Gelora nafsu sang MILYADER

Gelora nafsu sang MILYADER
Jack dan Iel


__ADS_3

Valerie dan Shia ternyata memiliki umur yang sama, namun Shia masih kuliah dengan jurusan seni. Sepertinya Shia sangat menyukai bermain piano, terlihat dari caranya berbicara dan bergerak sangatlah anggun. Tidak seperti dirinya...


"Shia, apa kau sudah lama mengenalnya?" Tanya Valerie penasaran, kapan lagi dia bertanya-tanya tentang sepupunya yang menurutnya kaku itu.


"Itu, sudah lama. Saat musim semi dulu, kami tidak sengaja bertemu di acara seminar. Kebetulan, aku yang bermain piano disana dan Iel donatur tetap disana." Jelas Shia dengan lembut.


"Oh astaga, kau menggemaskan sekali...." Gemas Valerie, dia ingin sekali mencabik-cabik Shia karena lucu dan cantik.


"Itu, aku.... Apakah Iel tidak memiliki wanita lain?" Tanyanya dengan menundukkan kepalanya dan tangan yang tidak bisa diam, sepertinya gugup dan malu.


"Hah, kau tahu? dulu aku berfikir bahwa dia impoten, karena sejak aku mengenalnya dia tidak pernah memiliki satu wanita pun. Karena itulah aku sangat terkejut saat dia memperkenalkan mu sebagai pacarnya, kau tidak di ancam kan?" Penasaran Valerie.


"T-tidak, itu... Iel juga sudah menjelaskan semua tentang mu, termasuk acara pernikahan mu kemarin. Aku..."


"Kemana kau? kenapa tidak datang? apa jangan-jangan kak Iel tidak memberitahunya? jujur saja tidak apa-apa..." Potong Valerie yang terlihat begitu semangat.


"T-tidak, Iel jutsru memberitahu ku namun aku tidak bisa datang karena aku ada acara yang tidak bisa di tunda." Jelasnya.


"Baguslah, aku pikir dia enggan memperkenalkan mu pada kami. Apa kau sudah bertemu dengan ayahku?" Penasaran Valerie, dia masih banyak pertanyaan yang harus ia tanyakan pada Shia.


"S-sudah..." Angguk nya.


"Bagaimana? ayahku baik kan??" Senang Valerie.


"I-iya, kalian sangat baik." Angguk nya.


"Oh ayolah Shia, jangan terlalu gugup oke? anggap kita teman lama yang sudah kenal, ahh tidak... Kau bisa menganggap ku saudara mulai sekarang." Ucap Valerie.


"Baik..." Angguk nya pelan.

__ADS_1


Obrolan Valerie dan Shia terlihat seru dan asik, lebih tepatnya Shia seperti penjahat yang di interogasi oleh Valerie. Jackson dan Gabriel melihat mereka berdua dari lantai atas, keduanya sedang berbincang serius mengenai bisnis mereka.


"Jadi, semuanya sudah siap bukan?" Tanya Jackson pada Gabriel.


"Tentu, anda harus melihatnya secara langsung nanti. Sekalian ajak Valerie juga untuk berlibur kesana..." Angguk Gabriel.


"Aku tahu." Santai Jackson.


"Ngomong-ngomong, aku akan berbincang sebagai saudaranya Valerie. Bukan sebagai rekan mu, jadi kau jangan salah mengartikan bahwa aku tidak sopan." Tegas Gabriel.


"Aku tahu, mari kakak sepupu." Senyum Jackson dengan penuh cibiran, hal itu membuat Gabriel mendengus kesal namun dia tidak bisa berbuat apapun.


"Jangan bertele-tele, aku tidak ingin bahaya menimpa Valerie. Paman sudah tahu bahwa kau memiliki bisnis di pasar gelap, apa kau bisa menjamin keselamatan Valerie?" Tanya Gabriel dengan serius.


Jackson nampak santai, dia justru malah menghidupkan rokoknya sebelum akhirnya menghisapnya hingga membuat asap mengepul di udara.


"Tanpa perlu kau katakan pun aku akan menjaga Valerie dengan nyawaku sendiri, mengenai Ayah mertua... Aku sudah menjelaskannya." Jelas Jackson dengan tenang.


"Ahh, berita itu. Ternyata sudah tersebar luas ya sampai sampai tuan Gabriel sendiri pun tahu bagaimana keadaan pasar gelap yang tertutup itu..." Sinis Jackson yang membuat Gabriel terdiam, dia lupa bahwa Jackson adalah pemimpin pasar gelap.


"Aku, aku hanya mendengar dari beberapa orang saja." Elak Gabriel yang justru malah membuat Jackson tertawa kecil.


"Kau sangat lucu, kakak sepupu." Senyum Jackson yang masih terlihat tenang.


Gabriel mengepalkan tangannya kuat-kuat, dia memalingkan wajahnya ke arah samping karena bagaimana pun dia menyembunyikan rahasia nya maka Jackson akan dengan mudah mengetahuinya.


"Baiklah, sepertinya kau sudah tahu mengenai identitas ku di pasar gelap. Lalu, apa yang akan kau lakukan kedepannya?" Tanya Gabriel dengan tajam.


Sepertinya obrolan mereka sudah mulai serius karena Jackson sendiri pun sudah mematikan rokoknya dan mulai menatap Gabriel penuh ejekan.

__ADS_1


"Kedepannya? tidak banyak, mungkin aku akan menyingkirkan hama seperti mu. Dan membuat keadaan menjadi tenang seperti biasanya...." Santai Jackson.


"Kau!!!" Geram Gabriel dengan mengepalkan tangannya.


"Kau pikir, karena apa pasar gelap jadi berantakan hah? itu semua karena kudeta yang di lakukan oleh orang-orang mu yang bodoh!!kau ingin mengambil alih pasar gelap hmm??" Tanya Jackson dengan sinis dan sorot mata yang tajam.


"Itu...." Gabriel hanya diam dengan menundukkan kepalanya.


"Cih!! jika kau ingin, kau bisa mengatakannya padaku. Bukankah kau ingin menjadi pemimpin pasar gelap karena belum mendapatkan restu dari orang tua kekasih mu itu? dengan menjadi pemimpin, mereka akan merestui hubungan mu bukan?" Santai Jackson yang lagi-lagi membuat Gabriel terdiam dengan ekspresi datar.


"Aku akan memberi mu peringatan, anggap saja ini peringatan yang di berikan oleh saudara sepupu ipar mu. Lebih baik, kau tinggalkan wanita itu. Keluarga mereka tidak baik, kedepannya akan banyak korban dan masalah yang timbul." Tegas Jackson dengan serius, dia menepuk pundak Gabriel dengan pelan.


"Aku tidak bisa, aku mencintai nya...." Jujur Gabriel dengan menatap ke arah Jackson.


"Kalau kau bersikeras untuk itu, aku bisa memberikan posisiku sebagai hadiah persaudaraan kita. Tapi, aku akan mengajukan beberapa syarat rahasia untukmu. Itu semua, demi kebaikan kita kedepannya. Bagaimana?" Tanya Jackson dengan yakin.


"Kau yakin?" Tanya Gabriel yang tidak percaya bahwa Jackson akan bermurah hati seperti ini.


"Tentu saja, aku sudah memiliki keluarga dan akan menjadi seorang ayah. Aku tidak mau berurusan dengan hal itu lagi, tapi meskipun begitu.... Aku tidak berdaya jika suatu saat nanti anakku akan kembali terlibat."


"Aku mengerti, tapi aku harap. Kau dapat membantuku semampu yang kau bisa, Jack!" Ucap Gabriel dengan menatap Jackson penuh harap.


Jackson tersenyum, dia mengerti apa yang di rasakan Gabriel. Semuanya akan di lakukan meskipun nyawa taruhannya, karena hal itu bisa luluh karena cinta.


Entah akhir yang baik ataupun buruk, yang jelas Jackson akan membantu Gabriel semampunya. Jika Jackson bisa memilih, mungkin dia akan membuat Gabriel hidup bahagia dengan wanita pilihannya.


Tapi semua itu tergantung takdir dan nasib, semuanya bisa di rubah kecuali kedua hal tersebut.


"Malam ini, ikut aku ke ruangan rahasia. Di sana, ada beberapa orangku yang berjaga di pasar gelap. Aku akan memperkenalkan mu pada mereka..." Ucap Jackson.

__ADS_1


"Baiklah, terimakasih Jack." Senang Gabriel.


"Tentu, tapi... apakah hal ini, mau kau rahasia kan pada Valerie? aku rasa, Valerie akan mengamuk jika tahu kebenarannya."


__ADS_2