
"Oh, itu. Aku tidak masalah, selagi kau bisa jaga diri dan baik-baik saja aku tidak akan marah." Santai Valerie yang saat ini sedang bersiap.
Malam ini adalah pesta yang di tunggu-tunggu oleh semua orang, termasuk Valerie juga yang saat ini menggunakan long dress berwarna merah gelap yang memiliki belahan hingga paha dan pundak yang terbuka lebar membuat penampilannya semakin seksi dan cantik.
"Kau tidak marah? atau mengamuk gitu?" Heran Jackson, kenapa reaksi Valerie tidak seperti yang ia bayangkan?
"Untuk apa aku marah Jack? aku tahu, dunia kita memang seperti ini. Dan lagi, aku sudah menduganya mengenai Shia. Karena aku pernah mendengar bahwa ada sekelompok orang yang memang memiliki masalah di Korea, dan nampaknya itu adalah orang tua Shia karena wajah mereka sedikit mirip." Jelas Valerie dengan membantu Jackson memakai jas nya.
"Kau pernah bertemu dengan mereka?" Kaget Jackson lagi.
"Hanya sekilas, aku langsung tahu mereka kelompok yang aneh karena tato di leher mereka semuanya sama. Dan di pergelangan tangan Shia pun terdapat tato tersebut, namun miliknya berwarna." Jelas Valerie.
"Kau tidak takut?"
"Takut apa? aku memiliki suami yang kuat seperti mu, kau tidak mungkin membiarkan aku terluka kan?" Tanya Valerie dengan melingkarkan kedua tangannya di leher Jackson.
"Tidak akan, aku akan menjaga mu Valerie." Senyum Jackson.
Cup
"Aku tahu itu, karena itulah aku merasa tenang." Senyum Valerie.
Jackson mendorong tengkuk Valerie hingga bibir mereka bersentuhan, Jackson ******* habis bibir Valerie. Hal itu berlangsung lumayan lama sebelum akhirnya Valerie mendorong paksa dada Jackson agar ciuman tersebut segera berhenti.
"Hhh... Hhh... Kau benar-benar Jack!" Kesal Valerie karena Jackson sudah membuatnya ngos-ngosan seperti sekarang.
"Maaf sayang, aku jadi bernafsu setelah melihat penampilan mu malam ini. Kau sangat seksi dan menggoda...." Bisik Jackson dengan tangan yang mengelus paha Valerie yang terbuka.
"Jangan macam-macam Jack! aku sudah bersiap, mereka sudah menunggu kita. Ayo..." Ajak Valerie dengan menggandeng lengan Jackson.
"Aku mencintaimu Valerie..." Lembut Jackson.
"Ya ya, aku juga mencintaimu Jack." Malas Valerie dengan terus menggandeng Jackson yang hanya tersenyum.
Pestanya terlihat mewah dan meriah, banyak yang kagum akan kemewahan pesta tersebut yang mungkin menghabiskan banyak uang.
"Selamat malam semuanya, terimakasih karena kalian sudah Sudi meluangkan waktu sibuk kalian untuk datang kemari. Silahkan nikmati waktu kalian..." Ucap Jackson dengan tegas.
Mereka semua bertepuk tangan dan kembali berbincang untuk membicarakan kemewahan kapal tersebut yang melayani mereka tidak pandang bulu, semuanya disamaratakan oleh para pelayan.
__ADS_1
"Jack, aku akan menemui temanku. Kau tidak apa-apa kan?" Tanya Valerie.
"Tentu, aku juga ada beberapa obrolan dengan Gabriel. Kau hati-hati, jika ada seseorang cepat kabari aku." Lembut Jackson dengan mencium kening Valerie.
"Kau juga hati-hati..." Senyum Valerie sebelum akhirnya dia melangkah pergi.
Valerie sudah menghubungi seseorang untuk datang ke ruang privat, dia akan bertemu dengan seseorang yang mungkin akan terkejut dengan dirinya.
"Ahh ini, bukankah ini ruangan yang di katakan oleh Sachi?" Heran Anna.
Julian dan Ian saling pandang, mereka tidak menemukan sosok Sachi, justru mereka malah melihat sosok Valerie yang duduk dengan santai dan anggun di salah satu sofa yang ada disana.
"Kemarilah, dan duduk." Ucap Valerie.
"...." Mereka saling pandang dan melangkahkan kakinya untuk duduk disana.
Mereka masih bertanya-tanya, apakah Sachi salah memberitahu nomor ruangannya?
"Apa kabar?" Tanya Valerie.
"Ahh baik nyonya." Balas mereka bertiga.
"Panggil aku, Sachi. Lebih tepatnya, Valerie Cassilas Sachi." Santai Valerie.
"Maaf karena aku menyembunyikan semua ini dari kalian, kalian pasti terkejut bukan? tapi memang inilah kenyataannya." Santai Valerie.
"...."
"...."
"...."
Mereka mulai berfikir, pantas saja Valerie memindahkan Valerie ke perusahaannya. Ternyata mereka memang saling mengenal, itu adalah hal yang tidak terduga sama sekali.
"Hubungan ku dan Jackson sebelumnya tidak terlalu dekat, karena itulah aku menyamar sebagai Sachi. Selain untuk mendekatkan diri dengan Jackson, aku juga masih di pantau oleh Jack agar cocok berada di perusahaan ku sendiri."
"Apa kalian membenciku?" Tanya Valerie akhirnya karena mereka hanya diam dengan menundukkan kepalanya.
"T-tidak berani nyonya..." Tunduk mereka dengan gelagapan.
__ADS_1
"Ck! bisakah kalian memanggil ku Valerie atau pun Sachi? aku sudah menduganya jika kalian akan canggung seperti ini jika tahu identitas ku." Kesal Valerie.
"M-maafkan kami Sachi, kami... Belum terbiasa." Tunduk mereka.
"Hmm aku tahu, karena itulah aku memberitahu kalian mulai sekarang. Tolong bersikap seperti biasanya, apakah bisa?" Pinta Valerie.
"Kami akan melakukannya.." Angguk mereka, terlebih Valerie menggunakan kata tolong. Sungguh merendah sekali Valerie ini...
"Terimakasih, ayo bersulang..." Ajak Valerie dengan mengangkat jus nya.
Mereka heran, karena hanya minuman Valerie yang berbeda sedangkan mereka bertiga minum anggur.
"Aku sedang hamil, Jack melarang ku minum alkohol." Santai Valerie.
"Ahh, aku mengerti." Kompak mereka yang mulai bersulang.
"Bagaimana dengan lingkungan di kantorku? apa kau nyaman, Anna?" Tanya Valerie.
"Aku sangat nyaman, mereka semua sangat baik dan terus membimbing ku jika aku melakukan kesalahan." Jujur Anna dengan senang.
"Syukurlah, lalu bagaimana dengan kalian? apa ada Kesulitan di kantor setelah Jack sibuk?" Penasaran Valerie.
"Semuanya baik-baik saja, hanya saja wanita itu terus menggila. Dia terus mengatakan bahwa seharusnya dia lah yang menjadi pengantin wanita tuan Jackson...." Jelas Ian yang sepertinya sudah tidak canggung lagi.
"Naomi maksudmu? dia memang selalu berulah, setiap melihatku dia seperti melihat mangsanya." Santai Valerie.
"Dia tidak bisa berkaca, di lihat dari mana pun kau jauh lebih segalanya di banding dirinya." Tambah Julian yang justru malah membuat Valerie tertawa ringan.
"Apa kau mencoba menghiburku Julian?" Tanya Valerie.
"Tidak, tapi itu memang kebenarannya." Sahut Julian dengan santai juga.
"Ahh ya, mengenai nona Sophia. Nampaknya ia sudah insyaf..." Ucap Ian.
"Maksudmu?" Heran Valerie.
"Iya, aku sering melihat dia selalu bertengkar dengan nona Naomi. Nona Sophia terus menyadarkan posisi nona Naomi agar segera sadar bahwa dirinya tidak pantas mengharap lebih ke tuan Jackson." Jelasnya yang lagi-lagi membuat Valerie tertawa.
"Aku jadi paham arti musuh dan musuh adalah teman, sepertinya dia sudah mendapatkan berkah haha..." Tawa Valerie.
__ADS_1
Mereka juga ikut tertawa, suasana yang semula canggung kini berubah menjadi hangat. Mereka teringat akan suasana mereka yang dulu dimana Valerie masih lah menjadi gadis cupu dan kampungan.
Namun sekarang, di lihat dari mana pun Valerie sangat berkelas dan mewah. Bahkan, gerakan tangannya pun terkesan anggun dan berwibawa.