
Hari-hari berlalu, hubungan ketiga orang ini menjadi lebih dekat. Memang tidak hanya sekali Tommy dijadikan pesuruh kedua gadis cantik ini. Tetapi dia menjalaninya dengan sabar. Membelikan Jajanan, Mengantarkan mereka berdua bertemu beberapa kenalan pria yang mencoba mendekati mereka. Menjadi Gojek yang mengantar mereka pulang pergi, Melakukan ini dan itu.
Gosip sekali lagi menjadi bahan santapan di sekolah khususnya untuk anak kelas I. Tetapi kali ini gosip yang ada adalah tentang mereka bertiga. Siapa yang tidak ingin memiliki pesuruh setampan artis K-Pop. Membayangkan saja sudah membuat gadis-gadis lain iri kepada mereka berdua.
“Ternyata tujuan mereka adalah ini.”
“Kedua orang ini berniat menaikan popularitas mereka,” Tommy hanya bisa menghela nafas dan berbicara lirih di hati.
Pandangan kali ini tertuju mengarah ke Melisa. Di tangan kanan tergantung keresek plastik hitam berisikan Jajanan kesukaan gadis ini. Di tangan kirinya tergenggam segelas Es Teh manis kesukaan Icha. Perpustakaan menjadi tempat suci perkumpulan Genk ketiga orang ini ternyata.
Clara beberapa kali melirik mereka pagi ini dan terlihat kesal. Tampaknya dia tidak ingin ruangan suci miliknya digunakan untuk bercengkrama dengan suasana ribut seperti ini. Memang beberapa hari ini mereka bertiga membuat suasana ruang baca menjadi sedikit ramai.
Jam istirahat yang seharusnya sering dipakai Tommy belajar hal-hal baru, sekarang digunakan untuk menjadi Tutor dadakan. Mengajarkan orang memang tidak mudah tetapi, Kedua gadis ini ternyata cukup pintar dengan cepat mereka mengerti yang diajarkan Tommy.
Selain metode yang dia ajarkan berawal dari dasar, dia juga mengajarkan beberapa cara menghitung cepat khusus untuk pelajaran yang memerlukan perhitungan bilangan. Untuk ilmu lain dia juga melakukan pelajaran berulang dan berulang, disertai games membuat yang dia ajarkan disukai kedua gadis ini.
Mungkin saat belajar saja dia bisa menjadi Boss kedua gadis cantik ini. Diluar itu dia hanya seorang pesuruh. Saat pulang sekolah pun dia sering disuruh membonceng mereka berdua.
“Jadi bagaimana mudah kan?” Pandangan mata itu tegas melihat ke arah kedua gadis yang duduk di depannya sekarang.
“Mudah sih, aku baru tahu bahwa belajar itu menyenangkan,” Ucapan Icha terdengar pelan.
“Jelas saja kan Guru yang mengajar seganteng aku," dia menunjuk ke wajahnya sendiri dengan jari yang mengacung keatas, menggoda kedua gadis cantik ini.
“Enak aja, kalau murid yang kamu ajarkan itu tidak sepintar kami berdua, mana bisa dia mengerti semudah ini,” ucap Melisa.
“Haha, benar juga, untuk itu kamu benar Mel,” Mata Tommy dan Melisa bertemu pandang.
Terlihat sedikit Rona merah di wajah Melisa melihat tatapan itu. Bagi Tommy gadis loli yang terlihat galak ini lebih mudah ditaklukan dari pada Icha, sehingga dalam beberapa hari ini memang sering mulai menggoda Melisa.
Memegang lembut tangan Melisa, membawa dia bercanda sampai menggoda, juga sering Tommy lakukan. Mungkin karena itulah hukuman yang dia dapatkan juga dari gadis ini tidak sedikit. Bahkan dapat terlihat, tidak hanya sekali dalam dua hari ini Melisa memerah wajahnya karena dipandangi Tommy seperti ini.
Selain sering membelikan jajanan. Tommy setiap pagi memiliki Rutinitas baru. Menjadi Mamang Gojek. Yah mungkin hanya dia yang tahu arti kata itu sekarang. Setengah jam sebelum jam 6 pagi Tommy biasanya sudah mengayuh sepeda menuju ke Rumah Melisa. Gadis ini anak orang kaya di Kota Air. Dia memiliki sepeda motor baru. Mungkin karena sering mengantar kedua gadis ini pulang pergi setiap hari. Juga merubah sikap Melisa.
Selain tidak pernah marah saat di isengi Melisa. Dia juga sabar dengan tutur kata halus dan lembut menjawab gadis ini. Mental Tommy jelas tahu yang dikatakan gadis muda ini. Dan tidak seberapa dengan perkataan Dosen Killer di kehidupan pertamanya.
Jadi dia jelas enjoy dan dia bersyukur pada Tuhan. Hukuman yang dia terima malah bisa membuatnya melesakkan jurus-jurus Pak Stevan kedalam hati kedua gadis ini.
“Kak Clara bagaimana kabarnya hari ini?” seorang pemuda tampan keturunan Tionghoa menyapa Erla.
“Halo Wil, Kabar ku baik, kamu apa kabar?” menatap Willy sebentar. Erla menghentikan mencatat buku-buku yang di pinjam gadis kelas I yang berdiri di samping Willy sekarang.
“Aku baik, Buku yang waktu itu mau ku pinjam ada?” Willy bertanya karena kebingungan mencari sebuah buku.
“Tuh anak kelas I disana yang meminjam buku itu dan belum dikembalikan juga” pandangan Erla kali ini mengarah ke Tommy.
“Sudah beberapa hari buku ini belum dikembalikan juga, apa ngak ditanyakan saja?” ucap Willy dengan nada sedikit kesal.
“Yah sebaiknya kamu tanyakan sendiri Wil”
Pandangan Tommy yang dari tadi terus memperhatikan Melisa kali ini berubah, dia mendengar perkataan hati Icha yang terus bergumam melihat pria tampan keturunan Tionghoa yang sekarang sedang mendekat ke arah mereka.
Hatinya menjadi panas. Dia tidak tahu perasaan cemburu bisa segila ini. Sejak dia kecil hingga bersekolah di Amerika bahkan dia yang hanya pernah tiga kali saja menjalin sebuah hubungan cinta tidak pernah merasakan perasaan hati sepanas ini. Rasanya seperti ketel yang mendidih.
“Kamu Tommy?” ucapan Willy terdengar sumbang di telinganya.
“Benar, kamu siapa? apa urusan mu dengan ku,” jawaban itu pun terlontar begitu saja.
__ADS_1
“Buku Dunia Bisnis Jiwa Seorang Pengusaha, Kamu belum mengembalikan, kamu anak kelas I kan?” ucapan sedikit kasar pun dikeluarkan membalas ucapan Tommy. Willy mengeluarkan eksistensi kakak kelas sekarang. dengan menanyakan tingkatan.
“Besok ku kembalikan”
“Ih Willy ... terlihat tampan hari ini, aku jadi semakin suka dengan Pria ini,” Ucapan Icha terasa seperti panah yang menyerang tepat ke hati Tommy, sebab hanya perkataan hati itu saja yang bisa dia dengar.
“Ku Tunggu besok, sebaiknya kamu menepati janji mu.”
Pria tampan itu meninggalkan mereka begitu saja, bahkan tidak memperhatikan kedua gadis cantik di depannya.
Willy ... Pria keturunan Tionghoa ini adalah berkah bagi para gadis yang melihatnya, Ketampanannya bisa dikatakan melebihi Tommy. Wajahnya bahkan mengingatkan pada seorang artis korea marga Lee yang bertubuh tinggi dan berkulit putih. Tetapi Willy adalah versi pendek dari Pria itu.
**
Dunia melakukan rotasinya sendiri. hari demi hari semakin berlalu sejak saat itu. Tommy yang merasa memiliki saingan sekarang melakukan segala cara untuk mendekati Icha. Bahkan dia sekarang tidak menggubris keberadaan Melisa. Membuat gadis ini sekarang terlihat sedikit memiliki kekesalan di Hati.
Hubungan pertemanan yang semakin dekat itu. Membuat Icha merasakan sesuatu yang lain. Dia sekarang sudah merubuhkan dinding Jaim yang menghalangi sebuah hubungan yang lebih serius. Tommy memanfaatkan itu dengan baik. Jurus demi jurus yang dia terima dari pengalaman Pak Stevan sekarang bekerja. Otak jenius yang dia miliki merupakan kunci hubungan itu.
Mereka berdua sekarang bahkan terlihat sering bersama tanpa kehadiran Melisa di perpustakaan. Candaan ringan sering menghiasi mulut Tommy saat bersama Icha. Bukan karena harus. Tetapi itu memang merupakan perkataan yang memang keluar dari Hatinya.
Hari ini Icha terlihat sedikit kesal karena sudah menunggu lama di perpustakaan. Sedangkan Tommy belum menampakkan batang hidungnya. 30 Menit Icha sudah menunggu di Perpustakaan tanpa kehadiran Tommy dia pun merasa sedikit kesepian kali ini.
“Maaf ... Maaf,” ucap Tommy yang terlihat mengeluarkan salam Namaste.
“Kok lama sih ... dari mana aja kamu?” ucapan kesal itu ditanggapi Tommy dengan senyum.
Dia memengang tangan Icha dengan lembut sekarang. Walau Status mereka bukan lah sepasang kekasih. Tindakan yang dilakukan Tommy tidak membuat gadis itu risih. Kali ini bahkan dia terlihat tidak menampik tangannya seperti dulu. Hanya terdiam dengan pipi memerah karena mendapatkan perlakuan itu.
“Aku sudah bosan tau, karena lapar menunggu kamu,” dalam diam Icha berkata lirih di hati, membuat perasaan Pria yang sedang menatapnya dengan senyum ini bagai besi panas dicelupkan di Air. Suara itu juga menenangkan dia. Sebab memang dia sudah bersiap untuk keadaan ini.
“Maaf yah, Tadi aku harus antri membeli Roti kesukaan mu di pasar, nih....”
Menyodorkan dua bungkusan Roti kepada Icha yang dia keluarkan dari kantong celana membuat Icha sekarang menatapnya dengan tulus. Roti kesukaan Icha ini bukanlah sesuatu yang bisa didapatkan di kantin sekolah. Bahkan Tommy saja tadi harus berjejalan dengan siswa lain saat ingin membelinya.
Selama beberapa hari ini juga mereka sering terlihat makan bersama di perpustakaan sekolah, mungkin itu hanyalah modus dari Tommy. Tetapi siapa yang tahu. Icha bahkan tidak protes dan mengeluh dia malah sering curhat saat mereka berdua makan bersama. Mungkin juga ini adalah modus dari Icha.
Hari ini dengan waktu yang tersisa mereka berdua juga sempat terlihat belajar bersama. Diselingi oleh canda tawa ringan yang membuat iri semua orang di Perpustakaan. Kedekatan ini tampaknya memunculkan sebuah perasaan lebih di hati Tommy. Berlalunya menit ini terasa lambat. Menyiksa jika mengingat bahwa 5 menit lagi mereka berdua harus kembali ke Kelas masing-masing.
**
Kembali ke kelas membuat Tommy juga semakin tidak sabaran. Karena alasan keterlambatannya tadi sebenarnya bukan hanya untuk membeli Roti Kesukaan Icha. Dia membeli sebuah kaset VCD yang booming di zaman ini. Lagu dari Grup Band Dewa 19 menjadi pilihan hadiah yang ingin dia berikan.
Zaman inilah banyak musisi hebat Indonesia bermunculan, Mungkin bisa dikatakan titik balik bagi Grup band - Grup band Indonesia. Banyak Musisi terkenal seperti Padi, Stinky, Jamrud, Wayang dan lainnya yang mewarnai masa muda indah ini.
Di ingatannya dulu Tommy pernah memberikan VCD serupa di saat dia SMA tetapi, yang dia berikan tidak menarik bagi Icha sehingga dia menolaknya. Belum lagi dia memang memberikan hadiah itu secara diam-diam seperti saat di SMP. Dengan sebuah surat cinta juga tentunya tersemat disana.
Pelajaran Jam kedua pun selesai. Penjaga Kantin sekolah memukul lonceng yang terbuat dari Pelek Ban mobil bekas. Suara lonceng itu memang terdengar keras. Dan suara itu adalah yang paling ditunggu semua siswa setiap hari. Menandakan Jam pelajaran telah selesai hari ini.
Tommy yang sejatinya adalah seorang kutu buku. Pemalu dan penakut terhadap Perempuan. Apalagi terhadap orang yang dia Cintai. Membuat Keringat bercucuran keras sekarang keluar dari Pori-pori kulit putihnya. Membasahi pakaian seragam yang dia gunakan.
Jantungnya berdetak lebih kencang kali ini. Tetapi dia sudah membulatkan Tekad. Dengan cepat Tommy mengambil VCD yang sudah dia beli tadi. Terbungkus oleh Kertas Kado cantik dan Plastik Transparan. Tidak lupa juga Tommy memberikan kado itu semprotan Parfum Pengalaman Pertama Begitu Menggoda, Selanjutnya Terserah Anda.
Tommy langsung berlari ke kelas Icha kali ini. Dimana semua murid di kelasnya saat itu Sudah siap untuk pulang. Suara Pintu terbentur sesuatu terdengar sangat keras. Karena salah seorang siswi saat itu ingin membuka pintu, Sedangkan siswa lain bersiap untuk keluar berhamburan. Jadi Tommy menahan Pintu itu. menimbulkan suara hentakan keras tadi.
“Mereka semua tidak boleh keluar, karena mereka semua adalah Kunci sukses ku, Hari ini Ku pastikan kalian semua murid Kelas IA tidak boleh keluar kelas,” Suara penuh kepercayaan diri itu diucapkan Tommy dalam hati.
Sontak Semua murid memandang ke arah Tommy dengan kaget. Karena efek Fokus terhadap tujuannya maka dia tidak menghiraukan tatapan mereka semua.
__ADS_1
Dengan Mawar merah di tangan kanan dan Kaset Dewa 19 di tangan Kiri. Tommy melangkah ke Meja Icha dengan Rasa Malu dan Cinta yang bercampur aduk menjadi bibimbap dengan cita rasa Korea muncul di hatinya. Menyebabkan wajah pria tampan ini terlihat memerah karena malu.
Mawar Merah itu dia sodorkan terlebih dahulu di depan Icha.
Dalam pikirannya skenario ini dapat berhasil. Icha akan mengambil mawar merah itu dengan senang. Setelahnya baru akan dia utarakan isi hati yang selama ini dia Pendam.
Tak ada yang terjadi sesuai harapan. Tommy terlihat menunggu sesuatu sampai akhirnya dia menggoyangkan setangkai mawar merah itu di depan Icha, namun Icha tidak juga menyambutnya.
“Mungkin harus dengan prosesi dramatis seperti di Dongeng-dongeng agar dia mengambil Mawar ini?” Otaknya mulai berpikir kemungkinan-kemungkinan yang terjadi.
Segera saja Tommy berlutut melakukan prosesi dramatis itu. Sepucuk Surat berisikan Puisi indah sekarang disatukan dengan VCD Dewa 19 dia kembali sodorkan ke Icha. Semua orang di ruangan itu semakin Kaget melihat yang dilakukan Tommy. Mulailah kericuhan dan kegaduhan suara mereka semua....
Terima ... Terima ... Terima....
Nyanyian sumbang dari kegaduhan itu membuat Tommy semakin bersemangat karena merasa mendapatkan Aliansi. Dia segera mengisyaratkan tanda diam Universal yang di Kenal Dunia. Telunjuk jarinya berada di bibir sekarang. Bahkan Tommy terkejut melihat reaksi semua orang di Kelas Icha yang tadinya gaduh. Semua terdiam, Mungkin karena penasaran atau ingin mendengar apa yang akan dia Ucapkan selanjutnya.
“Simpan Mawar yang ku beri....”
“Mungkin Wanginya beri arti....”
“Sudikah dirimu untuk menjadi Pacarku?”
“Terima ... Terima ... Terima....” serempak mereka menyanyikan kata-kata sumbang itu lagi. Tetapi Tommy malah merasa senang di hatinya.
Kata-kata lirik Risalah Hati dari Grup band Dewa 19 sudah dipersiapkan Tommy dengan Matang. Dia berharap kali ini Icha menerima perasaan yang telah lama dia pendam itu. Seperti Icha juga menyukai lagu tersebut.
Jelas untuk anak gadis level SMA semua yang dilakukan Tommy merupakan dongeng yang bisa mereka dapatkan. Dapat membuat hati mereka berbunga-bunga. Seorang pria tampan datang ke Kelas. Disaksikan teman-teman sekelas. Menyatakan Cinta dihadapan semua orang, dengan Sang Gadis Pujaan sebagai core dari semua itu. Tak terkecuali Icha dalam pemikiran Tommy. Jelas menyukai pengalam ini. Tak akan terlupakan dalam hidupnya.
Muka sang Pujaan hati menjadi merah padam sekarang. Jadi Tommy mencoba menggunakan kemampuan special yang dia miliki. Terlihat berdiri dari posisi berlutut. Tommy memegang tangan Icha yang sekarang masih diam mematung di Bangku.
“Buruan Cha apa jawaban mu?” Tommy bersiap mendengar perkataan hati Icha sekarang yang tidak bisa didengar oleh orang lain.
“Aduh ngapain sih kamu kesini, Mama ada di kelas,” ucapan jujur dari hati Icha tersebut juga mengubah arah pandangannya menuju ke Meja Guru.
Walaupun Icha tidak berbicara saat itu Tommy jelas mendengar perkataan hatinya belum lagi arah pandangan yang dia lihat.
Tommy berbalik melihat meja guru yang saat masuk tadi dia kira sudah kosong, karena tertutup murid kelas itu. Sang Induk Macan betina menatap Pemburu dengan Marah Sekarang.
Tanpa Pikir lagi Tommy langsung putar arah dan melarikan diri dari Kelas tersebut. Bu Yulia mama Icha ternyata mengajar di jam terakhir di Kelas IA.
Karena saat itu adalah jam pulang sekolah. Kelas di Lorong paling depan adalah Kelas IA. jelas semua murid Kelas I dari ruangan lain yang ingin pulang sekolah harus melewati itu. Setiap Ruangan kelas memiliki jendela Kaca, sehingga dapat dengan mudah diawasi dari luar. Murid lain terlihat melongo dan melihat kedalam Kelas IA karena kegaduhan tadi.
Mereka semua jelas menyaksikan Hal Memalukan Ketiga Dalam Hidup Tommy Kali ini.
Pupus ... pupus ... pupus...
Semua murid kelas satu sekarang menyanyikan lagu Dewa 19 lainnya yang berjudul Pupus. Bahkan dari bibir doer Viktor saja sekarang terdengar suara tawa yang sangat nyaring.
“Bro ... Lain kali jangan memakai lirik lagu kalau mau nembak seorang perempuan,” ucapan Viktor itu juga terdengar sangat nyaring di telinga. Bahkan Tommy yang berlari sudah sedikit jauh saja bisa mendengarnya.
Mulai hari ini Julukan ke dua Tommy adalah “Pupus.”
————
Setelah di riset lagu pupus rilis diatas tahun 2.000 jadi walau waktu tidak sesuai, ku harap kalian tidak mempermasalahkan inti cerita yang ingin Author sampaikan
Thanks XL
__ADS_1