
Mendengar ucapan Valerie tadi, membuat seisi ruangan menjadi bungkam. Anna sendiri hanya menundukkan kepalanya, sedangkan Naomi? dia nampak menatap kesal pada Valerie yang tak habis-habisnya mencari masalah dengan dirinya.
"Baiklah, rapat kali ini sudah selesai. Sayang, bisakah kau menukar mereka? maksud ku, untuk kerja sama kali ini biarkan Anna yang menyelesaikan nya." Pinta Valerie pada Jackson dengan lembut.
"Tentu, lakukan apapun yang membuat mu senang." Angguk Jackson dengan tersenyum kecil.
"Terimakasih, kalian sudah dengar bukan? apakah ada yang tidak setuju mengenai hal ini?" Tanya Valerie dengan menatap mereka semua yang nampak diam dan tak berani bersuara.
"Saya, apa maksud anda mempermalukan saya seperti ini? apa karena saya pernah dekat dengan Jackson?!" Marah Naomi yang justru malah membuat Valerie mengeryit heran sebelum akhirnya terkekeh geli.
"Dekat? kau pernah dekat dengan kekasi...Ahh maksud ku calon suamiku ini? bagaimana bisa aku merasa marah? toh semuanya juga dapat melihat, mana yang lebih unggul di antara kita. Dan lagi, kau dan aku sangat jauh berbeda. Sebaiknya kau berkaca sebelum berbicara, nona." Sinis Valerie yang sifatnya memang seperti itu, mereka sudah tidak heran dengan kesombongan Valerie.
Diam, Naomi diam dengan beribu kata yang ia pendam. Apa yang Valerie katakan sudah merendahkannya begitu dalam, dia tidak bisa berbicara lagi karena apa yang di katakan olehnya memang benar adanya.
"Dan ya, satu lagi. Berhentilah merengek pada mertuaku agar kau bisa tinggal di kediaman utama Bryon, aku rasa kau masih punya malu untuk tidak melakukan hal itu." Ucap Valerie lagi sebelum akhirnya bangkit dari sana dan berjalan pergi dari sana.
Noah yang melihat itu segera pergi dan mengejar sosok Valerie yang sudah pergi jauh, untuk Jackson sendiri dia tidak mengeluarkan sepatah katapun karena baginya itu bukan hal yang harus membuatnya turun tangan.
"Dimana Valerie?" Tanya Jackson pada resepsionisnya.
"Nona Valerie baru saja pergi dengan tuan Noah." Balas mereka dengan menunduk.
"....."
Jackson merasa bingung, apa yang membuat Valerie mendiaminya? bukankah mereka seharusnya baik-baik saja? lalu sekarang, dia sungguh merasa sangat sulit untuk menebak isi hati Valerie.
"Tuan, nona Valerie pergi ke luar kota. Dia akan bertemu seseorang..." Ucap Roger yang mendapatkan info dari Noah.
"Luar kota? siapa orang itu?" Tanya Jackson dengan ekspresi yang buruk.
"Dia tuan Gabriel, mereka pergi bersama ke sebuah tempat yang tidak bisa di katakan oleh Noah." Jelas Roger.
__ADS_1
"Sialan!" Marah Jackson yang ikut pergi dari kantornya.
Jackson berfikir, kenapa Valerie melakukan itu semua padahal 2 hari lagi mereka akan menikah? dan hanya tersisa satu hari untuk mereka bisa hidup bersama.
Tapi yang sebenarnya terjadi, Valerie dan Gabriel sudah berjanji untuk pergi ke makan orang tua mereka yang memang ada di luar kota.
Valerie menatap makam mewah yang ada di depannya, terlihat bersih dan terawat. Begitu pun dengan Gabriel yang berada tak jauh darinya dengan dua makam yang ada di hadapannya, terlihat sosok Gabriel yang hanya menundukkan kepalanya disana.
"Mah, Valerie akan menikah lusa. Apakah mama senang? seharusnya mama senang karena laki-laki yang akan menikah denganku ialah laki-laki pilihan mama dulu, tapi sekarang Valerie tidak membawanya kemari karena mungkin dia sedang sibuk di kantor. Apa mama tahu? bagaimana keadaan Ayah sekarang? Ayah selalu berpergian jauh dengan alasan menemui teman-temannya, tapi nyatanya tidak seperti itu. Ayah selalu mencari tempat sepi untuk menangis karena Valerie, Valerie tidak tahu apa yang harus Valerie lakukan sekarang. Ayah sudah menjadi sosok laki-laki yang begitu hebat bagi Valerie, bahkan Valerie sudah menyuruh Ayah untuk menikah lagi karena takut Ayah kesepian. Tapi, nampaknya Ayah begitu mencintai mama, doakan Valerie juga mah agar Jackson bisa seperti Ayah yang tak ada habisnya mencintai mama." Ucap Valerie dengan tersenyum lebar, air matanya sudah mengalir deras di pipinya.
Tiba-tiba saja ada seseorang yang menepuk pundaknya dan itu adalah Gabriel, Valerie tak segan lagi untuk memeluk Gabriel yang selalu menjadi pelukan hangat untuknya selain sang Ayah.
"Ayo pulang, ini sudah larut." Ajak Gabriel karena langit sudah mulai gelap, terlebih mereka juga lumayan jauh untuk pulang.
"Hmm.." Angguk Valerie.
"Paman, bibi aku pamit. Doakan untuk putra kalian agar segera menikah...." Ucap Valerie pada dua makam yang berada di samping makam mama nya.
Mereka segera kembali ke mobil dan pergi dari area pemakaman umum tersebut, di dalam perjalanan keduanya hanya diam karena sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Valerie tahu bahwa saat ini Jackson pasti sedang mencarinya, karena itulah dia sengaja mematikan ponselnya dan dia tidak pergi ke apartemen melainkan pergi ke mansion utama milik keluarganya.
Di sana sudah ada Ayahnya yang nampak duduk tenang di dekat kolam ikan, dengan cepat Valerie segera berlari kecil dan memeluk ayahnya dari belakang serta mengecup pipinya.
"Ayah, aku merindukanmu." Senang Valerie.
"Hmm..." Santainya.
"Ayahhhhhhh...." Kesal Valerie dengan cemberut, dia menatap Ayahnya yang hanya diam.
"Sudahlah, segera istirahat. Tubuh mu bau makam..."
__ADS_1
".....Ayah tahu?" Kaget Valerie.
"Gabriel yang mengatakannya." Santainya yang lagi-lagi membuat Valerie mendecak kesal, kenapa dia harus memilih Ayah yang sangat menyebalkan seperti ini?
Karena kesal, Valerie memilih untuk pergi kedalam kamarnya. Valerie ingin mandi karena hari sudah gelap, sepanjang langkah nya Valerie nampak heran karena pelayannya nampak sibuk memasak. Biasanya, meskipun mereka memasak itu tidak lah banyak dan repot seperti ini.
Namun Valerie tak ingin ambil pusing, dia segera membuka pintu kamarnya dan langsung masuk. Valerie menatap ruang kamarnya yang begitu luas dan rapih, dengan langkah yang gontai Valerie merebahkan tubuhnya di atas sofa yang tersedia dekat balkon kamarnya.
"Lelah sekali...." Gumam Valerie.
"Apa perlu aku memijat mu, nona?"
Valerie tersentak saat melihat sosok Jackson yang baru saja keluar dari kamar mandi dan hanya menggunakan handuk saja di pinggangnya, dada bidangnya terlihat begitu jelas dan itu sangatlah seksi. Valerie sangat menyukainya....
"Kenapa kau ada disini?" Heran Valerie yang menatap Jackson penuh keheranan.
"Memangnya salah jika aku ke rumah calon istriku sendiri?" Heran Jackson yang melangkahkan kakinya untuk mendekati Valerie yang saat itu juga dapat mencium langsung wangi tubuh Jackson.
"Tidak..." Jawab Valerie.
Pantas saja para pelayan nampak sibuk, apakah mereka menyambut kedatangan Jackson? jika iya, itu sangatlah berlebihan hanya karena ada Jackson saja disini.
"Valerie, apa kau senang bisa keluar dengannya?" Tanya Jackson dengan memegang pipi Valerie lembut.
"Siapa? Gabriel?" Heran Valerie.
"Menurut mu?"
"Aku dan dia hanya pergi untuk melHmffffff..." Ucapan Valerie langsung di bungkam oleh bibir Jackson yang nampak tak senang jika Valerie menyebutkan nama laki-laki lain di mulutnya.
Jackson mengangkat tubuh Valerie hingga duduk di atas pahanya, tangan Valerie ia letakan di dada Jackson yang begitu keras dan dia begitu menyukainya.
__ADS_1