
Ashana P.O.V
"S-s-Shana?" panggil seseorang yang ku tunggu. Mata nya yang mulai mengerjap terbuka, membuat ku merasa terharu dan mulai menangis.
"Ammi!!" ucapku sambil memeluk tangannya. Terlihat ammi mulai membuka lebar matanya dan tersenyum. "Akhirnya ammi bisa kembali lihat putri ammi. Kamu tau sayang? Mendengar suara tanpa bisa melihat kamu itu satu hal yang paling menyakitkan." kata ammi sambil tangannya mengelus pipi untuk menghapus air mataku.
Setelah kesadaran dari dua orangtua ku, banyak hal yang aku ceritakan. Mulai dari cerita saat aku berkuliah, sampai akhirnya aku menceritakan kehidupan ku dalam dunia malam tapi untuk bagian 'kegiatan' dengan Delvin tidak ku ceritakan.
Ammi dan appa saling bertatapan lalu mereka mulai tertawa. "Kalian ga marah?" tanya ku yang dijawab gelengan oleh mereka. "Appa tau kehidupan malam kamu. Dari kamu sering keluar masuk club, sampai kamu membeli flat sendiri di dekat apartment yang appa belikan. Dan soal kamu ke Bali, kamu memang jujur kalau kamu kesana dengan sahabat-sahabat kamu tapi kamu berbohong dengan kami, nak. Kalian pergi dengan laki-laki. Awalnya appa sangat marah tapi ammi menenangkan appa. Bagi ammi, kamu begini karna kamu butuh teman dan appa pun bisa mengerti. Jadi appa sudah memaafkan kamu." kata appa yang membuat ku mendelikan mata.
"M-m-maaf ammi, maaf appa. Shana ga bermaksud buat ngebohongin kalian." ujarku. "Ammi tau sayang. Ammi bersyukur kamu cerita ke kami dari sekarang setidaknya tidak ada hal yang kamu sembunyikan dari kami." kata ammi yang membuatku tenang.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk!" ujarku.
Pintu ruang rawat terbuka, ada anak buah appa masuk ke dalam bersama dua orang dibelakangnya. Saat aku melihat mereka, senyum ku mengembang.
"Nona, ada sahabat anda datang. Silahkan nona Bella!" kata anak buah appa yang ku jawab anggukan.
"Hallo, Bella!" sapa ammi yang membuat sahabat ku ini terkejut. "T-tante? Tante sudah sadar? Syukurlah!" kata Bella seraya memeluk ammi. "Ya, tante sudah sadar. Eeuumm Bella, siapa dia?" tanya Ammi. Lucio tersenyum dan menghampiri kedua orangtua ku.
"Hallo, tuan dan nyonya Khan. Perkenalkan nama saya Lucio. Saya calon suami Bella sekaligus sahabat dari putri anda." ujarnya dengan tangan yang mengelus perut Bella.
__ADS_1
"Saya cukup terkejut melihat perut sahabat anak saya sudah membesar dan kalian belum menikah. Bagaimana bisa?" tanya appa. "Euummm appa, it's a quite complicated. Bella aashana kee tarah hee hai. Antar yah hai ki vah badakismat tha, usaka poorv aaya aur bella ke garbhavatee hone tak unhonne **** kiya. Isake alaava us paagal aadamee ne bela ko gaalee bhee dee. Bella se pyaar karane vaala luciyo usase shaadee karane ke lie raajee ho jaata hai." ujarku menjelaskan ke appa dengan bahasa hindi agar sahabat ku ini tidak tersinggung bila aku membahasnya.
(Hindi: Bella sama seperti Ashana. Bedanya dia terkena sial, mantannya datang dan mereka berhubungan sampai Bella hamil. Selain itu, laki-laki gila itu juga menganiaya Bella. Lucio yang menyayangi Bella setuju untuk menikahinya.)
Appa tersenyum dan mengelus rambutku. "Appa berharap kamu akan selalu bahagia sayang. Baik kalau begitu kalian keluar gih makan dulu! Lucio, tolong ya jaga dua anak gadis om ini. Jaga juga cucu om dan tante. Beliin mereka makan ya!" kata Appa yang membuat ku dan Bella mendelik kaget sedangkan Lucio tertawa dan menganggukan kepalanya.
"Appa? Apa gapapa kalau Shana tinggal?" tanya ku. "Gapapa sayang. Ini memang sudah sore, tapi appa izinin kok. Appa ga mau lihat putri kesayangan appa kurus begini." kata Appa dengan sedikit candaan.
"Nah pas banget tuh om. Shana kan seksi sibuk nikahan kami hehehe. Yaudah kalau gitu, kami duluan ya. Selamat sore!" pamit Lucio.
Sebelum pergi, aku menyempatkan untuk mencium pipi kedua orangtua ku dan memberikan lambaian tangan.
***
Kami memasuki satu restoran yang ada di dekat rumah sakit. Restoran ini menyediakan menu makanan chinese. Lucio memilih meja untuk empat orang di dekat jendela yang memperlihatkan pemandangan gedung-gedung tinggi disini.
"Gw paket nasi ayam hainan. Minum nya lemon tea aja." kata ku sambil mencatat menu pesanan ku. "Sayang, aku mau bebek peking deh. Boleh ga?" tanya Bella meminta izin Lucio yang dijawab anggukan serta senyuman lebar Lucio. "Gapapa dong sayang. Anak aku mau bebek itu berarti. Yaudah aku tulis ya. Minum nya lemon tea juga aja ya!" ujar Lucio.
Aku hanya bisa tersenyum melihat interaksi pasangan dihadapanku ini. Mereka sangat romantis, aku akan berdoa untuk kebahagiaan mereka.
"Kenapa lo senyam-senyum?" tanya Bella yang ku jawab gelengan. "Gw seneng aja liat kalian bahagia kayak sekarang. Huft! Gw harap kalian bakalan terus kayak gini." jawabku yang membuat mereka tertawa. Lucio langsung memeluk serta mencium kening Bella. "She's love of my life." ujarnya.
"Ga berasa ya, Na. Dua bulan lagi gw kawin sama nih cowok." kata Bella. "Iya juga, kalo gitu kapan nih kita fitting? Gw ga sabar mau nyoba gaun bridesmaid!" tanyaku. "Besok deh, kan bonyok lo juga udah sadar kan. Jadi lo udah bisa lebih tenang." jawab Lucio.
__ADS_1
Pelayan datang, Lucio memberikan nota pesanan kami dan setelah pelayan itu pergi, kamipun kembali berbincang.
"Eeuumm, Na?" panggil Lucio. Nada nya terdengar ada keraguan didalamnya. Ada apa?
"Ngapa, Yo?" tanyaku. "Gw tadi minta Delvin kesini. Gapapa kan?" tanya Lucio dengan nada tidak enak. "Gapapa elah ajak aja." jawabku.
Kami mengobrol membahas banyak topik. Mulai dari perkuliahan, pekerjaan ku, sampai ke topik pernikahan kedua sahabatku ini. Dengan sesekali bercanda, kami menunggu makanan yang kami pesan datang. Lucio mengecek ponselnya dan mulai mengedarkan pandangannya lalu dia tersenyum dan mengangkat tangan.
"Delvin!" panggilnya.
Aku menengok dan menahan senyumanku ketika seorang laki-laki yang masih ku sayangi datang. Dengan kaos hitam, celana jeans, dan rambut yang berantakan. Dia berjalan dengan cepat lalu--
Bruk!
Aku merasakan kehangatan yang selama ini ku rindukan. Mataku melirik ke samping kanan dan menatap Delvin yang saat ini sedang memeluk ku.
"S-sorry gw kesandung." katanya yang membuatku mengalihkan pandanganku.
"Ga kesandung juga gapapa kali Vin." ledek Bella yang membuat Lucio tertawa tapi berbeda dengan ku dan Delvin. Kami justru saling mengalihkan pandangan satu sama lain.
"Eh iya, Bel. Tadi lo minta gw kesini kan karna mau bahas resepsi. Jadi mau bahas apa nih?" tanya Delvin mengalihkan topik pembicaraan. "Eh iya! Itu lho, Vin. Kalo boleh gw nanti mau di hotel lo aja resepsinya. Gimana? Kalo boleh ini juga, urusan harga sewa mah omongin aja nih sama laki gw!" kata Bella yang membuat Delvin tertawa.
"Ga usah, anggep aja ini kado buat keponakan gw. Yah bisa dibilang kado pertama." ucap Delvin yang membuatku tersenyum menatap nya.
__ADS_1
Makanan kami datang, aku bingung saat melihat ada dua porsi nasi ayam hainan. Siapa yang memesannya selain ku?
"Yo, ini siapa yang me---" baru saja mau bertanya, Delvin langsung memotong pertanyaanku. "Gw yang mesen." jawabnya singkat.