
Ashana P.O.V
Setelah kejadian Delvin, aku benar-benar kembali menjadi seorang Ashana. Sifat dingin, ketus, dan benar-benar tidak bisa didekati laki-laki. Semua sifat ku kembali. Saat ini, aku hanya terfokus pada kesembuhan kedua orangtuaku.
"Na? Menurut lo lebih bagus yang mana bahan nya?" tanya sahabat ku, Bella. Saat ini dia tengah memilih kain untuk membuat gaun pernikahan beserta gaun para bridesmaid. Aku membuyarkan lamunan ku dan mulai memegang beberapa kain disini, butik milik keluarga Lucio.
Aku membandingkan satu persatu kain yang ada. Pilihanku jatuh pada kain satin putih yang terasa lembut ditangan ku, selain itu ada kain brukat yang indah. Aku menunjuk kedua kain yang ku sukai lalu menatap Bella. "Nih, Bel. Menurut gw dua kain ini bagus. Mungkin kalo lo mau, bisa nih bikin dua gaun pakai dua kain ini." jawabku.
Seseorang menepuk pundak ku, ternyata Lucio. Senyum ku memudar ketika melihat ada Delvin disebelahnya. Aku hanya bisa menghela nafas dan kembali menatap Lucio. "Kenapa Yo?" tanya ku berusaha menghiraukan keberadaan Delvin disebelahnya. "Kita ngomong disana yuk!" ajaknya. Kamipun duduk di sofa yang posisi nya agak jauh dari Bella.
"Na, gw butuh konfirmasi dari lo. Delvin setuju kalo kalian jadi pasangan di nikahan gw nanti. Tapi gw perlu izin ke lo juga. Gimana? Lo setuju? Karna nanti ada pesta dansa di bagian resepsi." izin Lucio yang membuatku menatap Delvin. Ada apa dengan dia?
"Sementara, lupain masalah kita dulu. Gw ga mau sahabat kita nikah tapi malah ga seru. Gw harap lo setuju." kata Delvin yang akhirnya mrmbuatku lega dan menganggukan kepalaku.
"Okay, yaudah gih lanjut. By the way nanti bilangin ke bini gw ya, gaun buat pemberkatannya yang sopan. Gw ga mau aset nya diliat cowok lain!" kata Lucio yang membuat ku tertawa. "Iya deh si posesif." jawabku dan langsung menghampiri Bella yang sudah menatap kami.
***
Kini aku sudah berada di rumah sakit. Mumpung lagi libur ya kan aku menunggu disini setelah pulang dari butik. Dengan membawa beberapa makanan, aku pun keluar dari lift dan membagikan makanan yang ku bawa ke anak buah appa.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan orangtua saya?" tanya ku. "Tadi tuan sudah sadar, nona. Beliau mencari anda tapi kami sudah bilang kalau anda sedang mengurus pekerjaan." jawab salah satu dari mereka. Mendengar berita kesadaran Appa, bibirku langsung tersenyum lebar. Dengan segera kaki ku melangkah masuk dan melihat ada appa yang sudah sadar. Terlihat appa ku itu sedang tertidur tanpa masker oksigen di wajahnya.
Aku pun memilih duduk di sofa lalu menyalakan laptop ku. Waktu yang berjalan cepat atau memang aku yang merasa kehidupanku terlambat? Entahlah. Rasanya baru kemarin aku menempuh semester tiga dan sekarang aku sudah mau memasuki semester enam. Dua semester lagi aku akan lulus dan akhirnya bisa bekerja sesuai dengan kemauan ku.
"S-shana?" panggil seseorang dengan suara yang membuatku membeku. Aku menengok ke arah appa dan melihatnya sudah terbangun. Air mata ku mengalir dan dengan segera akupun menghampiri appa.
"Appa! Ya ampun akhirnya Appa bangun!" ujarku seraya memeluk tangan ayahku ini.
"Shana, akhirnya appa kembali melihat putri keluarga Khan." kata nya yang membuatku tersenyum dalam tangisanku. Ayahku langsung menghapus air mata ini dan tersenyum. "Putri keluarga Khan ga boleh nangis." katanya yang membuatku menganggukan kepala dan memeluk tangan nya.
"Maaf, appa buat kamu susah. Maaf karna kecelakaan ini membuat kamu bekerja di tempat yang tidak kamu sukai." kata appa yang ku jawab gelengan. "Enggak appa. Ashana suka semua yang orangtua Shana suka. Kerja di perusahaan mungkin memang bukan kemauan Shana tapi mengambil tanggung jawab saat appa ga ada pun Shana akan siap. Shana ga mau perusahaan kita kenapa-napa. Cukup Shana liat kalian begini, jangan lihat perusahaan keluarga Shana hancur." ujarku yang membuat appa tersenyum.
(India: Pada akhirnya, putriku ini dapat menghadapi masalah dalam hidupnya. Semoga tuhan memberkatimu, nak. Appa sangat bangga pada mu.)
"Tentu, appa sudah mempersiapkan ku untuk itu." jawabku dengan senyuman.
***
"Saya turut senang mendengar bahwa anda sudah sadar. Saya harap Nyonya Khan bisa segera sadar juga. Untuk sementara ini, sialhkan anda mengobrol dengan putri anda ini. Harus saya akui, Tuan. Putri anda ini adalah gadis yang sangat jenius. Dia bisa membuat kenaikan saham pada perusahaan, kemajuan dialami perusahaan meningkat sampai hampir 25% berkatnya. Bagaimana bisa anda memiliki anak yang sangat jenius ini?" kata Om Khumar yang membuat Appa tersenyum begitupula dengan ku.
__ADS_1
"Tentu, dia anak ku. Khumar, Nāku jarigina pramādaṁ māmūlu pramādaṁ kādu. Evarō yāksiḍeṇṭ pērutō nannu campaḍāniki prayatnistunnāru. Iddaru vyaktulu pailaṭ talupu pagalagoṭṭaḍaṁ nā bhārya cūsindi mariyu vāru vimānanlō pailaṭnu campārani nēnu bhāvistunnānu." kata appa yang membuatku tidak mengerti. Sepertinya appa menggunakan bahasa Punjabi atau Telugu agar aku tidak mengerti pembicaraan mereka.
(Telugu: Aku rasa, kecelakaan yang terjadi pada ku bukanlah kecelakaan biasa. Seperti ada yang mencoba membunuh ku dengan mengatasnamakan kecelakaan. Istriku sempat melihat ada dua orang mendobrak pintu pilot dan aku rasa mereka telah membunuh pilot di pesawat.)
"Adi nijamaitē, veṇṭanē vicāraṇa jaripin̄camani mī vārini ādēśistānu. Ī mundastu hatyaku guricēyabaḍinadi mīru kādani nēnu āśistunnānu." kata Om Kumar yang membuatku terdiam.
(Telugu: Kalau memang benar seperti itu, maka saya akan menyuruh anak buah anda untuk segera melakukan penyelidikan. Saya harap bukan anda yang diincar untuk pembunuhan berencana ini.)
"Yeah, I hope so." kata appa. "Hold on. Jadi kalian itu ngomongin apa? Shana ga paham." tanya ku. Appa dan Om Khumar langsung tertawa dan menggelengkan kepala. "Bukan hal yang harus kamu tau sayang. Kamu sudah mengerjakan tugas-tugas mu bukan? Appa minta kamu makan ya! Lihat badanmu ini, kurus sekali. Nanti pasti ammi mu itu akan masak banyak makanan saat melihat mu kurus kering begini." kata appa yang hanya membuatku menghela nafas dan menganggukan kepalaku.
Pandangan ku jatuh ke ammi. Jika appa sudah bangun, artinya sekarang hanya ammi yang harus ku tunggu. Kapan kesadaran ammi kembali?
Tanganku menggenggam tangan ammi dan mulai berdoa perlahan. Doa khusyuk yang tiba-tiba terganggu karna merasa tangan yang ku pegang ini bergerak. Saatku buka mata, ternyata benar! Ammi sedang menggerakan tangannya.
"Appa! Appa! Om Khumar! Panggil dokter!" ujarku yang membuat Om Khumar segera memencet bel untuk memanggil dokter.
Mata ku menatap wajah ammi dan akhirnya hal yang ku tunggu pun terjadi. Dengan pelan, mata ammi mulai mengerjap terbuka.
"S-s-Shana?" panggilnya memastikan.
__ADS_1