
Ashana P.O.V
Hari-hari berjalan dengan baik. Rasanya aku tidak percaya, ini sudah setahun semenjak kepergian Ammi dan Appa yang sampai sekarang tidak ada kabar. Pencarian dari pihak yang berwajib pun sudah dihentikan, dan saat ini kedua orang tua ku itu dinyatakan meninggal.
Sakit rasanya tapi apa boleh buat. Aku hanya bisa menyuruh semua pengawalan dan orang yang bekerja sama dengan ku untuk mencari kedua orangtua ku itu. Bahkan Delvin pun turut serta mencari kedua orangtua ku.
Pagi ini, aku kembali ke aktivitas yang sudah setahun ini ku lakukan.
Tok! Tok! Tok!
Pintu ruangan ku terbuka, Delvin pun masuk dengan senyuman di wajahnya dan makanan ditangannya.
"Sayang, kamu pasti belum sarapan kan? Ayo makan dulu. Aku ga mau maag kamu kambuh by." kata Delvin sambil membuka kotak makanannya.
"Iya by, nanti aku makan okay. Kamu kok disini? Apa ga kuliah? Ini udah semester lima loh. Yakin kamu ga mau masuk kuliah?" tanya ku. "Enggak, aku udah ajuin kok kuliah online.
"Terus hotel? Ga kamu urusin gitu?" tanya ku lagi yang membuat Delvin menghela nafas. "Kalo kamu mau aku pergi, langsung bilang aja. Ga usah segala nanya kayak gitu. Yaudah aku pergi." kata Delvin.
Aku langsung terdiam melihat tunanganku yang tiba-tiba menjadi kesal hanya karna aku bertanya seperti itu.
"Sayang? Hey? By?" panggil ku tapi Delvin sudah berjalan jauh. Aku langsung berlari mengejarnya. Karna aku mengenakan Heels, kaki ku tidak bisa berlari dengan cepat. Dengan segera, akupun melepaskan heels yang ku pakai ini.
"Stupid Heels! **** Off!" umpat ku sambil berlari mengejar Delvin.
Saat sampai di depan lift, aku memencet tombol dengan terburu-buru. Sampai akhirnya aku terdiam ketika mendengar siulan tepat dari arah belakangku.
"Cepet banget kamu lari nya. Untung aja ga pake heels." kata orang itu. Saat aku menengok, ternyata Delvin.
Aku langsung memeluk nya dengan erat. Dia pun membalas pelukanku. "Kenapa ngejar aku, Na?" tanya Delvin yang membuat ku terkejut.
Na? Na? Siapa itu? Apa dia udah tau identitas asli ku?
"Na? Siapa itu by?" tanya ku pura-pura bingung. "Ashana. Gania Ashana Khan." Jawab Delvin. Aku langsung terkejut saat mendengar dia menyebutkan nama dari identitas asli ku.
__ADS_1
"Kenapa kamu kaget sayang? Nama kamu Gazel kan?" kata nya yang membuat ku terdiam. Aku bisa melihat senyum sinis dan tatapan mata nya yang menatapku dengan tajam.
"Bisa-bisa nya gw di tipu sama cewek modelan kayak lo. Sialan. Lo bikin gw kecewa sama lo!" kata Delvin sambil menangis dengan senyuman sinisnya.
"Vin, bisa aku jelasin okay. Dari awal aku juga udah mau jujur tapi---" ucapku yang langsung dipotong olehnya.
"Tapi aku takut nyakitin kamu. Itu kan yang mau kamu bilang? Lo udah nyakitin gw Shana! Lo udah ngerusakin kepercayaan gw!" katanya sambil mencengkram pipi ku dan menghempaskannya dengan kasar.
Aku mulai menangis dan hanya bisa terdiam melihat lelaki yang ku sayangi menangis karna kebohongan ku.
"Gw tetep tunangan lo, Vin. Gw tetep Gazel yang sama. Tapi nama gw aja yang beda." ujarku. "Shut the **** off! Cinta gw cuman buat Gazel. Bukan buat Ashana. Lo udah ngebohongin gw. Ada berapa penipuan disini?" tanya nya yang hanya membuatku menangis.
"Right! Udah pasti lo nangis karna selama ini lo tinggal sama orang yang ga lo sayangin. Kan lo aja sampai nyamar begini kan udah pasti perasaan lo juga penyamaran. Ha ha ha! Bodoh ya gw!" kata nya sambil tertawa miris.
Aku memilih menggenggam tangannya walau dia terus menghempaskan tangan ku. "Jangan pegang gw. Lo bukan Gazel. Nanti cewek gw marah." kata Delvin sambil menangis.
"Vin, dengerin gw. Selain identitas yang gw sembunyiin, semua yang terjadi itu bukan kebohongan. Perasaan, hati, dan semua memori itu bukan kebohongan." ujarku pelan sambil menahan tangisan ku.
"Rasanya gw udah males liat muka lo, Shana! BANGSAT!" Umpat nya.
Bruk!!
Dia menonjok dinding tepat didekat kepala ku. Aku hanya bisa menangis dan dia pun memeluk ku.
"Asal lo tau, Na. Pertama kali nya gw sayang sama cewek. Dan sekarang pertama kali nya gw ga bisa kenalin seseorang yang gw sayang. Okay, gw pamit. Gw pamit dari semua urusan hidup lo. Gw pamit!" kata nya yang ku jawab gelengan.
"Vin, Stay please. I Need You." ucapku sambil memeluk nya dengan penuh tangisan. Dia pun membalas pelukan dan mengelus rambutku dengan lembut.
"Gw perlu waktu. Ga gampang buat gw bisa percaya lagi sama lo. Tapi gw coba. Sekarang, gw butuh waktu sendiri. Makasih udah jadi seseorang yang berharga untuk gw walau itu penuh kebohongan. Sekarang, gw bebasin lo dari semua ikatan. Lo bukan pacar, bahkan calon istri gw. Gw bebasin lo dari semua hubungan kita okay. Lo harus bisa terus baik-baik aja walau gw ga ada disebelah lo. Lo harus tau, jodoh akan datang di waktu yang tepat. Lo percaya tuhan kan? Lo harus percaya sama semua kehendaknya." katanya yang membuatku menangis.
"Gw pamit." ujar nya melepaskan pelukan kami.
Pintu lift terbuka, dia pun langsung memasuki lift. Sedangkan aku hanya bisa menangis tersedu-sedu sambil menatap lift yang sudah tertutup.
__ADS_1
Dengan tertatih, aku melangkah ke dalam ruangan dan melihat ada sebucket bunga dan dua kotak makan. Aku pun mengambil bucket bunga itu, tatapan ku teralih saat melihat ada surat didalamnya.
-On Letter
Hallo sayang, aku rasa ini surat terakhir yang bisa aku kasih ke kamu. Kenyataan yang selama ini aku rasa ternyata sebuah kebohongan. Kenapa sayang? Sesusah itu ya jujur ke aku? It's okay, aku pamit. Aku harap kamu bisa baik-baik aja tanpa aku disebelah kamu. Love You, Gazel a.k.a Ashana.
From Delvin
-End Letter
Air mata ku mulai menetes. Dada ku terasa sesak, mengingat kalau saat ini, kepercayaannya sudah sirna.
Dengan segera, aku menelfon ketiga sahabat ku. Dengan menahan tangis, sura dering terdengar. Dan akhirnya, satu-persatu sahabatku itu mengangkat telfon dari ku.
"Hallo, Na? Kenapa beb?" tanya Flora yang membuat ku langsung menangis tersedu-sedu.
"Na? Shana? Lo kenapa na? Na jawab dong Na, jangan nangis Na." Kata Youra panik. "Guys, semua nya ancur!" ucapku sambil menahan tangisan.
"Hancur? Apa yang hancur Na? Kenapa lo?" tanya Bella. "Delvin." ucapku pelan. "Kenapa Delvin Na?" tanya Youra.
"Dia udah tau identitas gw!" ucapku sambil menangis tersedu-sedu. "Terus dia gimana, Na?" tanya Bella.
"Dia kecewa sama gw, Bell. Dia nangis, dia marah. Dia segitu kecewa nya sama gw. Dia bahkan bilang kalo dia bebasin gw dari semua ikatan antara gw sama dia." ujar ku sambil menangis tersedu-sedu.
"Biar gw ngomong sama Delvin. Lo tenangin diri lo." kata Youra. "Jangan, dia kecewa sama gw itu hak nya. Gw ga bisa minta dia balik sama gw, karna gw udah nyakitin dia." jawabku sambil menangis perlahan.
"Kita kesana." kata Flora. "Mmhhhh gw ga bisa guys mmhhh gw lagi ah di luar." kata Bella yang membuat ku bingung. Nih anak kenapa?
"Yaudah kalo gitu. Kita berdua aja yang kumpul. Gw bakal bawa si Hiko. Flo, bawa si Arthur. Biar kita jelasin ke mereka. Kalo bisa bawa si Lucio sekalian. Biar ga akan ada salah paham lagi." kata Youra.
Setelah sambungan telfon ku matikan, aku menatap dua kotak makan yang tadi di bawakan Delvin. Aku melihat di atas kotak-kotak itu ada satu surat. Saat aku buka ternyata ada tulisan 'Jangan lupa makan sayang. Aku ga mau kamu sakit. Love You.'
Tangisan ku bertambah kencang. Rasanya sangat miris bukan? Disaat seperti ini justru orang yang ku sayang pergi dari ku. Ammi? Appa? Dimana kalian? Shana butuh kalian!
__ADS_1