
Angin siang itu yang berhembus semakin lamban dan sepoi-sepoi, membawa kesejukan tersendiri di hati Icha, sebenarnya dia tidak terlalu menganggap perlakuan Tommy tadi sebab memang tidak ada perasaan dalam diri Icha terhadap pria tersebut.
Hanya karena dia merasa kasihan saja melihat pria itu, yang membawa buntelan buku berat di pundaknya sementara tangan pria itu mengulurkan ikat rambut, jadi dia menerima Ikat Rambut tersebut.
Memang waktu dia duduk di Sekolah Menengah Pertama banyak pria yang suka merayu dan menggoda icha, bahkan tidak sedikit yang mengutarakan perasaan mereka pada gadis ini, tapi tidak ada satupun dari mereka yang berhasil menarik perhatiannya. Mungkin karena dia masih terlalu muda untuk mengenal cinta.
Jika saja mereka yang menyukai icha dulu saat Sekolah Menengah Pertama, memberanikan diri memberikan sesuatu seperti Tommy, jelas mereka akan patah hati karena dia pasti akan menolak pemberian dari seorang pria asing yang belum pernah dia dikenal.
Tampaknya Tommy hari ini diselamatkan oleh buntelan yang dia bawa.
Icha kembali mengingat saat-saat waktu dia di SMP, karena dia juga sering menerima hadiah-hadiah dari para pria yang menyukainya, tetapi dia bahkan memberikan hadiah-hadiah itu ke teman-teman sekelasnya.
Menurut icha jika dia menerima hadiah tersebut, orang yang memberikan hadiah itu akan merasa bahwa isi hati mereka telah diterima oleh Icha, itulah alasannya dia memberi hadiah-hadiah tersebut ke teman-teman sekelasnya.
Tetapi dalam ingatan icha, ada satu orang yang memberi hadiah tanpa dia ketahui siapa, setiap bulan selama tiga tahun dia mengenyam pendidikan di bangku SMP.
Akan ada sebuah hadiah yang dia dapatkan dibawah laci meja miliknya, disertai sepucuk surat cinta yang berisikan puisi-puisi atau terkadang hanya kata-kata lucu, dia menyukai itu dan dia bahkan mengoleksi tulisan-tulisan tersebut.
“Hey...”
“Melamun aja, ngapain?”
Ucapan Melisa itu, membuat Icha segera melirik ke arah sahabatnya tersebut, di genggamnya erat ikat rambut yang diberikan Tommy tadi, dengan sedikit malu agar tidak terlihat Melisa, perlahan tangan kanannya yang memegang ikat rambut itu dia sembunyikan dibawah tumpukan buku yang dia pegang, sambil melihat ke arah Tommy yang sudah berjalan cukup jauh.
“Siapa dia?” ucap icha bertanya ke sahabatnya tersebut.
Melihat arah pandangan icha melisa menjawab, “Oh... dia? Patung Bundaran.”
Melisa bingung melihat reaksi Icha yang biasa-biasa saja, setelah dia melemparkan perkataan yang sedikit meledek tersebut, sehingga membuat dia segera melanjutkan perkataanya.
“Kan dia orang nomor satu paling terkenal di sekolah hari ini, bahkan ada yang menjadi urutan kedua.”
“Kamu ngak ingat?” tanya Melisa
“Patung Bundaran.?” Icha masih bertanya-tanya maksud sahabatnya itu.
“Itu loh cowok yang tadi mematung memandangi mu saat Upacara Bendera.” ujar melisa lagi menjawab Icha.
Kilasan kejadian tadi pagi merasuki gadis cantik itu, Icha pun teringat kejadian itu, jelas dia melihat Tommy yang berdiam diri dan melihat ke arahnya pagi ini, kemudian Icha menatap ke Melisa dan bertanya.
“Terus orang nomor dua siapa?” tanya Icha kembali ke Melisa.
Melisa melirik dan tersenyum licik ke arah Icha, sebelum akhirnya menjawab pertanyaan itu.
“Ya jelas kamulah siapa lagi, Gadis paling beruntung yang di lirik oleh patung bundaran di kota ini.”
“iihhhh Seram...”
Melisa segera menakuti-nakuti Icha dengan berpura-pura takut dan merinding atas kejadian tadi pagi.
Suara keras berasal dari pundak Melisa yang di tepuk Icha membuatnya kesakitan, dia ingin temannya tersebut berhenti menakut-nakuti, memang sebenarnya Icha tidak sengaja memukul temannya itu dengan keras, tapi tangan icha sudah melayang dan sahabatnya itu bahkan tidak menghindar.
“Aw, sakit..” teriak Melisa yang langsung mengelus-elus pundak nya tersebut.
“Ups sorry, kamu sih meledek.” ucap icha lagi membenarkan perbuatan yang salah karena telah memukul Melisa.
“Siapa yang meledek sih, aku serius cha, tadi semua orang di sekolah juga memandang kalian berdua karena adegan panas saling pandang itu.”
Jelas dia ingat kejadian tadi pagi, karena semua pandangan juga menuju ke arahnya pagi itu, Karena malu wajah icha yang putih sekarang memerah dan tanpa sadar dia segera mengikatkan rambutnya tersebut dengan ikat rambut yang tadi dia genggam.
“Tumben...” ujar Melisa sekarang meledek ke Icha.
“Tumben kenapa?.” tanya Icha.
“Itu rambut mu, tadi kulihat Patung Bundaran yang ngasih ikat rambut itu.” jawab Melisa.
Wajah Icha kali ini semakin memerah karena malu mendengar ucapan sahabatnya itu yang meledek dia habis-habisan, tapi syukurlah saat itu sang ibu datang menyelamatkan gadis cantik ini dari cengkraman sahabatnya tersebut.
“Cha, ayo pulang.” ucap bu Yulia guru matematika yang mengajar di jam pertama tadi di kelas IC.
__ADS_1
Segera saja Icha mendatangi mamahnya itu dan melambaikan tangan ke Melisa, sembari menaiki sepeda motor mama tersebut.
“Dah Mel, aku duluan ya.” ucap nya.
**
Siang itu ternyata tidak seperti hari biasa, udara panas sekarang lebih panas dari biasanya, belum lagi tampak semua angin yang ada hanya ditiupkan ke arah Icha tapi tidak ke arah Tommy membuat dia ngos-ngosan siang ini, perjalanan itu berat seperti sedang membawa buku-buku sakti dari barat, dia menenteng buntelan kain berisi buku-buku seberat lebih dari sepuluh kilo.
Tommy bahkan sering mengganti tangan yang memegang dua buntelan kain itu, berharap beban yang berbeda satu dengan yang lain, tapi apa yang dia harapkan kedua buku itu bahkan ternyata sama beratnya, Erla bahkan memikirkan hal tersebut, untuk membantu adik kelas tampan ini dia dengan mantap menyusun buku-buku itu seimbang satu dengan yang lain, sehingga berat buntelan itu jelas kurang lebih sama. Apa yang diharapkan Tommy berbeda dengan yang diharapkan Erla.
Setiba di rumah, Tommy segera merebahkan diri karena beban berat perjalanan yang membawa buku sakti tersebut, bahkan dia hampir tertidur karena kecapaian, namun tiba-tiba suara ibu nya kembali membuat dia menghela nafas sebab belum lama merebahkan diri.
“Tom taruh tas mu, ganti baju dan segera makan siang.”
Kaki yang masih kuat menopang seluruh tubuh, tapi dari pundak atas sampai ke bawah bagian lengan terasa sangat berat untuk digerakkan, bahkan melepas celana saja dia kesulitan.
“Uhg, aku semakin malas sekarang, mungkin saatnya aku berolah raga agar fisik ku tidak selemah ini lagi.” ucap Tommy dalam hati saat mengganti pakaian seragam yang dia pakai.
Hari ini karena kecapaian, dia bahkan tidak sempat lagi membaca buku-buku yang sudah dia pinjam itu, segera dia merebahkan diri di ranjang empuk dalam kamar dan tertidur siang itu.
Hari sudah senja, cahaya Matahari perlahan meredup udara panas siang hari menjadi lebih sejuk, sebenarnya dia tidak ingin bangun dari tempat tidur, tetapi karena nyamuk-nyamuk kelaparan sudah mulai menginvasi dengan serangan bertubi-tubi, mau tidak mau dia bangun dan menutup jendela kamar segera.
Hari yang senja berganti menjadi malam, setelah makan malam hari ini Tommy segera masuk ke kamar dan mengunci pintu kamar tersebut, dia mulai memilih beberapa buku untuk dibaca, kali ini bukan pengetahuan umum atau buku pelajaran sekolah yang dia baca, Dia memilih buku bela diri pencak silat, karena merasa dia di SMP pernah berlatih tinju dan seorang yang berprestasi di bidang itu, dia ingin menambahkan pengalaman lain sekarang.
Peraturan pertama dalam berbisnis adalah Protect Your Investment, jelas dia harus bisa melindungi semua investasi saat berbisnis nanti untuk mencapai kesuksesan yang dia inginkan, jadi dengan segala cara dan dengan segala kekuatan yang dia punya. Termasuk bela diri.
Karena pintu kamar yang tertutup dan ruangan kamar cukup luas dia mulai mempraktekkan cara-cara di buku yang telah dia baca tersebut.
“Agh seandainya ada tube, jadi aku bisa menonton saja mungkin dengan mudah gerakan ini ku kuasai.” pikir Tommy dalam hati.
Tak terasa sudah sekitar 30 menit dia berlatih. Beberapa keringat mengucur deras keluar dari tubuhnya yang atletis, setelah mengganti baju yang basah karena keringat, Tommy sekarang mencatat setengah pengalaman yang dia serap dari pak suban hari ini, dia sengaja tidak mencatat seluruh memori yang dimiliki pak suban karena menurut Tommy bagian tergelap pak suban dan beberapa bagian hidupnya tidak lah cukup penting. Jadi dia hanya mencatat sebagian.
Satu Jam lebih dia mencatat pelajaran tersebut, sampai waktu akhirnya menunjukkan pukul 21.00, karena mengantuk dan kelelahan dia pun menyudahi pembelajaran hari ini, Pengalaman baru ini benar-benar luar biasa hanya dengan mencatat dan membaca buku yang dia pinjam semua ilmu itu dengan mudah melekat di kepala Tommy. Cara belajar seperti ini sangat efektif dan tidak terkalahkan. setidaknya...
**
Hari ini target Tommy adalah Guru Geografi dan Guru Sejarah nya, dia bahkan kembali tidak memperhatikan guru bahasa inggris nya yang sedang mengajar, sebab bagi dia bahasa inggris adalah bahasa sehari-hari dulu jadi itu semua melekat, bahkan di Negeri Paman Sam tempat Tommy berkuliah dan bekerja di kehidupan pertama, Tommy pernah secara khusus mempelajari Sastra Inggris, tapi dia hanya mengikuti pelajaran itu karena diajak oleh perempuan yang dia sukai dulu. jadi dia menurut saja, jika bisa dibandingkan Tommy lebih memilih matematika terapan atau pelajaran fisika dari pada Sastra Inggris.
“Tunggu..”
Walaupun suara itu terdengar jelas tapi Tommy tetap melangkahkan kaki nya, sebab pikiran nya sudah diprogram dengan waktu yang sedikit dia harus mengatur semua nya tepat waktu. Jadi dia terus saja melangkahkan kaki nya.
“Hey Stop..”
“Patung Bundaran ku bilang berhenti.”
Julukan yang melekat itu sungguh membuat nya jengkel, kalau saja tidak mengganggu waktu nya yang berharga mungkin dia menganggap itu biasa saja seperti biasa, jadi dia segera membalik kan badannya mencari asal suara tersebut.
Tanpa sadar saat berbalik Adegan Angin itu pun kembali terulang, Angin bertiup dengan kencang dan memberi kesejukan tersendiri bagi yang merasakan nya, dia kembali menatap Gadis yang menjadi pujaan hati nya itu. Membuat jantung nya berdetak tidak karuan.
Angin itu terus bertiup semakin kencang se kencang hati nya yang sekarang sedang berpacu melihat gadis didepan nya, kali ini berbeda rambut Icha yang indah tidak menutupi wajah nya yang cantik, sehingga Adegan Slow Motion yang dia tunggu pun terjadi, tapi suara detak jantung nya yang berpacu kencang dapat dia dengar.
“Ya kenapa.?”
“Maaf aku tadi buru-buru jadi tidak mendengar, soal nya ada beberapa pelajaran yang ingin ku tanya kan ke Bu Susi.” ucap Tommy menenangkan diri.
“Ini, Ikat Rambut kemarin.” jawab Icha yang menyerahkan ikat rambut yang diberikan Tommy kemarin.
Dia melihat tangan putih mulus yang diulurkan pada nya tersebut, bahkan dia tidak akan bersikap acuh kali ini, sebab ini adalah kesempatan langka dan langka, jika dipanggil mesum sekali pun dia tetap akan mengambil kesempatan ini. Kesempatan sempurna untuk mengcopy memori gadis pujaan hati nya tersebut.
“Ini Kesempatan.” ucap nya dalam hati, dan dengan segera memegang pergelangan tangan Icha.
Dunia kembali berputar dalam pandangan nya, Flashback kehidupan Icha dari gadis itu berumur tiga tahun pun jelas dia alami juga, bagi orang lain mungkin itu hanya 1-3 detik saja tapi bagi Tommy itu seperti beberapa tahun, sama dengan usia orang yang dia sentuh.
Karena belum menguasai kekuatan nya dengan baik, dia bahkan sering terdiam diri setelah bersentuhan dengan orang lain, kecuali memang dia berfokus sehingga tidak berada dalam situasi canggung.
“Hey, Halloo... Lepaskan tangan ku.”
Tommy terkejut melihat Icha menatap nya dengan tatapan aneh, jelas juga terdengar oleh nya perkataan Icha dalam hati yang bertanya apakah pria didepan nya ini adalah seorang pria mesum. Jadi dia mengalihkan pembicaraan dan berpura-pura bersikap angkuh.
__ADS_1
“Aku hanya memastikan Ikat Rambut ini tidak rusak, karena ikat rambut ini adalah ikat rambut milik ibuku.”
“Apa enak aja, kamu kira aku perusak barang.” ucap Icha dalam hati nya.
Tommy menghela nafas sejenak karena mendengar jelas perkataan sang gadis pujaan hati nya itu. Icha juga tidak ingin menjawab Tommy dengan lantang seperti itu, karena dia tidak ingin menyinggung seseorang, memang sikap nya baik terlihat tapi dia lebih banyak memendam perasaan yang sebenarnya di dalam hati.
“Maafkan sikap ku, aku tidak ingin kamu salah sangka aku tidak menuduh mu orang yang sembrono yang bisa merusak barang dengan mudah.” ucap Tommy sopan kali ini.
Mendengar itu Icha sedikit terkejut karena sikap pria didepan nya ini berubah 360 derajat hanya dalam beberapa detik, tapi karena sikap Tommy seperti ini lah jadi dia lebih nyaman menjawab.
“Aku gak marah kok, ini ikat rambut milik mu.” ucap Icha yang menutupi perasaan hati yang sebenarnya.
Saking bahagia nya tadi bahkan Tommy lupa mengambil ikat rambut tersebut dari tangan Icha, sehingga sekarang dia mau tidak mau mengambil ikat rambut tersebut dan Icha pun segera berbalik menuju ruang kelas nya.
Memang karena kelas masih baru bubar sangat sedikit sisa yang berkeliaran diluar dan malah ada beberapa kelas yang guru pengajar nya belum keluar, mungkin saja Icha malu terlihat orang berbicara dengan Tommy yang memiliki julukan aneh jadi dia segera berbalik. Tapi bagi Tommy ini adalah kesempatan lain nya.
“Hey tunggu, kamu belum mengucapkan terima kasih.” ujar nya menodong Icha.
Sempat berdiri diam ditempat nya sejenak, Icha berbalik lagi menghadapnya dan segera mengucapkan terima kasih ke Tommy, tapi hati nya memang kesal dan mengumpat kembali di dalam sana.
“Kalau benar kamu berterima kasih, berikan aku nomor telepon mu.” ujar Tommy lagi sebelum Icha hendak berbalik.
“Apa sih yang di inginkan pria ini, apa dia naksir dengan ku? huh bermimpi, bahkan aku tidak akan mau bersama dengan nya yang memiliki julukan aneh.” ujar nya lagi dalam hati sambil menatap Tommy dengan tatapan aneh kembali.
Tommy yang tahu jelas cuek, dia melanjutkan perkataan nya, kali ini dengan nada sedikit meninggi namun tidak seperti orang yang sedang marah, dia ingin menunjukkan Man Power yang di miliki nya.
“Maksud ku kalau ikat rambut ini lecet atau rusak dikit, aku harus minta tanggung jawab kemana?.”
“Memang nya kamu mau aku ke kelas mu dan bilang ke semua orang masalah ikat rambut ini?.”
“Kalau begitu mau mu ya gak papa, nanti aku mencari mu di kelas.” ucapan Tommy itu menyadarkan Icha dia akan berada di masalah pelik lain nya.
Walaupun Tommy tau nomor telepon icha melalui memori nya, tetapi jika dia menelepon gadis itu begitu saja siapa yang akan mau menerima telepon tersebut, malah mungkin Icha berpikir dia Psycho yang menguntit nya.
Karena sudah di todong bahkan Icha tidak bisa lagi bergerak, ingin lari silahkan. Bahkan kunci borgol ada di tangan Tommy sekarang. Mau melawan petugas perkasa ini tidak mungkin, Pistol sudah ada ditangan nya.
Seperti sudah melakukan kesalahan yang sangat besar Icha menyesali perbuatan nya kemarin, telah menerima Ikat Rambut itu, jiwa nya bahkan meronta-ronta sekarang, tiba-tiba otak nya bekerja ingin menipu petugas perkasa didepan nya itu.
“Ah benar, ku beri saja dia nomor palsu.” pikir nya lagi.
Tapi sebelum dia bisa mengucapkan kata-kata dari bibir indah nya itu dengan kebohongan, Tommy menghentikan nya.
“Jika kamu berani berbohong dan memberi ku nomor palsu, jangan harap kamu bisa tenang, bayangkan saja sendiri aku akan datang tiap hari ke kelas mu meminta pertanggung jawaban mu.”
Senjata sekarang sudah di kokang nya, penjahat didepan nya ini tidak bisa apa-apa lagi, apalagi sekarang murid-murid dari kelas lain sudah mulai berhamburan keluar ruang kelas mereka, ingin segera menikmati kebebasan jam istirahat mereka. yang telah dikurung dalam beberapa jam ini.
**
Di Kehidupan Tommy yang kedua ini jelas berbeda dengan saat dia sudah berusia tiga puluhan, ponsel mudah didapatkan nya di zaman itu, tapi kondisi nya yang sekarang bahkan ponsel genggam biasa saja bagaikan sebuah pusaka yang sulit didapat apalagi smartphone, orang-orang saat itu hanya menggunakan telepon rumah. Bahkan mendapatkan nomor itu saja dilakukan nya setelah kejar-kejaran dengan pencuri hati nya tersebut selama lima menit terakhir.
Setelah itu Tommy segera pergi dan melangkahkan kaki nya ke ruang guru melakukan kembali apa yang sudah dia program kan hari ini satu persatu.
Hari itu pun dilalui nya dengan senyum sumringah karena telah mendapatkan nomor telepon gadis pujaan hati nya, mungkin Icha berpikir sebelum menyerah tadi, tidak apa-apa memberikan nomor telepon nya kepada Tommy sebab dia tidak akan menggubris telepon tersebut dan berpura-pura tidak ada di rumah atau mencari alasan lain.
Tapi yang tidak Icha ketahui adalah Tommy sudah mempersiapkan perangkap lain bagi nya. Namun jelas dengan Cinta dan Perhatian yang Tulus tentu nya.
Karena dulu Tommy tidak berani memberikan Ikat Rambut yang dipegang nya sekarang sebab dia malu, membuat nya tidak bisa menjalin ikatan takdir bersama gadis pujaan hati nya ini dan hanya bisa mengagumi nya dari jauh selama masa SMA nya ini, derita hati yang sudah dilalui nya selama tiga tahun di masa SMP. dengan terus mengirimi Icha hadiah tiap bulan dulu. Jelas sekarang dia tidak ingin mengulang hal itu.
Angin takdir juga tersenyum pada pemuda itu sekarang, Dewi Fortuna berada di pihak nya kali ini, dia bahkan berani menentang surga untuk merubah takdir nya bersama sang gadis pujaan hati, tanpa memikirkan konsekuensinya, yang merubah takdir hidup seseorang dan dirinya sendiri ternyata dapat membawa nya pada takdir kejam lain nya.
...
“Janganlah percaya kepada pemerasan, janganlah menaruh harap yang sia-sia kepada perampasan; apabila harta makin bertambah, janganlah hatimu melekat padanya.” Erla berbicara dalam hatinya, sambil menatapi Tommy dari jauh dengan tatapan misterius sebelum dirinyya melangkah ke Perpustakaan sekolah.
***
Halo Pembaca,
Belum Edit dan Belum di apa-apain selesai ketik langsung upload, mohon maaf jika ada typo salah arti dll.
__ADS_1
Sekarang memang zaman SMA bagi MC, tapi auhtor memutuskan untuk memakai kata Pria bukan nya Cowok / Cowo, mohon dimaklumi.
Thanks XL