
Ashana P.O.V
Aku keluar dari ruang rawat ammi dan appa dan menatap beberapa anak buah appa yang sedang berjaga.
"Saya akan pulang untuk mengambil keperluan saya. Tolong kalian jaga disini sampai beberapa sahabat saya datang. Kalian pasti sudah mengenal ketiga sahabat saya yang bernama Flora, Bella, dan Youra. Suruh mereka tunggu disini dulu sampai saya datang. Sediakan makanan ringan serta cemilan. Dan saya mau paling tidak ada dua penjaga yang berjaga didepan kamar. Sampai ada kecerobohan, siap-siap saja kalian kena imbas nya." ujarku tegas.
"Nona, perlukah kami antar?" tanya salah satu anak buah appa yang ku jawab gelengan. "Saya bawa mobil. Saya minta kamu bertanggung jawab untuk keamanan disini. Saya pergi, mungkin sekitar satu jam lagi saya akan datang kesini." jawabku.
Mobil ku melaju dengan kencang membelah jalanan tol yang tidak terlalu padat kendaraan. Sekitar tiga puluh menit kemudian, aku sudah sampai didepan gerbang rumah yang sudah lama tidak ku tempati. Sepertinya untuk melupakan Delvin, aku akan sering dirumah ini.
Dengan segera aku ke kamar dan mulai mempacking baju-baju ku untuk nanti di rumah sakit. Aku mempacking baju untuk seminggu disana. Hanya untuk malam, dan pagi untuk aku berangkat kuliah. Lalu beberapa make up, catokan, serta jepitan untuk merapihkan rambutku. Aku juga turut memasukan kantong tidur untuk ku pakai saat tidur di rumah sakit nanti.
***
Sesampainya aku di rumah sakit, dengan segera mobil yang ku kendarai berhenti di basement. Kaki ku melangkah dengan cepat membawa tentengan barang. Aku bisa melihat ada satu anak buah Appa yang menunggu di lobi rumah sakit.
"Ada apa?" tanya ku saat menghampirinya. "Tidak nona, saya sedang memesankan minuman untuk teman-teman anda. Mereka sudah sampai." jawabnya. "Yasudah nanti kasih bill nya ke saya ya. Akan saya ganti uang kamu. Makasih!" ujarku yang membuat anak buah appa ini tersenyum sambil menganggukan kepala nya.
Dengan menaiki lift, kini aku sudah sampai di lantai tiga. Lantai yang berisikan kamar-kamar VIP.
"Shana!" panggil seseorang. Aku melihat sekitar dan menemukan Arthur bersama kelima sahabat ku. Mereka melambaikan tangan. Akupun tersenyum dan menghampiri mereka.
"Whoa! Gimana nih kalian tadi diperlakuin baik kan sama mereka?" tanya ku. "Iya, Shana. By the way tadi gw ketemu Delvin di kampus. Dan dia keliatan beda banget. Kayak ancur, jadi berandalan lagi." kata Lucio yang membuatku tersenyum kecut. "Tapi gw rasa dia masih sayang sama lo, Na. Dia senyum pas tau lo udah ketemu bonyok." ujar Hiko yang membuat kedua sahabat ku tersenyum.
Mata ku meneliti kelima orang ini dan tersadar! Dimana Bella?
"Yo? Lo ga sama Bella?" tanya ku. Lucio langsung memudarkan senyumannya dan menatap ku dalam. "Sekarang gw tanya balik sama lo. Lo tau ga si Bella masih hubungan sama mantan nya?" tanya nya balik yang membuatku terkejut.
"Maksud lo, Banu?" tanya ku memastikan. Lucio menganggukan kepalanya.
__ADS_1
Damn! Bagaikan tersambar petir, aku hanya bisa terdiam dengan mulut terbuka. Bella? Banu? Mereka masih bersama? Tapi sejak kapan?
Aku menatap kedua sahabat ku, mereka pun terlihat sama seperti ku. Kaget.
Ga lama kemudian, salah seorang anak buah Appa menghampiri kami. Aku menengok dan terlihat raut wajahnya kebingungan.
"Nona, maaf tapi didepan ada satu perempuan dengan baju lusuh sambil membawa koper. Katanya dia sahabat anda. Bagaimana kalau bisa anda temui dulu?" tanya nya.
"Okay, saya kesana. Guys, kalian santai dulu ya. Oh iya tolong masukan barang-barang saya ke dalam!" ujarku yang dijawab anggukannya.
Kaki ku melangkah ke dua orang anak buah appa yang saat ini menahan wanita yang dimaksud anak buah appa tadi.
"Bilang ke Shana, saya Bella. Saya yakin dia pasti mengenali saya!" ujar wanita itu.
Aku dengan segera berjalan cepat dan melihat wanita itu. Dia Bella!
"Bella? Bel? Lo kenapa bel? Kenapa baju lo gini? Terus kok lo bawa koper?" tanya ku bingung menyadari kalau dihadapanku ini adalah Bella.
"Na, g-gw hamil."
Bagaikan tersambar petir sekali lagi, aku terkejut dengan pernyataan dari sahabat ku ini. akupun melepaskan pelukannya dan menatap sahabat ku ini dengan intens. Ada beberapa luka memar di area wajah, tangan, pundak, dan dibeberapa tempat lainnya.
"Jawab gw! Apa Banu yang ngelakuin ini?" tanya ku yang membuat Bella menangis sejadi-jadinya. Kakinya luruh ke lantai, aku langsung mengangkat sahabat ku ini dengan perlahan dan memeluknya.
"Kita omongin sama bocah. Kalian! Bawa koper ini ke depan kamar orangtua saya! Ayo, Bel!" ajak ku.
Kami berdua menghampiri para sahabat kami. Flora dan Youra langsung menghampiri Bella dan meneliti tubuh sahabat ku ini.
"Bel, jawab gw! Lo masih hubungan sama Banu? Beneran Bel??" tanya Youra yang membuat Bella hanya menatap Lucio.
__ADS_1
Aku menatap Lucio dan saat pandangan kami bertemu, aku memberikan kode untuk berbicara empat mata dengannya. Untunglah dia mengerti.
"Guys, gw mau ngomong sama Yoyo bentar. Kalian tunggu disini, Flo? Nanti kalo ada suster suruh rawat Bella ya. Kalo perlu di rawat, kasih kamar vip disebelah orangtua gw. urusan biaya biar gw yang atur." ujarku yang dijawab anggukan Flora.
Lucio langsung berjalan bersama ku. Kami memasuki lift dan menekan lantai L alias Lobi. Saat pintu lift tertutup, dia langsung memukul dinding lift dan--
"AAAAAA ANJING! BANGSAT!" Teriaknya mengeluarkan emosi dalam dirinya.
Aku hanya bisa menepuk pundaknya, tanpa sadar aku mulai menangis. Kenapa bisa berantakan begini?
"Y-yo?" panggil ku yang membuatnya menengok. Lucio langsung memeluk ku, pundaknya bergetar. Secinta itu dia ke Bella? Damn! Bella bisa-bisanya milih cowok kayak Banu dibanding Lucio!
Ting!
Lift terbuka, kami langsung keluar dan berjalan ke cafetaria. Aku langsung memesan dua jus alpukat lalu duduk bersama Lucio di pojok cafetaria yang sepi ini.
"Apa yang mau lo omongin, Na?" tanya Lucio. "Yo, lo tau dari mana Bella masih sama Banu?" tanyaku balik. Lucio menghela nafas dan menatapku, "Gw tau pas tadi gw nelfon dia. Gw mau ngajakin dia bareng kesini tapi tiba-tiba gw denger bonyoknya nanya ke dia tentang siapa yang ngehamilin dia. Dia tadi mau udahin telfonan tapi kayaknya dia lupa mencet tombol, alhasil gw denger dia nyebut nama Banu." jawab Lucio dengan mata berkaca-kaca.
"Jadi lo tau kalo Bella hamil?" tanya ku lagi yang dijawab anggukannya. "Gw bingung, Na. Apa yang harus gw lakuin? Disatu sisi gw sesakit itu sayang sama dia. Tapi gw ga bisa liat dia kayak gini." ujarnya.
"Gw ngerti, Yo. Sekarang keputusannya ada sama lo. Kalaupun lo udah ga sama Bella, gw sama bocah ga akan ngejauhin lo. Lo juga sahabat kita. Tapi kalo lo mau bertahan, apa lo bisa nerima anak di kandungan Bella? Itu yang jadi pertimbangan gw sekarang. Lo bukan orang asing bagi gw." ucap ku.
Ga lama kemudian, Jus alpukat pesanan ku datang. Kami meminum beberapa teguk lalu kembali terdiam.
"Apa yang mau lo lakuin ke tuh cowo, Na?" tanya Lucio yang saat ini menatap jus didepannya. Akupun hanya bisa menatapnya sampai dia menatapku balik. Sambil menghela nafas pelan aku pun tersenyum kecut. "Mungkin gw bakalan tuntut tuh cowo. Lo tau kan di badan Bella banyak memar. Gw bisa lakuin visum, terus gw serahin jadi barang bukti ke pengadilan nanti dan itu bisa jadi bukti utama yang kuat buat menjarain tuh cowok." jawabku.
Lucio tersenyum tipis lalu mengaduk jusnya.
"Huft! Gw bakal tanggung jawab buat anak itu." katanya yang membuatku terkejut. "Ha? Lo seriusan?" tanya ku kaget. "Iya. Dia emang anak hasil dari benih tuh cowok ******. Tapi gw ga bisa lupa kalo dia anak dari cewek yang gw sayang." jawab Lucio yang membuatku menangis pelan. Aku terharu guys!
__ADS_1
Melihatku menangis, Lucio langsung panik. Dia menepuk pundak ku dan aku lun menatapnya. "Thanks lo nerima Bella, Yo. Makasih." ujarku yang dijawab anggukannya.