Game Of Love

Game Of Love
Masuk Sarang Macan


__ADS_3

“Tommy kenapa baju mu basah?”


“Cepat dicuci hari ini, besok bisa bau”


“Tommy... Jawab mama”


Teriakan Sang Ibu tidak terdengar di telinga Tommy. Hal pertama yang dia lakukan setelah mengunci kamar adalah melepaskan pakaian yang bau dan basah tersebut. Untung saja Viktor membawa dia pulang hari ini. Jadi dia tidak perlu berjalan jauh dengan pakaian yang basah.


“Bagaimana ini, berpikir-berpikir Tom, mungkin inilah penyebab menghilangnya orang-orang dalam cerita itu”


“Aku tidak boleh menghilang seperti orang-orang itu”


Perasaan seperti ini yang tidak pernah dia rasakan seumur hidup. Tidak juga di kehidupan sebelumnya. Rasa bersalah dan tercela yang kini datang menghantui membuat dia tidak bisa tenang. Satu jam lebih dia menulis di secarik kertas, sebuah permintaan maaf ke Icha.


Semua itu percuma, hanya menjadi gumpalan kertas yang tidak berarti. Menggumpal bagai gunung di keranjang sampah plastik pojok kamar. Karena memang tidak ada yang bisa dia jelaskan. Dia memang melihat semua itu. Itulah mengapa dia merasa sangat bersalah saat ini.


Memikirkan sesuatu yang tidak ada memiliki jalan keluar. Tommy sekarang membawa seragam kotor ke tempat cucian. Memandang ke mesin cuci yang berputar searah jarum jam. Bahkan mesin cuci itu sekarang mencela. Berhenti berputar dan melepaskan salah satu baut, seperti melakukan mogok kerja karena karena diawasi oleh orang seperti dia.


“Sial, sungguh sial hari ini”


“Bagaimana semua ini bisa terjadi hanya dalam sehari”


Tidak ada yang dapat dia lakukan lagi sekarang, segera melepas kabel yang menghubungkan listrik ke mesin cuci. Dia mencoba membongkar mesin cuci itu dan memperbaikinya.


"Pantas saja selain baut, ada kabel putus, untung tidak ada yang bocor, kalau kena air bisa konslet tadi," dia bergumam dalam hati.


Memang memakan waktu memperbaiki mesin cuci tua itu. Tetapi dia yang memahami kelistrikan dan beberapa teknik mesin tersebut dengan mudah memperbaiki mesin cuci yang sudah ikut mencela.


Saat itu sebuah pemikiran gila tiba-tiba datang. Tommy segera rapikan seluruh pakaian sebelum di jemur. Menyelesaikan semua kegiatan yang menambah beban pikiran tersebut.


Masuk ke kamar kali ini dia mengingat. Ada masa saat dia mengirimkan beberapa Kado ke Icha dulu di waktu SMP. Bahkan itu yang selalu berhasil ternyata ditolak gadis tersebut.


Kesalahan yang manis bahkan disukai perempuan. Dan tidak semua rayuan dapat meluluhkan mereka. Tetapi belum selesai menulis beberapa pemikiran itu, ibunya memanggil.


“Tommy, ada telepon, cepat!”


“Iya mah”


“Siapa yang menelepon mah?”


“Nama dia Icha, cepat di jawab nanti kelamaan bayar telepon jadi mahal”


Perasaan bersalah yang dia alami membuat adegan saat memasuki wartel kali ini terulang kembali, Tangan dan tubuh yang gemetaran tidak bisa dia sembunyikan lagi. Keringat yang bercucuran keluar dengan deras.


Lebih bagus jika yang dia rasakan sekarang seperti saat pertama berbicara lewat telepon, karena perasaan seperti itu mulai dapat dia kendalikan. Tetapi sekarang Tommy merasa seperti seorang saksi yang di telepon oleh polisi untuk dimintai keterangan.


“Halo...”


“Oh jadi kamu berani juga mengangkat telepon”


“Dari mana kamu tahu nomor telepon rumah ku?”


“Gampang, dari SMP sampai SMA siapa yang tidak kenal nama papah mu disekolah kita, jadi hanya perlu ku cocok kan dengan alamat mu di buku telepon aja”


"Kota kita tidak terlalu besar jadi tidak repot mencari nomor telepon mu"


“Apa kamu ingin menanyai ku tentang masalah tadi?”


“Haha enak aja jelas-jelas bersalah, status mu jelas tersangka bukan saksi, siapa yang mau menanyai mu”


“Maaf Cha aku tidak bersalah”


“Ngak bersalah bagaimana?, Aku jelas melihat wajah mu tadi, Kalau aja tadi Kak Erla ngak muncul kami ngak akan bisa membalas mu”


“Kak Erla? apa maksudnya Cha?”


“Kalau ngak disiram oleh kak Erla tadi kamu ngak akan keluarkan dari bawah kolong”


“Oke-oke tidak usah panjang lebar Cha, aku memang disana tadi, Aku hanya mau mengambil pulpen ku yang jatuh kebawah, kemudian secara tidak sengaja melihat”


“Awas kamu berani ingat-ingat, jangan banyak alasan lagi jelas-jelas kamu bahkan berani nusuk-nusuk pakai lidi tadi sampai Melisa ketakutan"


"Aku nelpon kamu hanya mau bilang, Sore ini jam 4 aku tunggu kamu di tempat bakso yang biasa kamu dan Viktor sering datangi untuk pamer-pamer wajah mu itu”


Ucapan Icha itu bahkan membuat Tommy terdiam beberapa saat. Sebelum akhirnya dia bertanya dengan pelan.


“Apa bu Yulia sudah tahu?”


“Kalau kamu ngak datang! malam ini akan ku kasih tau mama”

__ADS_1


Suara telepon yang ditutup tiba-tiba sekali lagi terdengar oleh Tommy. Suara itu mulai terdengar tidak enak di telinga sekarang. Mulai sumbang, mulai menaikan emosi di Hati. Tetapi apa yang bisa dilakukan tersangka seperti dia sekarang.


“Dasar doer selalu bikin masalah,” ucap Tommy berbicara dalam hati yang sekarang sedang menahan emosi. Tetapi sekarang...


Jelas sekali bukan dia yang sedang memburu, sang pemburu ini mulai dikejar macan sekarang. Bambu runcing di tangan tidak akan bisa melukai seekor macan betina.


Ide gila untuk mengancam menyebarkan gosip tentang warna keindahan yang dia lihat. Mungkin akan membuat dia semakin dikejar oleh Macan betina ini.


Melarikan diri tidak mungkin, lari seekor macan lebih cepat dari seorang pemburu seperti dia. Menyerah, jangan berharap hidup, dia akan mati di cincang oleh macan betina ini. Tommy jelas tahu karakter Icha yang pemarah dan mudah di hasut itu.


Berharap mencari bantuan, kali ini dia membuka buku telepon kuning yang berada di samping telepon rumahnya. Dia mencari nomor telepon rumah Melisa.


“Pak Subroto jalan A. Yani, Oh ini dia...”


Menekan nomor telepon kali ini dia merasa sedikit beban di Dada. Sebab dia tahu Melisa juga menjadi korban kejahilan Viktor, tetapi dia tahu kelemahan gadis loli ini setelah dia menyentuh gadis itu beberapa hari lalu.


Saat suara sambungan telepon itu terus mendengung di telinga, Tommy bahkan menunggu dengan sabar.


“Halo, ini Kediaman Pak Subroto, dari siapa ya?”


“Halo Te, Melisa ada?”


“Oh Melisa ada, ini dari Siapa ya?”


“Saya Tommy Te teman sekolah Melisa, ada yang mau saya bicarakan dengan Melisa”


“Oh sebentar ya, Tante panggilkan dia lagi muka rumah, ngobrol sama Icha”


“Hah, yang benar Te dia lagi sama Icha?”


“Iya bener, ada apa memang nya?”


“Kalau begitu ngak jadi aja Te, besok aku bicara di sekolah aja, dari pada ganggu mereka berdua”


"Loh kok gitu ngak papa biar Tante panggil sebentar"


“Terima kasih ya Te, maaf mengganggu, Selamat siang Te”


“Ya, Sel...”


Dengan cepat mengakhiri pembicaraan yang tidak sopan itu, dia segera menutup telepon kali ini. Tidak ada lagi harapan untuk Selamat. Semua orang sekarang bahkan berkumpul bersama mengejar dan menyudutkan.


Sempat merasa ini adalah sebuah jalan keluar untuk menghindar. Tetapi kebiasaan di kehidupan pertama mulai memperingatkan. Seberapa buruk pun cuaca entah hujan, bersalju, panas terik. Kehidupan di Amerika orang selalu menghargai waktu dan janji.


Bahkan dia yang sekarang ini dikembalikan waktu. Harus menghargai waktu itu sendiri. Dia takut menyesali menyia-nyiakan sang waktu.


Bahkan sebelum gerimis itu ternyata dia benar-benar sudah siap pergi. Sekarang dia mengambil Jas Hutan butut dengan sedikit sobekan milik sang ayah untuk dia gunakan.


Dia tidak malu memakai jas hujan sobek. Bermodal sepeda butut dia pergi kesana menerjang gerimis, karena Tommy sudah membuat ketetapan di hatinya. Bahkan jika dia akan di buat malu hari ini. Dia akan menerima dengan lapang dada.


Jelas tujuan Icha kali ini ingin membuat dia malu, karena membawa bertemu di tempat dia dan Viktor biasanya nongkrong. Setidaknya itulah yang ada di pikiran Tommy yang sekarang mengayuh sepeda.


Karena seperti Air yang mengguyur dan membasahi dia tadi disekolah. Tak ada alasan bagi dia menghindar hujan gerimis sekarang.


Saat gerimis orang tidak bisa keluar dari Warung Bakso itu, suasana yang penuh sesak dengan anak-anak remaja membuat dia sempat berpikir mundur. Tetapi kaki malah melangkah kesana karena mata yang sudah melihat Icha.


Cinta memang bisa membuat orang menjadi bodoh, zat-zat kimia yang diproduksi tubuh berlebihan sekarang mengalahkan logika dewasa yang dia miliki. Seandainya dia sering mengalami percintaan dulu. Hal ini akan lebih mudah dia hadapi.


Tetapi apa yang bisa dia lakukan dengan jiwa polos ini, dia malah melangkah ke kandang macan.


“Eh Tom, kamu benar-benar datang," ucap Icha yang tersenyum, sementara...


“Ku kira kamu akan beralasan karena hujan, bagus lah,” ucap Melisa


Tommy sempat terdiam memandang Icha dan Melisa yang duduk disana, bahkan jas hujan sobek yang dia pakai tidak sempat dia lepaskan, membuat semua orang disana melirik ke arahnya yang terlihat menyedihkan.


“Walau dibuat sepihak dan secara paksa, Janji adalah janji, sekarang katakan apa yang harus ku lakukan agar kamu dan Melisa tenang”


“Hey, enak aja kelakuan mu tidak sopan, setidaknya duduk dulu dan lepaskan jas hujan butut mu itu,” ucap Melisa yang terlihat mulai kesal.


Jelas saja dia kesal karena kelakuan jahil Viktor sudah melewati batas.


Dengan cepat Tommy melepaskan Jas hujan yang dia pakai dan menarik kursi plastik disana dengan perlahan, sebelum akhirnya duduk menghadap mereka berdua.


Pandangan mata Tommy lurus ke depan, menatap Icha tepat di mata gadis itu. Pembawaan yang terlihat tenang namun dia sedang berusaha keras menekan semua reaksi kimia yang ada ditubuh.


Sedangkan Icha yang dia tatap itu memberikan tatapan sedikit sinis. Mereka sekarang terlihat seperti sedang berbicara dalam hati mereka masing-masing, yang satu sedang meminta maaf sedangkan yang satu lagi sedang marah.


“Begini, ku dengar kamu cukup pintar di sekolah?” ucap Melisa yang memecah keheningan tersebut.

__ADS_1


“Lalu...?”


Tommy tidak berani bertindak gegabah dengan ucapan yang dia keluarkan di depan kedua macan betina ini, yang sekarang terlihat bagai Macan yang sedang mengelilingi mangsa untuk menilai kekuatan mangsa tersebut.


Dia harus bertindak hati-hati untuk melindungi dirinya, salah melangkah sedikit saja kedua macan betina ini akan menerkam dia hidup-hidup.


“Aku akan dikirim bersekolah di luar negeri, ke tempat paman ku. Jika aku tidak bisa menaikan nilai dengan cepat”


“Jadi kami minta kamu mengajarkan kami berdua,” ucap Icha yang sekarang dengan serius memandang Tommy.


"Kalau ngajarin kamu sih aku bisa tapi kok Melisa di ajak"


"Hey, apa perlu aku berteriak disini, bahwa kamu sudah bertindak tidak senonoh tadi?" Melisa mengucapkan kekesalanmya dengan berbisik, sambil menatap tajam.


"Bukan begitu Mel aku minta maaf"


Tommy tidak bisa mengelak, dia hanya meminta maaf sudah memancing macan betina itu secara tidak sengaja, karena ketertarikannya tadi atas permintaan Icha.


“Mama mu kan guru matematika kenapa kalian berdua tidak meminta diajarkan sama mama mu aja,” ucap Tommy yang kembali penasaran.


“Mama ku emang guru matematika tetapi bukan guru semua mata pelajaran, lagian kan ku bilang menaikan nilai jadi semua mata pelajaran wajib bukan hanya matematika”


“Aku ngak mau Les tempat Guru Bahasa Inggris yang tonggos itu, terus mama juga tidak ada waktu mengajarkan ku semua mata pelajaran, kalau kami gak bisa menemukan tempat Les lain...” ujar Icha terdiam sebelum menyelesaikan perkataan tersebut.


Merasa curiga akan semua ini dengan cepat Tommy memohon ke Icha dan Melisa sambil memegang tangan mereka berdua. Dia tidak boleh salah langkah.


“Aduh Cha aku minta maaf atas masalah tadi disekolah, tapi aku benar-benar tidak berbakat mengajar, nanti kalian berdua kecewa”


“Kamu tidak akan bisa menolak, belum lagi rencana kami kepada mu baru dimulai, ini hanya awal aja” ucap Melisa mendengus dalam hati.


Mendengar itu Tommy menunduk lesu, memang mereka berdua tidak menjawab perkataan tadi tetapi dia bisa mendengar kata hati Melisa dengan jelas.


“Aku rasa kamu tidak ada pilihan lain, selain setuju benarkan?” ucap Melisa lagi dengan ketus


“Kalau ngak mau membantu yah ngak apa-apa kok Tom, Aku mengerti kok” Icha dengan santai melontarkan perkataan itu.


“Yang benar Cha?”


“Benar kepala mu, awas kamu nanti malam” ucap Melisa lagi


dalam hati sehingga membuat Tommy segera menatap ke arah loli ini dengan tatapan sinis.


Sedangkan Icha dalam hati dia ragu sehingga tidak juga berkata-kata dalam hatinya. Jadi tak ada yang dapat di dengar.


“Apa maksud mu melihat seperti itu? kamu memang mau dilaporkan? atau kamu ingin aku dan Icha mempermalukan mu di sini?”


“Ngak Kok Mel, jadi bagaimana apa ada cara lain, selain menjadi tutor kalian untuk menebus kesalahan ku tadi”


“Bisa ku kasih jalan keluar lain, kalau kamu memang ngak mau mengajarkan kami berdua, kamu tinggal bayar aja setiap aku dan Icha makan-makan kapan saja dan dimana saja selama sebulan, bagaimana mau?” ucap Melisa lagi menjawab.


“Aku akan menjadi Tutor kalian yang paling baik, akan ku pastikan itu, Jadi kapan kalian ingin mulai belajar?"


"Berapa lama aku harus mengajar?” ucap Tommy dengan mantap.


“Kalau kamu setuju kita bisa mulai besok, kami hanya meminta kamu mengajarkan kami sampai triwulan pertama saja” Icha tersenyum melihat kelakuan Tommy tersebut.


“Oke Deal”


Tommy memang tidak punya pilihan lain sekarang. Dia lebih memilih mengajarkan kedua gadis ini walaupun dia sudah tahu akan ada masalah nanti yang akan mereka berdua berikan.


Uang, bahkan dia saja tersiksa karena tidak bisa membeli jajanan selama beberapa hari untuk melunasi utang dengan Erla, jelas dia tidak ingin merasakan derita itu lagi.


Belum lagi kedua gadis cantik yang duduk di depan dia sekarang meminta dia membayar setiap mereka berdua makan di luar.


Otak pintarnya bahkan lebih cepat berpikir tentang angka-angka. Pengeluaran yang akan dia derita, dapat lebih besar lagi dari rasa malu yang mungkin nanti dia dapatkan. Selama rasa malu itu tidak keterlaluan dan tidak menyinggung harga diri. Dia bisa menerima semua itu.


Dia bahkan dalam diam berbicara sekarang, sambil memandang kedua gadis yang sekarang duduk berhadapan dengannya.


"Kata-kata orang yang tidak menyenangkan memang seperti panah yang menyerang tetapi, panah-panah itu dilepaskan tanpa kekuatan yang bahkan tidak akan melukai kita sama sekali”


“Anehnya justru kita sendiri yang mengambil panah-panah yang terjatuh tadi dan menusukkan panah itu tepat ke Jantung, sehingga melukai diri kita sendiri”


"Aku harus bisa menjinakkan kedua macan ini, meski nanti sedikit luka kudapatkan"


Hari ini Tommy bahkan tidak menyangka kedua gadis ini akan meminta hal seperti itu, dia mengira akan dipermalukan di hadapan gadis-gadis SMA lain yang sekarang berkumpul memandangi mereka bertiga dengan iri.


————


- Panah dan Perkataan, di kutip dari film Drama Korea berjudul "The Producer"

__ADS_1


Thanks XL


__ADS_2