
"Apa yang sedang kau lakukan?" Tanya Jackson yang datang dan langsung memeluk tubuh Valerie dari belakang.
"Jack? lepaskan, apa kau tidak lihat disini ada siapa?" Tanya Valerie dengan melepaskan tangan Jackson yang melingkar di perutnya.
"Aku tidak peduli." Balas Jackson dengan santai, justru dia semakin menjadi-jadi dengan mengecupi pipi Valerie.
"Oh astaga...." Geram Valerie karena disana ada Naomi dan Anna yang sedang mendiskusikan sesuatu mengenai masalah Naomi.
"Wait sayang." Ucap Jackson yang tahu bahwa Valerie sekarang sedang sibuk.
"Apa kau dan kak Iel sudah selesai?" Tanya Valerie.
"Belum, aku kesini karena merindukan mu. Dan lagi, sore nanti kau akan pulang dengan pengawal ku. Aku harus ke Korea bersama Gabriel, tidak apa-apa kan?" Tanya Jackson.
"Ya, pergilah." Angguk Valerie.
"Terimakasih sayang, kalau begitu aku pergi." Senyum Jackson dengan mengecup bibir Valerie singkat sebelum akhirnya pergi dari sana.
"Kenapa kau tidak mencegah Jackson? dia akan pergi ke Korea, Valerie." Ucap Naomi yang khawatir.
"Aku yang paling tahu bagaimana suamiku bertindak." Balas Valerie dengan santai.
"Kau hebat!" Puji Anna yang justru malah membuat Valerie terkekeh.
"Jadi, kapan aku mulai? kau yakin ini tidak apa-apa?" Tanya Naomi sedikit cemas.
"Kau tidak percaya padaku?" Tanya Valerie dengan menatap Naomi hingga akhirnya mereka berdua saling bertatapan dengan ekspresi yang berbeda-beda.
Anna sendiri berfikir, bagaimana Naomi bisa percaya sedangkan kemarin kemarin mereka sering cekcok.
"Baiklah, aku akan pergi sekarang." Ucap Naomi yang bangkit dari duduknya.
"Ingat, kau harus buat dia marah semarah marahnya! gunakan kata-kata ku untuk memancing nya." Ucap Valerie.
"Baik." Angguk nya.
Setelah kepergian Naomi, Valerie menghela nafas berat. Akhirnya sekarang kehidupan rumah tangganya tidak seperti kemarin yang sangat membosankan, dia ingin melihat seberapa banyak musuh yang ingin melenyapkannya.
"Sachi, bagaimana dengan Naomi? kau benar-benar membantunya?" Tanya Anna.
__ADS_1
"Hmm, aku menjadikannya umpan sekaligus menolongnya juga. Sekali-sekali menolong musuh yang sedang kesusahan adalah hal yang baik, dia akan terus ingat bahwa dia memiliki hutang Budi padaku." Jawab Valerie dengan santai.
"Kau benar-benar....!!" Kagum Anna.
"Hmm.."
"Tapi, bagaimana kau bisa tahu bahwa yang tadi pagi itu penyusup?" Heran Anna, apakah Indra penglihatan Valerie sangat tajam?
"Kau tidak dengar dia memanggilku apa? semua pelayan di kapal ini memanggilku dengan sebutan nyonya, bukan nona. Selain itu, semua pelayan juga berjumlah 5 yang di tugaskan dan mereka ada 6. Banyak keganjilan lain yang aku lihat." Jelas Valerie.
"Kau sepertinya sangat cocok jadi Intel, Sachi." Kagum Anna.
"Aku memang Intel, Anna." Senyum Valerie dengan menatap Anna yang terdiam.
"Pantas saja." Ucap Anna yang tidak banyak tanya lagi, melihat respon Valerie yang seperti itu dia sudah bisa memastikannya.
"Ngomong-ngomong, di mana Julian dan Ian? aku tidak melihat mereka...." Heran Valerie yang berdiri di balkon kapal yang memperlihatkan banyaknya orang di lantai bawah.
"Sepertinya mereka sedang mencari wanita, aku dengar mereka mengincar anak buah mu." Ucap Anna dengan berdiri juga di samping Valerie.
"Kencan? haha..." Valerie merasa lucu karena membayangkan Julian dan Ian yang sedang berkencan, mereka sangat lucu dan konyol. Sepertinya Valerie harus menyaksikan acara kencan mereka.
Naomi berjalan memasuki ruangan Shia yang ternyata sudah siuman, disana tidak ada siapa-siapa selain dirinya. Karena dokter baru saja keluar, itupun atas perintah Valerie yang mengatakan jika ada Naomi maka mereka harus keluar dan mengosongkan ruangan tersebut.
"Halo, selamat sore nona Shia." Sapa Naomi dengan tersenyum penuh ejekan.
"...." Shia hanya diam dengan menatap Naomi penuh ekspresi.
"Bagaimana rasanya menjatuhkan diri sendiri dari lantai 2? apakah sakit? ahh sayang sekali, kenapa kau hanya patah tulang? kenapa tidak langsung mati saja?" Tanya Naomi dengan mendecak kagum.
"K-kau!" Ucap Shia dengan menggerakkan tangannya.
"Sutt, jangan banyak bicara. Dan lagi, jangan mengepalkan tangan mu juga. Kau masih patah tulang, apakah ini sakit?"
Naomi menyentuh tangan Shia yang di gips, dan menekannya sedikit keras hingga membuat Shia memerah karena menahan sakit.
"Sakit ya? maaf, maafkan aku karena tidak mendorong mu. Jadinya, kau terjun sendiri deh. Lain kali, bicara saja oke. Aku akan membantumu semampu yang aku bisa, bahkan aku juga bisa mendorong mu ke laut. Mau coba?" Tawar Naomi dengan tersenyum lebar.
Shia hendak meraih tombol darurat yang ada disana, namun segera di ambil oleh Naomi dan melemparnya ke sembarang arah.
__ADS_1
"Ahh sorry, tanganku licin." Ucap Naomi.
"Sialan!" Geram Shia yang menggunakan bahasa Korea.
"Ahh sudah sore, aku harus pulang. Kau tahu aku pulang dengan siapa? ya, aku pulang dengan tuan Gabriel. Nona Valerie yang menyuruhnya untuk mengantarkan aku.... Ngomong-ngomong, tuan Gabriel sangat tampan. Dia juga masih lajang, sepertinya aku harus mengincar nya hahaha..." Senang Naomi dengan mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Kau!! jangan berani-beraninya kau mengambil kekasih ku." Marah Shia menggunakan bahasa Korea, karena Naomi tidak mengerti itu maka dia bersikap santai saja.
"Aku tidak tahu apa yang kau katakan, kau mengerti ucapan ku tapi kenapa tidak mengucapkan bahasa yang sama seperti ku? aneh.." Cibir Naomi.
Drtttttt Drtttttttttttt Drtttttttttttt
"Halo Valerie, ada apa?" Tanya Naomi dengan memperkeras suara tersebut.
"Kau dimana? kak Iel mencari mu." Ucap Valerie dengan santai.
"Ahh tunggu sebentar, aku ada sedikit urusan. Tolong katakan padanya aku akan segera tiba." Senang Naomi dengan ekspresi yang begitu bahagia.
"Baik, jangan lupa bahwa kakak ku sangat sibuk!"
"Ya ya aku mengerti."
Naomi tersenyum dan bangkit dari duduknya untuk segera pergi, namun belum sempat menjauh sesuatu melayang di sampingnya. Itu adalah pas bunga yang terbuat dari kaca, betapa terkejutnya Naomi karena untungnya saja dia terkena lemparan pas bunga.
"Selamat mendekam di rumah sakit." Senyum Naomi dengan melambaikan tangannya.
Setelah keluar dari ruangan tersebut, Naomi mengusap dadanya yang terasa berdegup kencang. Dia sangat ketakutan, namun ini adalah cara yang di berikan oleh Valerie. Sepertinya Valerie mengibarkan bendera perang secara terang-terangan pada Shia.
"Apa yang sudah kau lakukan di dalam?" Tanya Jackson pada Naomi yang nampak berkeringat dingin.
"T-tidak." Balasnya dengan gugup namun dia berusaha tersenyum.
"Sepertinya Valerie merencanakan sesuatu." Ucap Gabriel yang datang dengan tampannya.
"Itu benar." Angguk Naomi.
"Aku tidak peduli, selagi Valerie senang dan baik-baik saja aku tidak akan peduli jika kalian mati sekalipun." Santai Jackson dan kembali pergi dari sana.
Naomi dan Gabriel diam dengan posisi yang bodoh, apa yang Jackson katakan bukankah sangat berlebihan? bagaimana bisa Jackson mengatakan mereka mati dengan santai?
__ADS_1
"Sepertinya Valerie adalah kelemahan Jackson, namun kelemahannya itu tidak lah lemah." Ucap Naomi dengan menatap kepergian Jackson.