
Berjalan kaki melewati jalan beraspal yang panas siang ini, untuk kembali ke rumahnya Tidak membuat Clara terlihat lesu dan kurang bersemangat. Malah entah kenapa hari ini dia kembali ke rumah dengan wajah bercahaya.
Senyum lebar di wajah gadis cantik ini seperti barang yang diobral dengan harga murah kepada semua orang.
Sangat Jarang sebenarnya dia bersikap seperti ini, biasanya gadis blasteran ini setelah pulang dari sekolah dia sering memakai sebuah jaket hoodie dan menutup bagian kepala dengan tudung jaket tersebut.
Dengan tangan yang dimasukan ke kantong jaket. Dia bahkan tidak melihat orang lain karena bersikap dingin seperti itu biasa baginya.
Sepertinya setelah berpegangan tangan dan bertatapan mata langsung dengan Tommy membuat suasana hati gadis cantik ini berubah.
Siswa-siswa lain bahkan mulai bergosip tadi melihat dia pulang dengan tanpa memakai jaket hoodie abu-abu yang dia pakai tadi pagi.
Untuk para lelaki melihat keindahan tubuh gadis bak model ini jelas pemandangan langka, sebab tiap hari dia selalu menutupinya dengan jaket miliknya tersebut.
Sesuai dengan hari malah. dari senin sampai dengan jumat warna jaket yang dia pakai selalu berubah-ubah, tetapi yang paling jarang dia gunakan adalah jaket hoodie berwarna abu-abu miliknya tersebut.
Ada yang bilang Mood gadis ini sesuai dengan warna jaket yang dia pakai.
Jika dia hari ini memakai jaket berwarna putih maka dia akan melayani setiap pengunjung perpustakaan dengan senyum di wajah dan perlakuan tulus.
Yang paling membuat orang banyak ke perpustakaan adalah saat dia menggunakan jaket berwarna pink, maka hari itu para siswa laki-laki akan banyak berkumpul di perpustakaan berpura-pura meminjam buku, hanya untuk berkenalan dengannya.
Sebab mungkin seperti suasana hatinya yang berbunga-bunga dan sedang kasmaran sehingga dia menggunakan warna pink tersebut.
Jadi dia lebih sering mengajak orang lain berbincang-bincang jika memakai jaket itu, bahkan dia dengan mudahnya menatap mata para siswa laki-laki tanpa ada batasan seperti hari lain.
Yang membuat orang suka dengan gadis ini adalah saat dia menatap seseorang maka akan timbul perasaan hanyut seperti tenggelam yang akan dirasakan orang yang ditatapnya.
Tidak ada yang menyangkal hal tersebut, bahkan para kaum hawa pun begitu, semua orang terhipnotis dengan kecantikan gadis blasteran ini.
Jadi siapa yang tidak merasa seperti sedang tenggelam saat diberikan senyum dan tatapan indah darinya.
Maka hari ini jelas berbeda yang paling dihindari orang adalah saat dia memakai jaket abu-abu, sebab dia akan mulai memandang orang dengan sinis dan sedikit jutek.
Karena Tommy tidak mengetahui hal tersebut, yang hanya akan diceritakan turun temurun bagi siswa-siswa Secret Society pemuja gadis blasteran ini saja.
Sehinnga Tommy adalah salah satu korbannya hari ini, tetapi dia tidak menanggapi itu dengan ketakutan bahkan dia memuji kejujuran gadis ini tadi.
Mungkin karena hal itulah hari ini sepulang sekolah Clara terlihat melepaskan jaket abu-abu miliknya itu dan memberikan senyum hangat seperti layaknya dia sedang memakai jaket berwarna pink.
Bahkan tiba di rumah pun senyum itu masih lengket di bibir tipis cantik miliknya, membuat sang ibu sedikit curiga kelakuan tidak lazim putrinya tersebut.
“Clara, did something good happen to you today?”
Sang ibu cantik berambut pirang itu menatap putrinya dengan tatapan yang hampir memicing, membuat mata indah berwarna biru miliknya itu bahkan hampir tertutup setelah dia melontarkan pertanyaan ke putrinya tersebut.
“I think so”
Clara hanya menjawab sesimpel mungkin dan sejujur mungkin pertanyaan dari ibunya tersebut, membuat sang ibu kali ini melancarkan serangan pertanyaan yang membuat dia melarikan diri ke kamar.
“Apakah kali ini seorang Pria yang membuat mu seperti itu?”
“Mama mau tau Clara, Hey kenapa kamu diam saja.”
Melangkah dengan cepat menuju tangga ke lantai atas Clara jelas tidak bisa melawan ibu yang kepo tersebut, tetapi sebelum dia masuk ke kamarnya, Jennifer jelas mendengar teriakan putrinya tersebut.
“Mama, sore ini biar aku yang jaga Toko, mama pastikan Papah jangan melangkah sedikitpun ke toko sore ini”
“Tolong ya Mah!”
Bahkan sang ibu terkejut mendengar putrinya tersebut dengan suka rela mau menjaga toko mereka hari ini, biasanya dia sangat tidak suka menjaga toko dan hanya belajar seharian atau menulis Diary miliknya di kamar.
“Okey, don’t worry”
“Tapi kamu memiliki utang penjelasan sama mama ya”
“Iya ma, makasih”
**
Proses Reinkarnasi atau perjalanan waktu yang telah dia alami bukan menjadi masalah besar bagi Tommy sekarang, yang jelas benar atau tidaknya perjalanan waktu yang dia lakukan masih menjadi tanda tanya bagi Tommy, selepas pertemuan yang terjadi dengan Irma, dia tidak lagi menyianyiakan semua kesempatan yang ada.
Takut akan hilangnya lebih banyak memori yang dia miliki, membuat dia sore ini pergi ke sebuah toko buku untuk membeli beberapa buku tambahan dan beberapa alat tulis.
Bangunan itu persis seperti yang dia ingat dalam kehidupan sebelumnya, toko buku ini masih sangat terkenal di Kota Air sebab kota kecil ini hanya memiliki beberapa toko buku yang dibuka oleh warga setempat.
Bangunan dua lantai yang juga menjadi sebuah ruko ini, Juga memiliki sebuah Rumah kecil yang berada dibelakang toko. adalah toko yanh sering dia datangi dulu.
Sore ini setelah meminjam uang kepada ibunya. Tommy sekarang berada di Toko buku terkenal yang di depan toko itu bertuliskan kata “Diary of My Future”, Memang sedikit norak atau terlalu kebarat-baratan untuk warga setempat menyebutnya seperti itu. Jadi mereka sering menyebut toko ini dengan sebutan Toko Bule.
Karena memang benar pemiliknya adalah seorang Bule Australia yang menikah dengan warga lokal setempat, Sang Bule cantik itu entah bagaimana jatuh cinta dengan Pak Deddy yang adalah asli warga setempat.
Banyak warga menggosipkan mungkin sang bule cantik tersebut sudah di guna-guna oleh Pak Deddy, mungkin semua itu hanya rumor.
Tetapi satu yang jelas dari hubungan tersebut mereka sudah memproduksi barang-barang kualitas Top Dunia, dapat dikatakan Standard Internasional.
Gadis Blasteran cantik yang sering dilihat Tommy menjaga di perpustakaan, kali ini tampil sangat cantik dengan penampilan casual.
Karena dia yang sering dilihat Tommy hanya memakai seragam sekolah yang sedikit terlihat sempit mungkin akibat dari dada nya sedikit besar, jadi saat Tommy melihat gadis ini memakai baju casual berwarna putih walau juga terlihat sedikit ketat tidak mengurangi rasa kagum Tommy saat melihatnya hari ini. Malah dia terpana sore ini melihat Clara.
“Halo kak Erla apa kabar hari ini.”
“Biasa aja, tapi syukur kamu balikin uang ku jadi mood ku tidak rusak hari ini”
“ihh masih mikirin masalah uang aja, aku malu kak”
“Lah terus mikirin apa? saat liat kamu tuh yang ada hanya mikirin uang ku itu balik apa kagak”
__ADS_1
Tommy hanya menghela nafas, kali ini perkataan gadis judes dan dingin di depannya itu sudah kembali lagi ke habitat aslinya.
Membuat dia sedikit berpikir bagaimana cara mendapatkan diskon hari ini agar barang yang dia beli dapat lebih banyak.
“Ya mikirin aku aja lah kak, dari pada mikirin yang lain, lagian gak rugi loh mikirin pria setampan ku”
Sedikit berbisik Tommy melontarkan kata-kata tersebut, karena memang di Toko ini banyak orang-orang yang sedang membeli beberapa keperluan ATK juga. Jadi dia tidak ingin membuat kehebohan lain.
“Apa, enak aja kalau ngomong, emang kamu artis atau orang kaya se Indonesia, jadi harus dipikirin”
“Jadi kalau nanti aku kaya dan sering muncul di TV aku bisa dong masuk ke pikiran kak Erla”
Akibat posisi Tommy yang sekarang sedang berbisik jelas muka mereka sedikit berdekatan dan tatapan mata pun kembali terjadi, wajah Clara menjadi memerah seketika, bahkan pacuan aliran adrenaline itu sudah sampai ke bagian telinga membuat telinga Clara juga terlihat memerah.
“kok diam aja, Malu ya sampai wajahnya merah gitu”
“Udah jangan bermain lagi, sebaiknya gombalan mu kamu simpan buat Icha, itu tidak mempan dengan ku”
“Kamu ke sini mau beli sesuatu kan? kalau yang kamu cari diskon atau potongan harga buku-buku dan alat ATK di bagian sana semuanya ku beri diskon 10%”
“Jadi ngak usah coba-coba nge gombal, karena level gombalan mu masih rendah”
“Luar biasa Kak Erla tau benar yang ku mau, Siap bos cantik, lanjutkan”
Dengan cepat Tommy melangkah pergi dari sana dia tidak berpikir dua kali lagi sebelum Clara menarik kata-katanya tersebut, dengan modal yang sedikit di tangannya sekarang, bahkan mengeluarkan kata-kata manis dan sanjungan pun akan dia lakukan untuk mencapai tujuan yang sudah dia buat.
Buku-buku yang dia ambil adalah buku-buku kosong dengan lembaran yang cukup tebal, memang di bagian yang di tunjukan Clara tadi buku-buku catatan tebal seperti ini banyak dipajang, selain itu buku-buku ini sangat cocok untuk mencatat semua target yang sudah dia copy.
Di pojok rak buku tersebut ada sebuah buku tebal terpajang disana, buku itu sebesar album photo dan tebalnya lebih tebal dari buku telepon kuning di rumah Tommy.
Dengan sampul yang terbuat dari bahan kulit berwarna merah hati, jelas memberikan kesan elegant yang menarik hati.
Tanpa pikir lagi dia segera menarik buku itu. Saat melihat harga yang terpampang jiwa pemuda ini menua kembali beberapa tahun.
“Aku tidak bisa membeli beberapa buku lain jika ku beli buku ini”
Pergolakan hati yang dia miliki sekarang tidak dapat digambarkan, hanya jika tidak memiliki uang di tangan seseorang dapat merasakan apa yang sudah dia rasakan.
Pemikiran lain juga datang menghampirinya dia dapat membuat buku sejenis dengan biaya lebih murah lagi, hanya perlu membeli beberapa kertas HVS atau kertas polio bergaris dan membuat sendiri sampul buku yang dia mau, maka dia bisa membuat buku seperti ini.
Tetapi tidak semudah itu, buku yang sekarang ini dia lihat sangat luar biasa di mata Tommy dan mungkin hanya seorang kutu buku sepertinya saja yang dapat menilai kualitas buku yang dia lihat itu, walau dengan berat hati dengan dia terpaksa dia mengambil buku tersebut.
“Kak Erla aku beli buku ini saja deh”
Erla hanya diam saja melihat kelakuan Tommy membawa buku sangat tebal itu. Mau menggoda pria ini tidak mungkin, karena dia juga seorang kutu buku sama seperti Tommy.
Sedangkan, mau memuji juga tidak mungkin sebab alasan Erla sekarang ingin menggoda Tommy saja karena buku ini sangat besar seperti sebuah kitab suci yang tebal.
Jadi dia hanya diam dan mencoba memberikan pelayanan yang terbaik.
“Semuanya Rp.90.000 setelah di potong diskon yang ku janjikan tadi ini kembalian mu Rp.10.000”
“Buku tebal seharga seperti itu ngak ada”
Mendengar itu mata Tommy menjadi sayu dan tidak bersemangat dan Erla yang melihat itu tidak bergeming sedikitpun.
“Jangan mencoba memasang muka yang masam dan pandangan yang tidak enak dilihat, memang gak ada buku yang lamu cari”
“Begini saja, karena buku ini sangat berharga maka sayang jika hanya ditulis dengan pulpen biasa”
“Jadi ku tawarkan pulpen ini memang harga pulpen ini seharga buku mu tersebut, tetapi karena ada 5 barang diberikan agen pada kami gratis, jadi milikku akan ku jual seharga Rp.15.000 untuk mu, bagaimana mau?”
“Sisanya?” ujar Tommy bertanya.
“Sisanya kamu bayarkan besok di sekolah”
“Aduh kak hari ini saja aku sudah meminjam uang Rp.100.000 sama bos besar, jadi tidak mungkin dalam waktu dekat”
“Uang jajan ku saja tidak sebanyak itu kak Erla, berikan waktu 2 minggu”
“2 minggu terlalu lama aku perlu membeli sesuatu, kalau ngak perlu sesuatu tidak mungkin ku jual pulpen ini, kamu lihat saja terbuat dari bahan logam pilihan terbungkus masih rapi belum pernah dibuka sedikitpun”
“1 Minggu, aku janji akan berikan sisanya dalam 1 minggu”
“Oke deal, ini pulpen mu”
Perjanjian kontrak kerjasama antara pebisnis itu pun selesai dilakukan setelah negosiasi yang alot, di satu sisi penjual barang masih memiliki 4 buah lagi pulpen mahal tersebut sedangkan di sisi lain dia tidak memiliki uang tersisa sepeser pun dan hanya dapat meninggalkan utang dagang yang sangat besar, mungkin hal ini membuatnya tidak bisa membeli jajanan di sekolah dalam beberapa hari.
Layak kah semua itu dilakukan, suatu barang yang dibeli untuk tujuan baik tertentu jelas memiliki kegunaan masing-masing tergantung pada orang yang menggunakannya.
Jika saja pada zaman itu gadget banyak beredar mungkin Tommy akan membeli satu sebagai alat perekam jadi tidak perlu mencatat, tetapi bahkan perusahaan elektronik saja banyak yang gulung tikar akibat krisis ekonomi yang melanda Dunia dan tidak terkecuali Indonesia.
Padahal pada tahun ini mereka baru saja memasuki Tahun Milenium yang ke 2.000, dampak krisis ekonomi inilah yang membuat juga Pak Irfan guru ekonomi itu memutuskan hijrah mengikuti istrinya yang bekerja sebagai PNS di salah satu instansi Pemerintahan di Kota Air.
Memang dia masih aktif bermain saham, namun sekarang hanya dalam skala kecil karena dia takut kehancuran ekonomi serupa dua tahun lalu di tahun 1998 terjadi lagi, walaupun begitu beliau sekarang tetap aman mendapatkan penghasilan rata-rata sebesar 50jt rupiah dalam sebulan.
Sedangkan profesinya sebagai guru hanya sebagai hoby yang tidak pernah tersalur sejak dari dia lulus Universitas Indonesia. Statusnya pun sekarang hanya sebagai guru honorer.
Jika saja ada Tempat khusus mengabadikan pengetahuan orang ini sehingga dapat dipelajari lebih lanjut. Menurut Tommy itu bukanlah sesuatu yang sia-sia mengeluarkan semua uang tersebut membeli buku merah ini, Karena itu, berawal dari sinilah nantinya kekuatan bisnis anak ini diasah dan Kepribadiannya ditempa.
**
Tiba di rumah kayu beratapkan seng yang Tommy sebut sebagai Home Sweet Home ini, dia melihat kedua orang tuanya sekarang sedang memperdebatkan sesuatu.
Mereka berbincang cukup serius sehingga Tommy mencuri dengar pembicaraan mereka berdua dari ruang keluarga. Sedangkan kedua orang tua Tommy itu saat ini sedang berada di ruang tamu.
Perdebatan tersebut memang cukup memakan emosi sehingga yang mendengar pun terkadang bisa merasakan rasa bersalah, sebab yang mereka berdua perdebatkan di telinga Tommy adalah tentang masalah Investasi Uang. Kedua orang tuanya itu adalah PNS yang bekerja di Kota Air.
__ADS_1
Sebulan lalu mereka berdua mengajukan pinjaman ke Bank setempat dengan syarat pemotongan gaji Pegawai Negeri Sipil mereka, setelah itu nantinya gaji tersebut akan terpotong secara otomatis tiap bulan maka biaya hidup jelas menipis karena duit cair yang mereka miliki juga berkurang.
Sementara itu uang untuk investasi ada di tangan mereka, tetapi masalah yang timbul dapat dikatakan masalah baisa saja, karena mereka memperdebatkan kemana seharusnya uang ini mereka tanamkan.
Satu sisi mereka ingin memperbaiki rumah kayu mereka yang sudah reot dan hampir rubuh, Sedangkan di sisi lainnya karena duit cair yang menipis jadi satu sisi itu berpikir uang itu bisa mereka gunakan untuk masa depan anak-anak mereka nanti.
Selain sebagai anak tertua Tommy memiliki dua orang adik, adik perempuan Tommy sekarang berada di kelas 1 SMP, sedangkan Adik bungsunya baru saja menginjak kelas 1 SD.
Karena itulah Ibu Tommy bersikeras sisanya untuk di investasi kan sebagai biaya Kuliah Tommy nanti dan digunakan untuk biaya sekolah adik-adiknya, sedangkan sisanya baru digunakan untuk biaya perbaikan rumah mereka.
Di pikiran sang Kepala Keluarga jelas berbeda, dia tidak ingin keluarganya tidur di jalanan dan dia sangat mengetahui kondisi rumah kayu mereka sekarang, sebab beberapa minggu ini dia selalu mengecek beberapa tiang, dinding dan bahkan atap seng yang mereka miliki. Dapat di bilang cukup berbahaya.
Kondisi rumah itu bisa saja tiba-tiba rubuh dalam waktu 1 tahun ini, sehingga prioritasnya adalah memperbaiki rumah tersebut dan biaya itu tidak murah, mungkin menghabiskan sekitar 80% uang pinjaman mereka. Sementara sisanya untuk biaya kuliah Tommy saja tidak akan cukup ke depan, Sedangkan utang yang harus mereka tanggung temponya sangat lama sekitar 15 Tahun.
“Aku rasa memperbaiki Rumah ini secepatnya adalah langkah yang tepat” gumam sang ayah yang saat itu terlihat meninggikan suara.
“Jangan buru-buru, dengan lama pinjaman yang kamu ajukan kita masih harus memikirkan biaya pendidikan anak-anak kita”
“Pah coba kamu pikirkan, Tommy sekarang sudah SMA, sedangkan Tata sekarang sudah berada di Kelas 1 SMP, belum lagi si bungsu baru masuk kelas 1 SD”
“Biaya sekolah makin tahun makin meningkat, jika kita tidak menyisihkan pinjaman mu untuk masa depan mereka, sekolah mereka akan terbengkalai”
“Salah mu sendiri mah, membeli rumah reot ini waktu itu dengan seluruh uang tabungan kita, jadi kita sekarang tidak ada sepeser pun uang untuk memperbaikinya rumah ini, jika tidak memakai uang pinjaman ini”
“Lagi pula Mah memperbaiki rumah ini tidak menghabiskan semua uang yang ku pinjam, ada masih tersisa beberapa belas juta”
“Uang itu untuk kuliah Tommy saja nanti tidak akan cukup, belum lagi saat ketiga anak mu naik kelas nanti, membeli semua kebutuhan mereka dan biaya yang tidak kita duga dalam tahun-tahun ke depan nanti pasti akan menghabiskan uang mu itu setengahnya”
“Apa tidak bisa memperbaiki rumah ini setengahnya dulu Pah, sambil menunggu beberapa tahun sampai aku bisa mengajukan pinjaman baru ke Bank”
“Kalau memperbaiki rumah ini setengahnya malah lebih beresiko, pondasi rumah yang dibongkar setengah bisa merusak tiang-tiang lain yang belum diganti, kalau saja ada badai datang rumah ini bisa ambruk” ucap sang ayah.
Mendengar perdebatan yang tidak ada ujung pangkalnya tersebut Tommy sekarang mencoba ikut berbicara kepada kedua orang tuanya ini.
Dia jelas tahu langkah strategis apa saja yang harus mereka lakukan ke depan, tetapi dalam seminggu ini dia sangat kesulitan memulai rencananya tersebut karena masalah Modal.
Karena ini juga lah penyebab kematian ayah Tommy tersebut tahun depan, menutupi kebutuhan anak-anaknya itu dia mencoba usaha sampingan, jadi setelah pulang bekerja dia yang membuka usaha sampingan sebagai distributor pengantar pakan ternak ke beberapa orang diluar kota.
Bekerja dari sore hingga tengah malam selama setahun membuat dia kecapaian dan suatu hari saat dia bekerja sebuah tabrakan terjadi yang menewaskan Sang Ayah tersebut.
Dengan modal investasi yang datang sendiri entah dari mana itu, Tommy sudah pasti senang bukan main tetapi dia mencoba menutupi hal tersebut saat berbicara dengan kedua orang tuanya.
“Pap, Mah, aku mau bicara boleh”
Kedua orang tuanya itu yang saat ini sedang berdebat sedikit terkejut melihat Tommy datang ke ruang tamu dan membuat mereka berdua menghentikan pembicaraan mereka.
“Maaf nak kamu sampai mendengar kami berdua papah mu, tapi kamu tenang aja nak, kami berdua tidak sedang bertengkar kok” ucap ibunya yang langsung dijawab ketus oleh sang ayah.
“Huh..”
Tetapi ibu Tommy hanya memandang sinis sang suami karena sikapnya yang ke kanak-kanakan tersebut, sebelum melanjutkan perkataannya.
“Kalau Mama boleh tahu apa yang mau kamu bicarakan Tom?”
Dengan segera dan penuh perhatian Tommy memegang kedua tangan orang tuanya tersebut dan duduk di tengah mereka, sikapnya lembut dan sopan kali ini.
“Aku punya solusi masalah itu mah, gimana mau dengar?”
“Jadi apa usul dari mu, apakah kamu mendukung mama?” ujar mama nya yang tentu saja langsung mencari dukungan koalisi di rumah tersebut.
Sedangkan sang ayah hanya melotot memandangi sang istri karena merasa di asingkan.
“Sebaiknya kita lakukan Investasi Saham saja, jadi jangan dulu memperbaiki rumah dan memikirkan biaya sekolah kami, karena aku punya guru yang mengetahui seluk beluk saham”
“Bahkan dalam sebulan saja dia bisa menghasilkan 50jt rupiah, dan hanya membiarkan uangnya tersebut yang bekerja selama sebulan penuh”
"Mungkin kita hanya perlu bertahan 3-6 bulan saja"
Usulan yang diberikan Tommy jelas terdengar aneh walaupun menggiurkan bagi mereka berdua, sebab dia menawarkan solusi yang seimbang bagi kedua kubu, namun mereka jelas sadar pasar saham tidaklah bisnis yang semudah itu disebutkan, belum lagi banyak pasar saham yang hancur karena Krisis Ekonomi pada saat itu.
Jadi mereka menolak ide gila tersebut, tidak membiarkan hal itu terjadi Tommy terus memberikan solusi kepada kedua orang tuanya ini agar pelan-pelan dalam pikiran mereka uang tersebut masih aman.
Belum lagi dia menceritakan sepak terjang pak Irfan kepada kedua orang tuanya tersebut, membuat mereka sedikit percaya.
“Begini, aku kan tidak minta seluruh uang kita di investasi kan, jika ada kesalahan maka sebagian uang tetap akan aman, lagi pula ini kesempatan sekali seumur hidup, jika ke duluan orang kita tidak akan bisa memiliki kesempatan ini lagi”
“Apa gurumu itu memang sehebat itu?”
“Benar mah, kalau ngak percaya lain waktu ku bawa dia ke sini secepatnya”
“Sebaiknya lain waktu kamu bawa dia ke sini, mama perlu penjelasan detail dari guru kamu itu”
"Jika dia memang ingin membantu, berapa pun biaya yang dia minta sebagai upah, asalkan berhasil, mama akan kabulkan"
“Benar jika memang ada bantuan seperti itu, mungkin lebih baik”
Tak ada satupun niat Tommy sebenarnya membohongi kedua orang tuanya itu saat ini, tetapi apa boleh buat, Pak Irfan saja sudah dijual namanya oleh Tommh. Demi mencapai tujuan masa depan yang lebih baik kali ini dia bahkan rela melepaskan satu lapisan jiwanya terbang layang karena telah berbohong.
***
Halo Pembaca,
Chapter selanjutnya akan di seting otomatis pada tanggal 1 November 2020, Jam 07.00
Maaf chapter kali ini karena sangat penting dalam beberapa point jadi tidak author hilangkan dari kondisi aslinya, dan karena ada beberapa plot yang author tambahkan, jd agak panjang dan membosankan ya 😅
Like, Komentar dan Subscribe ya
__ADS_1
Thanks XL