
Pagi hari Valerie di buat heran dengan Jackson yang terlihat pergi dengan terburu-buru, Valerie hendak bertanya namun Jackson malah mencium bibirnya dan tersenyum kecil.
"Aku akan pergi sebentar, kau jangan kemana-mana. Tetap berada di lingkungan para pengawal, setelah pulang nanti aku akan menjelaskannya." Ucap Jackson yang memakai kemeja nya dengan asal.
Rambutnya yang berantakan, kemeja yang berantakan serta bercak kemerahan di sekitar leher dan dadanya membuat Valerie mendecak kagum. Bagaimana bisa dia memiliki suami setampan Jackson? dan lagi, Valerie lupa hendak memberitahu Jackson untuk menutupi tanda tersebut namun Jackson sudah pergi lebih dulu.
"Astaga, dia benar-benar!!" Valerie hanya menggelengkan kepalanya saja dan segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Valerie menatap cermin besar di hadapannya yang memantulkan sosok dirinya, Valerie tak memakai sehelai benang pun pakaian di tubuhnya.
"Masih rata....." Gumam Valerie dengan mengelus perutnya, ada rasa tersebut di hatinya saat dia mengelus perutnya.
Tok tok tok tok
Valerie mengeryit heran, dengan cepat Valerie mengambil kimono handuknya dan segera memakai nya sebelum akhirnya melihat siapa yang datang ke kamarnya di saat Jackson tidak ada disana.
"Anna?" Heran Valerie.
"Anu, itu... Tuan Jackson menyuruh saya datang kemari." Balas Anna yang masih terlihat gugup.
"Ahh begitu, ayo masuk." Senyum Valerie.
"Kau baru mau mandi?" Selidik Anna yang melihat ranjang berantakan, wajah Anna memerah saat melihat pakaian dalam Jackson dan Valerie bertebaran dimana-mana.
"Itu, maaf. Ini belum aku bereskan, tunggu sebentar lagi mungkin para pelayan akan datang." Malu Valerie juga.
"Tidak apa-apa..." Tunduk Anna, bagi wanita lajang sepertinya hal tersebut sangat membuatnya malu.
"Apa yang lainnya masih ada di bawah?" Tanya Valerie.
"Ya, mereka nampak menikmati pelayanan disini. Dan lagi, ini hari terakhir karena kami sore akan pulang." Jelasnya.
"Aku pun sama, sore nanti akan pulang. Terlalu banyak pekerjaan yang tertunda..." Ucap Valerie dengan mengeluh.
"Bukankah ada sekertaris Noah yang selalu bergadang?" Celetuk Anna tanpa sadar.
"......Kau? tertarik pada Noah?" Goda Valerie dengan menatap Anna yang nampak kelabakan.
"T-tidak, aku... Itu....." Gugup Anna dengan wajah yang memerah.
Valerie yang melihat itu langsung tertawa terbahak-bahak, dia sangat suka melihat ekspresi Anna yang sedang malu. Terlihat imut dan menggemaskan...
"Sachi!!!" Rengek Anna agar Valerie tidak lagi menggodanya.
"Baiklah baiklah, jadi.... Sudah sejauh mana hubungan kalian?" Tanya Valerie lagi dengan mengedipkan sebelah matanya.
__ADS_1
"Kau!! Akhhh sudahlah...." Cemberut Anna yang lagi-lagi membuat Valerie tertawa.
Tok tok tok tok
"Nona, saya datang untuk membersihkan kamar anda." Ucap para pelayan yang datang dengan membawa beberapa alat.
Valerie mengeryit, sebelum akhirnya tersenyum.
Masuklah 6 orang wanita yang semuanya memakai masker, Anna sedikit heran karena Valerie mengambil ponselnya dan mengetik sesuatu di sana dengan santai.
"Sachi, ada ap..." Anna langsung terdiam saat Valerie mengangkat jari telunjuk nya dan menyimpannya di bibir.
"Kenapa kalian terlambat datang?" Tanya Valerie dengan santai.
"Maaf nona, kami pikir anda masih tidur." Balas salah satu dari mereka dengan menundukkan kepalanya, mereka tak berani menatap kearah Valerie.
"Hmm begitu, apakah kalian sudah lama bekerja di kapal ini?" Tanya Valerie.
"Sudah nona."
"Seharusnya kalian sudah tahu bahwa kapal ini sudah menjadi milikku." Tegas Valerie.
"Kami sudah mengetahuinya nona."
Hingga akhirnya, banyak para pengawal yang datang dengan senjata di tangannya. Para pengawal itu langsung mengepung para pelayan yang tadi.
Anna yang melihat itu langsung terkejut dan nampak ketakutan karena banyak sekali senjata yang di keluarkan, hingga akhirnya salah satu dari mereka menangkap Anna yang memang berada didekatnya.
"Jangan mendekat! atau wanita ini akan kami bunuh!" Tegas mereka.
"Sachi...." Takut Anna dengan keringat yang mengalir di wajahnya, wajahnya nampak pucat dan berbeda.
"Menjengkelkan!" Geram Valerie yang langsung memukul pundak mereka dan menendangnya setelah Anna terbebas.
"Kalian membuat acara mandi ku hancur! seret mereka dan katakan pada Jackson bahwa aku sangat kesal!" Ucap Valerie.
"Baik nyonya." Patuh mereka yang langsung menyeret ke enam pelayan itu.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Valerie yang membantu Anna untuk bangun dan mendudukkan nya di kursi.
"Aku baik-baik saja..." Balasnya dengan menerima air yang Valerie berikan.
"Apakah kau bisa merahasiakan semua ini dari mereka semua?" Pinta Valerie.
"Tentu." Balas Anna tanpa bertanya sedikitpun.
__ADS_1
"Terimakasih." Senyum Valerie.
Setelah itu, para pelayan yang asli baru datang. Mereka menundukkan kepalanya pada Valerie sebelum akhirnya membersihkan ruangan tersebut dengan tenang.
"Nyonya, sepertinya nona Naomi membuat masalah." Ucap salah satu pelayan itu pada Valerie, pelayan itu merupakan pelayan yang di bawa dari kediaman Valerie sendiri.
"Benarkah? masalah apa itu?" Penasaran Valerie dengan berjalan ke arah kamar mandi yang di ikuti oleh beberapa pelayan juga yang akan membantunya membersihkan diri.
"Itu..."
"Dia membuat kekasih tuan Gabriel terluka, hingga kondisinya kritis sekarang." Balas Anna dengan santai, Anna menatap Valerie yang sedang berendam di bathtub yang di bantu oleh para pelayan.
"Kritis?" Kaget Valerie yang menatap Anna.
"Hmm..." Angguk Anna.
"Anna, sepertinya kau harus jadi asisten keduaku." Senyum Valerie.
"Ehh apa?" Kaget Anna namun Valerie hanya tersenyum kecil, dia rasa Anna sangat cocok untuk di jadikan rekan gibah hahahaa....
••••
"Gabriel, kau sudah menyetujui syarat ku bukan?" Tanya Jackson dengan datar.
"Iya." Angguk Gabriel.
Jackson mengajukan syarat pada Gabriel untuk tidak merespon kekasihnya, bahkan Gabriel juga mengetahui bahwa saat ini kondisi Shia kritis namun dia tidak bisa berbuat apapun karena dia sudah percaya pada Jackson.
"Kau ingin lihat bukan, apakah dia cocok atau tidak untukmu? kau akan segera mengetahuinya setelah kau menggantikan aku." Ucap Jackson.
"Aku mengerti." Angguk Gabriel.
Sebenarnya, Gabriel tidak sepenuhnya menyukai Shia. Gabriel hanya merasa penasaran dan dia juga ingin mengambil pusaka keluarga Shia yang sangat berharga itu, bukannya apa-apa... Tapi Gabriel ingin memiliki kekuasaan di Korea, karena itulah dia berusaha mendekati Shia.
"Baguslah, aku akan memberimu tugas pertama. Aku dengar, para pemberontak ini membuat istriku kesal. Kau tahu bukan apa yang harus kau lakukan?" Ucap Jackson dengan tenang.
"Baik." Angguk Gabriel.
Sepertinya mulai sekarang Jackson memiliki robot utama yang akan menuruti perintahnya, bukannya apa-apa tapi Gabriel memang memiliki watak yang seperti itu. Karena itulah, Valerie menyuruh Jackson untuk mengambil kepercayaan Gabriel, karena Valerie tahu bagaimana bahaya nya Gabriel jika sedang berulah.
"Bos..." Sapa mereka pada Jackson.
"Ikuti dia dan tuntun dia untuk melakukan hal yang luar biasa!" Ucap Jackson dengan tenang.
"Baik bos." Patuh mereka yang segera menyusul Gabriel, mereka tidak ada yang bisa membantah perkataan Jackson yang sudah menjadi perintah mutlak bagi mereka.
__ADS_1