
“Terima Kasih sebelumnya sudah membantu ku” ucap Tommy kepada Clara.
Clara yang saat itu tersadar dari lamunan pendek yang dia alami karena baru saja bertatapan langsung dengan Tommy, membuat dia sedikit malu, rasa itu tersirat dan dapat terlihat dengan mudah.
Memang Gadis blasteran ini dikenal sangat cuek dan sangat sulit bergaul dengan orang-orang apalagi terdiam seperti tadi, bukan sifat Clara berlama-lama memandang orang lain, hal itu seperti kejadian langka yang membuat semua orang di perpustakaan menjadi tertarik melihat sikap lain dari gadis blasteran tersebut.
“Aku hanya memikirkan uang ku dan juga sudah kembali bersama bunga pinjaman yang kamu janjikan.”
Tiba-tiba ucapan Clara menjadi dingin kembali, perubahan sikap ini membuat Tommy merasa ada yang salah dengan gadis cantik tersebut.
“Apakah aku melakukan kesalahan lain?” ujar Tommy kembali bertanya.
“Kamu melakukan kesalahan? ngak kok, Memang kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?”
“Ha ha menarik... menarik baru kali ini ada perempuan yang benar-benar jujur saat hatinya tersingkap, di mulut dan di hati sama-sama jujur.” ujar Tommy bergumam dalam hati.
Clara hanya diam menunggu jawaban dari Tommy yang terlihat diam saja tidak segera memberi jawaban.
“Aku hanya penasaran saja, Karena di dunia ini hanya kamu seorang yang berbeda.” ucap Tommy yang juga tersenyum tipis dan masih memandangi Clara.
Setelah menjawab dan melontarkan kalimat tersebut. Tommy menjauh dari meja sang penjaga perpustakaan dan dia melangkah menuju Icha yang sekarang berada diruang baca. Posisi meja Icha memang sebenarnya tidak jauh dari meja penjaga perpustakaan mungkin sekitar dua meter, karena ruang baca yang kecil dan dia memilih kursi yang berada di pojok depan di dekat meja registrasi.
Memberanikan diri bertanya membuat Pria Tampan seperti dia kadang terlihat seperti mengeluarkan gaya Cool khas seorang pria, padahal dalam hati dia yang tidak berpengalaman itu sedang ketakutan.
“Cha, sedang membaca apa?”
Setelah menyapa Tommy sekarang melihat Melisa yang sedang berbisik di telinga Icha dengan tangan yang menutupi telinga sang gadis pujaan.
“Ah sial gadis loli ini mengganggu, aku bahkan tidak pernah menyentuh gadis ini.” ucap kesal Tommy dalam hati melihat kelakuan Melisa tersebut.
“Apa kamu ngak melihat buku-buku diatas meja?” Icha menjawab sapaan tadi dengan sinis.
“Maaf cha, aku hanya coba mendekatkan diri, sebenarnya aku ingin berbicara berduaan dengan mu, boleh kah?.”
“Eh, maaf ya cha aku duluan ke kelas, kalian berdua silahkan lanjutkan”
ucap Melisa yang tiba-tiba merasa seperti tidak betah disana dan ingin segera pergi meninggalkan mereka berdua membuat Icha juga ingin segera meninggalkan perpustakaan.
“Maaf Tom ngak bisa, aku juga mau ke Kelas.”
Setelah mengucapkan perkataan tersebut Icha juga berdiri dan melangkah dari sana dia ingin segera menyusul Melisa. Sekarang seolah-olah perkataan ditelepon itu kembali terulang dikepala Tommy membuat dia menjadi tidak sabaran.
“Tunggu...” Tommy segera memegang tangan Icha, dia jelas ingin mengecek Gadis Pujaan hati tersebut.
“Apaan sih, tolong lepasin!”
Dengan segera Icha memberontak dan melepaskan pegangan tangan tersebut, sedangkan Tommy sekarang mematung melihat kedua gadis itu melangkah ke meja penjaga perpustakaan untuk mengembalikan buku-buku yang mereka pinjam tadi.
Dia seperti sedang shock dan langsung duduk di kursi Icha sebelumnya, mengulang beberapa kejadian yang belum pernah dia lihat karena baru saja direkam oleh Icha beberapa hari ini, kejadian-kejadian itu jelas tidak ada dikepala Tommy karena momen yang dia lakukan saat Icha mengembalikan Ikat Rambut adalah minggu lalu.
“Ya ampun bdoh, kenapa sih tidak ke pikiran bahwa dia juga menunggu telepon dari ku.”
“Apa semua perempuan itu lain di mulut lain di hati.”
__ADS_1
“Bdoh, Bdoh...” ucapan itu terus dia lontar kan dalam hati.
Melihat memori baru yang Icha miliki dalam beberapa hari ini, membuat Tommy menyadari bahwa dia sudah melepaskan sebuah kesempatan emas. Menyesali perbuatan itu percuma walau dengan kemampuan yang dia miliki dan kekuatan yang ada tidak membuat semua orang jenius dalam masalah Cinta. Belum lagi bisikan Melisa tadi dan ucapan yang dilontarkan Icha dalam hati yang secara tidak sengaja saat melihat dia dan Clara berpegangan tangan sebelumnya.
Kesalahpahaman sekarang sudah menjadi besar, belum lagi karakter Icha yang sebenarnya Pemarah dan mudah dihasut. Bagi orang-orang yang mengetahui masalah tersebut berawal dari kesalahpahaman mungkin mudah meluruskan masalah-masalah seperti itu.
Mereka hanya perlu menyampaikan kebenaran kepada satu sisi tanpa mengurangi dan menambah cerita, tetapi tidak sesederhana itu untuk setiap orang yang tidak memiliki kekuatan seperti Tommy. Membuat pria ini sekarang berpikir keras solusi masalah tersebut.
“Apa yang harus ku lakukan, ayo berpikir.. berpikir..” ucap Tommy dalam hati sambil melihat Icha dan Melisa yang sekarang sedang berbicara dengan Clara.
“Kak Erla, apa sih yang kalian berdua lakukan tadi?” Melisa bertanya ke Clara, karena dia juga melihat adegan pegangan tangan dan saling pandang tadi.
“Mesra banget.” ucap Melisa menggoda.
“Oh itu, hari sabtu kemarin Tommy pergi ke Wartel dekat rumahku entah nelpon siapa”
Sebelum melanjutkan kata-kata itu Clara mendekat membuat Icha dan Melisa juga mendekatkan telinga mereka dan setelah itu Clara mulai berbisik-bisik.
“Sepertinya dia menelepon seorang gadis sabtu kemarin dan karena syok, mungkin akibat ditolak. Dia sampai lupa menutup ganggang telepon di wartel itu, jadi dia mendapat masalah dengan pemilik wartel.”
“Sepeda butut milik Tommy malah mau disandera sama pemilik wartel itu.”
“Terus-terus” Melisa jelas tertarik karena cerita itu.
“Untung saja aku ada disana sedang menelepon kakak ku, jadi ku pinjaman kan dia beberapa uang dan tadi dia membayar uang tersebut.”
“Mungkin dia sayang dengan uang tersebut jadi menahan pegangan tangan ku agar tidak mengambil uang itu.”
“Jelas saja aku melotot melihat ke arahnya.”
Mengetahui permasalahan sebenarnya hati Icha terasa berat. Jiwanya merasa bersalah. sehingga secara tidak langsung Icha menatap Tommy yang terlihat sedang bersedih.
“Maafin aku Tom, aku ngak tahu kejadian itu bisa seperti ini” ucap Icha dalam hati.
Tiba-tiba Tommy yang awalnya menunduk melihat ke arah Icha, pandangan mereka sekarang bertemu satu dengan yang lain.
“Maaf aku menolak ajakan mu tadi, mungkin kamu ingin menjelaskan masalah itu” Icha hanya bisa berujar dalam hati meminta maaf kepada Tommy.
Melisa yang melihat raut wajah Icha jelas segera menarik sahabatnya itu dari sana dia tidak ingin Icha merubah pendirian hanya karena cerita Clara, tetapi sepertinya ladang yang gersang dan hangus terbakar sudah ingin menumbuhkan tunas baru.
“Hanya kamu satu-satunya perempuan yang pernah kuberikan Hadiah Cha”
Suara Tommy terdengar lantang dan nyaring jelas bisa didengar oleh orang lain di Perpustakaan, Icha jelas malu mendengar itu. Satu kesalahan lagi yang telah Tommy lakukan, Tunas yang baru tumbuh tidak seharusnya disirami terlalu banyak air. Dalamnya Hati Manusia Siapa yang Tahu.
Dalam pikiran Tommy semua itu jelas Gentlemen, tetapi dalam pikiran gadis SMA hanya dua jawaban yang mungkin muncul. itu sesuatu yang Norak atau itu adalah pernyataan perasaan yang sangat Sopan seperti yang diharapkan Tommy.
Icha yang baru saja melangkah keluar perpustakaan pergi dengan cepat karena malu. teriakan itu bagaikan Deklarasi Perang kepada seluruh orang yang berada disana karena hampir setengah orang di perpustakaan itu adalah Fans Fanatik Tommy dan Viktor. Mereka ke perpustakaan hanya ingin melihat bacaan apa yang dibaca Tommy.
Jiwa yang tadi lesu sekarang sudah menjadi bersemangat lagi, jadi Tommy menuju meja penjaga perpustakaan untuk meminjam beberapa buku, kali ini yang dia Baca adalah “Dunia Bisnis, Jiwa Seorang Pengusaha” Karena suasana hati sedang baik, langkah selanjutnya yang dia kejar adalah Modal Cinta.
Bagi orang lain yang ingin memenuhi hasrat hati terdalam mereka dengan cara berpacaran dimana saja dan asalkan mereka senang mungkin lebih simpel dilakukan. Untuk Tommy semua itu jauh dari kata cukup, dalam kamus orang ini berpacaran harus sempurna, dilakukan ditempat sempurna, bersama dengan orang yang sempurna sehingga memori yang tersimpan di kedua insan pun menjadi sempurna. Pikiran naif seorang kutu buku...
Tujuan hidup ke depan yang sudah dia buat. Langkah-langkah strategis sudah dicatat semua itu sebenarnya adalah baik hanya membutuhkan Actions. Kendala dia belum memulai semua itu adalah karena Uang, menyebutnya mudah dengan kata sempurna, tetapi semua itu perlu yang namanya Uang, dia menyebutnya “Modal Cinta”, sekarang dia bahkan tidak memiliki itu jadi bagaimana untuk membuat itu semua sempurna, Sedangkan uang biaya Warung Telepon saja dia harus meminjam dengan Clara.
__ADS_1
Menurut Tommy kehadiran cinta dapat memberikan semangat lain untuk memulai, karena di pikiran pemuda itu sekarang adalah Modal Cinta. jadi rencana cadangan yang dia persiapkan untuk mendapat cinta pun adalah Uang. Dengan uang cinta bisa dia dapatkan, setidaknya...
**
Tiba di Kelas semua orang sekarang menatap Tommy, suasana kelas sekarang menjadi sangat senyap, dia sedikit merasa aneh karena suasana tersebut, Jika seperti biasa ada Viktor yang memecahkan suasana seperti ini sekarang tidak ada kawan yang dapat membantu. Jadi dia hanya diam tidak menunjukkan sesuatu yang salah.
Dia melihat Irma yang sedang membaca buku matematika dan mencoba menyelesaikan beberapa soal yang ada disana sehingga dia membantu tak memperdulikan tatapan orang lain yang semakin iri, tak dia sangka ternyata Semua pandangan orang-orang di kelas itu karena kehebohan yang sudah dia lakukan di perpustakaan.
Sekitar 1 jam sudah berlalu tetapi guru yang mengajar hari ini tidak juga datang, sedangkan di kelas lain semua orang sudah mulai belajar, sehingga mereka meminta Tommy untuk pergi ke ruang guru dan melaporkan itu agar mereka semua dapat memulai pelajaran.
Ketua Kelas hasil pilihan para koalisi ini langsung menuju ke Ruang Guru memang itu juga membuat dia terlihat bersemangat karena jam istirahat tadi dia sempat mengunjungi ruang guru.
Ruang Kelas IC berbeda dengan dua ruangan dari kelas IA tempat Icha berada, tetapi posisinya berada agak belakang bangunan sekolah, sehingga jika ingin pulang dan ke ruang guru mereka harus melewati dua ruangan berbeda yaitu kelas IB dan Kelas IA. dia yang awalnya melangkah dengan cepat sekarang memperlambat langkahnya didepan kelas Icha.
Pintu kelas IA terbuka lebar, Dua pintu itu terlihat di mata Tommy bagaikan gerbang sekolah. Semua orang yang ingin meninggalkan sekolah harus melewati gerbang itu, begitu juga dengan mereka yang ingin masuk. Ibaratkan tanpa gerbang tersebut tidak ada jalan lebih mudah untuk masuk. Melompati pagar bisa dilakukan tetapi itu memerlukan usaha dan keberanian karena melanggar aturan.
Langkah kaki itu terlihat meyakinkan dia memamerkan wajah tampannya dengan dagu yang terangkat. Tubuh tingginya dia tegakkan agar terlihat dada yang bidang. Tatapan yang dia keluarkan Lurus ke depan. Bahkan melewati Pintu Gerbang itu pun Tommy tidak melirik.
Kelas mereka pada zaman itu tidak ada yang namanya Kipas Angin apalagi AC sehingga Pintu Kelas harus dibuka terus agar angin dapat masuk kedalam mengurangi rasa gerah siswa saat belajar. Suara siulan terdengar dari Kelas IA saat Tommy baru berada dalam jarak pandang semua siswa. Tanpa menoleh dia terus melangkah.
“Mau dong diberi hadiah juga Tom..”
Tiba-tiba sebuah suara anak perempuan terdengar berteriak dari kelas IA, kegaduhan mulai terdengar mau tidak mau kali ini dia berpaling dan melihat ke arah Kelas itu semua orang sekarang sedang memandangnya, ternyata kelas IA juga tidak ada guru juga yang mengajar sehingga mereka semua masih bebas keluyuran dan bermain di dalam kelas tersebut.
Dalam sudut kelas tersebut Tommy melihat Viktor yang sekarang sedang berbicara dengan santai bersama Icha, Meja Icha yang berada didepan membuat semua adegan itu bisa dia lihat dengan mudah. Sedangkan Viktor posisinya sekarang sedang duduk diatas meja Icha.
“Sial, si Doer duduk disana, dasar kelakuan tidak sopan.”
Sepanjang perjalanan menuju ruang guru, Tommy hanya terus mengulang adegan tadi terus menerus dia tidak menggubris godaan anak-anak perempuan lain di Kelas Icha.
Setibanya diruang guru dia melihat ruangan itu sedikit lowong dan hanya ada dua guru yang ada, Tommy pun melangkah masuk dan menanyakan ke salah seorang guru yang dia lihat.
“Permisi pak, saya dari Kelas IC sekarang guru yang mengajar sudah 1 jam ini belum masuk kelas, apakah ada sesuatu yang terjadi?”
“Oh kamu anak kelas IC ya..”
“Iya pak, jadi bagaimana pak dengan kelas kami.”
“Guru ekonomi kalian tidak bisa masuk jam kedua ini, tadi baru menelepon ke sekolah sebab baru saja mendapatkan musibah.”
“Bapak baru saja diberitahukan Kepala Sekolah Masalah ini.”
“Nanti Bapak yang akan mengajar kalian, sekaligus bapak juga mau melanjutkan mengajar kelas IIIA”
“Oh iya pak, maaf merepotkan bapak, saya Tommy pak salam kenal.” jelas saja Tommy langsung menyodorkan tanga didepan guru ini karena guru-guru yang biasa mengajar kelas III jadi untuk dapat mengenal siapa saja murid-murid kelas III yang harus dihindari dan bisa dijadikan kawan, Tommy ingin menyedot pengalaman Guru ini.
“Iya Bapak Muhammad Irfan.”
Setelah memperkenalkan diri semua kejadian selanjutnya bersarang dikepala Tommy. Pucuk Di Cinta Ulam pun Tiba. dia benar-benar mendapatkan Jackpot Siang ini, Pak Irfan ternyata adalah seorang Legenda Saham, orang ini berasal dari Jakarta selama 15 Tahun bekerja di bidang investasi saham, dia mengenali betul seluk beluk saham yang ada di Indonesia dan beberapa Bisnis Investasi lainnya.
Karena sudah mendapatkan lebih dari yang dia harapkan Tommy jelas senang sekali hari ini, belum lagi mungkin harapannya dapat melangkah maju sekarang di bagian percintaan, membuat Tommy siang ini penuh dengan kepercayaan diri menyambut hari-hari ke depan.
————
__ADS_1
Thanks XL