
18.30 WIB
Dengan perasaan berbunga-bunga malam ini Tommy bersiap diri untuk mengajak Clara jalan-jalan melihat Pasar malam yang baru sehari di buka di Kota mereka. Untuk anak-anak sekolah di Kota kecil seperti tempat Tommy berasal ini, pasar malam adalah tempat mejeng yang disukai anak-anak remaja kala itu, selain karena pasar malam banyak terdapat hiburan seperti Tong Edan, Rumah Hantu, dan lain sebagainya, disana juga banyak orang-orang yang menjajakan jualan dengan harga-harga murah.
Setelah mandi Tommy menyiapkan semua yang dia bisa untuk menarik hati Clara malam ini. Walau hanya menggunakan baju kaos berwarna biru laut polos dan di padukan dengan celana jeans berwarna gelap. Tommy dengan hati-hati menyetrika pakaian tersebut. Di setiap ujung dan setiap sudut baju biru itu dia setrika berulang kali sampai membuat sudut lipat halus di baju tersebut, sehingga membuat pakaian itu terlihat rapi.
Selesai dengan persiapan kencan pertamanya, Tommy melangkah meninggalkan rumah tepat lima belas menit sebelum jam 7 malam ini, dengan meminjam sepeda motor milik sang ayah dia menuju ke rumah Clara.
Setibanya dia disana, sebuah Rumah Toko dua tingkat menyambut Tommy, Ruko itu memiliki dua pintu masuk, satu di depan toko itu sendiri dan pintu masuk lain yang berada disebelah tokonya.
Karena memiliki gang kecil di samping toko itu jadi tidak heran bahkan ada jalan lain yang sering dipakai Clara dan keluarganya untuk masuk dan keluar rumah tanpa mengganggu pelanggan mereka.
Tommy yang sudah diberitahukan oleh Clara siang tadi segera menuju kepintu masuk samping bangunan itu, karena memang bangunan rumah Clara agak strategis letaknya jadi pintu masuk kerumah itu pun mudah terlihat dari jalan utama.
Di sambut oleh pintu pagar besi berbentuk jeruji. Tommy segera memencet bel yang berada di pintu pagar itu, dan tak lama seorang wanita bule berusia sekitar 40 tahunan keluar dari pintu rumah dibalik pagar tersebut.
“Ya... ada apa ya?” Bule itu berbicara dengan Bahasa Indonesia walau logatnya memang terdengar sedikit aneh, karena diucapkan oleh orang asing, tetapi Tommy jelas bisa mengerti ucapan yang terdengar jelas tersebut.
“Selamat malam, apa benar ini rumah Clara?” ujar Tommy menjawab pertanyaan wanita bule tersebut, walau dia sudah mengetahui tempat ini karena sempat mengantar Clara siang tadi, dia bertanya untuk meyakinkan wanita bule tersebut.
“Ia benar, kamu siapa?”
“Saya Tommy mam, teman sekolah Clara, apakah bisa saya bertemu Clara?” ucap Tommy sambil menatap bu Jennifer, Ibu kandung Clara itu.
“Oh kamu teman Clara ya!"
"Saya Jennifer mama nya Clara, Mari silahkan masuk," Jennifer langsung membuka kan pagar untuk Tommy dan mempersilahkan pemuda tampan itu masuk kedalam rumah mereka.
Di dalam rumah Clara, Tommi melihat sebuah ruang tamu yang walau agak kecil jika dibandingkan dari ruang tamu di rumah Tommy, tetapi sedikit tertata dengan gaya ala kebarat-baratan. Sedikit sekali pernak pernik dalam ruangan terlihat. Sehingga membuat ruangan itu seperti agak besar dari ukuran aslinya.
Tommy segera duduk di salah satu sofa tamu, setelah dipersilahkan duduk oleh Bu Jennifer yang saat itu langsung memanggilkan Clara dan menyuruh salah satu adik Clara membuatkan Teh untuk Tommy.
Sambil menunggu Tommy memperhatikan sekitar, tidak lama adik perempuan Clara datang, dia mengintip dari sekat pemisah ruang tamu dengan ruang keluarga. Walau masih berada di kelas 3 SMP. Widya memiliki tubuh seperti anak kelas 1 atau anak kelas 2 SMA. Hasil produksi yang juga sempurna terlihat di wajah dan bentuk tubuh gadis remaja ini.
Widya Manna Wilhelmina adalah nama adik Clara tersebut, dia memiliki rambut yang panjang terurai dan berwarna hitam. Widya menyambut Tommy terlebih dahulu dari sela lemari pemisah ruangan sebelum akhirnya dia berjalan dengan sebuah nampan di tangannya, menuju ke arah ruang tamu dan menyapa Tommy dengan lembut.
“Silahkan Kak, diminum teh nya, kata Kak Clara tadi tolong kakak menunggu sebentar dia sedang mempersiapkan diri,” ujar Widya yang sambil menyodorkan secangkir teh kepada Tommy.
“Ya, terima kasih.”
“Oh ya Kenalin Aku Tommy teman sekolah Clara,” Tommy melirik ke arah Widya dan langsung memberikan tangannya sebagai tanda berjabat tangan.
Tanpa sadar pertukaran informasi kembali dirasakan Tommy, gadis ini memang tidak sama seperti Clara, sifatnya bertolak belakang dengan Clara. Tommy bahkan tersenyum tipis.
Dia memperhatikan gadis remaja itu dengan seksama dari kaki hingga kepala, dan hal itu ternyata membuat Widya malu, mukanya menjadi memerah.
“Maaf kak, akan ku panggil kan kak Clara, segera.” ucap Widya yang langsung menarik tangannya setelah mereka berjabat tangan tadi.
“Ya terima kasih.” ucap Tommy menjawab perkataan Widya dengan santai.
Baru berbalik Widya dikejutkan dengan kedatangan sang ayah yang memandang Tommy dengan tatapan tajam. Karena Widya mengetahui pembawaan sang Ayah, jadi dia langsung melarikan diri dari situasi saat ini, meninggalkan dua orang lelaki itu yang sekarang saling bertatap muka.
“Malam om, maaf mengganggu malam-malam seperti ini.” ujar Tommy dengan sopan.
“Kamu ada perlu apa dengan Clara?” tanya Pak Deddy Ayah Clara yang langsung duduk di dekat Tommy, dengan gaya sedikit mengintimidasi Tommy tentunya. Membuat pemuda ini terdiam beberapa saat.
Usia Pak Deddy tidaklah muda lagi, dia berada di umur akhir usia 40 tahunan, tetapi karisma dan kehadirannya mampu membuat nyali Tommy ciut, mungkin berapa pun umur orang itu dan pikiran dewasa orang tersebut, jika dihadapkan dengan orang tua seorang gadis yang ingin dia ajak keluar, apalagi baru pertama kali bertemu, pasti setiap lelaki nyalinya akan ciut atau kurang percaya diri.
Walaupun Tommy tidak menyukai Clara seperti dia menyukai Icha, tetapi karena semangat yang siang tadi sudah ditanamkan Clara di hati pemuda polos ini, hatinya sedikit serakah sekarang dan mulai ingin berpaling ke diri Clara.
Siapa yang tidak merasakan hal itu, Clara adalah sosok sempurna bagi semua orang, selain cantik dan pintar gadis ini ternyata memiliki sifat lain yang tidak diketahui oleh orang lain. Jadi untuk sesaat Tommy melupakan tujuannya sekarang.
“Saya mau ngajak Clara keluar malam ini om, kebetulan pasar malam baru dibuka kemarin, jadi saya mau bawa dia kesana.” ucapan Tommy itu, langsung dijawab dengan nada dingin oleh Pak Deddy.
“Anak saya tidak terbiasa keluar rumah di malam hari, jika ingin membawa dia jalan, sebaiknya di sore hari saja dan tidak boleh hanya berduaan saja.”
__ADS_1
Ucapan itu semakin membuat Tommy tidak bisa berbuat apa-apa, nyalinya semakin ciut. Namun dia mencoba meyakinkan Pak Deddy agar memperbolehkan dia mengajak Clara keluar, sebab dia sudah mempersiapkan diri untuk malam ini.
“Tetapi tadi siang kami sudah membuat janji om, “ ucapan Tommy itu langsung dihentikan lagi oleh Ayah Clara.
“Kamu bahkan tidak memperkenalkan nama mu dari tadi, bagaimana aku bisa memberikan mu izin membawa anak gadis ku?”
"Kalau ada apa-apa dengan Clara aku harus minta tanggung jawab siapa nanti?"
"Huh dasar anak muda, kalau kamu pikir bertamu kesini sudah cukup sopan untuk mengajak anak gadis ku keluar jalan dengan mu, kamu salah besar!"
“Memang sopan santun seperti ini diperlukan, tetapi bahkan saya saja harus bertamu beberapa kali kerumah istriku dulu sebelum berani mengajak dia keluar.”
“Kamu jangan memberikan contoh kita orang asia tidak memiliki etika dan tanggung jawab ya!”
Kali ini sebuah pukulan diucapkan lagi dari mulut Pak Deddy menghantam Tommy tepat hingga ke hati dan pikirannya.
Memang perkataan tersebut seperti sebuah pukulan yang tidak bisa dibalas oleh Tommy, karena sejak saat bertemu dengan Pak Deddy tadi, Tommy sudah salah tingkah dan merasa ditekan sehingga melupakan sopan santun umum yang harus dilakukan saat bertamu ke rumah orang lain, yaitu memperkenalkan diri kepada sang pemilik rumah.
“Ah, Mohon maaf sebelumnya,”
“Nama Saya Tommy om, saya dari SMA 1 Kelas IC dan saya kawan Clara di sekolah.”
“Sebelumnya saya juga sudah memperkenalkan diri kepada mama Clara, tetapi saya lupa memperkenalkan diri kepada Om.”
"Mohon om memaafkan saya," sambil meneguk liur Tommy mencoba mencari alasan.
“Itu kan dengan mama nya, dengan papa nya kan belum?”
“Dasar anak muda zaman sekarang bisanya hanya mencari alasan saja.” Pak Deddy terlihat sedikit kesal karena jawaban Tommy. Namun tiba-tiba sebuah suara terdengar dari ruang keluarga.
“Papah acara nya mau dimulai nih, papah ikut nonton ngak sih?” ucap Widya yang memanggil Pak Deddy.
Sebuah panggilan dari dalam ruang Keluarga itu menengahi pembicaraan kedua lelaki berbeda usia ini, panggilan itu membuat Pak Deddy segera berdiri dari ruang tamu.
“Kamu ikut aku, pokoknya aku tidak mengizinkan kalian berdua keluar malam ini.” Pak Deddy yang sudah mulai kesal mengajak Tommy ke ruang keluarga mereka.
Dia hanya ingin bersikap sopan layaknya seorang gentlemen, yang bertamu untuk meminta izin, tetapi pemuda tidak berpengalaman ini, bahkan tidak tahu apa saja yang bisa saja dihadapinya ke depan. Tommy sempat berpikir mengajak keluar Clara diam-diam adalah ide baik dari pada harus seperti ini.
Di dalam ruang keluarga itu ada sebuah Sofa panjang menghadap ke televisi tabung 20”, disana Widya dan adik laki-laki Clara yang sekarang sedang berada di kelas 6 SD tersenyum memandang Tommy yang terlihat mengikuti ayah mereka seperti sedang mengikuti induk ayam untuk bertengger di sofa ruang keluarga.
Kepala Tommy terus tertunduk. Tangannya dia silangkan didepan perut sambil terus mengangguk karena ucapan-ucapan kecil yang dilontarkan Pak Deddy kepadanya.
“Apakah nilai mu bagus di sekolah?” ucap Pak Deddy lagi bertanya ke Tommy.
"Iya om, lumayan bagus."
"Apakah Sepintar Clara?"
“Bisa dibilang seperti itu om,” ucap Tommy dengan pelan dan sesopan mungkin.
“Tidak mungkin, Clara dari kecil selalu mendapatkan nilai terbaik dari yang terbaik.” Pak Deddy Melirik ke arah Tommy.
Dia melihat pemuda ini sedikit tampan dari kebanyakan Pria yang mencoba mendekati Clara dulu, Pak Deddy hanya mendengus karena tidak mempercayai ucapan pemuda ini.
“Kalau kamu memang pintar buktikan ucapan mu” ucapnya lagi.
“Kamu tau acara ini kan?" ucap Pak Deddy sambil menunjuk ke arah Televisi.
“Iya om saya cukup mengetahuinya.” ujar Tommy menjawab.
“Bagaimana, apakah kamu berani, Toh kamu bilang kamu cukup pandai di sekolah?” Tantangan itu diberikan Pak Deddy dengan tatapan sedikit meremehkan Tommy.
“Umm...baik-baik saja, saya terima,” ujar Tommy lagi.
Ucapan sudah dilontarkan, Pak Deddy mengira Tommy akan terdiam mendengar perkataannya, tetapi dia terkejut karena mendengar jawaban Tommy.
__ADS_1
Acara yang dimaksud oleh Pak Deddy adalah “Who Wants To Be A Millionaire?” memang di awal milenium ke 2000 sekarang, acara ini mulai dikenal dan banyak menarik hati para penonton di Indonesia, tidak terkecuali Pak Deddy dan keluarga yang adalah keluarga kutu buku. Jadi Tommy mau tidak mau terjebak diantara mereka sekarang.
“Apakah acaranya sudah dimulai?”
Seorang pria blasteran tampan turun dari tangga lantai 2 dengan rambut acak-acakan, tinggi nya sama seperti Tommy, mungkin berkisar 180cm, tubuhnya atletis dan kulit putih yang menarik.
Tommy langsung saja melirik ke arah suara tersebut, sedangkan orang-orang yang sudah tidak sabar diruang keluarga itu hanya terus memandang ke arah televisi yang sekarang sedang menayangkan iklan sebelum acara dimulai.
“Chris cuci muka mu dulu,” ucap Bu Jennifer yang membawa sebuah nampan berisikan buah-buahan segar dari arah dapur.
“Widya ambilkan teh di dapur,” ucap Bu Jennifer kembali.
“Ngapain pakai acara minum teh dan makan buah segala? emang nya dia tamu penting?” ujar Pak Deddy yang masih kesal kepada Tommy, yang saat itu diperlakukan dengan sopan oleh sang istri.
Bule cantik istri Pak Deddy itu hanya tersenyum tipis melirik kearah sang suami, sedangkan Tommy dia sangat senang diperlakukan seperti keluarga dekat di Rumah ini sejak kedatangan Bu Jennifer ke ruang keluarga.
**
“Selamat malam saudara, saya Tantowi Yahya, sungguh berbahagia dapat menjumpai anda dalam acara...”
“Who Wants to Be a Millionaire” ucapan host pembawa acara televisi itu membuat semua orang diam dan segera memperhatikan layar televisi.
Malam ini tidak seperti minggu-minggu sebelumnya ada sekitar 15 orang bintang tamu yang hadir pada acara ini, mereka langsung saja dipersilahkan untuk menjawab pertanyaan yang diberikan untuk dapat duduk di kursi panas acara ini.
Pertanyaan seleksi diberikan dan yang menjadi paling cepat dan tepat dalam memberikan jawaban dia hanya membutuhkan 2,2 detik untuk menjawab pertanyaan tersebut, sehingga dia terpilih sebagai peserta pertama yang duduk di kursi panas.
Setelah pria itu memperkenalkan diri, Host acara Who Wants to Be a Millionaire menjelaskan aturan dalam acara ini. Di acara Who Wants to Be a Millionaire ada tersedia 15 pertanyaan.
Mulai dari nilai uang paling kecil sebesar Rp.50.000 sampai paling besar adalah pertanyaan ke 15 yaitu senilai 1 miliar rupiah. Kemudian acara dilanjutkan dan Host mulai memberi beberapa pertanyaan yang dijawab mulus oleh bintang tamu malam ini.
“Baiklah, anda sekarang menuju ke pertanyaan ke lima yaitu titik aman pertama, apakah anda sudah siap?”
“Siap Pak, mari lanjutkan,” ucap peserta tersebut.
“Baiklah, tampaknya anda sudah tidak sabar, dan untuk Pertanyaan ke Lima kita malam ini adalah”
“Pulau yang paling terkenal di Indonesia sebagai tempat penampungan tahanan politik di Indonesia adalah?”
Memasuki pertanyaan ke Lima ini Pak Deddy yang menonton acara tersebut bersama dengan keluarganya dan Tommy, terlihat mengusap-usapkan dagunya seperti memikirkan sesuatu, namun saat Pak Deddy ingin menjawab, perkataannya di potong oleh Tommy.
“Jawabannya C Pulau Buru,” ujar Tommy dengan lantang.
“Enak aja sebarangan kamu, sok sih,” ucap Pak Deddy memotong Tommy. Sehingga membuat semua orang diruang keluarga itu menatap ke arah Pak Deddy dan Tommy seketika itu.
“Apa yang kalian liat, jawabannya B, Pulau Nusa Kambangan” ucapnya dengan percaya diri.
“Tapi om, pulau nusa kambangan terkenal untuk tahanan kejahatan diluar tahanan politik, dari zaman PKI Pulau Buru sudah menjadi tempat penampungan para tahanan politik kaya grup PKI om.” ucap Tommy menjawab Pak Deddy.
“Makanya kamu perlu belajar.” ujar Pak Deddy lagi.
“Dad, Daddy salah...”
“Jawaban yang benar adalah jawaban Tommy yaitu Pulau Buru.” Suara Clara kali ini sekali lagi menghentikan perselisihan kedua lelaki ini.
Refleks Tommy dan semua orang diruang keluarga itu menatap ke arah tangga dan melihat Clara turun dari tangga, gadis ini menggunakan gaun biru laut bergaya Vintage dengan kembang pola kupu-kupu di bagian dada, warna nya serasi dengan warna pakaian yang dikenakan oleh Tommy sekarang.
Perasaan Tommy yang seperti tercebur kedalam air mulai terjadi lagi. Perasaan tenggelam perlahan ke dasar samudera mulai dia rasakan kembali. Secara perlahan juga jantung Tommy mulai berdetak kencang melihat kecantikan Clara malam ini.
Semua keluarga Clara juga terkejut melihat penampilan gadis itu, Clara yang sering terlihat memakai pakaian casual dengan tubuh yang sering dibalut oleh baju kaos, benar-benar berbeda di mata mereka malam ini.
"Waw, Kamu cantik sekali malam ini.." ucap Tommy tanpa sadar.
***
Edit -
__ADS_1
Thanks XL