
Ashana P.O.V
Kabar mengejutkan yang ku dapati dari Bella cukup membuat ku blank. Rasanya ini semua tidak sesuai dengan ekspetasi ku selama ini. Aku akui, semasa pertama kali memutuskan untuk mencari FWB, disaat itulah aku sudah berekspetasi kalau kami akan dengan mudah terlepas dari hubungan ini. Tapi nyatanya semua berbeda.
Bella hamil, aku dan Delvin yang akhirnya jatuh pada perasaan saat ini harus merasakan sakit karna perpisahan ini. Damn!
"Na? Lo kenapa?" tanya Bella yang saat ini sudah duduk bersebelahan dengan Lucio. Aku hanya bisa tersenyum dan menggelengkan kepala ku. "Gapapa. Flo? Bella udah di cek kan?" tanya ku memastikan. "Udah kok, Na. Tapi kata dokter badannya penuh lebam. Kandungannya sehat." jawab Flo.
"Bel, kita bakal lakuin visum. Udah seharusnya kita laporin tuh cowok ke polisi." kata Lucio. "T-tapi nanti anak dia gimana?" tanya Youra yang sedari tadi terdiam. "Gw yang bakal tanggung jawab. Abis ini, Bella ikut gw ketemu bonyok. Gw jamin pasti di restuin." kata Lucio yang hanya bisa kami jawab anggukan.
Waktu berjalan, matahari terbenam dengan perlahan. Keenam sahabatku pun akhirnya memutuskan untuk pulang. Untuk sementara, Bella akan tinggal di apartment milik ku yang berdekatan dengan flat milik Flora. Sudah pasti akan lebih aman baginya.
Malam ini terasa berbeda. Kaki ku melangkah sepanjang koridor lantai 3 karna merasa bosan dengan suasana di rumah sakit yang sepi ini. Sesekali aku tersenyum ketika mendapatkan sapaan dari para suster serta dokter yang berjaga. Jam di dinding sudah menunjukan pukul sembilan malam.
"Huft! Gw beli makanan masih ada yang buka ga ya?" ujarku dalam hati.
Dengan modal nekat, akhirnya aku memutuskan untuk menyuruh anak buah kedua orangtua ku berjaga. Aku akan mencari makanan di luar.
Dengan segera, kaki ku melangkah menuju basement. Tanganku mulai menyalakan mesin dan mengendarai mobil ku membelah jalanan di kota ini yang sudah mulai sepi.
Aku mulai memelankan laju mobil ketika melihat ada PHD dipinggiran jalan. Wah! Aku akan membeli pizza saja kalau begitu! Tanganku pun langsung membelokan stir mobil ke arah jalur untuk drive thru.
Aku memesan Pizza yang memiliki panjang sampai satu meter dengan enam topping. Tapi aku yang tidak mau ribet memilih untuk di buatkan secara random toppingnya. Setelah pihak dari PHD mencatat nomor mobil yang ku kendarai, kaki ku mulai menginjak pedal gas menuju parkiran.
__ADS_1
Tok! Tok! Tok!
Jendela mobil ku diketuk, mataku membulat saat melihat siapa yang mengetuknya.
"Delvin?" ujarku memastikan. Dengan segera, aku membuka pintu mobil dan dia langsung masuk ke dalam.
"Vin? Lo kenapa?" tanya ku panik saat melihat wajahnya penuh dengan memar. Dia langsung terpejam dan tidak sadarkan diri. Indra penciumanku menangkap bau alkohol yang tercium sangat menyengat dari badannya. Sepertinya dia mabuk.
"Gazel." racaunya yang membuatku terdiam. Apa dia mabuk karna ku?
Petugas PHD datang dengan membawa pizza yang ku beli. Akupun langsung membayarnya dan mulai kembali ke rumah sakit.
"Vin, lo ikut gw pulang dulu okay. Gw ga bisa ngebiarin lo begini." ucapku sambil mulai mengendarai mobil dengan kecepatan sedang.
"Gazel. Lo jahat, Zel!" racaunya yang kembali membuat hatiku merasa tersayat perlahan. "Kenapa lo sembunyiin semua dari gw?" racaunya lagi yang masih ku jawab dengan keterdiaman ku.
"Gw akuin gw salah, Vin. Gw terlalu takut kehilangan seorang Delvin padahal tanpa gw sadar dengan gw bohong juga itu lebih parah dari rasa kehilangannya. Gw ngerasa sakit, Vin. Lo ga bisa maafin gw, lo pergi ninggalin gw, dan lo hilang dari hidup gw. Semuanya, Vin. Semuanya yang gw lakuin selalu sama lo pada akhirnya semuanya hilang, buyar. Rotasi hidup gw yang tadinya ada nama lo, sekarang kosong. Gw kehilangan arah hidup gw, Vin. Dulu gw bisa bilang seorang Delvin pemilik gw sekarang? Jangankan pemilik, bahkan calon pemilik pun ga ada bagi gw. Lo satu-satunya Vin." ujarku tanpa memperdulikan apa Delvin mendengar perkataan ku atau tidak.
Jalanan sudah semakin sepi, tangan ku yang sedang memegang stir mobil terasa mulai digenggam tangan lain. Aku melirik ke sebelahku dan menemukan Delvin yang sudah menatapku dengan pandangan sayu nya. Aku tau, dia masih mabuk.
Delvin melepaskan tanganku dari stir dan mencium nya. Aku mulai menatapnya dan tanpa terasa setetes air mata turun dari mata melihat ketulusannya.
Akhirnya mobilku sampai di rumah sakit tempat appa dan ammi dirawat. Untuk sementara, Delvin ku tinggalkan di basement tepatnya didalam mobilku.
__ADS_1
Kaki ku melangkah memasuki lift dan setelah sampai lantai tiga, aku langsung keluar lift sambil membawa pizza.
"Nona, tadi tuan dan nyonya Khan sempat kejang. Dokter sudah mengecek keadaan dari keduanya. Kata dokter, mereka berdua berhasil melewati masa kritisnya. Sekarang kita tinggal menunggu keduanya sadar." ujar anak buah appa.
"Tapi orangtua saya baik-baik saja kan?" tanya ku yang dijawab anggukan. "Yasudah, kalian makan dulu. Tolong jaga orangtua saya. Untuk saat ini, saya akan kembali ke rumah. Ada berkas yang harus saya urus." ujarku.
"Baik nona." jawab mereka.
***
Mobil ku memasuki area pekarangan rumah. Dengan perlahan, aku mulai membopong Delvin sambil berjalan ke pintu. Setelah aku berhasil membuka pintu rumah, kamipun masuk ke dalam.
"Vin, lo istirahat dulu okay. Gw tutup pintu sebentar." ujarku mendudukan Delvin ke sofa.
Saat tanganku mengunci pintu, seseorang memeluk pinggangku. Saat ku menengok ternyata Delvin dengan senyuman di bibirnya dan memeluk ku dengan erat.
"Gw kangen sama lo, Zel." racaunya. Lama-kelamaan kami saling berhadapan. Bibir kami mulai menyatu dengan hawa panas yang mengerubungi kami berdua. Delvin mengangkat ku dalam keadaan kami masih sama-sama berciuman.
"Dimana kamar lo?" tanyanya. "Atas." jawabku singkat. Kami lanjut berciuman yang semakin lama, semakin ganas.
Delvin melangkahkan kakinya hingga kami berada dilantai dua. Aku menunjuk ke satu pintu yang mana itu adalah kamar ku.
"Gw butuh pelampiasan, Vin." ujarku pelan. "Gw bantu." jawabnya singkat. Bibir kami kembali menyatu dengan ganas.
__ADS_1
Delvin membuka pintu kamar ku dan terlihatlah satu ruangan serba putih. Tempat tidur ku dengan kelambu di sekelilingnya, bergaya bohemian. Tentu membuatku merasa nyaman. Lampu yang mati dan keheningan yang menyambut kami akhirnya dikecohkan dengan kerusuhan yang dibuat oleh kami berdua.
Dan pada akhirnya, kalian tau bukan apa yang kami lakukan?