
Jalan berduaan dengan Clara membuat Tommy terlihat malu. Tidak sedikit anak SMA yang pulang sekolah hari itu melihat mereka berdua jalan bersama. Karena itu membuat Tommy salah tingkah.
Lengan Tommy yang sedang di gaet Clara membuat dia tidak bisa apa-apa. Jantung yang berdetak lebih kencang, keringat keluar bercucuran. Pria polos ini tentu tidak pernah diperlakukan seperti ini sebelumnya.
“Kak Erla malu dilihat orang banyak,” ucap Tommy sambil ingin melepaskan tangan Clara.
“Biar Emang ku pikirin!” ucap Clara dengan enteng menjawab Tommy sambil menatap wajah pemuda tersebut disertai senyum licik.
Icha yang kala itu pulang sekolah dengan Melisa. Melihat jelas posisi lengan Tommy yang sedang dikunci oleh Clara. Sedangkan Tommy makin meronta ingin tangannya dilepaskan gadis blasteran ini.
“Apaan sih kak lepasin.”
Pandangan Icha terus tertuju mengarah ke Tommy. DIa yang saat itu sedang berboncengan dengan Melisa diatas sepeda motor tidak bisa menghentikan tatapan penuh kecemburuan itu.
“Awas kamu nanti Tom, akan ku balas berkali lipat,” ucapan itu dilontarkan Icha di dalam hatinya.
Tommy yang melihat tatapan itu walau tidak mendengar perkataan hati Icha tentu mengetahui arti tatapan tersebut, dia tidak melakukan bisa apa-apa lagi sekarang. Tangan Clara semakin mengikat kencang di lengannya, seolah Erla ingin menunjuk kan sesuatu kepada Icha.
“Apa-apaan anak-anak ini sudah berpacaran saat masih SMA,” ujar bu Yulia dalam hati, yang tidak lama menyusul keluar dari sekolah.
Dia tentu jijik melihat tingkah anak SMA nya yang seperti itu, menurutnya kelakuan mereka yang seperti itu jelas diluar batas untuk anak-anak muda.
“Hey apa yang kalian berdua lakukan, bikin malu sekolah saja” ujar Bu Yulia diatas sepeda motornya, berteriak kearah kedua muda-mudi di depannya yang sedang asik bergandengan tangan.
Saat melewati mereka berdua dengan sepeda motornya Bu Yulia akhirnya melihat wajah kedua orang itu, mata guru cantik itu melotot saat melihat Tommy. Dia mengetahui yang sudah mengetahui Tommy menyukai Icha anaknya seperti tidak terima kala melihat adegan peluk tangan itu.
“Aduh mati aku kali ini,” ujar Tommy dalam hati saat melihat guru cantik itu melewati mereka berdua.
Dua kali ditatap oleh pandangan bermusuhan yang seperti itu, membuat Tommy hanya bisa pasrah terhadap nasibnya ke depan. Jika pun ingin bertarung lagi mengejar cinta pertamanya jalan yang dia akan lalui ke depan pasti penuh penolakan karena kejadian hari ini.
Tetapi Clara wajah gadis ini seakan cuek dengan senyum yang selalu menghiasi bibirnya, seakan Clara memang menunggu saat-saat seperti ini. Gadis cantik ini sepertinya memang menunggu momen ini untuk menjatuhkan hubungan Tommy.
**
Tiba di sebuah warung makan sederhana yang di atasnya bertuliskan Warung Makan Bu Eny, membuat Tommy sedikit bingung karena warung ini hanya berbeda beberapa toko saja dari Toko Buku Clara.
“Yuk masuk, di sini tempatnya”
“Kak Erla, rumah kakak kan dekat kenapa tidak makan di rumah aja, kan sayang duit kakak?”
“Aku tiba-tiba ingin makan panggang ayam, sudah masuk aja.” desak Clara kepada Tommy.
Di dalam mereka disapa oleh Bu Eny yang sedang asyik memanggang beberapa pesanan tamu-tamu yang ada di dalam warung makanannya.
“Erla, hari ini mau pesan apa?” ujar bu Eny yang menatap ke arah Clara dan juga Tommy dengan tatapan penuh selidik.
“Ayam panggang nya dua porsi ya bu, seperti biasa, minumnya Es Jeruk dua.”
“Eh apa ngak ditanyain pacar mu mau apa Erla?”
“Ngak usah bu dia juga suka kok panggang ayam,” ujar Clara dengan ceria menjawab bu Eny.
Bu Eny pemilik warung makan ini menjadi salah tingkah karena pernyataan Clara, dia hanya mengangguk dan memberikan senyum menjawab gadis ini. Sebenarnya bu Eny ingin bertanya lebih kepada Tommy tetapi dia merasa tidak enak.
Rasa penasaran kini menyelimuti ibu tiga orang anak ini. Melihat kelakuan Clara membuatnya tidak bisa berkata-kata lagi. Clara yang tidak pernah sama sekali dekat dengan seorang pria menjawab santai saja perkataan bu Eny yang menyindir dengan kata Pacar. Biasanya anak gadis akan malu-malu kalau disindir ditempat umum.
Tidak butuh waktu lama pesanan itu akhirnya datang, dua porsi ayam panggang yang dipotong kecil dengan sepiring kecil saus cocol dan sepiring kecil sambal disajikan diatas meja, bersama dengan dua es jeruk segar.
“Yuk makan aja jangan malu-malu,” ucap Clara kepada Tommy.
“Iya nih...” ujar Tommy menjawab.
Clara gadis ini bukan tipikal gadis pemalu dan menjaga image nya didepan orang-orang, dia dengan lahapnya makan menggunakan tangan seperti orang Indonesia pada umumnya.
“Ku kira kakak hanya bisa makan pakai sendok saja,” ucap Tommy sambil makan.
“Kwamu twidak dwi ajwarkan mwakan itwu jwangan bwicara?” dengan mulut yang penuh makanan Clara menjawab Tommy. Membuat dia sekarang memperhatikan Clara dan menghentikan santapannya.
“Kwenapa twidak pwernah mwelihat gwadis cwantik mwakan sweperti iwni?”
Clara hanya membalas tatapan itu sekilas, membuat Tommy menghela nafas melihat kelakuan gadis ini. Dia pun kembali menyantap makanan yang ada. Waktu berlalu, orang-orang yang tadi ramai disana sekarang sudah meninggalkan tempat itu, sekarang hanya menyisakan Tommy dan Clara disana yang juga akhirnya baru menyelesaikan makanan mereka.
“Ah...kenyang,” ujar Clara setelah menyedot Es Jeruk dari gelasnya menggunakan sedotan putih yang disediakan bersama minuman itu.
“Eh Tom kamu belum mengembalikan buku-buku yang dulu pertama kamu pinjam itu loh, sekarang dendanya sudah sangat banyak loh.”
__ADS_1
Perkataan Clara itu mengingatkan Tommy kepada buku-buku yang memang pernah dia pinjam dulu, dia mencoba mencari alasan sekarang karena memang dia sengaja tidak mengembalikan buku-buku itu, selain berat membawa buku-buku itu kembali ke sekolah akan sangat menyulitkan. Jadi dia sengaja menunda mengembalikannya.
“Iya aku belum menyelesaikan sebagian buku itu Kak”
“Kalau belum kamu selesaikan semua, kembalikan yang sudah kamu baca aja, perhari ini sudah denda sekitar Rp.30.000 loh”
“Uhuk...”
Mata Tommy membelalak hampir keluar mendengar itu, Es Jeruk yang tadi dia minum tersedak di tenggorokan.
“Kamu kenapa?”
“Ngak-ngak kok kak, aku hanya tersedak aja”
“Oh ya udah, Eh Tom, kalau bisa besok kamu bawa buku itu ya”
“Iya kak, tetapi aku belum punya uang untuk membayar dendanya.” ucap Tommy lagi.
“Hmmm...”
“Aku bisa bayarin untuk kamu kok,” ucap Clara sambil tersenyum membalas tatapan Tommy.
“Yang bener kak?”
“Iya bener lo, tapi ada syaratnya?” Kali ini senyum di bibir Clara berubah menjadi senyum licik, membuat Tommy menegak liur sekali lagi.
“Aap..Apa syarat nya kak?”
“Gampang kok, kalau tadi Rp.10.000 kamu bayar dengan berpacaran selama seminggu, jadi kamu harus menjadi pacar ku selama sebulan dengan Rp.30.000 itu bagaimana kamu mau?” ucap Clara yang memandang Tommy dengan serius sekarang.
Clara gadis ini memang tipikal gadis pemberani, jujur dan tidak takut kepada apapun, bertolak belakang dengan sifat Icha, bahkan dengan Tommy yang malu-malu kucing, mencoba keluar dari cangkang nya. Setelah menjalani kehidupan kedua ini.
“Benar-benar deh gadis ini, seharusnya pria yang melakukan hal seperti ini,” Tommy hanya bisa sekali lagi menghela nafas di hadapan gadis cantik ini.
“Bagaimana kamu mau apa ngak? kalau kamu ngak mau, ngak papa kok, asal besok kamu bawa buku itu sekaligus uang dendanya ya.” Clara menekan Tommy sekarang.
“Ehem....”
“Siapa yang bilang ngak mau kak?”
“Kalau bisa berpacaran dengan kakak selama sebulan, siapa sih yang ngak mau? Kakak kan gadis tercantik di sekolah kita” Tommy menatap Clara kali ini.
“Apa dia benar-benar suka dengan ku?” Tommy berujar dalam hati melihat kelakuan Clara tersebut.
“Apa yang kamu pikirkan?” ucapan Clara membuat Tommy menjadi siaga.
“Aku hanya berpikir....”
Tommy tidak melanjutkan perkataannya, dia mengalihkan percakapan mereka berdua, berbicara tentang buku-buku, novel dan pelajaran saja. Kali ini tentu Clara dengan antusias menjawabnya, sebab gadis ini memang menyukai buku.
Sedangkan Tommy berpura-pura tidak mengetahui beberapa buku dan novel yang sekarang sedang dibahas oleh Clara, dia ingin melihat bagaimana pandangan gadis ini terhadap karya-karya tersebut.
Melihat itu Clara pun terdiam, kali ini giliran Tommy yang ditanyai Clara mengenai buku-buku yang disukainya, Pemuda tampan ini hanya membahas seadanya saja, tetapi memang mengena kepada inti dari Novel tersebut.
Kutu buku bertemu kutu buku, pembicaraan mereka jelas nyambung, hal ini membuat Clara semakin antusias.
“Wah ternyata kamu tahu banyak ya, kamu seperti kamu berjalan” ucap Clara.
“Kakak bisa aja, aku hanya tahu sedikit lo”
“Ku kira kamu hanya mengetahui tentang buku pelajaran lo, tidak ku sangka otak mu penuh dengan detail buku yang kutanya, benar-benar mirip kamus.”
“Hihi...” ujar Clara menggoda Tommy.
“Makanya Kak Erla beruntung kan pacaran sama aku dari pada sama buku-buku di perpustakaan.” Melihat reaksi Clara tadi Tommy sedikit tertarik kepada gadis ini, sehingga dia mulai menggodanya.
“Coba deh Kak Erla tanyakan apa aja ke aku, ibarat seperti dongeng putri salju kak, mungkin aku bisa jawab, anggap aja aku Google.”
“Google apa itu? Kacamata?” tanya Clara.
“Sial, aku lupa mesin pintar itu belum ditemukan di tahun ini,” ujar Tommy dalam hati.
“Ngak kak anggap aja seperti ini..”
“Contoh nih ya, Cermin...cermin...cermin ajaib, Siapa kah pemenang Nobel untuk kategori Kesusastraan pertama kali?, nah gitu kak nanti aku jawab deh, sebagai balasan kakak sudah traktir aku sekarang.”
__ADS_1
“Hah benarkah? wah rame dong, aku coba ya, Cermin Ajaib sepertinya menarik, hihi....”
Kali ini gadis cantik ini tidak bisa menyembunyikan perasaan senangnya lagi mendengar hal itu, jadi dia mulai bertanya setelah diam memikirkan pertanyaan nya beberapa detik.
“Cermin...cermin...cermin...ajaib, Siapa kah pemenang Nobel untuk kategori Kesusastraan pertama kali?” pertanyaan Clara ini membuat Tommy tersenyum, dia mencoba mengikuti permainan Tommy sekarang.
“Wahai Ratu ku, Pemenang Nobel untuk kategori Kesusastraan pertama kali adalah Sully Prudhomme asal Prancis, di Tahun 1901, dia mengkhususkan diri pada bagian puisi,” ujar Tommy menjawab.
“Wah cermin ajaib ku ternyata pintar,” ucap Clara.
Tommy hanya tersenyum, dia jelas mengetahui itu sebab dulu saat mengikuti kelas sastra bahasa inggris bersama gadis yang dia sukai di kehidupan pertamanya, karya Sully Prudhomme merupakan makanan wajib bagi para mahasiswa yang mengikuti kelas tersebut.
“Coba ku tanya lagi,” ujar Clara kemudian.
“Silahkan kak.”
“Cermin...cermin...cermin...ajaib, Siapakah wanita tercantik di dunia ini?” Clara sedikit memiringkan kepalanya menanti jawaban Tommy.
“Wahai Ratu ku, wanita tercantik di dunia adalah...."
Sempat terdiam Tommy tidak langsung menjawab Clara, jika pertanyaan itu menyangkut tentang wanita tercantik, jelas menurut Tommy jawabannya hanyalah yang ada di List tercantik miliknya saja.
Dia menatap Clara, sikap gadis itu menunjukkan ketakutan tersirat di wajahnya, takut untuk mendengar jawaban Tommy. “Apakah dia takut aku menyebut nama orang lain?” atau “Apakah dia takut aku menyebutkan namanya?” jadi dia tersenyum sebelum menjawab Clara yang sekarang sedikit memundurkan posisi duduknya.
"Wanita tercantik di dunia adalah Ibu, bagi setiap orang itu sendiri" jawabku dengan tenang..
"Ha ha ha...sungguh bijak...luar biasa, cermin yang ajaib." ujarnya terkejut. Kemudian tidak lama dari itu dia bertanya lagi.
"Cermin...cermin...cermin yang ajaib, 3,000 × 275 ÷ 45 × 300 berapakah hasilnya?." kali ini dia bertanya pertanyaan yang sulit.
“Wahai Ratu ku, 3000 × 275 ÷ 45 × 300 Adalah 5.500.000." jawab Tommy penuh selidik kali ini.
"Waw, Ajaib.. Aku senang punya cermin seperti ini.." Clara tidak berhenti tapi melanjutkan bertanya.
"Cermin...cermin...cermin Ajaib, siapakah Gadis tercantik di SMA I, yang ada di Kota Air pada tahun ini?" Pertanyaan itu sedikit lebih detail dari pada yang lain, Clara menyertakan Nama Sekolah, Nama Kota mereka, dan tahun mereka. Clara menatap Tommy lebih serius lagi kali ini, tangannya sudah disilangkan diatas meja makan mereka menunggu jawaban tersebut keluar dari mulut Tommy.
“Apa dia hanya mencoba mengetes ku tadi, mencoba tentang pemahaman ku kah? sehingga Clara menginginkan jawaban pasti kali ini,” ucap Tommy dalam hati, dia tidak bisa lagi menghindar pertanyaan Clara kali ini.
Clara bahkan tidak menanyakan tentang perempuan atau wanita, dia mengkhususkan untuk kata-kata gadis, artinya dia memang mencoba mencari jawaban Tommy mengenai gadis tercantik di sekolah mereka.
“Wahai Ratu Ku, Saya tidak bisa menjawab pertanyaan anda lagi, karena dalam sehari karena kekuatan saya sudah berkurang jika melebihi tiga pertanyaan.”
“Anggap saja satu pertanyaan pertama adalah bonus, jadi mohon maaf Saya tidak bisa menjawab lagi pertanyaan ini.” ucap Tommy enteng.
“Rasakan mau bermain dengan ku,” Tommy sambil tersenyum dalam hati.
“Wah sungguh cermin yang berani, apa kamu mau tambah se porsi lagi makanan biar kekuatan mu kembali lagi,” Clara sedikit kesal kali ini sebab dia sengaja bertanya dua pertanyaan awal tadi karena memang mencoba memahami permainan Tommy ini.
Akan tetapi jawaban Tommy yang tiba-tiba ini membuat Clara menjadi kesal serasa dipermainkan, jadi dia tidak terima.
"Wahai Ratu Ku.. Kekuatan Hamba hanya terisi jika Yang Mulia Ratu berkenan mencium Hamba," Tommy kembali menggoda Clara, dia harus menghindari pertanyaan itu sebisa mungkin, sebab dia tidak ingin mengecewakan gadis cantik di depannya ini.
“Uhuk...uhuk..” Clara terbatuk-batuk karena dia yang tadi sedikit kesal sedang menyeruput Es Jeruk yang diatas meja mereka untuk mengurangi kekesalannya. Karena itu sekarang dia menatap Tommy dengan Sinis.
Entah mengapa walaupun sekarang ditatap dengan tatapan sinis Clara. Wajah gadis itu terlihat memerah sedikit demi sedikit menjadi sangat merah. Wajah putihnya sekarang menjadi semerah Tomat. Dari muka sampai ke telinga. Membuat Tommy senang sudah berhasil mengejai gadis ini, dia berhasil membalas dendam tadi saat pulang sekolah.
Untung saja warung makan bu Eny sekarang sudah sangat sepi, tidak ada lagi orang disana, sedangkan bu Eny sendiri terlihat sedang di warung sebelah sedang asyik menggosip.
“Clara imut juga saat sedang marah,” ucap Tommy dalam hati.
Pandangan mereka berdua sekarang bertemu, tatapan mata bertemu mata, sekali lagi Tommy merasakan perasaan tenggelam yang memuaskan perasaannya.
Tiba-tiba Clara mendaratkan ciuman bibir ke Tommy, sekarang pancingan yang dia bayangkan tidak mungkin berani dilakukan seorang gadis ditempat umum itu, benar-benar membuat dia mematung.
Bukan hanya Clara yang sekarang wajahnya memerah, Tommy bahkan mulai menampakkan gejala yang sama, seperti virus yang ditularkan karena kontak fisik, Wajah putihnya juga sekarang menjadi memerah semerah Tomat.
“Apa yang kakak lakukan, itu kan ciuman per...” Tommy menghentikan perkataannya.
Tommy mencoba mengatur nafas yang mulai menderu, Jantung yang berdetak kencang itu membuat kepalanya terisi perasaan aneh untuk pertama kali di kedua kehidupannya, sebelum akhirnya Clara menjawab malu-malu.
“Itu juga adalah Ciuman Pertama ku Tom....”
————
Belum Edit (0)
__ADS_1
Makasih NovelToon dan MangaToon, sekarang otor jadi semangat kembali karena Emulator sudah jalan, anggap saja App ini menyediakan makanan ringan dan berat seperti di Super Market, jadi semua ada. Tinggal pembeli yang memilih.
Thanks XL