GAZEL

GAZEL
Pengakuan


__ADS_3

Ashana P.O.V


Aku kembali duduk di kursi kerja yang ada didalam ruangan ku. Aku menatap ke sekitar dan bayang-bayang Delvin mulai memasuki khayalanku. Aku bisa melihatnya seperti ketika dia masuk ke dalam ruangan dengan bunga di tangannya, dia duduk di sofa sambil meminum kopi, dia tertidur di sofa. Semuanya!


Laptop yang ku pakai tadi mulai kembali ku nyalakan, terlihat ada foto ku dengan Delvin saat berada di Bali. Bibirku tersenyum kecut mengingat saat di foto ini, Delvin bersama seorang Gazel bukanlah Ashana.


Tok! Tok! Tok!


Suara ketukan pintu ruangan sukses membuatku tersadar dari lamunan. "Masuk!" ujar ku santai. Pintu terbuka, masuklah dua sahabat ku serta tiga sahabat Delvin.


"Zel? Lo kenapa? Kok muka lo pucet?" tanya Lucio yang ku jawab gelengan. "Gw gapapa. Gw sengaja manggil kalian kesini. Ada yang mau gw sama dua sahabat gw akuin ke kalian. Duduk dulu aja di sofa." ujarku yang dijawab anggukan kelimanya.


"Jadi apa yang mau kalian bahas?" tanya Arthur. "Gw mau ngaku, nama asli gw Gania Ashana Khan. Gw bukan anak PNS, bokap gw CEO di perusahaan tekstil." ujarku yang membuat tiga sahabat Delvin terkejut.


"Nama gw Flora Xena Smith. Gw anak dari Bryan Smith, kalian pasti kenal bokap gw." kata Flora santai.


"Well nama asli gw Kim Youra. Bokap gw salah satu CEO di bidang transportasi di KorSel." ujar Youra.


"Tunggu! Jadi selama ini kalian pakai nama samaran? Apa jangan-jangan Litta juga nyamar?" tanya Lucio yang ku jawab anggukan.


"Kita gunain nama samaran karna harus ngejaga image keluarga kami. Semoga kalian bisa ngerti. Litta pun juga nama samaran. Nama aslinya Bellanca Kala Laquitta, anak bungsu dari keluarga Laquitta." ujarku.

__ADS_1


"Eeuuumm, Zel? Eh Na maksud gw. Delvin apa udah tau?" tanya Hiko yang ku jawab anggukan. "Sebenernya ini juga karna Delvin tau. Dia udah pergi ninggalin gw sekarang. Makanya gw ga mau sahabat-sahabat gw ngerasain apa yang gw rasain." ujar ku sambil tersenyum.


Ketiga sahabat Delvin mendekat kearahku dengan senyuman, mereka mengelus rambut ku dan tertawa. "Kita bisa ngerti kok. Sahabat kita itu kecewa sama lo, tapi gw yakin pasti dia bakalan balik lagi sama lo. Gw bangga sama lo yang masih mikirin hubungan tiga sahabat lo ini. Thanks ya." Ucap Lucio.


***


Hari sudah larut malam, aku memarkirkan mobil di basement apartment dan segera masuk ke dalam gedung apartment yang ku tinggali. Kaki ku melangkah ke lift dan tanpa menunggu lama, aku pun sudah sampai di lantai tempat ku tinggal.


Kaki ku melangkah ke arah flat, saat pintu terbuka aku bisa merasakan adanya kesunyian didalamnya. Huft! Biasanya saat aku pulang, ada Delvin yang asik nonton TV di ruang tamu tapi TV itu kini masih mati.


Dengan segera, aku menyimpan high heels yang ku pakai ke lemari sepatu. Pandanganku tertuju pada kertas yang ada di atas meja makan, ada tulisan 'Buka Kulkas!' dengan segera, tangan ku membuka pintu kulkas. Didalamnya ada mie ramen dan ayam katsu. Aku hanya bisa terpaku dan mulai mengeluarkan mie ramen itu.


Ting! Ting Tong!!


"Ashana? Dimana pacar kamu?" tanya Om Kumar. "Kami udah ga bareng, Om. Oh iya kenapa om kesini? Apa ada info tentang appa sama ammi?" tanya ku balik yang dijawab senyuman Om Kumar. "Ada, orangtua kamu sudah ditemukan. Om sudah menyuruh anak buah kamu membawa mereka ke rumah sakit JMC. Mereka sudah di tempatkan pada ruang VIP." kata Om Kunar yang membuatku terkejut. Aku langsung mengucapkan syukur atas berita baik ini.


"Tapi ada berita buruk untuk kamu, Shana." kata Om Kumar. "Apa itu om?" tanya ku. "Kedua orangtua kamu dinyatakan koma." jawab Om Kumar yang membuat ku terdiam.


Aku hanya bisa menghela nafas pelan dan tersenyum tipis. "Yaudah om, gapapa. Yang terpenting ammi dan appa sudah ketemu." ujarku yang dijawab anggukan Om Kumar.


"Om tau kamu anak yang kuat. Yasudah, kamu mau ke JMC nya kapan? Sekarang atau nanti?" tanya Om Kumar. "Nanti om, biar Shana sendiri yang kesana." jawabku.

__ADS_1


"Gimana selama kamu mimpin perusahaan? Apa susah?" tanya Om Kumar memastikan. "Enggak kok, Om. Shana udah sering liat appa kerja dari dulu jadinya beberapa pekerjaan bisa kok ditanganin sendiri." jawabku yang membuat Om Kumar tersenyum.


"Yaudah, om mau ada persidangan dulu. Om duluan ya, ini ada sedikit saku buat kamu. Anggep aja hadiah karna kamu berhasil ngejalanin perusahaan appa kamu selama setahun ini." kata Om Kumar memberikan check. Saat aku lihat, mata ku membulat kaget. Buset?! Banyak banget! Beliau memberikan ku check senilai lima ratus juta rupiah. Damn!


"Om? Ini kebanyakan lho." ujarku. Om Kumar tersenyum dan mengelus rambutku. "Bagi om, kamu itu anak om, Shana. Kamu mirip sama almarhumah anak om. Yaudah om duluan, bye!" pamit Om Kumar yang ku jawab anggukan dan melambaikan tangan.


***


Kaki ku melangkah dengan cepat ke rumah sakit yang sudah di infokan oleh Om Kumar. Dengan mengesampingkan masalah ku dengan Delvin, aku pun mulai fokus ke keadaan orangtua ku.


"Permisi, sus? Kalau boleh tau kamar atas sama keluarga Khan dimana ya? Yang baru jadi korban pesawat itu lho." tanya ku detail. "Keluarga khan, ah iya mbak! Ada di kamar VIP 5 lantai tiga." kata resepsionis yang ku jawab anggukan.


Tanpa menunggu lama, aku menelfon ketiga sahabat ku sambil berjalan ke arah lift. Banyak orang yang menatapku dengan berbagai macam tatapan. Sinis, memuja, dan banyak lagi.


"Hallo, Na? Kenapa?" tanya Flora yang baru mengangkat telfon dari ku. "Flo, ke RS JMC ya! Gw tunggu disini." ujarku. "Whoa! Hold on! Ini kenapa tiba-tiba? Lo ngapain kesana, Na? Lo sakit?" tanya Youra. "Orang tua gw udah ketemu. Nih udah di ruang VIP. Makanya kalian dateng ya!" ajak ku. "Iya gw bakal dat-- BELLA! TESTPACK SIAPA INI?" terdengar keributan yang membuat ku terkejut.


Testpack? Ada apa dengan Bella?


"Guys, nanti gw kesana. Bye!" pamit Bella yang dengan cepat mematikan sambungan telfon nya.


"Guys, feeling gw ga enak. Gw perlu ga ya chat si Lucio buat jemput Bella?" tanya Youra. "Boleh, Ra. Feeling gw juga ga enak. Kalian juga ajak aja pasangan kalian okay. Gw tunggu disini." jawabku.

__ADS_1


Setelah lift terbuka, aku mulai berjalan dan melihat ada satu lorong yang dijaga oleh anak buah Appa.


"Selamat datang nona, silahkan! Tuan dan Nyonya Khan ada didalam sini!" kata salah satu dari mereka yang ku jawab anggukan. Orang itu membukakan pintu dan hawa dingin menyentuh kulit ku. Di dalam ruangan ini ada dua tempat tidur dengan ammi dan appa diatas nya. Aku langsung menggenggam tangan kedua orangtua ku yang sudah lama tidak ku temui dan tanpa sadar aku mulai menangis.


__ADS_2