Game Of Love

Game Of Love
Bertemu Keluarga Clara (Bag.2)


__ADS_3

Mendengar ucapan Tommy itu seluruh keluarga Clara memalingkan pandangan mereka mengarah ke Tommy, membuat dia terdiam seketika.


“Aww..”


Ucap Tommy tiba-tiba karena sebuah tepukan keras ke pundak Tommy dilayangkan oleh Pak Deddy, membuat Tommy merasakan sedikit sakit.


“Sebaiknya kamu memperhatikan acara itu, dan jangan berbicara macam-macam.” ucap Pak Deddy sambil menatap Tommy dengan sinis.


Melihat hal tersebut Clara langsung mempercepat langkah kakinya dan duduk ditengah-tengah antara ayahnya dan Tommy, untuk melerai tindakan kekanak-kanakan sang ayah tersebut.


Sedangkan Miss Jennifer hanya tersenyum tipis sambil menatap ke arah sang suami, Dia melanjutkan mengupas beberapa buah dan memotong buah itu kecil-kecil.


“Clara...Tuangkan minuman untuk teman mu, kasihan dari tadi dia tidak ada minum sedikit pun,” ucap Miss Jennifer sambil mengupas buah Apel di tangannya. Namun kembali Pak Deddy membuat keributan lagi melihat Clara yang langsung menuangkan teh untuk Tommy.


“Oh jadi kamu tidak sayang lagi dengan Daddy mu?” ucapnya mengeluh sambil melihat Clara.


Clara menghentikan yang dia lakukan sekarang, dia tidak berani menjawab atau membantah sang ayah, sampai akhirnya Miss Jennifer berdiri dan menyumpalkan sepotong apel ke mulut suaminya tersebut.


“Sudah diam, makan ini saja... dari tadi kamu hanya mengoceh terus,” tindakan miss Jennifer ini membuat aura di ruangan tersebut menjadi sangat dingin, keheningan langsung menyelimuti ruang keluarga tersebut serta diiringi dengan lagu misteri yang berasal dari acara Who Wants to be a Millionaire.


Tommy yang merasakan suasana ruangan tersebut sedikit berubah, langsung mengambil gelas teh yang tadi baru di isi Clara separuhnya saja. “Terima kasih kak Erla,” ucap Tommy sambil meminum teh tersebut.


Mendengar perkataan itu semua orang kembali menatap Tommy, sebab bagaimana pun mereka mengira Tommy adalah kekasih Clara sekarang, tetapi jelas-jelas mereka semua mendengar dia memanggil Clara dengan sebutan “Kak” jadi mereka memandang Tommy penuh tanya.


“Maaf apakah ucapan saya ada yang salah?” ujar Tommy keheranan.


“Hahahaha...”


Suara tawa lantang dikeluarkan Pak Deddy, sebelum dia menjawab pertanyaan Tommy tersebut.


“Tidak-tidak kamu tidak salah, Silahkan diminum teh nya.” ujarnya lagi kepada Tommy, tetapi kali ini jelas dengan nada yang sedikit bersahabat, membuat pemuda itu serba salah sekarang.


Sebelum semua menjadi canggung Tommy tertolong sebab acara di TV yang mereka tonton sekarang kembali dilanjutkan, kali ini membuat semua orang di ruangan itu terpukau karena jawaban yang tadi dipilih Tommy juga sama dengan yang dipilih peserta dalam acara itu.


Walau setelah peserta itu perlu menggunakan pilihan pertamanya yaitu “Ask To Audients”.


“Jawabannya benar...” ujar sang pembawa acara.


“Baiklah mari kita lanjutkan ke pertanyaan ke enam, siap-siap”


Host acara tersebut melanjutkan acara yang mereka Tonton itu, akan tetapi hal itu Membuat mereka semua yang menonton kembali merasa tegang lagi sekarang.


Jika ditanya kenapa, tentu saja sebab keluarga di rumah itu tahu bahwa Ayah mereka tidak suka jika dikalahkan dalam acara ini. Apalagi oleh orang yang baru dia kenal. sehingga membuat mereka sekarang menatap ke arah sang ayah.


“Hey apa yang kalian liat?”


“Apakah menurut kalian Daddy akan marah karena itu?, haha kalian semua salah seperti tidak tahu Daddy saja”


“Yang menjawab itu benar adalah Clara bukan dia” ucap Pak Deddy menunjuk Tommy.


“Jadi kalian jangan Khawatir, Daddy tidak akan merasa kalah hanya karena jawaban beruntung nya.”


Ucapan santai Pria berusia akhir empat puluh tahunan itu sungguh berbeda dengan kebiasaannya, bahkan dengan Clara saja dia biasanya berdebat soal jawaban kuis acara ini, dia yang merasa selalu benar itu memang biasanya tidak ingin dikalahkan apalagi dengan orang yang usianya lebih muda dari nya.


Melihat ada yang salah dengan situasi ini Christ, Kakak laki-laki Clara dan anak tertua di keluarga ini segera melangkah masuk ke kamarnya, meninggalkan mereka yang tersisa disana melanjutkan menonton acara tersebut.


**


“Baiklah pertanyaan selanjutnya kita sudah sampai di titik aman kedua, yaitu pertanyaan ke 10, apakah kamu siap untuk menjawab?” ujar Tantowi bertanya kepada peserta yang duduk di kursi panas malam ini.


“Oke saya siap,” ucap peserta itu dengan penuh percaya diri.


“Oke ini lah pertanyaan ke 10 yaitu titik aman kedua senilai Tiga puluh dua juta rupiah.”


“Gas yang sering digunakan sebagai bahan baku pembuatan amonia sekarang adalah?”


“A. Metana, B. Etana, C. Propana dan D. Butana”


“Baiklah silahkan untuk menjawab mulai dari sekarang.”


“hmmm... bahan baku Amoniak ya?”


Untuk pertanyaan kali ini peserta yang duduk dikursi panas ini terlihat kembali kesulitan dalam menjawab soal tersebut, dia sudah melewatkan 20 detik waktunya untuk berpikir, membuat host pembawa acara itu mengingatkannya kembali.


“Anda masih memiliki 2 opsi bantuan yang tersisa yaitu Call a Friend dan 50:50, apakah anda ingin menggunakan salah satunya?” Pancingan dari pembawa acara itu membuat sang peserta memilih untuk menggunakan sekali lagi opsi yang dia miliki.


Tetapi sebelum peserta itu memilih, Tommy sudah menjawab pertanyaan tersebut, “Jawabannya A. Metana.” sekali lagi sontak semua orang melirik ke arah Tommy kembali, sedangkan Pak Deddy juga terlihat kurang yakin akan jawaban tersebut.


Clara hanya tersenyum mendengar jawaban Tommy tersebut sebelum akhirnya dia juga berbicara, “Oh amonia, bukan kah ini yang biasa digunakan dalam pembuatan pupuk?”


“Kamu benar ini yang biasa dicampur dalam pupuk urea” Pak Deddy seperti mendapatkan sebuah clue dari Clara sehingga dia juga memilih Metana sebagai jawaban untuk pertanyaan ke 10 ini.


Sedangkan peserta di acara itu menggunakan pilihan 50:50 sebelum akhirnya dia menjawab metana juga sebagai bahan baku pembuatan amonia.


Clara yang dapat melihat Tommy akan makin kesulitan nanti kedepan kalau saja ayahnya merasa dikalahkan Tommy, jelas tahu nasib pria yang dia sukai itu kedepan, kalau berurusan dengan sang ayah lagi akan lebih buruk lagi, jadi dia yang dapat melihat pecahan takdir masa depan seseorang itu, mencoba sebisanya menutupi dan membantu ayah nya agar tidak kalah dari Tommy.


**

__ADS_1


Malam itu cuaca sangat cerah, sehingga bintang-bintang malam dapat terlihat dengan indahnya menghiasi langit malam ini. Disertai keramaian pasar yang memang menjadi tempat rekreasi bagi warga di Kota kecil ini.


Irma malam ini ditemani oleh dua orang teman sekelasnya juga terlihat menikmati suasana pasar dadakan ini yang hanya bisa mereka nikmati 6 bulan sekali.


Ketiga gadis ini sekarang sedang asyik melihat-lihat disalah satu tenda kecil tempat penjualan pernak-pernik unik yang juga menjual beberapa kerajinan Keramik dan gelang-gelang dari bahan batu asli.


Tangan indah gadis cantik ini mengarah ke sebuah guci kecil yang unik, sesaat sebelum dia meraih guci itu, sesosok tangan lain lebih dulu mengambil guci kecil seukuran genggaman tangan itu.


“Hey apa yang kamu lakukan, aku lebih dahulu ingin membeli itu,” Ucap Irma yang sedikit kesal kepada sesosok pemuda tampan di depannya tersebut.


“Benarkah? kalau begitu mengapa aku yang lebih dahulu memengang guci ini.” jawab sosok pria tadi menatap Irma dengan dingin.


Malam ini Irma menggunakan sebuah celana Jeans pendek sepanjang lutut kaki yang terlihat ketat di tubuhnya, dengan pakaian berwarna putih yang juga terlihat ketat, menampilkan tubuh gadis remaja cantik yang menawan hati terlihat jelas dimata orang-orang sekarang.


Tetapi tampaknya pemuda didepannya ini, bahkan tidak melihat dan memperhatikan penampilan cantik Irma itu.


Di depan Irma memang berdiri seorang pemuda tampan versi pendek dari artis korea yang sering dielu-elukan di zaman Tommy sebelum kembali ke usia mudanya sekarang, yaitu Lee Min Ho.


Pemuda itu berdiri menatap gadis cantik berbaju putih ini. Membuat Irma sekarang seperti disihir menatap pemuda tersebut.


Entah mengapa perasaannya menjadi sangat kasihan dan tersentuh memandang pemuda tampan ini, jadi dia tidak ingin berdebat dengan Willy yang langsung mendatangi penjual dagangan yang tadi mereka perebut kan itu.


Melihat kejadian barusan kedua orang teman Irma langsung menghampiri gadis berdarah sunda ini dan langsung bertanya kepadanya.


“Irma, kamu kenal dengan Willy?” ucap salah seorang teman nya itu.


“Willy? siapa dia?” jawab Irma memandang kedua teman nya itu.


“Loh apa yang kalian bincangkan tadi? ku kira kamu kenal dengannya.”


“Tidak... aku tidak mengenalnya, memangnya siapa dia?” ujar Irma lagi bertanya untuk kedua kalinya.


“Uhhh.... dia"


"Dia adalah pria paling tampan dan paling Cool di sekolah kita, Kakak Kelas II A.” jawab salah satu gadis yang pergi bersama Irma itu menjawab.


“Aku mau jadi pacar Kak Willy...” ucap gadis remaja tadi melanjutkan perkataan nya.


“Aku juga, aku juga, seandainya tadi tangan ku yang meraih guci itu,” jawab gadis lainnya.


Kedua orang ini membuat Irma sedikit penasaran dengan kakak kelas mereka itu, tetapi yang dia rasakan berbeda dari kedua gadis itu rasakan sekarang.


“Huh apanya yang paling tampan dan Cool, menurut ku Tommy adalah yang paling tepat kalau membicarakan itu.”


Ucapan spontan dan tidak di rem itu membuat kedua teman Irma yang sebelumnya memandang Willy yang sekarang sedang membayar guci tadi, segera memalingkan wajah mereka melihat Irma.


“Apa ada yang salah dengan perkataan ku barusan?” ucap Irma merasa seperti sedang dicurigai oleh dua orang gadis remaja itu.


“Irma, kamu...”


“Apakah kamu menyukai Tommy?” ucap salah seorang teman nya itu bertanya kepada gadis cantik tersebut.


Irma yang mendengar itu hanya tersenyum kecil sebelum dia menjawab tatapan penasaran kedua teman nya itu.


“Aku hanya kagum sama Tommy, dan kalau aku menyukainya bukan berarti aku mencintainya bukan?” ucap gadis geulis itu dengan enteng.


“Hey, apakah kamu tidak tahu, Kagum dan suka itu jika ditumpuk bisa menjadi perasaan cinta.” ucap Ria langsung menjawab Irma, sebelum akhirnya di timpal oleh ucapan Abi.


“Benar kata ria, Ir...”


“Jangan sampai kamu jatuh cinta sama Tommy, kamu bisa sakit hati nanti, kamu tahu ngak Kak Clara, gadis idola di Kota ini saja jatuh cinta sama Tommy.”


“Bahkan ada gosip aneh sore tadi,”


“Ada yang melihat mereka berdua berciuman di warung makan.” ucapan abi membuat Irma dan Ria mendekat dan mereka mulai bergosip sambil berjalan menjauh dari tempat itu.


Disisi lain, Willy yang sudah membeli guci kecil tadi, terlihat menatap ketiga gadis teman sekelas Tommy itu. Wajahnya terlihat tidak bersahabat setelah mendengar kabar itu.


Dia meremasnya guci yang tadi diperebutkan nya dengan Irma itu keras-keras, membuat guci itu pecah dan menggores tangan pemuda tampan itu. Tanpa ekspresi, seolah hal itu tidak membuat dia kesakitan sama sekali.


“Tommy... Tommy... Tommy... lagi-lagi dia,”


“Tidak-tidak, tidak mungkin Clara menyukainya...”


Ucapan dingin Willy yang dia teriakan di dalam hati itu, membuat suasana di sekitarnya juga berubah menjadi dingin, belum lagi setelah tiupan kecil angin juga berhembus ketempat itu malam ini.


**


“Huaciimmm...”


“Kamu kenapa Tom? apakah kamu Flu?” ujar Clara bertanya kepada Tommy.


“Ahg, ngak kok, tiba-tiba hidung ku merasa gatal saja.”


“Sepertinya ada orang yang sedang berbicara buruk tentang ku.” ujar Tommy menjawab Clara.


“Hee hee hee”

__ADS_1


Clara meniru suara tawa lamban yang sering muncul di TV, tanda dia mengejek ucapan Tommy barusan.


“Kamu masih saja percaya sama hal yang seperti itu, dasar aneh.” ucap Clara menggoda Tommy.


Mereka yang berbicara berdekatan dan sambil bisik-bisik itu mengundang Pak Deddy bereaksi kembali, dia yang melihat posisi bisik-bisik itu seperti posisi berciuman leher, segera berdiri dari tempat duduknya.


Pak Deddy kali ini menyuruh Clara bergeser dan duduk tepat ditengah mereka berdua, memisahkan anak gadis nya itu dengan Tommy.


“Daddy kenapa sih?” ujar Clara sedikit kesal karena kelakuan ayahnya itu.


Entah apa yang dirasakan Clara sekarang, Tetapi Tommy yang dari tadi sedikit senang dapat berbicara sedikit santai dengan Clara dari tadi juga terlihat tidak senang atas kelakuan Ayah Clara itu. Namun tatapan sinis Tommy terlihat oleh Pak Deddy dan membuat dia merespon tatapan itu dengan ucapan dingin.


“Apa kamu liat-liat?”


“Ngak senang aku duduk di dekat mu?” ujar Pak Deddy bertanya.


Sontak akal sehat Tommy mengambil alih kembali dirinya, Tommy yang tadi terbawa emosi karena sedang asyik ngobrol dengan Clara dan tiba-tiba dijauhkan seperti itu, memang terlihat kesal. Tetapi jika tidak ditanya oleh Pak Deddy mungkin dia sedikit terbawa suasana kesalnya itu.


“Oh, Maaf om.”


“Aku senang kok Om bisa duduk di dekat ku, ku harap kita bisa berteman baik.” ucap Tommy mencoba akrab.


“Enak aja kalau ngomong, siapa yang mau berteman sama anak ingusan seperti mu.” ucap Pak Deddy yang kali ini sedikit kesal mendengar perkataan pemuda disamping nya itu.


“Astaga aku salah bicara lagi, apa sih yang di mau oleh orang tua ini.” ujar Tommy dalam hati.


Dia memang lupa melakukan hal paling dasar kali ini, mungkin karena dia nervous dari awal atau karena hal lain.


Tommy yang seharusnya menenangkan induk Singa terlebih dahulu sebelum bisa mengelus anak singa itu, melupakan ritual wajib yang harus dia lakukan itu untuk menangkal semua kejadian tidak diinginkan dari sejak awal tadi.


Dengan sadar dia berpura-pura seperti membersihkan tangan Pak Deddy kali ini dan mengusap tangan kanan Induk singa itu.


“Oh ada sesuatu di tangan om,” Secepat Kilat dia melakukan sentuhan tersebut agar dapat mendengar perkataan hati dari Ayah Kandung Clara itu.


“Huh, apa yang dilakukan bocah ini?”


“Ku lihat dia memang pintar di bidang akademik, karena jawabannya dari tadi benar semua, tapi....”


“Apa dia tidak bisa mencari cara lain mendekati orang tua gadis yang dia sukai? sampai-sampai harus mengelus tanganku” ujar Pak Deddy dalam hati sambil memperhatikan kelakuan Tommy yang sedikit aneh itu.


Sedangkan Tommy hanya menundukan kepalanya sekali dan tersenyum menyambut perkataan yang hanya bisa dia dengan tersebut.


Di lain sisi Miss Jennifer yang melihat kelakuan Tommy itu menggelengkan kepala nya, Bule cantik itu sedikit terkesan karena kelakuan Tommy yang mencoba mengambil hati Suaminya malam ini.


“Tom, open your hand” ucapan Miss Jennifer itu langsung dituruti Tommy, dia mengulurkan tangan kanannya ke arah Miss Jennifer yang duduk lesehan didepan nya itu.


“Nih makan apel dulu, biar bersemangat.”


“Hihi..” Tawa kecil terlihat keluar juga dari mulut wanita bule ini.


Sedangkan bagi Tommy ini adalah kesempatan baginya untuk sekali lagi memantau suasana hati para Induk Singa ini. jadi dia segera melakukan kontak fisik juga dengan Miss Jennifer dengan memegang tangan wanita bule ini saat dia memberikan potongan kecil apel tersebut.


Tommy melakukan itu dengan cara se-natural mungkin agar tidak terlihat mencurigakan, dia mencoba menggenggam tangan miss Jennifer seperti cara seseorang bersiap menerima sesuatu, tetapi agar tidak menjatuhkan pemberian itu jadi dia menggunakan bantuan tangan kirinya memegang tangan wanita di depannya ini.


“Apa yang pemuda bodoh ini lakukan, dia berani menyentuh tangan istri tercinta ku.”


Ucapan hati dari Pak Deddy itu terdengar menakutkan bagi Tommy, sehingga dia langsung melepas tangannya secara refleks, Hal ini membuat apel yang ada di tangan satunya terjatuh ke lantai.


“Haduh, kamu benar-benar ya.”


“Kaya bukan Pria aja, masa letoy gituh, kamu seperti tidak menghargai pemberian mama Clara.” ucap Pak Deddy kesal karena kecerobohan Tommy.


“Siapa yang salah sih, kamu tuh ngancam segala.” ujar Tommy menjawab ucapan hati Pak Deddy itu di dalam hati juga. Sementara mulutnya mengucapkan permintaan maaf.


Tetapi karena rasa bersalah juga membuat Tommy segera mengambil potongan Apel yang terjatuh tadi dilantai dan mengambilnya segera, dia langsung memakan apel itu dengan santai sambil berujar mengikuti perkataan sebuah iklan yang juga terkenal dizaman itu.


“Belum Lima menit...he he”


Tommy berkata-kata sambil mulutnya mengunyah apel yang jatuh ke lantai tadi.


Melihat kelakuan Tommy itu, Widya dan Erik, kedua adik-adik Clara itu seketika itu membuka mulut mereka, seakan rahang mereka tidak memiliki persendian dan dapat terlihat terjatuh kebawah, jelas kedua adik Clara itu seperti Syok melihat kelakuan Tommy.


“Lantai tempat apel itu jatuh,"


"Tadi siang Blacky buang kotoran dilantai itu.” ucap Erikson adik bungsu Clara.


Blacky adalah anjing kecil peliharaan mereka yang siang tadi bermain bersama erik di ruang keluarga tersebut, anehnya anjing itu tadi siang melakukan sesuatu yang tidak wajar, dia mengeluarkan kotoran nya tepat dilantai tempat Apel yang dimakan Tommy itu terjatuh.


Widya yang membersihkan semua itu jelas mengetahui benar lokasinya dan Erik yang memperhatikan semua itu dari awal juga tahu, yaitu pojok kanan dekat kaki meja yang ada diruang keluarga itu adalah tempat kejadian perkara tadi siang.


“Uhuk...uhuk...”


Tommy batuk keras mendengar semua perkataan polos dari erik yang spontan itu, walau Widya sudah berusaha keras menutup mulut karena menjadi saksi kejadian tadi siang, Namun Erik sudah membuat semua makanan yang dimakan dan diminum Tommy dari tadi mengaduk-aduk perutnya sekarang.


***


Belum Edit, Kuharap hasilnya tidak terlalu buruk.

__ADS_1


Thanks XL


__ADS_2