
Sejak peristiwa itu beberapa agenda dan rencana tidak dilakukan Tommy. Dia menjadi kurang percaya diri dan malu untuk bertemu dengan orang-orang.
Tommy bahkan tidak bisa mengetahui alasan itu. Mental orang dewasa yang dia miliki tidak bekerja dengan baik jika berhubungan dengan cinta. Jangankan bertemu Icha, ke ruangan guru saja dia bahkan malu, sebab dia terlalu malu jika bertemu dengan Bu Yulia di sana.
Tiap hari setelah dia menjalani kehidupan yang tertutup di sekolah. Kembali ke rumah saja kerjanya hanya membaca buku dan komik. Mendalami buku yang dia beli atau yang belum sempat dia baca.
Kali ini, karena dia menghindari perpustakaan sekolah. Tommy tidak pergi kesana dalam beberapa hari terakhir. Menghindari bertemu Icha tentunya. Sebab itulah dia merogoh kocek lebih banyak lagi untuk membeli buku-buku yang dia sukai.
Uang memang membuat dia tidak bisa terlena lebih lama. Kekurangan uang sekarang akibat membeli buku yang seharusnya bisa dia pinjam di perpustakaan. Merubah kondisi mentalnya kembali terkendali.
Untung saja sifat ini mungkin bisa menyelamatkan Tommy dari penyesalan panjang atas kecerobohan yang bisa dia lakukan sekarang.
Beberapa bisikan terdengar kepala, seolah itu adalah dorongan yang harus dia lakukan segera. “Kamu jelas tidak salah mengutarakan perasaan cinta yang tulus kepada seseorang yang kamu cintai, Toh dia tidak memiliki orang lain yang menjalin hubungan bersamanya sekarang.”
“Kamu bahkan sudah melakukan semuanya dengan baik, tidak ada seorang pria di SMA mu yang berani mengutarakan cinta seperti itu didepan semua orang.”
“Bahkan di Indonesia, mungkin hanya bisa terhitung dengan jari orang yang melakukan semua itu. Dengan cara mu. Dengan keromantisan yang coba kamu lakukan. Di usia muda seperti mu. Banyak dari mereka bahkan meminta bantuan temannya untuk mengutarakan perasaan suci itu.”
“Jadi tidak ada yang harus membuatmu malu, bangunlah berjuang untuk agenda mu lagi seperti dulu.”
Perkataan jiwa yang Tommy dapatkan setelah melihat uang receh diatas meja belajarnya. Mendorong semua itu menjadi lebih kuat bahkan mulai berani berkata-kata di pikirannya. Antara miskin ke depan dan menanggung malu sekarang.
Mental yang bercampur aduk ini membuat logikanya bertarung keras. Namun jelas dia yang mau di jadikan pesuruh oleh kedua gadis itu sebelumnya, dan menderita karena sebuah pulpen, tidak akan menyerah semudah itu dengan yang namanya Uang. Jika Tommy terus-terusan seperti ini maka masa depan yang telah dia rancang sekarang akan berantakan.
Melanjutkan dan membenarkan beberapa agenda yang sudah kacau, karena tidak dia lakukan dalam beberapa hari. Membuat Tommy kembali mencatat semua itu ke sebuah buku Jurnal besar.
Tanpa terasa hari sudah hampir gelap disore hari. Panggilan sang ibu membuat dia harus keluar dari kamar. Disana dia menemukan sahabatnya Viktor duduk di ruang tamu yang memang memiliki beberapa kursi kayu sederhana.
“Tumben kau ke rumah?” melirik ke arah Viktor, Tommy melontarkan pertanyaan itu dengan santai.
“Ayo jalan-jalan aku bosan di rumah terus, nanti aku yang traktir,” Viktor langsung berdiri dari kursi. Dia melangkah langsung menuju pintu rumah Tommy.
“Tunggu tor, aku ganti baju dulu,” ucap Tommy ingin menghentikan Viktor.
“Ngak usah gitu aja sudah ganteng, nanti kamu terus yang menjadi pusat perhatian orang,” Viktor yang sudah tidak sabaran pamer muka, bahkan mendesak Tommy, membuatnya tidak bisa beralasan lagi dan segera mengikuti Viktor.
Kedua sahabat itu akhirnya melangkah keluar. Mereka pergi makan ditempat biasa, Warung Bakso Bu Juliet. Warung bakso yang sekarang ini makin terkenal. Mungkin juga ini karena keberadaan mereka berdua.
Dulu warung bakso ini memang sepi karena baru dibuka. Kedua sahabat ini menemukan tempat tersebut. Secara perlahan seiring waktu banyak anak-anak gadis SMP yang sering melihat mereka berdua makan disana. Tidak lama gadis-gadis SMA lain juga berdatangan. Dengan berkumpulnya orang-orang sekarang, akhirnya terdapat dua grup di warung bakso ini. Ruangan kiri untuk anak-anak SMP dan yang sebelah kanan untuk anak-anak SMA.
Beberapa kali bahkan Tommy dan Viktor dulu, sering mendapatkan surat cinta dan kado dari beberapa anak-anak gadis remaja di sini. Bagi Tommy dia hanya mengingat itu sebagai bagian dari kehidupan pertamanya, jadi dia tidak terlalu menganggap penting hal tersebut. Karena dikehidupan keduanya dia tidak sempat mengalami hal tersebut lagi.
Saat sedang asyik makan semangkuk Mie Ayam, Tommy dapat merasakan perubahan perasaan yang aneh terjadi. Memang cuaca saat itu sedang mendung dan sedikit berangin.
Sebuah sepeda motor yang dikendarai dua orang gadis muda mendekati warung bakso tersebut. Tommy bahkan tidak melihat itu. Saat kedua gadis tersebut turun dan melepas helm barulah dia dapat melihat sosok kedua gadis tersebut.
“Uhuk...” tersedak karena mie ayam bakso yang Tommy makan, membuat Viktor juga melihat ke arah pandangan mata Tommy.
“Ah sial, mereka berdua datang terlalu awal,” ucapan Viktor terdengar oleh Tommy, walaupun dia tidak berbicara sebenarnya.
Mata Tommy menatap Viktor menjadi lebih tajam, dia jelas ingin meminta penjelasan sahabatnya ini. Viktor yang mendapat tatapan itu sekarang menjadi salah tingkah.
“Kenapa ngeliatin aku kaya gitu? aku ngak ada hubungannya dengan ini semua,” merasa bersalah dia mencoba membenarkan perbuatan yang dia kira tidak diketahui itu.
“Aku tahu sifat mu dari SMP, Kali ini berapa uang yang kamu minta kepada mereka berdua karena sudah menjual ku?” ucap Tommy sedikit kesal terhadap kesetiaan sahabatnya itu.
Kali ini Viktor tidak bisa berkelit lagi, memang dulu Viktor sudah melakukan beberapa trik seperti ini kepada Tommy.
Demi sedikit uang dia bahkan sempat mempertemukan seorang gadis yang menyukai Tommy dulu, untuk mengutarakan Cintanya kepada Tommy di tempat bakso yang sama ini. Dan meninggalkan mereka berdua disana.
__ADS_1
“Ngaku! sebelum ku beritahukan rahasia mu kepada tante....” Tommy mengancam Viktor dengan membawa-bawa Tante Ros yang adalah mama Viktor.
“Lima puluh ribu, Icha katanya ingin berbicara dengan mu,” ucapan Viktor walaupun sedikit berbisik jelas bisa dia dengar.
“Udah jangan makan lagi ayo cepat bayar makanan kita dan pergi dari sini,” ucap Tommy sedikit kesal.
“Icha mau ngomong sama kamu, beri dia waktu,” Viktor dengan enteng berbicara sambil menyedot teh es di gelas dan memainkan sedotan yang ada di tangan.
“Doer ... Aku ngak akan memaafkan mu kali ini!”
Mendengar itu Viktor segera berdiri dan membayar makanan mereka berdua, Dia jelas tahu pukulan Tommy sangat menyakitkan, sebab dia adalah mantan atlet tinju di SMP. Sementara Icha dan Melisa sudah berdiri di depan Tommy sekarang.
“Mau kemana? Kami ada sedikit yang mau dibicarakan dengan mu.” ucap Melisa sambil memandang Tommy.
Kejadian sekarang jelas menarik perhatian semua remaja yang ada disana, Keempat orang ini bahkan sangat terkenal dulu saat mereka di SMP. Jadi banyak adik-adik kelas mereka atau dari sekolah lain yang mengenal mereka dan terus memperhatikan adegan drama itu.
Tidak sempat lari Tommy sekarang duduk di meja yang tadi dia gunakan. Hidangan yang sempat sedikit dia sentuh tadi masih terasa hangat, beserta es jeruk yang memang tidak sempat dia minum masih menghiasi meja mereka berdua. Dan Icha duduk berhadapan dengannya. Dia menggunakan kursi yang tadi dipakai Viktor.
“Kenapa beberapa hari ini kamu sepertinya menghindari ku?” ucapan Icha memang langsung menuju ke inti persoalan masalah mereka berdua.
“Kamu tahu sendiri .... kalau kamu mau membicarakan itu Cha sebaiknya aku pulang saja.”
“Bukan itu maksudku Tom,” Icha tidak langsung menjelaskan apa yang dia mau utarakan sekarang.
Karena merasa Icha tidak melanjutkan perkataannya Tommy kembali bertanya.
“Terus Apa?”
Kali ini, Icha terlihat diam dengan wajah yang menunduk mendengar perkataan Tommy. Dalam beberapa saat wajah putihnya terlihat memerah bahkan sampai bagian telinga juga terlihat memerah. Perlahan dia menaikan kepala dan menatap Tommy, Hampir mengucapkan sesuatu....
Namun tiba-tiba adegan angin itu sekarang kembali terjadi, sebuah hembusan angin kencang sekarang terjadi lagi. Mereka berdua yang duduk di meja paling depan jelas diterpa angin ini. Debu-debu bertebaran masuk ke Warung Bakso tersebut. Membawa juga pasir-pasir halus terbang bersamanya.
Kebiasaan Viktor yang memang suka melihat kedalam warung bakso untuk menikmati pemandangan wajah gadis-gadis remaja yang duduk disana.
Baginya duduk di Meja paling depan adalah tempat strategis untuk menatap keindahan wajah gadis-gadis remaja itu, sedangkan Tommy yang tidak ingin diperhatikan dia lebih memilih menatap ke arah luar warung bakso tersebut. Membelakangi mereka semua.
Ketakutan yang dirasakan Tommy tidak terjadi. Tidak ada adegan slow motion atau gerak lambat, semuanya normal. Icha yang sempat menoleh ke belakang tadi kembali memalingkan kepalanya dan tidak sengaja menatap Tommy.
Kedua mata itu bertemu pandang. Seakan semua ruangan tersebut menjadi panas walaupun di tengah terpaan angin yang sudah menjadi hembusan lembut penyejuk hati. Jantung Icha berdetak kencang. Bergemuruh seperti cuaca sekarang yang mendung. Membuat dia seakan malu pada dunia untuk berkata-kata.
“Apa sih yang mau kamu bicarakan? kalau mau menjadikan aku pesuruh lagi, Fine ... ngak papa, aku terima. Jadi karena itu tidak ada lagi yang harus kita bicarakan, benar?”
"Lagi pula apa hebatnya dirimu itu, Banyak yang lebih cantik dari mu."
Ucapan kasar dan arrogant itu dilontarkan Tommy dengan perasaan bangga, menurutnya itu untuk melindungi Harga diri yang tersisa.
**
Viktor dan Melisa berdiri di kejauhan melihat Tommy dan Icha yang sekarang sedang duduk bersama. Mencoba memulai pembicaraan karena Viktor sedikit tertarik jadi dia bertanya kepada Melisa.
Dia tidak bisa lagi duduk diam dan penasaran dengan semua ini. apalagi angin kencang yang baru saja berhembus. Membuat pikiran yang dimilikinya tidak juga bisa tenang seperti cuaca sekarang.
“Mel sebenarnya apa sih yang mau dibicarakan Icha?” ucap Viktor bertanya ke Melisa, sambil menatap Icha dari jauh yang sekarang terlihat sedang malu-malu.
Melisa hanya diam, dia tidak mau memberitahukan hal tersebut kepada Viktor, sampai akhirnya Viktor berbicara sesuatu yang menurutnya logis.
“Kalau kamu ngak mau kasih tahu aku Mel ngak apa-apa kok”
“Sama aja nanti juga aku bakal tahu dari Tommy, tapi awas ya kalau sampai aku tahu semua ini dari Tommy, seluruh kelas juga akan ku beri tahu nanti,” Ancaman Viktor memang tepat membuat Melisa berpikir tidak ada yang bisa disembunyikan sekarang.
__ADS_1
“Icha itu suka sama Tommy, biarpun Tommy ngak nembak dia makai cara seperti kemaren, dia pasti menerimanya, tapi dia mungkin pria terbodoh yang pernah ku lihat.” Sempat terdiam Melisa juga memandang Tommy dari kejauhan.
“Entahlah Tor... aku bahkan belajar dengannya karena dia pintar di beberapa bidang, seandainya saja dia tidak usah menghindar beberapa hari ini.”
Ucapan Melisa itu menyadarkan Viktor tentang apa yang terjadi sekarang. Dia sempat merasakan kekecewa dihatinya, akan tetapi dia pun mencoba merelakan Icha berhubungan dengan Tommy, demi sahabatnya itu. Dia sekarang memendam perasaan yang juga dia rasakan terhadap Icha.
**
Terkadang....
Sesuatu yang kasar sebaiknya tidak usah diucapkan. Apalagi kita berada dalam kondisi kesal, emosi dan marah. Tommy memang memiliki kekuatan tetapi masih bodoh untuk membaca perasaan seorang gadis.
Bahkan gerak gerik seorang gadis, Tommy tidak tahu itu sama sekali. Dia tidak menggunakan kekuatan tersebut untuk mencari tahu lebih baik situasi yang ada. Seperti yang sering dia lakukan. Mungkin karena emosi atau karena alasan lain.
Jurus Pak Stevan dia hanya digunakan untuk mencari peluang, Bukan membaca Peluang itu sendiri.
Wajah yang tampan tidak bisa menjamin kebaikan hati seseorang. Sikap yang lembut mungkin untuk menutup arogansi yang dia miliki. Membuat Icha berpikir seperti itu sekarang. Dia juga terdiam mencerna perkataan yang dilontarkan Tommy, seolah memang itulah yang mewakili Tommy secara keseluruhan luar dan dalam.
Icha yang pintar itu tentu saja berpikir dua kali, tidak ada gadis yang bisa menerima perkataan seperti itu dengan mudah dan melanjutkan apa yang ingin dia utarakan tadi.
Hari ini mungkin Angin kencang yang baru saja terjadi sudah menyelamatkan Icha.
Atau bahkan telah menolak untuk mempertemukan kedua hati yang ternyata memang saling suka.
Tommy berdiri meninggalkan Icha saat itu. Dia melangkah mendatangi Viktor dengan segera dan pergi dari sana.
Meninggalkan Icha yang sekarang hampir 100% me reset semua perasaan yang juga dia sudah rasakan selama beberapa minggu ini bersama Tommy. Sedangkan Melisa yang tadi berdiri diparkiran bersama Viktor segera mendatangi sahabatnya itu.
“Jadi bagaimana sudah bicaranya? kenapa Tommy pergi tergesa-gesa? dia menolak mu?”
Ucapan Melisa yang terkejut terlantun dengan lantang, karena melihat Tommy yang meninggalkan tempat itu. Menarik perhatian semua orang dengan segera. Kali ini mereka mendengar dengan jelas apa inti yang kedua muda mudi itu persoalkan sejak tadi.
“Mulutmu Mel ... Ayo kita pulang, Jangan membicarakan pria bodoh seperti dia mulai sekarang” Segera berdiri dari tempat duduknya Icha melangkah dengan emosi.
Dia merasa pikirannya sangat tak terkendali, tidak bisa menuruti perkataan hati yang ada, Icha memang tidak ingin menuruti hatinya yang bodoh dan buta karena cinta itu.
Baginya, sekarang adalah medan perang. Tempat dimana pertumpahan darah terjadi. Namun itu hanya ada di pikirannya saja. Hatinya tidak setuju dengan semua itu. Hatinya sekarang sakit karena ditinggalkan oleh Tommy seperti itu. Bahkan dia hampir menangis. Tetapi semuanya sudah terjadi.
“Awas kau nanti dasar Patung Bundaran,” beberapa kali dia menyumpah di dalam hati sepanjang perjalanan pulang.
**
“Bagaimana Tom sudah jadian sama Icha,” ucap Viktor bertanya sambil menyetir sepeda motor mereka berdua.
Tommy yang duduk di kursi belakang sekarang tidak bisa menjawab Viktor. Jiwa yang dia miliki semakin terluka. Pemikirannya sudah melawan perkataan hatinya sendiri. Kebodohan melanda sekarang. Penyesalan memang selalu datang terlambat.
“Dasar bodoh kenapa kamu berbicara seperti itu tadi....”
Bergumam dalam hati. Tommy mulai menyesali perbuatannya, Tommy yang sepanjang perjalanan ini hanya diam. Merasa Hampa. Sebab saat berada diatas sepeda motor lah baru dia bisa melihat kejadian yang Viktor alami saat berbicara dengan Melisa di parkiran tadi sambil memandang ke arah mereka berdua dengan Icha. Tommy yang duduk dibelakang jelas menyentuh Viktor secara tidak sengaja dan mengetahui semua itu.
Tak ada kata kembali untuk menarik ucapan yang sudah dia keluarkan, jika saja dia menunggu hanya selama 1 menit lagi, bahkan sekarang hatinya pasti berbunga-bunga. Akibat mulut yang bersuara tanpa dia pikirkan terlebih dahulu. Atau kah akibat angin yang menghentikan Icha berbicara tadi.
Jelas tidak ada yang bisa disalahkan selain dirinya sendiri, sejak kapan angin bisa disalahkan.
Saat sore sudah berganti menjadi senja dan hampir waktu bagi Malam tiba. Viktor membawanya kesalah satu tempat permainan judi terkenal di Kota Mereka. Tempat dimana Tommy dulu seharusnya mendapatkan pengalaman hidup paling memalukan Kedua dalam hidupnya.
Rumah judi Bingo milik Mr. and Mrs. Lee, begitulah mereka berdua memanggil tempat judi tersebut.
————
__ADS_1
Thanks XL