penasaran ingin melihat reaksi gadis ini. Tetapi Dia hanya menatap gadis itu sebentar sambil menahan marah.
“Kenapa marah? dasar modal tampang, bisa mu hanya merayu guru dengan tampang aja, kalau soal seperti itu aku juga bisa...” Ucap Clara.
“Kenapa marah? dasar modal tampang, bisa mu hanya merayu guru dengan tampang aja, kalau soal seperti itu aku juga bisa...” ucap Windy gadis tadi yang mengejeknya.
Ucapan itu secara berbarengan mereka berdua keluarkan, Persis sama, antara perkataan Windy yang sudah menyindir Clara, dengan sang target yang disindir. Gadis itu terkejut membuat mulutnya menganga seketika. Sedangkan bola matanya hampir keluar kali ini.
“Bagaimana dia tahu apa yang akan ku katakan?” ucap Windy dalam hati sambil menutup mulutnya yang menggantung.
Pelajaran dilanjutkan, semua orang di kelas hanya diam tidak bersuara, biasanya mereka memang suka mengganggu Clara. Mungkin karena sikapnya yang tertutup. Cantik dan Smart jelas membuat para pria di kelasnya menyukai gadis itu tanpa terkecuali. Tetapi Clara selalu menolak mereka.
Karena itulah Windy dan gengnya merasa iri dengan Clara, sehingga dia menghasut pria-pria dan anak perempuan lain di kelasnya untuk memusuhi Gadis Blasteran tersebut. Mendapat perlakukan seperti itu dari awal bersekolah di SMA tidak menjatuhkan Clara sama sekali. Lagi pula dia lebih banyak memberi untuk mereka dari pada menerima.
Dia yang selalu diam saja selama tiga tahun itu, Hari ini tiba-tiba menjawab dengan sesuatu yang membuat semua orang terkejut.
“Sebaiknya kalian jangan mengganggu ku, mulai sekarang.”
“Aku sedang tidak dalam kondisi Mood yang baik beberapa minggu ini, kalau kalian berani macam-macam.”
“Jangan harap kalian akan ku bantu lagi seperti biasa, saat ulangan atau ujian nanti.”
"Atau akan ku laporkan ke Guru BP."
__ADS_1
Ancaman keluar dari mulut manis itu, walaupun terdengar kecil tetapi sudah cukup membuat mereka yang berada di sekitarnya diam seketika.
Mereka mengerti bahwa perkataan kasar Windy sudah keterlaluan tadi, dilontarkan untuk Clara. Mereka berpikir karena itulah mungkin Clara pasti tidak akan bisa menerima begitu saja perkataan tersebut.
Akan tetapi dalam hati mereka semua masih bingung, bagaimana mungkin gadis ini bisa berkata-kata sama persis dengan ucapan Windy. Bahkan dengan waktu yang bersamaan dan Timing yang pas.
Sambil menatap keluar kelas. Clara yang duduk di dekat pintu, sama seperti Tommy merasakan semilir angin lembut menerpa wajah cantiknya sekarang, mencoba menyejukan suasana yang semakin terasa tidak mengenakkan.
Clara....
Orang-orang mengira gadis ini hanya gadis cantik biasa saja. Tetapi bukan hanya itu, gadis blasteran ini memiliki rahasia kecil sama seperti Tommy.
Jika Tommy dapat melihat Masa Lalu seseorang dan bisa mengetahui isi hati seseorang melalui Sentuhannya.
Gadis ini berbeda. Clara dapat melihat Masa Depan seseorang dan isi hati seseorang dengan Mood Aura Warna melalui Tatapannya.
Dalam beberapa minggu ini rencana yang dia buat semua gagal. Membuat Mood yang dia miliki semakin tidak karu-karuan.
Tidak seperti biasanya. Dia bisa menyembunyikan masalah dan memendam perasaan di hati. Tetapi kali ini berbeda, setiap hari mood dan perasaan yang dia keluarkan semakin berwarna gelap saja.
**
“Apa kamu tuli? atau kamu akan menyalahkan kami berdua karena membacakan list tadi dengan begitu cepat?” Suara omelan Melisa terdengar cukup keras di ruang baca perpustakaan kali ini.
“Bukan begitu Mel...” ujar Tommy menjawab.
“Kalau gitu cepat sama pergi, belikan semua yang tadi ku sebutkan,” ucap Icha kali ini menjawab.
Tommy jelas ingat semua perkataan mereka walaupun di ucapkan dengan cepat tadi, tanpa jeda malah, mereka pikir itu akan dilupakan Tommy dengan mudah. Dia hanya tertawa dalam hati melihat usaha kedua gadis ini, setiap hari semakin keras saja mencoba untuk mengerjainya.
“Aku sudah mendengar semua dengan jelas, yang ingin ku tanyakan apakah hanya ini?”
“Roti isi Vanilla dari Toko Baker, kertas warna-warni, pensil, pensil warna, air mineral, pulpen, stabilo, penghapus, buku gambar,” ujar Tommy kembali menyebutkan list yang mereka suruh untuk dibelikan.
Jika saja hari itu dia tidak melakukan kesalahan, Tommy tidak akan mau mengikuti perkataan kedua gadis ini. Dia tidak ingin menghilang sekarang, bukan saatnya bagi Tommy mengacaukan rencana sempurna yang sudah dia buat.
Keindahan yang dia lihat memang harus dibayar mahal. Karena tidak ingin mempersulit kedua orang tuanya lagi dengan masalah yang sudah berlalu ini, sehingga dia tidak membantah kedua gadis ini.
Icha dan Melisa yang mendengar itu menjadi terdiam. Mereka mengira, yang mereka sebutkan tadi tidak akan diingat Tommy dengan mudah. Memang beberapa barang agak sulit didapatkan dan harus dibeli di beberapa tempat, tetapi mereka menjadi khawatir sekarang. Jadi mereka mencari cara.
“Tidak tambahkan, bakso 2 bungkus, sama belikan juga Kripik dan jajanan seperti biasa.” ucap Melisa menambahkan.
“Kalau tidak cukup pakai uang mu dulu,” ucap Melisa lagi menjawab Tommy.
Mendengar itu telinga Tommy menjadi berdiri, otaknya segera menghitung angka-angka dan kalkulasi harga, kemungkinan harga yang ada mengalami fluktuasi naik dan turun Rp.100 - Rp.200 dari harga biasa. Matanya terlihat sedikit membuka mendapatkan hitungan yang kemungkinan terselisih.
Selisih yang ada dikepala Tommy mengungkapkan angka Rp.2.000,- dia jelas tidak bisa menerima itu, jadi dia melakukan Protes untuk pertama kalinya.
“Maaf, uang kalian kurang dua ribu rupiah, aku tidak memiliki uang sebanyak itu, jika kalian tidak bisa memberikan tambahan uang lagi, aku tidak akan membelikan Bakso dan jajanan yang kalian inginkan.”
Kali ini Tommy dengan tegas menolak mereka berdua untuk pertama kali. Membuat Melisa menjadi sedikit marah.
“Kamu dasar miskin, tidak sudi aku mempunyai teman seperti mu.”
"Masa dua ribu aja gak punya, syukur kamu ngak jadian sama dia kemarin Cha, bikin malu kalau kamu yang traktir dia mulu nanti saat berpacaran."
Mendengar ucapan Melisa itu Icha terdiam, sepertinya perkataan Melisa juga sudah dianggap Icha kelewatan, jadi dia tidak ingin memperpanjang persoalan itu.
“Nih, lima ribu cukup kan?” Icha mengeluarkan uang dari kantong bajunya dan memberikan uang itu kepada Tommy segera.
“Iya cukup Cha, makasih,” Tommy langsung pergi meninggalkan mereka berdua, setelah dia mengambil uang dari Icha.
“Cha...ngapain kamu membantu orang seperti itu sih.”
“Mel, itu hanya dua ribu rupiah, mengapa kamu mempermasalahkan uang itu, jajan kamu aja sehari bisa lima puluh ribu.”
“Biar dia tahu Cha, lain kali supaya dia tidak lagi berani mempermainkan kita lagi.”
Lima puluh ribu rupiah, uang itu sangat besar ditahun-tahun seperti ini, beberapa Tahun setelah krisis terjadi. Bahkan dengan Rp.500 saja seseorang bisa mendapatkan semangkok Mie instan, untuk seliter bensin harganya hanya seribu lebih.
Jadi uang jajan yang diterima Melisa bisa dianggap sekarang adalah sebesar Lima ratus ribu Rupiah. Makanya Icha sedikit kesal juga karena sikap Melisa sedikit keterlaluan.
Mereka berdua terlihat mendebatkan permasalahan itu untuk beberapa waktu kali ini, sedangkan orang yang mereka bicarakan sudah melangkah dengan senyum diwajah karena tidak perlu mengeluarkan uang sepeserpun.
**
__ADS_1
Berjalan keluar area sekolah, Tommy menuju Toko Baker yang memang berada di area pasar. Sekolah mereka lokasinya berdekatan dengan area pasar, jadi memang saat istirahat banyak siswa-siswi yang juga terlihat di area pasar.
Toko Baker, merupakan toko favorite bagi warga setempat. Yang mereka jual juga memang kue dan roti yang enak-enak dan lebih besar dari tempat lain. Tidak heran banyak yang mengantri disana.
“Ah yang benar saja, kalau mengantri banyak waktu ku terbuang percuma di sini,” Tommy terlihat bergumam sendiri melihat antrian siswi-siswi yang panjang di Toko itu.
Beberapa orang memang mengenal Tommy, tetapi selain anak-anak SMA, juga banyak terdapat anak-anak SMP yang menyukai Roti yang dijual Toko itu sebagian mereka jelas mengetahui kakak kelasnya ini.
Kebanyakan dari mereka adalah anak perempuan, jadi hanya Tommy yang terlihat merupakan siswa laki-laki berseragam SMA yang sedang mengantri.
“Eh, Kak Erla ada di sini,” ucap Tommy menyapa Clara.
Di tangannya Clara membawa 2 kantong plastik hitam penuh yang berisi banyak Roti.
“Oh kamu sudah di sini?” Clara menjawab.
Sempat terdiam Tommy mencerna perkataan Clara sekarang. Menatap kakak kelas itu penuh pertanyaan, Clara menyadarinya, jadi dia melanjutkan perkataan yang dia lontar kan tadi.
“Duluan ya Tom, semoga betah jadi pesuruh mereka terus.”
Perkataan Clara itu pastinya terdengar orang-orang disana, membuat mereka yang ada disitu mulai berbisik-bisik dan menggosip, sedang Tommy hanya berdiam diri.
“Jadi dia si pesuruh ganteng itu?”
“Stssh, jangan berbicara terlalu keras nanti dia dengar.”
“Aku juga mau kalau seperti itu tampang pesuruhnya.”
"Seandainya, aku sudah SMA, aku mau dekat kakak ini."
Memang perasaan Tommy sedikit terusik karena bisikan-bisikan disana, belum lagi mereka yang mengantri bukan berbaris secara berjejer satu-persatu. Tetapi berdesak-desakan dan berkerumunan. Secara tidak langsung jelas saja kulit Tommy dapat bersentuhan dengan mereka.
Kejadian itu membuat dia merasa seperti dihimpit oleh banyak gunung. Selain bisikan-bisikan dia juga pastilah mendengar perkataan hati gadis-gadis disana.
Membuatnya menjadi sedikit gelisah dan ingin segera kabur melarikan diri, tapi demi meredam amarah Icha dan Melisa dia rela berdesak-desakan. Tidak lama terdengar suara seruan salah satu anak perempuan yang sedang antri membeli.
“Bu, masa Roti isi Vanila nya sudah habis?”
“Apa memang tidak ada lagi tersisa.”
"Tidak ada dek, sudah habis tadi diborong gadis bule itu."
Perkataan itu terdengar Tommy, otaknya langsung mengingat dua kantong plastik yang tadi dipegang Clara. Dia menerobos antrian yang ada disana. Mencoba mengejar kakak kelasnya itu dengar segera.
“Agh sial, mengapa aku tidak memikirkan hal itu.”
“Kak Erla pasti mendengar ucapan Melisa di Perpustakaan.”
"Dia melakukan ini sengaja atau tidak sih..Sial." Dia bergumam dalam hati.
Merasa sedikit kurang waspada. Dalam pikirannya harus segera membeli barang-barang yang diminta, kalau tidak maka akan lebih sulit lagi nanti untuk meredam kedua gadis itu, untuk mempersingkat waktu dia singgah dengan cepat membeli semua barang-barang lain, sebelum melanjutkan berlari ke sekolah.
Pikiran Tommy berpacu sedikit kalut, dia mengingat Icha dan Melisa, mereka sengaja membalas Tommy dengan cara itu.
Hah...haah...hah...
Nafas Tommy terengah-engah, detak jantungnya sekarang meningkat, keringat terlihat keluar bercucuran. Dari jauh dia melihat Clara yang hendak memasuki Gerbang Sekolah, jadi dia terus berlari mengejar.
“Kak Erla...Kak Erla,” Tommy memanggil Clara dari kejauhan.
Clara yang di panggil segera berpaling, Tommy berhenti tepat didepan gadis itu sekarang, Dengan susah payah dia menghentikan Clara dan memegang tangan gadis ini, Tommy ingin mengecek kata hatinya. Dia ingin mengucapkan sesuatu tetapi terlalu sulit karena kecapaian.
“Hahh... hah... ha... Kak...”
Gluph....
Tommy terlihat sedang meneguk liurnya. Sedangkan Clara hanya menatap Tommy dengan senyum tipis di wajah. Tommy Sedikit takut menatap Clara dalam mode itu.
Senyum Clara bagi Tommy terlihat sedikit menakutkan, mengapa? Sebab kakak Kelas cantik ini jarang memberikan senyum untuk orang-orang.
Jika dipikir-pikir kembali memang tidak pernah untuk orang lain. Tetapi hanya untuk Tommy dia pernah memberikan Senyum.
"Rasakan kalian sering ribut diperpustakaan sih, hari ini aku akan balas dendam, masa depan kalian akan suram karena Roti ini."
Ucapan Clara dalam hati itu, membuat mata Tommy hampir keluar menatapnya.
__ADS_1
————
Thanks XL