Game Of Love

Game Of Love
Penyelidikan Bu Yulia


__ADS_3

Tengah malam telepon rumah berdering beberapa kali. Orang tua Tommy yang sedang tertidur lelap, terbangun karena panggilan telepon yang tidak berhenti tersebut.


Telepon yang berdering di tengah malam pastilah karena sesuatu yang benar-benar mendesak. Pak Simon ayah Tommy langsung terbangun. Harap-harap cemas mendapatkan telepon itu.


Dulu saat Pak Simon juga dipanggil lewat telepon seperti itu. Ibunya yaitu Nenek Tommy, Ny. Tjie Mei Lie. Dikabarkan meninggal dunia. Karena kedua orang tuanya sudah meninggal dunia Pak Simon ayah Tommy hanya berpikir tentang sang mertua yang memang sudah sakit keras beberapa bulan ini.


Dia mengangkat telepon itu dengan cemas, belum lagi karena memang Pak Simon baru saja terbangun. “Halo, Selamat malam.”


“Halo, apa saya bicara dengan Pak Simon, Bapak dari Sdr. Tommy Orlando?” ucap orang yang menelepon tersebut.


“Benar, saya Simon, ada apa pak? apakah ada sesuatu yang terjadi?” Kali ini bukan kecemasan atas sang mertua yang menyadarkan dia dari rasa kantuk, tetapi karena si penelepon tersebut menyebutkan nama Tommy yang memang belum pulang hingga larut malam ini. Membuat Pak Simon menjadi Khawatir.


“Saya dari Polresta Kota Air Pak, anak bapak berada di kantor Polresta sekarang, Kami aman kan bersama dengan beberapa orang terkait kasus perjudian.”


“Jika tidak keberatan, bisakah bapak ke Kantor Polresta sekarang, kami memerlukan beberapa keterangan dari Pihak Keluarga.”


“Eh, Baik Pak, saya akan kesana segera,” Bagaikan disambar petir perasaan Pak Simon menjadi tidak karu-karuan, Di satu sisi dia merasakan kemarahan terhadap anaknya. Di sisi lain dia merasa cemas.


Sebelum semua kejadian itu menjadi sedikit Logis. Pemikiran Pak Simon memang kalut. Namun sekarang tidak ada lagi rasa cemas dan khawatir. Dia tersulut emosi dan amarah. Bahkan tindakan Pak Simon membuat Bu Rita istrinya berdiri dan mendatangi Sang Suami di ruang keluarga.


“Kenapa pah? sudah malam kok ribut-ribut sendiri,” ucap bu Rita yang sekarang duduk di samping sang suami.


“Anak mu itu...Sudah keterlaluan, diberi kebebasan seperti ini tetapi yang dia lakukan sebaliknya, dia tidak menghargai kebebasan yang kuberikan,” Nada suaranya sedikit meninggi.


“Loh kenapa? Siapa yang Papah maksudkan?” Bu Rita yang tidak mengetahui perihal telepon tadi terus bertanya kepada sang suami.


“Siapa lagi yang belum pulang hingga larut malam seperti ini, selain Tommy, adik-adiknya sudah tertidur semua, dia malah keluyuran dan berjudi, lihat sekarang hanya menyusahkan orang tua saja.”


Mendengar perkataan suaminya, Bu Rita sekarang terlihat cemas dan khawatir, Tommy bahkan tidak pernah terlibat masalah kenakalan remaja sebelumnya. Jadi yang ada di pikirannya hanyalah Viktor yang sore itu menjemput Tommy di Rumah.


Nasi sudah menjadi bubur, Tommy memang tidak berniat merepotkan kedua orang tuanya. Dia terlalu asyik mengingat kejadian yang dialami oleh Mr. dan Mrs. Lee, sampai-sampai lupa waktu dan bahkan melupakan kejadian dulu yang juga menyeretnya untuk bersekolah semalam di tempat paling di hindari semua orang.


Setelah kedatangan Pak Simon ke kantor Polisi, Tommy dipulangkan, dia memang masih anak dibawah umur saat itu jadi masih ada toleransi, lagi pula dia memang tidak memiliki catatan kriminal sebelumnya.


Untuk Viktor dia adalah seorang anak Perwira Polisi, tetapi ayah dan ibunya mendidik dia sedikit lebih keras. Viktor di biarkan bersekolah 3 hari lagi disana. Dengan didikan yang keras yang juga merubah kepribadian Pemuda Batak ini.


**


Malam itu berlalu terasa lebih cepat. Esok hari Tommy bersekolah seperti biasa. Rutinitas yang dia jalani hari ini kembali menjadi seorang pesuruh untuk kedua gadis yang sekarang membenci dia.


Seorang anak SMA biasa tidak akan sanggup menangani kedua Princess yang sekarang berubah galak ini. Tommy berbeda dia yang mempunyai pengalaman hidup selama 30 tahun lebih di kehidupan pertamanya, jelas mental yang dia miliki berbeda. Kedewasaan dia tunjukan di hadapan kedua Princess ini.


“Apa sih...kamu tidak bisa berpikir yah? tadi kan sudah ku bilang, belikan aku minuman kenapa kamu membawa Teh Es?” bentak Icha yang menatap Tommy dengan marah.


“Bukan nya kamu suka Teh Es Cha?”


“Sejak kapan? Teh Es bisa bikin gemuk, tukar sana aku hanya minum air mineral,” Suara Icha sekarang meninggi, dia tidak senang Tommy menyebut dia adalah penyuka Teh Es, walaupun itu memang benar adanya.

__ADS_1


“Ngapain kamu berdiri disana seperti patung saja, cepat sana pergi belikan air mineral, kami ngak suka menunggu lama,” sekarang Melisa yang menimpali perkataan Icha.


Kegiatan yang mereka berdua dulu sebut dengan “Belajar dengan Tutor Tampan” ini sekarang berubah seperti adegan “Pembantu Tampan saat SMA”, mereka berdua sudah merencanakan ini sebelumnya.


“Baiklah Princess apakah hanya air mineral yang kalian butuhkan sekarang? waktu istirahat akan segera berakhir, kalian tidak akan menikmati apa-apa nanti jika ada lagi selain ini yang kalian inginkan.”


“Sebaiknya sebutkan semua yang kalian mau sekarang, atau kalian akan kelaparan dan kehausan nanti saat belajar, karena aku tidak sempat membeli sesuatu jika bolak balik seperti ini.” ujar Tommy menekankan bahwa ada batas waktu jika mereka memintanya bolak balik perpustakaan dan kantin sekolah.


“Roti isi Vanilla 1, Roti isi Cokelat 1, Snack taro 2, Kripik Pisang 2, Tissue 2 bungkus, Sudah pergi sana,” ujar Icha sambil menatap Tommy.


Mata mereka berdua bertemu sebentar, Tommy yang akhirnya mengetahui isi hati gadis itu, hanya tersenyum tipis menatap sang gadis pujaan hatinya, Tatapan penuh cinta dia kirimkan membalas Icha melalui waktu yang sebentar tadi. Salah Tingkah karena tatapan itu Icha langsung membalik-balik buku bacaan yang ada diatas meja.


Melisa menangkap tatapan itu. Kerjasama mereka berdua sungguh sempurna. Dia langsung berkata “Sudah pergi sana ngapain kamu senyam-senyum seperti itu?”


“Yah, baiklah Mel...” Sedikit lesu Tommy berbalik menuju ke meja penjaga perpustakaan untuk mendatangi Kak Erla.


“Hey patung bundaran, kenapa kamu ke meja Kak Erla, Bodoh ya? sudah pergi sana.”


Berpaling sebentar mendengar perkataan Melisa, Tommy kemudian terus melangkah menuju meja Clara. Dia mengambil bungkusan Plastik yang sudah dia beli sebelumnya dan dititipkan disana.


Membawa bungkusan Plastik itu dia sekarang melemparkan bungkusan itu ke meja tempat Icha dan Melisa duduk. “Nih semua yang kalian perlukan, Sebenarnya aku masih ingin duduk dan ngobrol dengan kalian berdua, Aku merindukan masa-masa saat kita masih dekat.”


“Tapi tampaknya kalian berdua tidak menyukai keberadaan ku, Jadi sebaiknya aku pergi dari sini, bye-bye,” Secepat kilat Tommy berbalik dan meninggalkan Icha dan Melisa disana. Yang saat itu dengan cepat memeriksa daftar pesanan yang mereka inginkan sebelumnya.


“Apa....bagaimana dia tahu yang kita inginkan?”


“Dia akan tahu Cha...”


Maksud hati ingin membalas Tommy, tetapi mereka berdua bahkan tidak mendekati itu sedikitpun. Muncul sedikit rasa kesal di hati Icha hari ini, belum lagi dia mengingat perkataan Tommy kemarin di tempat bakso.


Hari ini Icha hanya bisa menatap punggung lapang Tommy yang gagah itu menjauh dari perpustakaan. Tanpa bisa berkata-kata untuk menghentikan langkah pemuda tampan itu. Kata siapa cinta itu hanya tumbuh oleh sesuatu yang manis dan penuh daya tarik saja. Cinta bahkan bisa Tumbuh dari rasa kesal dan benci.


**


Cuaca siang ini memang panas dan sedikit gerah. Sinar Matahari yang terik membawa rasa lelah tersendiri bagi beberapa Murid. Bahkan Bu Yulia yang mengajar saja harus mengibas-gibas kan Kipas plastik yang dia bawa beberapa kali.


Untuk Tommy dia yang berada di dekat Pintu itu sedikit tertolong karena ada angin sepoi-sepoi beberapa kali bertiup, walaupun masa tetap merasa gerah. Irma, gadis geulis asal Bandung itu yang duduk disebelah Tommy memang merasakan juga efek panas siang ini.


Sambil mendengarkan penjelasan Bu Yulia. Gadis Geulis ini terlihat juga beberapa kali mengibarkan seragam karena panas. Untuk beberapa anak perempuan yang dilakukan Irma itu sedikit memalukan. Namun dia yang sering melakukan itu hanya di rumah saja bahkan tidak sadar sudah mengibar-ngibarkan seragamnya beberapa kali.


Tiupan angin sedikit kencang dirasakan Irma beberapa kali sehingga dia menghentikan yang dia lakukan sebelumnya. Irma melirik ke arah Tommy yang sedang berkipas dengan selembar plastik sampul tebal, jelas angin dari kibasan kipas Tommy ini mengenai Irma yang duduk se bangku dengan dia.


Wangi tubuh pemuda tampan itu tercium Irma bersama dengan hembusan angin yang berasal dari sampul plastik di tangan Tommy. Dia memandang Tommy sedikit lain hari ini. Entah mungkin karena bau Feromon yang bercampur dengan wangi tubuh pemuda itu. Atau karena daya tarik lain.


Yang pasti, dua gadis lain yang juga duduk dibelakang mereka, bahkan merasa iri dengan Irma. Sebab menurut mereka yang Tommy lakukan itu bukan sedang mengipas diri sendiri, tetapi memang sengaja mengipas dengan kencang agar angin dari Kipas tersebut bisa sampai ke Irma.


Perlahan kibasan kipas tadi menjadi sepoi-sepoi dirasakan Irma. Tommy yang sudah berusaha selama 1 jam ini, mulai merasa keram di kedua tangannya. Dia bergantian melakukan gerakan olah raga Kipas itu dengan tangan kiri dan kanan selama sejam terakhir.

__ADS_1


Irma baru menyadari sesuatu saat angin yang dia rasa menjadi lebih pelan dari sejam sebelumnya. Dia melihat baju Tommy yang bergerak kuat diterpa angin dari sampul plastik itu. “Jadi dia sengaja dari tadi ngipasin kencang-kencang seperti itu?” Gumam Irma dalam hati sambil menatap Tommy dengan kekaguman.


Mendengar perkataan hati Irma, Tommy hanya tersenyum tipis sambil berpura-pura memperhatikan pelajaran Bu Yulia. Tommy memang tidak ada perasaan apa-apa kepada Irma dia hanya kasihan saja melihat gadis itu kepanasan di sebelahnya, sekalian ngipas dirinya sendiri dia sedikit berkorban.


Melihat tingkah Tommy selama satu jam ini. Bu Yulia ternyata tidak menyukainya. Dia bisa menangkap sinyal kipas yang diberikan Tommy, sama seperti dua orang siswi yang duduk dibelakang Tommy.


Guru cantik ini memang dalam beberapa minggu ini sedikit menaruh ketidak sukaan dengan Tommy. Dia yang dengan mata kepalanya sendiri melihat keberanian pemuda itu menyatakan cinta, kepada Anak semata wayang yang di Cintai.


Membuat Bu Yulia melakukan penyelidikan dan investigasi sendiri terhadap Latar Belakang Akademik, Keluarga dan Bahkan hubungan percintaan Lelaki tersebut. Memang yang Ibu Yulia temukan semua baik-baik saja, Bahkan diluar dari ekspektasi yang dia kira.


Bu Yulia bahkan diam-diam memasuki kamar Icha saat anaknya sedang tidak ada, dia membongkar kamar anaknya itu mencari jejak mungkin Icha ada menyembunyikan sesuatu dari dirinya selama ini. Benar saja,


Di sebuah kotak kaleng bercorak imut milik Icha, Bu Yulia menemukan beberapa Surat yang tidak mencantumkan nama. minggu lalu dia sengaja pulang ke rumah saat jam pelajaran sekolah, sebab memang jadwal mengajarnya pada jam kedua sedang kosong, jadi dia meminta izin pulang cepat kepada Kepala Sekolah.


Beberapa kali membaca puisi dan surat cinta tanpa nama itu. Memang membuat hatinya sebagai seorang perempuan juga tersentuh. Jadi dia tidak mengambil semua surat-surat dan Puisi cinta itu, dia hanya mengambil beberapa.


Ada beberapa murid perempuan yang pernah dia tarik ke Ruang BP untuk mengembangkan kasus penyelidikan “Puisi Cinta untuk Anak ku” tersebut. Bu Yulia meminjam Ruang BP hanya untuk menginterogasi beberapa orang kawan Icha, selain Melisa tentunya.


Dia Menanyakan Isu-isu tentang Tommy atau pemuda lain yang mendekati Icha. Mulai dari kekasih, Teman dekat, apa yang pemuda itu lakukan setiap hari. dan segala macam. Kepada beberapa Koresponden paksaan itu. Hasilnya tidak ada yang menjatuhkan Tommy atau mengarah ke orang lain, sebab Icha memang tidak memiliki seorang kekasih. Sehingga dia menjadi sedikit kesal.


Jadi minggu kemarin Bu Yulia mengadakan Test Esai kepada semua murid kelas I. Dari situlah dia mengetahui bahwa Tulisan puisi cinta dan surat-surat Cinta tanpa nama itu berasal dari Tommy. Jadi emosinya juga meninggi karena perlakuan Tommy kepada Irma tadi.


Menurutnya perasaan Tommy tidak seperti yang ada di Puisi Cinta atau surat-surat cinta itu. Sebab dia dengan sengaja menggoda gadis cantik lain yang sekarang duduk se bangku dengannya. Jadi dia mengambil tindakan hari ini.


“Tommy selesaikan Soal nomor 18 – 25 sekarang, kamu bisa kan? sesuai yang saya ajarkan selama satu jam ini,” ucapan dingin penuh emosi terdengar pelan diucapkan, tetapi suasana di ruangan langsung menjadi hening. Sebab Guru cantik ini tidak pernah menyuruh murid yang dia ajari untuk maju mengerjakan soal di Depan kelas sebelumnya.


“Aduh gawat, ada 30 soal di buku paket ini.”


“Bagaimana jika aku yang disuruh maju nanti setelah Tommy.”


“Hah Bu Yulia kenapa? gawat-gawat, aku belum paham pelajaran ini.”


“Sebaiknya aku izin ke Toilet saja, hanya tinggal 45 menit lagi pelajaran matematika hari ini selesai, aku bisa menunggu disana.”


Suasana kelas seperti mencekam mendengar kata-kata Bu Yulia, Dia memang sengaja menyuruh Tommy tetapi tidak kepada murid yang lain. Hanya karena panasnya hati dan emosi yang melihat kelakuan genit Tommy. Bu Yulia sudah efektif membuat kelas yang tadi sedikit gaduh menjadi silence seketika.


Tak butuh waktu lama bagi Tommy menyelesaikan semua soal itu bahkan tanpa membawa buku sekalipun dia sudah mengingat setiap pertanyaan di buku paket yang dia miliki. Bu Yulia yang memang sengaja memberikan Soal yang belum pernah sama sekali dia jelaskan tersebut, mengira akan membuat Tommy kesulitan tetapi hal tersebut membuat dia diam seribu bahasa.


Selama satu jam ini dia hanya menjelaskan tentang materi untuk soal 1 – 15 saja, bukan untuk soal dari 18 – 25, karena dia melihat Tommy asik menulis dari awal dia merasa jengkel dengan pemuda itu.


“Bu...Bu Yulia? sudah bu, mohon di koreksi,” ucap Tommy sambil berpaling dan kembali duduk ke bangkunya.


Begitulah pelajaran hari itu diselesaikan. Tommy masih melanjutkan kipas-kipas itu tanpa memperdulikan tatapan Irma sedikitpun, Dia hanya cuek sambil menulis di jurnal miliknya. 2 jam setelah itu dia kembali ke Rumah dengan tangan yang pegal dan keram untuk beberapa hari ke depan.


————


Thanks XL

__ADS_1


__ADS_2