GAZEL

GAZEL
Belcio's Wedding


__ADS_3

Ashana P.O.V


Dua bulan sudah kedua orangtua ku sadar, kebahagiaan ini semakin menambah momen di hari ini ketika aku sudah siap dengan gaun satin berwarna broken white serta rambut dan make up yang sudah selesai. Hari ini adalah hari dimana sahabatku Bella akan menikah dengan Lucio. Ketidak hadiran dari orangtua sahabatku membuat nya bersedih, ammi dan appa menawarkan diri untuk menjadi pengganti kedua orangtuanya dan akhirnya kamipun setuju.


Bella dengan perutnya yang sudah mulai membesar saat ini terlihat sedang duduk. Wajahnya sedang di make up, rambutnya sedang di tata. Begitu juga dengan para bridesmaid yang lain.


Aku dapat selesai duluan karna khusus hari ini, aku merias diriku sendiri sehingga dapat dengan bebas menggunakan riasan yang ku mau tentunya masih sesuai dengan tema pernikahan ini.


Pernikahan sahabatku diadakan didua tempat. Pemberkatannya di taman hotel yang dirimbuni oleh banyak pohon sedangkan resepsinya di ballroom hotel.


Jujur saja aku tidak sabar untuk menggunakan gaun resepsi nanti. Karna disaat itulah Bella menggunakan gaunnya yang indah. Akupun menyukai gaun yang akan ku pakai nanti karna gaun ini aku sendiri yang mendesainnya.


"Ka Shana, aku udah selesai nih. Gimana kalo kita cek lokasi pemberkatan?" ajak Liliana, adik dari Lucio. "Wah ide bagus. Yuk!!!" ajak ku dengan semangat.


Kami keluar dari ruang make up dan berjalan ke taman hotel. Tepat ketika aku sampai didepan resepsionis, mataku menangkap ada Delvin yang terlihat tampan dengan tuxedo hitam. Dia sangat tampan.


Dia menengok ke arahku dan tersenyum lalu kakinya melangkah mendekat. "Gimana diatas?" tanya Delvin yang membuatku tersenyum. "Aman ka, ka Bella masih make up. Ka Yoyo gimana?" tanya Liliana yang membuat senyum ku memudar.


"Maaf ye, Cil. Gw ngomong sama sebelah lo. Shana, gimana persiapannya? Aman kan?" tanya Delvin yang ku jawab anggukan. Tangannya terangkat membenarkan rambutku dan bibirnya pun tersenyum. "Gw ga mau nanti pasangan gw berantakan rambutnya." katanya singkat.


Aku melihat kerah tuxedo yang dikenakannya pun berantakan sehingga aku hanya bisa tertawa dan membuatnya bingung. "Ada yang lucu?" tanyanya yang ku jawab anggukan. "Ada, lo bilang ga mau pasangan lo berantakan tapi kerah lo sendiri berantakan." jawabku sambil membenarkan kerahnya.


Tanpa sadar posisi kami terlihat cukup intim dengan tangan ku yang berada di lehernya membuatku terlihat sedang memeluk Delvin. Mata kami saling menatap dengan bibir kami yang tersenyum. Cukup lama aku menikmati wajah tampan dari mantan ku ini ugh! Ralat! Mantan kesayangan ku lebih tepatnya.


"Ekhem!"


Deheman seseorang sukses membuat kami menengok, terlihat ada sepasang orangtua. Itu orangtua dari Lucio!


"Maaf mengganggu nona dan tuan. Tapi putriku ini masih tujuh belas tahun jadi ada baiknya kami bawa pergi dulu lah ya. Silahkan dilanjut, eeuummm ada baiknya di kamar sih lanjutnya." ledek papa nya Lucio yang membuat sang istri tertawa.


"Papa ini ada-ada saja. Tentu mereka lanjutnya setelah acara. Nanti malah keos lagi." ucap mama Lucio yang secara tidak langsung menggoda kami juga.


"Eeuumm ga usah tante, ini Shana sama Lili langsung ke tempat pemberkatan dulu buat ngecek keadaan disana. Yuk, Li!" ajak ku dengan pipi memerah. Liliana tertawa, kamipun berjalan ke taman pemberkatan meninggalkan mama papa Lucio serta Delvin yang masih menertawakanku.


"Kakak suka ya sama ka Delvin?" tanya Liliana yang ku jawab anggukan. "Tentu. Dari dulu pun dia pemilik kakak." jawabku sambil tersenyum. "Tapi aku juga suka ka sama Ka Delvin." ujar Liliana santai yang membuatku terkejut namun dengan segera aku menyembunyikan keterkejutanku darinya.


Aku berharap dia tidak mengetahui bahwasanya dia akan berlawanan denganku yang merupakan masa lalu dari seorang Delvin. Entahlah apakah Liliana ini sudah mengetahui masa lalu kami ataukah memang dia tidak tahu sehingga dia bisa menjatuhkan perasaannya kepada Delvin. Jika memang benar maka aku tidak siap untuk bersaing dengan adik dari sahabatku sendiri.

__ADS_1


Langkah kami terhenti ketika melihat segala persiapan di taman ini sudah 85% selesai. Huft! Lega!


"Liat deh, Li! Kayaknya fiks sih ini nanti pas saatnya bridesmaid makan, kakak mau makan itu tuh!" ujar ku menunjuk stand khusus berisikan English Breakfast yang didalamnya ada sosis, telur mata sapi, daging sapi slice, baked beans, black pudding, hash brown, tomat goreng dan jamur tumis.


"Weh! Sama dong aku juga. Secara ya kan dari tadi aku udah mupeng liat makanan disana hahahaha!" kata Liliana yang membuat kami tertawa bersama.


***


Melodi dari arah taman sudah terdengar, aku yang saat ini sudah berjalan ke arah taman bersama dengan Bella yang saat ini menggandeng tangan appa dengan gaun satin putih yang rok nya mengembang. Didepannya ada kedua sahabatku, serta Liliana pun akan segera memasuki area taman untuk memulai acara pemberkatan.


"Baiklah kali ini bisa kita saksikan dihadapan para hadirin sekalian, sang pengantin wanita sudah mulai memasuki area pemberkatan. Didampingi para bridesmaid yang terlihat cantik, Bella memancarkan wajah kebahagiaan yang sangat membuat Lucio terharu. Silahkan Lucio, menjemput sang pujaan hati!" kata MC.


Aku bisa melihat kalau Lucio sedang mengusap matanya. Para groomsman pun menatap kami dengan senyuman di bibirnya.


Kami para bridesmaid langsung berjalan dengan berpencar untuk menghampiri pasangan groomsman kami. Delvin menggenggam tangan, manik mata kami saling menatap. Aku pun akhirnya berdiri di sebelahnya.


"Silahkan duduk!" kata pendeta yang membuat kami tau kalau sebentar lagi acara ini dimulai.


"Kehadiran kita disini untuk sebagai saksi atas penyatuan dua orang anak tuhan yang bernama Lucio Ulisses Zico dengan Bellanca Kala Laquitta. Kita mulai dengan..."


(Sorry guys kalo bagian ini aku ga bisa ya mengingat aku kurang mengerti untuk pernikahan seperti ini jadi akan aku skip ya mungkin langsung ke bagian sumpah pernikahannya*.)


Delvin yang melihat ku gugup, langsung menggenggam tangan ku. "Tenang aja, mereka pasti bisa." katanya yang ku jawab anggukan.


"Dan kini kita akan mulai memasuki sumpah pernikahan. Silahkan kepada Lucio untuk mengucapkan sumpahnya terlebih dahulu!" kata pendeta.


Kedua sahabatku mulai saling berhadapan, Lucio mulai memegang mic dengan tangan kanan nya. Sedangkan tangan kiri nya digunakan untuk menggenggam tangan kiri dari Bella.


"Saya mengambil engkau Bellanca Kala Laquitta menjadi istri saya, untuk saling memiliki dan menjaga, dari sekarang sampai selama-lamanya. Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita, sesuai dengan hukum Allah yang kudus, dan inilah janji setiaku yang tulus." kata Lucio mengucapkan sumpah pernikahan dengan penuh keyakinan.


"Silahkan mempelai wanita mengucapkan sumpahnya!" kata pendeta.


Lucio menyerahkan mic kepada Bella, namun belum sempat sahabat ku ini mengambil mic ad suara seseorang yang berhasil menginterupsi perhatian kami semua.


"Ga bisa! Itu anak saya!"


Aku menengok dan melihat ada Banu dengan pakaian lusuh nya berlari ke arah Bella. Pandanganku terbelalak saat menyadari dia membawa pisau ditangannya.

__ADS_1


Dengan segera, aku berlari ke depan Bella untuk melindungi sahabat ku. Ga lama kemudian, aku merasakan seseorang memeluk tubuhku begitu erat.


"Gw sayang lo, Na." kata orang itu yang suaranya sangat ku kenal, dia Delvin.


Dor!! Dorr!


Seketika aku terkejut mendengar suara tembakan. Apa mungkin Delvin tertembak? Pelukan di tubuhku melonggar, aku menengok dan menemukan Delvin sedang menghampiri Banu dengan tangannya yang terkepal.


Aku menyadari satu hal, ternyata tadi yang menembak Banu adalah Delvin. Dia menembak tepat mengenai kaki serta tangannya.


"Berdiri lo monyet!" teriak Delvin seraya menendang Banu yang saat ini terkapar lemas. Aku langsung berlari dan memeluk nya agar bisa menenangkan laki-laki yang ku sayangi. Walau jujur aja, saat ini aku merasa takut melihat matanya yang penuh dengan amarah.


"Vin! Udah, Vin! Nanti kalo dia mati lo bisa kena sanksi!" ujarku menahan tangan Delvin agar dia berhenti.


"Lepasin gw! Bangsat dia mau ngebunuh keponakan kita, Na!" umpat Delvin kesal. "Iya tapi lo mikirin, kalo dia masih hidup kita bisa nyerahin dia ke polisi! Kalo dia mati, lo kena pasal!" jawabku yang akhirnya membuat kemarahan Delvin mereda. Dia langsung menarik kerah baju yang dipakai Banu keluar dari area pemberkatan pernikahan.


"Na, ikut gw! Lanjut aja acaranya. Saya dan Ashana akan ada urusan!" kata Delvin yang membuatku menganggukan kepala.


"Silahkan pak, di lanjut saja. Saya akan ikut Delvin mengurus masalah ini." ujarku seraya berjalan mengikuti Delvin.


Delvin membawa Banu ke tempat security. Dengan nafas yang tidak teratur, Delvin mendorong tubuh Banu ke lantai dan menatap nyalang ke para security yang berjaga.


"Bagaimana kalian ini? Kenapa kalian memperbolehkan orang yang membawa senjata tajam ke dalam?! Jawab saya tadi siapa yang menjaga di gerbang?!" tanya Delvin dengan membentak para security.


"Vin, tenang." ujarku menenangkannya. "Ga bisa tenang gw, Na. Lo kebayang ga tadi kalo tuh orang mau nusuk Bella? Lo ngelindungin dia! Lo pasti bakal kena!" kata Delvin yang pada akhirnya membuatku bingung. Bagaimana aku menenangkannya?


Dengan segera aku memeluknya erat dan dia pun menghela nafasnya. "Gw ga bisa kehilangan lo, Na. Gw ga siap." katanya dengan tangan membalas pelukan ku.


Delvin yang membelakangi para security membuat mata ku mendelik saat melihat salah satu security mencoba menusuknya dengan pisau. Tanganku langsung menahan pisau yang akan mengenai punggung Delvin, dengan sekuat tenaga aku mendorongnya sampai pelukan kami terlepas dan akhirnya aku mulai melawan security ini sekuat tenaga ku.


Delvin yang sudah bisa bangkit pun turut membantuku sehingga pada akhirnya security yang berusaha menusuknya tadi berhasil kami kalahkan. Polisi datang, dan menangkap kedua orang itu.


"Na, tangan lo berdarah!" kata Delvin seraya mengangkat tangan ku yang tadi menahan pisau.


"Iya berdarah doang elah. Yuk balik ke pemberkatan, tangan mah gampang nanti gw urus." kata ku santai. "Ga bisa. Ikut gw sekarang!" kata nya mendudukan ku di kursi, dia mengambil kotak P3K lalu mengobati tanganku dengan perlahan.


Setelah selesai, kami berjalan bersama dengan Delvin menggenggam tangan ku. Kami berjalan di karpet taman yang tadi dilewati pengantin. Pandangan para tamu tertuju kepada kami, sedangkan kami hanya bisa tersenyum dan kembali ke posisi kami semula.

__ADS_1


"Dengan ini, saya menyatakan bahwa Lucio Ulisses Zico dan Bellanca Kala Laquitta telah resmi menjadi sepasang suami-istri yang sah di mata hukum serta agama!" kata Pendeta yang membuat kami semua bersorak gembira.


"Silahkan kepada Lucio untuk mencium sang istri!" kata MC yang langsung membuat Lucio maju dan mencium sahabatku.


__ADS_2