GAZEL

GAZEL
Menyerah


__ADS_3

Ashana P.O.V


Kicauan burung, dan cahaya matahari yang memasuki kamarku sukses membuatku terbangun. Saat meraba sisi sampingku, terasa sesuatu yang aneh. Aku menatap ke dalam selimut dan menemukan tubuhku yang tidak terbalut kain apapun.


Jika memang semalam bukan mimpi, dimana Delvin?


Aku menatap sekitar dan menemukan secarik kertas dan ada sepuluh lembar uang seratus ribuan. Dengan segera aku melilitkan selimut ke tubuhku dan berjalan untuk mengambil kertas itu.


-On the Paper


Makasih. Gw pamit.


-Delvin


Air mata ku menetes dan akupun memeluk tubuhku. Damn! Apa dia mengira aku seorang pelacur? Apa itu cara dia menganggapku ada?


Apa ini artinya sudah saatnya aku menyerah dan kembali ke kehidupan ku? Sebagai seorang Ashana. Seorang gadis ugh! Ralat! Wanita. Rasanya aku ingin menertawakan kebodohanku. Semoga saja nanti aku bisa mendapatkan suami yang akan menerima keadaan ku.


Dengan segera aku ke kamar mandi dan mulai mandi membersihkan tubuhku.


***


Kaki ku melangkah memasuki rumah sakit. Ini sudah siang dan akupun sudah pulang dari kuliah. Dengan santai, aku memasuki ruangan kedua orangtua ku.

__ADS_1


"Hola ammi, appa! Anak kalian datang. Maaf ya Shana datang nya siang, Shana baru pulang kuliah hehehe. Oh iya, ammi tau ga sih kalau sekarang Shana bisa lho bikin desain gaun. Dan appa, kalau aja Appa sadar pasti appa udah senyum bangga. Shana berhasil lho dapet tender yang besar. Kapan kalian bisa sadar?" ujarku sambil mengelus tangan kedua orangtua ku.


Tok! Tok! Tok!


"Masuk!" ujarku. Pintu ruang rawat terbuka, ada dua anak buah appa dengan keenam sahabat ku. "Dua orang yang masuk. Jangan langsung semua nya. Cuci tangan dulu!" ujarku yang dijawab anggukan mereka.


Bella dan Lucio memasuki ruangan, mereka langsung mencuci tangan di kamar mandi lalu menghampiriku.


"Kata om yang jaga di depan, bonyok lo udah lewatin masa koma nya ya?" tanya Lucio yang hanya ku jawab anggukan. "Na, ada yang mau gw omongin tapi nanti ya di luar." kata Bella yang hanya ku jawab anggukan.


Setelah itu kedua sahabat ku keluar, digantikan dengan dua sahabat ku yang lain. Flora dan Youra masuk ke dalam dan langsung memeluk ku.


"Lo udah makan, Na? Perlu apa? Biar kita yang bawain." kata Flora yang ku jawab anggukan. "Gw ga butuh apa-apa kok girls. Anyway, semalem ada kejadian. Nanti ya gw cerita sama kalian." ujarku yang membuat mereka tersenyum.


"Gw harap bonyok lo bisa cepet sadar." ucap Hiko. "Aamiin. Thanks kalian udah dateng. Oh iya, gw mau nanya tentang Bella ke kalian. Yoyo pernah cerita ga reaksi ksluarga nya gimana pas ngenalin Bella?" tanya ku. "Pernah, reaksi keluarga nya baik kok, Na. Bella sendiri bilang ke Flora kalo mama nya si Yoyo sayang banget sama dia." jawab Arthur yang membuatku lega. "Bagus lah kalo kayak gitu. Gw tenang." ujarku dengan senyuman.


"Na, lo ga mau nanya tentang si Delvin?" tanya Hiko yang membuatku menatapnya. Hiko menghela nafas dan langsung duduk disebelahku. "Dia lagi hancur, Na. Dia bener-bener ngejauh dari semua mantan fwb nya dulu. Kayaknya lo bener-bener ngubah dia." jelas Hiko yang membuatku menghela nafas.


"Gw ga mau terlalu fokus sama dia. Sekarang gw bakal ikutin alur permainan takdir aja. Kalo jodoh ya syukur kalo engga yaudah gapapa." jawabku cuek. "Yaudah kalo gitu. Kita keluar dulu yuk. Tadi Bella bilang ada yang mau di omongin sama lo, Na." kata Arthur. Kami bertiga keluar dari ruang rawat dan akupun duduk didekat Bella yang perut nya mulai membesar.


"Na, jujur sama gw. Lo semalem sama siapa?" tanya Bella yang membuatku terkejut. "Eeuumm sendiri kok. Kenapa emang?" tanya ku balik. "Jujur aja, Na. Lo semalem sama siapa?" tanya Bella yang hanya ku jawab gelengan.


"Mulut lo emang bisa bohong, tapi kissmark di leher lo ga bisa nipu gw, Na. Jujur sama gw! Semalem lo tidur sama siapa?" tanya Bella yang akhirnya membuatku menghela nafas.

__ADS_1


"Delvin." jawab ku singkat.


Keenam sahabat ku langsung mendelikan mata. Lucio tersenyum begitupun dengan Bella. "Jadi kalian udah baikan dong. Syukurlah kalo gitu!" kata Bella yang membuatku tersenyum kecut. "Baikan? Dia anggep gw pelacur, Bel!" ujarku tanpa mau menatap mereka.


Mataku mulai berkaca-kaca mengingat perlakuan Delvin kepada ku tadi pagi. Terlihat ada raut keterkejutan dari keenam sahabat ku ini. Youra langsung memeluk ku dan akupun menangis dipelukannya.


"Bangsat! Gw harus kasih pelajaran buat Delvin!" kata Arthur kesal. Aku langsung menggelengkan kepala ku dan menghapus air mata ku kasar. "Jangan. I'm fine! Gw gapapa!" ujarku yang membuat ketiga sahabat Delvin ini menggelengkan kepalanya. "No you're not! Kita tetep kasih Delvin pelajaran tapi bukan sebagai cowok sahabat lo, Na. Sebagai sahabatnya. Gw ga bisa ngebiarin dia ngelakuin kesalahan kayak gini." kata Lucio. Mereka bertiga langsung pergi sedangkan ketiga sahabat ku memeluk ku.


"Serendah itu ya gw?" ucapku pelan yang membuat mereka menangis kejar.


Beberapa anak buah appa mendatangiku, dia terlihat kebingungan melihat kami menangis. "Nona? Ada apa? Apa ada keperluan?" tanyanya panik. "Tolong beli minuman ya, beli untuk lima belas orang! Ini uang nya." pintaku seraya menyerahkan enam lembar uang seratus ribuan.


Setelah anak buah appa pergi, aku menatap kedua orangtua ku didalam yang masih terbaring dengan alat penunjang kehidupan mereka.


"Na? Kenapa?" tanya Bella yang ku jawab gelengan dan senyuman tipis. "Gw ga kebayang gimana reaksi bonyok ngeliat gw sekarang. Gw sukses ngejalanin perusahaan tapi kehidupan gw juga udah hancur. Ga kebayang mereka pasti kecewa sama gw." kata ku sambil tersenyum kecut.


Aku menatap Bella, perutnya sudah mulai terlihat. Tanganku langsung mengelus perutnya membuat ketiga sahabatku tersenyum. "Keponakan aunty, kamu harus jadi anak pintar ya. Nanti biar aunty ajarin bisnis hahahaha!" ujarku sambil tertawa pelan.


"Bel, jadinya kapan nih kalian nikah?" tanya Flora. "Ya perkiraan sih dua bulan lagi. Kalian tau lah bonyok gw ga mau dateng ke nikahan gw nanti. Mungkin gw dicoret dari KK." Jawab Bella yang membuat kami tersenyum agar menenangkannya. "Gapapa, masih ada kita. Nanti kalo emang bonyok lo ga mau dateng, dan bonyok gw udah sadar semoga aja bisa ngegantiin." ucapku yang membuat Bella tersenyum.


"Lo udah ngidam belom sih Bell?" tanya Youra penasaran. Bella menganggukan kepalanya dan tertawa. "Baru kemaren malem gw ngidam. Yoyo sampe bingung nyarinya. Kalian bayangin aja gw ngidam mah makan bika ambon tapi harus beli dari Medan langsung." kata Bella yang membuat kami tertawa.


"Dan kalian tau? Papa nya Yoyo akhirnya langsung nyuruh anak buahnya beli kesana langsung. Apa ga gila. Gw aja sampe geleng-geleng ngeliat mertua gw sesayang itu sama gw." kata Bella tersenyum lebar.

__ADS_1


"Gw bersyukur sih kalo lo bisa dapet kasih sayang dari bonyok Yoyo. Seenggaknya gw lega." kata Flora yang membuat ku tersenyum.


__ADS_2