GAZEL

GAZEL
Boys Plan


__ADS_3

Ashana P.O.V


Aku terbangun dan melihat ada Delvin dihadapan ku yang masih tertidur dengan pulas.


Dengan perlahan, tubuh ku mulai bangun dan mencoba untuk keluar dari kasur. Tiba-tiba genggaman tangan Delvin mengerat. Dia langsung membuka mata dengan senyuman di wajahnya.


"Good Morning babe!" ucapnya. "Morning sayang, sebentar ya aku mau ke kamar mandi dulu." kataku yang dijawab gelengannya. Dia langsung menarik tanganku hingga kami saling bersebelahan. Delvin langsung duduk dan berada diatas ku. Tangannya bertumpu dibantal tempat kepala ku terbaring.


Mata kami saling bertatapan, mata nya menatapku dengan senyuman diwajahnya. "Mau kemana hmm?" tanya nya. "Mau ke kamar mandi. Aku kebelet." ujar ku seraya mengalihkan pandangan.


Bukannya menjauh, dia justru malah mendekatkan wajah nya hingga aku bisa merasakan nafasnya yang menghembus terkena wajahku.


"Dry Hump? Gimana???" tanyanya yang ku jawab gelengan. "Kenapa?" tanyanya lagi. "Lagi kebelet ish! Udah ah dasar mesum!" ujar ku seraya mencubit perut eightpack nya. Delvin kesakitan, akupun langsung tertawa dan berlari ke kamar mandi.


Setelah selesai, aku keluar dan tidak menemukan Delvin dikamar. Kemana dia? Tanpa mau berpikir panjang, aku langsung mengambil baju yang akan ku pakai.


Aku sudah siap dengan baju ungu sebatas bawah dada dengan belahan dadanya yang kebawah dan rok berpotongan di samping kanannya yang terbuka memperlihatkan paha mulus ku. Rok ini hanya menutupi area pinggul sampai mata kaki ku. Tubuhku yang berbentuk Curvy sukses membuat ku terlihat sangat seksi.


"Lah Zel? Kamu pake baju ini?" tanya Delvin yang baru aja masuk ke kamar. "Iyalah. Kenapa emang sayang?" tanya ku balik. "Gapapa, cantik." jawabnya yang membuatku tersenyum.


Dia memeluk ku dan---


Cup!!


"Delvin!!" sentak ku kaget saat Delvin mencium leher ku. Aku merasakan nyeri di salah satu titik leher.


Delvin merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur berkelambu. Aku pun menghampirinya dan merebahkan tubuhku disebelahnya.


"Vin, gw mau nanya boleh??" ucapku. "Aku." tekan Delvin yang membuatku tersadar dan menganggukan kepala ku. "Iya, aku mau nanya. Boleh gak?" tanya ku. "Boleh dong sayang." jawabnya seraya mengelus rambutku.


"Kamu kenapa sih suka fwb an?" tanya ku yang membuat Delvin tertawa. "Kamu udah aku ceritain kan tentang keluarga aku?" tanyanya. "Udah." jawabku singkat. "Semuanya berawal dari sana. Mama sama papa cerai, ga ada yang mau ngerawat aku. Papa ngasih aku hotel yang saat itu udah mau bangkrut. Di usia aku yang masih remaja saat itu, aku dipaksa buat mimpin hotel. Putar otak, cari cara supaya bisa narik konsumen. Aku juga akhirnya tau kalau yang pertama kali berencana cerai itu mama. Sejak itu juga, aku jadi dendam sama semua perempuan." kata Delvin.


"Terus apa bedanya aku sama perempuan yang sebelumnya sama kamu?" tanya ku. "Beda. Kamu itu beda. Kamu itu tipe cewek yang susah didapetin. Kamu mahal, cantik, pinter juga. Jujur aja, aku jatuh cinta sama kamu sejak kejadian kita pertama kali. Tatapan kamu, udah bikin aku tertarik dari awal." kata Delvin.


Aku langsung duduk dan menimpa tubuh Delvin. "Aku berat gak?" tanya ku yang dijawab gelengannya. "Ga berat kok sayang." jawabnya. Aku tersenyum dan langsung memeluk Delvin.

__ADS_1


"Kalo kamu kenapa? Kok mau fwb an??" tanya Delvin. "Aku lahir dari keluarga blasteran. Ammi aku orang Indonesia dan Appa berdarah India. Dari kecil, aku bisa dibilang kurang perhatian dari mereka. Memang mereka selalu sama aku tapi saat mereka dinas, aku bahkan dilupain. Sejak itu aku nyaman sama dunia aku sendiri. Mereka cuman tau aku anak baik walau mungkin mereka kecewa kalau tau aku begini." kata ku seraya tersenyum.


Delvin mencium keningku dan memeluk ku dengan erat. "Enggak. Kenapa mereka harus kecewa? Kamu itu perempuan terbaik yang aku temuin." kata Delvin seraya mencium keningku.


"Kalau ternyata ada kebohongan dalem diri aku gimana by?" tanya ku. "Ga mungkin. Aku percaya sepenuhnya sama kamu." kata Delvin yang membuat ku merasa keretakan didalam hati. Bagaimana bisa aku menghancurkan kepercayaannya?


***


"Hari ini mau kemana?" tanya ku seraya memakan nasi goreng yang disediakan oleh pihak villa. "Disini aja deh gw mau manja-manja sama Yuki." jawab Hiko seraya mencium pundak Yuki yang terbuka.


"Nanti malem clubing gimana??" tanya Delvin yang membuat keenam sahabat kami menatapku. "Zel, lo masih ngebolehin??" tanya Arthur. "Ya iyalah emangnya kenapa??" tanya ku balik. "Euummm gapapa sih tapi lo emangnya ga mau gitu ngelarang? Kan disana pasti banyak cewek yang begitu." kata Lucio yang membuatku tertawa.


"Dia aneh-aneh mah gw potong tuh batang." kata ku seraya tertawa yang membuat mereka menatapku dengan tatapan tegang yang menambah kencangnya tawa ku.


"Kok lo psikotes." kata Hiko. "Psikopat anjir!" kata Delvin dengan senyumannya. "Tapi gw rasa Delvin ga bakal aneh-aneh sih. Dia nya aja udah kesemsem sama si Gazel." kata Flora yang dijawab anggukan Delvin. "Of course, dia hidup gw." kata nya yang membuat ku merasa kelu untuk menjawabnya.


'Inget ya Na! Ini cuman buat Gazel. Bukan buat Ashana!!' batin ku yang mulai menangis walaupun batin ku sendiri yang mengatakannya.


Ada yang bilang menangis memang tidak salah karna dengan memendam tangisan bisa membuat hati seseorang menjadi batu. Tapi apa aku bisa menangis dan memberitahukan semua nya? Bahkan saat inipun aku bisa membayangkan wajah kekecewaan dari Delvin jika dia mengetahui identitasku.


"Kenapa sayang?" tanya ku dengan senyuman. "Nanti mau ikut gak ke club? Sahabat-sahabat kamu malah ga mau katanya mager. Kamu mau ikut gak?" tanya Delvin. "Kalo mereka ga ikut, aku juga ya sayang. Kalian aja." jawabku yang membuat Delvin tersenyum dan mencium keningku.


"Oh my god! Pagi-pagi kita malah jadi korban kebucinan mereka." kata Bella yang membuat ku menatapnya. "Makanya resmiin dong minta ke Yoyo!" kata Delvin songong. "Dih songong amat laki lo Zel!" kata Bella dengan senyumannya. "Tau nih bukan laki gw kayaknya." jawabku seraya mencium bibir Delvin.


"Yeuh! Bukan laki nya tapi kok disosor. Dodol dasar sahabat kamu by!" kata Lucio. "Bilang aja ngiri." kata Arthur. "Jomblo diem deh." kata Yoyo yang membuat kami semua tertawa.


"Yaudah kalian clubing nya malem kan? Sekarang mah kita balik ke kamar aja. Bebas deh mau molor lagi juga boleh." kata Youra. "Bilang aja lo mau HS sama si Hiko. Yuk lah, Ta! Kita molor lagi aja." kata Lucio. "Molor apa Molor." goda Delvin yang membuat wajah mereka berdua memerah.


"Sayang, berenang yuk!" ajak ku. "Ide bagus. Ayo lah!" kata Delvin dengan antusias.


Kami langsung kembali ke kamar dan mengganti pakaian kami untuk berenang. Sesekali kami mengobrol, Delvin pun menggoda ku hingga aku terpaksa memilih menenggelamkan kepala ku dan menahan nafas.


Tiba-tiba aku merasakan betisku sangat sakit. Kram! Aku kram!! Semua konsentrasi ku buyar, air mulai masuk ke dalam hidungku. Mata ku yang terbuka terasa sangat perih.


Delvin dengan sigap mengangkat tubuhku sampai aku bisa kembali bernafas. Aku langsung menepuk dadaku untuk mengeluarkan air yang masuk.

__ADS_1


"Zel? Gazel? Are you okay?? Babe???" panggilnya yang ku jawab anggukan perlahan.


Dia langsung menolongku untuk meregangkan kaki. Sesekali dia mengelus rambut ku juga.


"Gimana? Masih sakit gak?" tanya Delvin yang ku jawab gelengan. Dia langsung memeluk ku dengan erat. "Hampir aja gw kehilangan lo, Zel!" kata nya dengan mengelus punggungku.


Kamipun memilih menyudahi renang kami. Delvin menggendongku dan kamipun mandi bersama.


***


Jarum pendek di jam sudah menunjukan angka enam dan jarum panjangnya ke angka tujuh. Artinya ini sudah jam setengah tujuh malam. Aku menatap Delvin yang masih memakai pakaiannya. Sesekali dia menatapku dengan senyuman.


"Ayang! Ayo lah yang ikut dong!!" ajak nya.


Dari tadi dia emang ngebujuk aku untuk ikut ke club. Tapi aku selalu menolak karna sahabat-sahabat aku pun ga ikut.


"Udah aku ga usah ikut. Saat nya kamu barengan sama sahabat-sahabat kamu. Aku mau kumpul sama sahabat aku juga kok sayang." jawabku dengan senyuman.


"Ish! Tau gitu lain kali kita kesininya berdua aja deh. Aku mau nya kan berduaan sama kamu." kata Delvin seraya memeluk ku erat.


"Manja nih anak satu. Woy inget udah tua!" ledek ku yang membuatnya gemas dan langsung mencium bibir ku dengan senyuman.


Saat dia sudah siap, dia langsung mencium kening dan menggenggam tangan ku. "Ke resepsionis yuk. Sahabat-sahabat kita udah nunggu disana!" ajaknya.


Kami berduapun ke resepsionis. Menaiki tangga seraya berpegangan tangan dengan senter yang menjadi sumber pencahayaan kami.


Didepan rumah joglo aku bisa melihat sahabat-sahabat kami yang sudah siap. Flo, Bella, dan Youra masih dengan baju tidurnya duduk di kursi teras rumah joglo.


"Yo, girls!" sapa ku. "Akhirnya bu rt dateng. Kita kumpul dikamar lo aja ya Zel." kata Flo. "Nah bagus tuh. Kalian kumpul aja di kamarnya Gazel. Nanti pas kita-kita balik, langsung jemput kalian." kata Hiko.


"Yaudah cabut sekarang ga nih? Kita ke club di Seminyak aja kali ya atau mau Kuta??" tanya Delvin. "Bebas sih. Ke Seminyak boleh juga." jawab Arthur. "Yaudah yuk!" ajak Lucio seraya memberikan satu kunci mobil ke Delvin.


Delvin langsung menghampiriku dengan senyuman. "Aku pergi dulu ya nanti kalo mau makan gofood aja atau pesen ke hotel." ujar Delvin yang ku jawab anggukan. Kamipun berpelukan dan aku mencium pipinya.


"Have fun babe!" ujar ku. "Love you sayang." katanya. "Love you too." ucapku dengan senyuman.

__ADS_1


__ADS_2