
Ashana P.O.V
Hari terus berganti, tapi sampai saat ini aku bahkan tidak bisa mendapatkan kabar keadaan dan keberadaan kedua orangtua ku.
Tok! Tok! Tok!
Pintu apart ku diketuk seseorang. Aku hanya bisa menghela nafas dan berharap kalau ini adalah kabar baik. Saat pintu dibuka, mataku terbelalak. Ada pengacara Appa didepanku. Om Kumar. Ada apa dia kesini?
"Om? Kok dateng ga bilang ke Shana. Ayo masuk dulu!" ajak ku. Om Kumar tersenyum kaku dan masuk ke dalam unit dengan perlahan.
"Sayang, ini teh kam--- loh? Ini siapa by?" tanya Delvin yang membuatku bingung menjawabnya. Aku lupa lagi didalem sini ada dia!
"Ini pengacara Appa sayang." jawabku sambil tersenyum tipis. "Hallo om, saya pacarnya Gazel." kata Delvin memperkenalkan dirinya. "Gazel? Siapa itu?" tanya Om Kumar yang membuatku deg-deg an.
"Sayang, Om Kumar taunya nama aku bukan Gazel kan itu panggilan dari keluarga aku!" alibi ku sambil melihat raut penuh tanya di wajah Delvin.
"O-oh gitu ya by. Okay lah kamu kan ga bilang. Yaudah sebentar biar aku ambilin minum dulu. Kalian ngobrol aja disini!" kata pacarku itu dengan senyuman di wajahnya.
Apakah ini saatnya aku harus mengaku ke Delvin? Tapi rasanya ga sanggup kalau aku harus ngeliat wajahnya yang ga akan lagi aku liat mungkin.
"Jadi begini nona, dikarnakan ayah anda masih dinyatakan hilang sedangkan perusahaan pun masih harus dijalankan. Jadi selaku ahli waris dari beliau, saya harap nona bersedia untuk mulai memimpin perusahaan dalam waktu dekat. Bagaimana?" tanya Om Kumar.
Aku menghela nafas pelan dan menatapnya. "Om, apa ga ada kemungkinan lagi kalau appa dan ammi kembali?" tanya ku. "Begini, Shana. Om tau kamu ada yang disembunyiin dari pacarmu itu. Om ga bisa ngejawab pertanyaan kamu disini takut nanti pacar kamu salah paham. Ada baiknya kamu mulai memimpin perusahaan, disana akan om jelaskan." bisik Om Kumar dengan senyumnya yang membuatku tenang.
"Okay kalau begitu, besok aku mulai urus perusahaan Appa. Tapi om, aku belum tau apa aja yang harus dilakuin disana. Aku harap nanti om bisa cariin assisten untuk ku." ujarku. "Tenang, semua sudah om urus. Yasudah kalau begitu, om akan pergi. Om tidak mau mengganggu waktu privasi kalian. Delvin? Saya akan pulang. Tolong jaga anak ini baik-baik. Awas kalau kamu sakiti, saya lempar ke jurang maut nanti!" ancam Om Kumar sambil tertawa.
__ADS_1
Setelah kepergiannya, aku hanya bisa menatap kosong gelas didepanku. Ammi, Appa. Dimana kalian berdua? Kenapa susah banget nyari kalian? Apa ini yang harus aku hadapi sekarang? Bagaimana keadaan ku jika tanpa kalian?
Semua perkiraan buruk mampir dalam sekejap didalam pemikiranku. Bahkan terdengar ada suara ammi dan appa yang tertawa dan lama-kelamaan suara itu sirna entah kemana.
"Zel? Gazel?" panggil Delvin yang membuatku tersadar. "Maaf by." ucapku pelan. "Maaf kenapa sayang?" tanyanya. "Tadi aku lupa bilang ke kamu kalo ga semua kenalan aku tau panggilan Gazel itu." jawabku berbohong. Apakah ini saatnya? Tapi aku belum siap!
Bagaikan ada dua sisi dalam diriku ini, aku bisa mendengar dua orang yang mengobrol didalam tubuhku.
"Lo harus kasih tau Delvin. Hubungan kalo awalannya udah kebohongan ga bakalan langgeng!"
"Jangan kasih tau dia! Nanti kalo dia kecewa, dia bakalan ninggalin lo sendiri! Dia bakal pergi dari lo selamanya! Penuh kebencian! Penuh rasa sakit! Jangan bikin orang yang lo sayang itu sakit! Jangan bodoh!"
Begitulah perdebatan yang ku dengar dari dalam tubuhku ini. Apakah itu yang disebut Batin? Akupun tidak tau. Yang pasti, ada banyak kebimbangan didalam diriku. Rasanya logika dan perasaan ini saling bertengkar dengan hebat.
Dalam sekejap, kepalaku terasa pusing dan akhirnya gelap. Aku tidak bisa melihat apapun kecuali mendengar teriakan Delvin yang memanggil namaku.
***
"Ini Gazel kenapa bisa pingsan begini Vin? Lo apain dia?"
"Jangan bilang lo ngajakin dia tempur sampe pagi? Gila lo bro jangan nyiksa anak orang weh!"
"Gila aja gw kalo begitu. Ini tadi dia sempet ngelamun, terus ga lama kemudian pingsan!"
Mendengar suara kebisingan dari disekitar, mataku dengan perlahan mulai mengerjap dan terbuka. Ada Delvin, dan keenam sahabat kami.
__ADS_1
"Akhirnya lo sadar, Zel." kata Flora sambil membantuku duduk. "G-gw kenapa dah? Kok kalian disini?" tanyaku. "Lo pingsan, terus nih curut satu nelfonin kita. Nih temen lo panik nya kebangetan." kata Hiko menunjuk Youra.
"Yailah kan aku mah panik aja ngedenger kabar dia pingsan. Oh iya Zel, tadi kata Delvin ada om-om yang kesini. Siapa?" tanya Youra. "Itu mah Om Kumar, pengacara Appa gw." jawabku pelan.
"Sayang, kamu makan dulu aja ya? Kayaknya ini efek kamu ga makan dari kemarin lho." kata Delvin yang membuat ketiga sahabatku terkejut.
"Astaga Zel! Lo kenapa ga makan? Seriusan lo Vin?" tanya Flora. "Iya, tuh liat aja sendiri gw udah bikinin dia makanan, dia bilang ga nafsu. Gw paksa, kagak mau juga." jawab Delvin.
"Litta mana?" tanyaku saat menyadari salah satu sahabat yang biasanya bersama dengan ku ini tidak ada. "Tadi sih dia bilang ada acara sama keluarga nya. Makanya ga bareng sama gw kesini." jawab Lucio.
"Oalah yaudah kalo gitu. Sorry guys jadi ngerepotin kalian." ujarku pelan. "Gapapa, gw ngerti kok perasaan lo, tapi please jangan nyiksa diri lo sendiri. Kalo lo sakit, gimana bisa lo nyari orang tua lo. Pokoknya lo sembuh dulu, biar urusan bokap nyokap lo itu kita yang urus." kata Arthur yang hanya ku jawab anggukan pelan.
***
"Sayang, aku mau nanya boleh?" tanya Delvin yang ku jawab anggukan. Saat ini unit ku hanya tinggal kami berdua.
"Aku liat muka om yang tadi kayak dia bingung pas aku panggil kamu Gazel. Terus tadi aku denger, dia bilang kamu harus jalanin perusahaan. Perusahaan siapa by? Orangtua kamu pegawai negeri kan?" tanya Delvin bingung.
Tubuhku kaku. Apakah ini saat yang tepat?
"Ada hal yang harus aku jelasin. Tapi ga sekarang waktunya " jawabku. "Kapan? Aku ngerasa ada yang aneh sama kamu belakangan ini. Kenapa kamu? Apa aku ada kesalahan?" kata Delvin yang ku jawab gelengan.
"Enggak. Pokoknya satu hal yang harus kamu tau, aku sayang sama kamu. Okay? Sekarang aku bakal mulai mimpin perusahaan ngegantiin Appa." ujarku sambil tersenyum.
Delvin hanya tersenyum dan langsung memelukku dengan erat. "Aku temenin ya by nanti? Gimana? Boleh kan?" tawarnya. "Jangan, kamu juga udah ada hotel yang harus kamu urus. Aku ga bisa terus-terusan sama kamu okay. Kamu masih ada hotel yang harus diurus. Aku pastiin pas jam istirahatnya, aku bakalan ke hotel kamu. Okay sayang?" ujarku sambil tersenyum.
__ADS_1
Delvin semakin mengeratkan dekapan dan mencium keningku perlahan. "Love you sayang!" ujarnya. "Love you too babe!" ucapku sambil mencium bibirnya.