
Ashana P.O.V
Saat ini, kami berada di Paperhills. Disini itu resto dengan view gunung Batur yang terlihat indah.
Aku hanya bisa tersenyum menatap pemandangan yang ada sampai terasa ada sepasang tangan yang memeluk pinggang ku.
Cup!!
Ada yang mencium bawah telinga dan pipi kanan ku. Aku menengok, ternyata Delvin.
"Oh lo. Gw kira siapa." kata ku yang membuatnya tersenyum. Dia semakin erat memeluk ku dari belakang. "Kenapa hmmm??" tanyanya yang ku jawab gelengan.
"Vin! Zel! Sini dulu pesen makanan kalian!!!" kata Bella yang ku jawab anggukan. Saat aku mau melangkah, Delvin justru malah menarik ku sampai kami berpelukan.
"Nanti malam, jam tujuh." katanya yang membuatku bingung. "Ngapain??" tanyaku. "Jam segitu, keluar kamar." kata Delvin yang ku jawab dengan mengangkat bahu ku.
Kami pun menghampiri keenam sahabat kami. Delvin memberikan ku daftar menu makanannya. Aku langsung memilih Sweet Chilli Chicken Pizza dan untuk minumnya aku memilih minuman bersoda.
Setelah memesan, aku langsung duduk di kursi yang kosong. Delvin pun duduk di sebelahku. Dia langsung merebahkan tubuhnya dengan kepala diatas pahaku.
Aku tersenyum dan langsung mengelus rambutnya sampai dia tertidur. Ga lama kemudian, handphone Delvin menyala. Ada yang nelfon ternyata.
"Vin, bangun dulu. Ada yang nelfon nih!" kata ku. "Hmmm angkat aja sayang." katanya seraya menenggelamkan kepalanya ke perut ku.
Karna sudah mendapatkan izin, aku mengambil handphone Delvin dan melihat ada nama 'Fwb 3'. Aku mengangkat telfonnya.
"Delvin, lo dimana sih? Gw kangen sama lo." begitulah omongan cewek itu. "Sorry, Delvinnya lagi sibuk sama gw." jawabku. "Oh! Jadi lo cewek yang bikin Delvin mau udahan jadi fwb gw hah?! Bangsat lo! Gara-gara lo, dia ngejauh dari gw!" kata perempuan itu yang membuat ku terkejut.
Ketiga sahabat Delvin langsung menatap ku dengan tatapan bertanya. Aku hanya bisa mengisyaratkan kata Sebentar agar mereka mengerti.
"Begini ya, Lon. Gw itu ga pernah nyuruh dia ninggalin semua fwb nya. Dan lo juga harus inget satu hal, yang nama nya FWB itu ga boleh baper bodoh!" ujar ku yang membuat ketiga sahabat Delvin mengacungkan jempol nya.
"Lan lon lan lon! Lo tuh yang *****! Lagian gw bingung sama lo. Apa sih yang spesial sampe Delvin lebih milih lo dibanding gw yang sering HS sama dia?!" kata perempuan itu yang membuatku tersenyum sinis.
"Beda mbak. Tentu lebih mendingan saya. Saya masih punya harga diri buat ga seenaknya di pake. Lah Lo? Cie! Jual diri mulu sama cowok orang. Makanya mbak kalo fwb itu jangan sama satu orang doang. Kasian deh lo udah di tinggal Delvin. Anyway, udah dulu ya. Sekarang si Delvin lagi tidur disebelah gw. Dia meluk gw erattt banget. Bye!" kata ku seraya mematikan sambungan telfon tanpa menunggu jawabannya.
Aku melihat ke WhatsApp miliknya. Ada beberapa nama seperti kontak perempuan tadi seperti FWB 1, FWB 2, FWB 3, FWB 4, FWB 5. Dan aku juga melihat ada kontak ku tapi tunggu! Semua fwb nya di berikan nama FWB tapi dia menyimpan nomorku dengan nama 'Love'.
Aku melihat beberapa chat Delvin dengan fwb-fwb nya. Kebanyakan berantem sih. Weits!! Ada satu percakapan yang saat itu Delvin minta udahan! Ini kali ya yang dimaksud cewek tadi!
"Lo udah ubah dia." kata seseorang. Saat aku menengok, ternyata ada Arthur yang duduk disebelahku.
"Ngubah gimana maksud lo?" tanya ku. "Lo ubah dia. Yang tadinya punya banyak cabang, jadinya cuman satu dan itu cuman lo. Lo itu pusat kehidupan dia sekarang." kata Arthur yang membuatku menatap Delvin yang masih tertidur.
"Awalnya gw kaget kenapa lo bisa ngerubah Delvin. Tapi sekarang gw tau alesannya. Lo beda, Zel." kata Arthur yang ku jawab senyuman.
__ADS_1
"Awalnya ada tiga fwb dia yang sering didatengin. Fwb 1, 3, sama lo. Tapi lama-lama yang dia kasih perhatian dan didatengin terus itu cuman lo. Gw bahkan kaget pas dia bilang dia udahan sama semua fwb nya cuman demi lo." kata Arthur yang membuatku menatap Delvin lama.
Tanpa terasa, aku meneteskan air mata ku. Aku merasa bersalah karna yang dia cinta itu perempuan bernama Gazel. Bukan perempuan bernama Ashana.
Dulu, aku berharap aku menjadi seorang Ashana yang hidup tanpa kehidupan Gazel. Dua nama tapi berbeda kehidupan. Ashana itu perempuan yang anggun, dingin, dan tau batasan. Sedangkan Gazel? Huft! Kehidupan malam, balapan, club, alkohol, dan baru-baru ini dia melewati batasannya.
Dulu aku berharap bisa menjadi seorang Ashana tanpa kehidupan Gazel. Tapi sekarang, aku rasa aku mau menjadi Gazel dengan kehidupan Ashana.
Sungguh aneh tapi aku tau ini adalah perasaan ku pada seorang Delvin. Perasaan ini sudah muncul sejak dia menjadi seseorang yang merenggut ke-Virginan dalam diri ku.
"Zel? Lo kenapa??" tanya Arthur yang membuatku tersadar. Aku mengusap mata untuk menghilangkan air mata ku. Dia memberikan ku tissu.
"Lo kenapa?" tanya nya. "Gapapa. Cuman terharu aja sama dia. Lo tau? Dari sekian banyaknya fwb gw, gw baru kali ini nyaman sama seseorang. Tapi sayangnya dia ga bakal jadi milik gw." kata ku dengan senyum miris.
Arthur menatapku. "Kenapa?" tanya nya. "Gapapa, nanti lo bakalan tau." jawabku singkat.
***
Setelah kepulangan kami dari Paperhills, perasaan ku semakin murung. Aku semakin nervous mengingat malam ini Delvin menyuruhku keluar dari kamar jam tujuh malam nanti.
Delvin masuk ke kamar, dia tersenyum dan langsung membuka baju nya. Setelah itu dia langsung memeluk ku.
"Kapan gw bisa nyentuh lo lagi sih Zel??" tanya nya yang ku jawab gelengan. "Itu hak buat suami gw nanti." jawabku yang membuatnya tersenyum.
"Gw cinta lo, Zel." ujarnya yang membuatku terkejut. Dia langsung membuat ku menghadapnya. Badan kami saling berdekatan. Dia menyatukan kening dan ujung hidung kami.
"Sesegera mungkin." jawabku yang membuatnya tersenyum.
Kami menghabiskan waktu bersama sampai matahari mulai menenggelamkan dirinya. Cahaya jingga nya memenuhi langit dengan sangat indah.
"Lo tau ga Zel? Gw lebih baik hidup sederhana tapi gw bisa selamanya sama lo. Dari pada gw hidup mewah tapi tanpa lo." ujarnya yang membuat ku tersenyum. "Keluarga gw udah bikin gw kecewa. Gw harap lo jangan." katanya yang membuat ku tersenyum miris.
Beruntung sekali Gazel ini. Dia mendapatkan seseorang yang mencintainya.
Tok! Tok! Tok!
Delvin menghela nafasnya dan berdecak kesal. "Ini yang ngetok minta gw penggal kepala nya kayaknya sih begitu." kata Delvin yang membuatku tertawa.
Pintu terbuka, ada Mbak Nuniek yang berdiri bersama beberapa orang. "Mbak Gazel, atas perintah dari Pak Delvin maka mbak akan kami rias ya. Mari ikut saya, mbak." kata Mbak Nuniek yang membuat ku terkejut.
Aku menengok ke arah Delvin yang tersenyum. Tatapannya membuat hati ku semakin berdesir kencang. Aku menganggukan kepala dan langsung mengikuti Mbak Nuniek ke satu kamar yang lokasinya cukup terpencil.
Aku melihat ada gaun merah maroon dengan rantai silver di bagian belakangnya.Untuk memberi pola pada punggungku yang akan terbuka.
Bu Nuniek mendudukan ku di satu kursi. Aku hanya bisa memejamkan mata selama aku mulai dirias.
__ADS_1
"Mbak, tolong jangan terlalu tebal ya." ujarku. "Siap, mbak." jawab pekerja.
Setelah menunggu setengah jam, aku sudah siap dengan make up diwajah ku. Whoa! Sensual! Aku suka make up kali ini!
Para pekerja perempuan mulai membentuk rambut ku menjadi sangat terlihat formal. Setelah semuanya siap, Mbak Nuniek membantuku memakai gaun lalu memberikan high heels hitam kepada ku.
Setelah semuanya siap, Mbak Nuniek mengajak ku kembali ke kamar tapi lewat jalan yang berbeda. Katanya, Delvin sudah memberikan perintah agar tidak ada orang lain yang melihat ku.
Setelah aku sampai di kamar, Mbak Nuniek membantu ku untuk duduk dan merapihkan penampilanku.
"Sebentar lagi jam 7 ya mbak. Tunggu saja nanti akan ada yang menjemput mbaknya." kata Mbak Nuniek yang ku jawab anggukan.
Aku mulai menunggu seraya mengambil foto selfie untuk ku kirim ke Ammi dan Appa ku seraya mengatakan kalau aku merindukan mereka.
JEBBBB!
Keadaan menjadi sangat gelap. Apa mungkin ada pemadaman listrik?? Tapi masa iya Villa lupa bayar listrik sih? Ga memungkinkan banget!
Aku menyalakan senter dari handphone dan menyoroti jalanan. Aku akan keluar dari kamar mengingat ini sudah jam 7 malam.
Aku membuka pintu dengan perlahan dan melihat ada banyak lampu dengan rangkaian bunga yang menghiasi jalanan kesuatu tempat. Aku langsung mengikuti jalanan itu sampai di pertengahan jalan tanpa ada lampu dan bunga lagi.
Secara tiba-tiba semua lampu yang tadi aku lewati mati! Aku mulai panik dan memilih menatap sekitar.
"Delvin!!! Litta!!! Cio!!! Xierra!! Yuki!!! Hiko! Arthur!!! Mbak Nuniek!!!" panggilku namun tidak ada jawaban.
"Delvin!!" panggil ku lagi.
Ting!!
Aku melihat ada satu notif dari handphone ku. Ternyata ada chat dari Delvin yang mengatakan kalau tidak jadi mengadakan acara.
Nah loh! Terus ini aku gimana!!
Aku merasakan seseorang memeluk ku dengan erat. Aku berusaha melepaskannya tapi saat mencium aroma parfum yang ku kenal, aku mulai tersenyum.
"Delvin!" panggil ku. Terdengar ada suara tertawa dan seseorang ini mencium pipi ku.
"Lo tau aja kalo ini gw. Okay, sekarang tutup mata lo!" kata Delvin yang membuatku tersenyum dan mengangguk.
Aku mulai menutup mata, Delvin pun menutup mata ku dengan kedua telapak tangannya.
"Hitung sampai lima!" katanya. "Buat apaan?" tanya ku. "Ck! Nurut aja!" jawabnya.
"Satu! Dua! Tiga! Empat! Lima!" ucapku seraya menghitung. Tangan Delvin terbuka, Aku pun membuka mata ku dan langsung terkejut melihat ada meja panjang, dan didekat meja itu ada deretan lampu yang membentuk tulisan 'Be Mine?'.
__ADS_1
Aku menengok dan melihat Delvin yang tersenyum menatapku. "Gazel, would you be mine?" tanya nya yang membuat ku mulai menangis seraya tersenyum.. miris.
Delvin tertawa dan aku menganggukan kepala ku dengan tangis yang penuh percampuran rasa. Antara kesedihan, miris, dan bahagia. Kamipun berpelukan, Delvin mendekatkan wajahnya hingga bibir kami saling berpautan dengan senyum yang menghiasi wajah kami.