Genk ABJAD

Genk ABJAD
10 ( Percaya )


__ADS_3

Ellea tersentak saat ingat ucapan Astrid tadi sebelum Bara mengerem mobil mendadak. Lalu ia menghadap kearah Astrid dan langsung memukulnya dengan keras hingga mengejutkan David, Charlie dan Bara.


Plak.. plak...!


" Awww..., sakit *ila, stress lo ya...?!" kata Astrid kesakitan sambil memegangi lengannya yang berdenyut sakit


" Lo tuh ya\, bercanda lo udah kelewatan tau ga. Gue ga suka !. Lo pikir gue ja***g yang hamil tanpa suami... ?!" kata Ellea emosi lalu turun dan membanting pintu mobil dengan keras.


" Gue...," suara Astrid terputus saat melihat Ellea melangkah cepat menjauhi mobil.


Astrid sadar kesalahannya kali ini benar-benar fatal. Ia menatap Charlie, David dan Bara dengan tatapan menyesal.


Sesaat kemudian David segera turun mengejar Ellea. Bara dan Astrid bergegas turun ingin menyusul Ellea dan David.


" Ga usah disusul...!" teriak Charlie.


" Kalo dia kenapa-kenapa gimana...?" tanya Astrid cemas.


" Dia aman, ada David yang jagain. Kita tunggu disini aja...," sahut Charlie.


Bara pun segera menepikan mobil. Ketiganya nampak duduk menunggu Ellea dan David kembali. Tiba-tiba terdengar isak tangis Astrid.


" Gue ga maksud nyakitin Ellea hiks..., hiks..., gue ga sengaja ngomong kaya gitu, suerr..., hiks...," tangis Astrid.


" Udah lah..., biasanya juga gapapa kok. Mungkin Ellea juga lagi banyak pikiran. Tapi jangan diulangi lagi, yang kaya ginian kan ga bisa buat bercanda Trid. Lo lebih paham lah urusan cewek dibanding Kita bertiga...," kata Charlie coba menghibur Astrid.


Astrid pun mengangguk lalu menghapus air matanya. Sedangkan Bara hanya mengangguk-angguk sambil menatap langit.


Sementara itu David berhasil mengejar Ellea yang mengabaikan panggilannya sejak tadi.

__ADS_1


" Tunggu El, Ellea...," kata David sambil menarik tangan Ellea.


Saat Ellea berbalik karena tarikan tangan David, tampak air mata sudah membanjiri wajahnya yang terlihat pucat. David pun tertegun. Belasan tahun bersahabat dengan Astrid dan Ellea, ia belum pernah melihat mereka menangis.


Perlahan David membawa Ellea ke dalam pelukannya. Tak ada penolakan dari Ellea. Gadis itu malah semakin keras menangis dalam pelukan David hingga tubuhnya bergetar hebat.


" Keluarin semuanya, ga usah malu, cuek aja...," kata David pelan sambil mengelus lembut punggung Ellea mencoba memberinya kekuatan.


" Gue sering denger yang kaya gitu, tapi gue ga suka kalo satu dari anggota genk Kita yang ngomong kaya gitu. Gue kecewa..., gue sakit hati...," rintih Ellea disela tangisnya.


" Tadi Astrid cuma bercanda kok..., tuh sekarang disana dia juga lagi nangis kaya lo...," tutur David sambil menghapus air mata Ellea dengan ujung jarinya.


Ellea menghentikan tangisnya sambil menatap kearah Astrid yang nampaknya juga tengah menangis. Kemudian Ellea duduk di tepi jalan sambil memandangi hamparan rumput dihadapannya. Sesekali isak tangis masih mengiringi nafasnya yang mulai tenang. David pun ikut duduk di samping Ellea.


" Gue ini wanita karir, gue sibuk ngurusin perusahaan Kakek gue, jadi gue ga punya waktu buat ngurusin masalah cinta...," kata Ellea memulai ceritanya.


" Hmm..., gue tau...," sahut David sambil menatap wajah Ellea dengan detak jantung yang semakin cepat. David bermonolog dalam hatinya, " Ayo jantung, please dong, jangan kaya gini. Berdetak yang normal aja ya, kalo dia tau bisa malu nih gue...," batin David gusar.


" Gue sering berbisnis menjalin kerjasama dengan perusahaan lain dan kadang perusahaan mereka diwakili sama orang mesum. Orang-orang itu kerap memandang remeh hanya karena Gue ini cewek. Ga jarang gue harus tebel kuping dengerin ocehan mereka yang nganggap gue ga bisa apa-apa selain punya modal uang pemberian Papi...," kata Ellea sedih.


David tersentuh mendengar penuturan Ellea. Perlahan ia menyatukan telapak tangannya dengan telapak tanganĀ  Ellea tanpa menatap wajahnya. David berharap bisa memberi suport mental kepada Ellea saat itu. Sedangkan Ellea tampak nyaman saat David menggenggam tangannya, hal itu terbukti karena Ellea tak menepis tangan David sama sekali.


" Ga tau gimana ceritanya, Gue dituduh pake jalan pintas untuk ngedapetin proyek besar yang sekarang lagi dijalanin sama perusahaan. Mereka pikir gue jual body gue cuma demi sebuah proyek. Gue tuh masih waras ya, gue ga sebodoh itu ngebiarin aset berharga gue hilang hanya untuk dapet tender...!" kata Ellea berapi-api sambil mengeratkan genggaman tangannya.


" Gue yakin lo ga akan sebodoh itu...," kata David sambil menatap tajam ke dalam mata Ellea.


" Gue tuh masih virgin Vid, apa lo percaya itu...?" tanya Ellea hampir menangis lagi.


" Gue percaya 100%...," sahut David mantap lalu memeluk Ellea.

__ADS_1


" Makasih Lo udah percaya sama Gue ya Vid...," kata Ellea sambil membenamkan dirinya di dalam pelukan David.


" Lo ga usah peduli sama omongan orang lain di luar sana. Kita semua yang kenal Lo percaya sama Lo kok...," sahut David sambil mengusap rambut Ellea dengan lembut.


Ellea mengangguk dan tersenyum lalu mengurai pelukannya. Untuk sesaat Ellea berusaha mengendalikan dirinya. Tak lama kemudian, Ellea dan David pun kembali kepada ketiga sahabatnya yang masih menunggu mereka.


" Tuh, mereka datang...," kata Charlie membuyarkan lamunan Astrid.


Bara dan Astrid menoleh kearah yang ditunjuk Charlie. Tampak Ellea dan David berjalan mendekat kearah mereka sambil bergandengan tangan. Astrid berlari menyambut Ellea dan langsung menghambur memeluknya.


" Maaf ya El, maaf..., maafin gue...," kata Astrid lirih sambil menangis.


" Iya, gue udah maafin lo Trid...," sahut Ellea balas memeluk Astrid.


Astrid dan Ellea masih saling memeluk. Tiba-tiba Bara menepuk pundak David dengan keras. David terkejut lalu menoleh.


" Anjrit..., sakit babon...!" teriak David.


" Anda jangan mengalihkan pembicaraan ya...," kata Charlie dengan tegas.


" Iya betul, Anda jangan menghindar ya...," kata Bara sambil meniup-niup kepalan tangannya.


David yang menyadari ancaman Bara pun berlari jauh ke hamparan rumput, diikuti Charlie dan Bara yang tertinggal di belakang. Sedangkan Astrid dan Ellea saling mengurai pelukan mereka lalu memandangi ketiga sahabatnya yang berlarian seperti anak kecil.


" Bentar El...," kata Astrid sambil mengambil HP dari saku bajunya, lalu mulai mengabadikan moment di depannya.


" Ayo kita ikutan kaya mereka...," ajak Ellea yang diangguki Astrid.


Astrid dan Ellea ikut berlarian di atas hamparan rumput bergabung dengan ketiga orang yang sudah berteriak-teriak kegirangan. Mereka berlarian sambil tertawa, sesekali berteriak kencang untuk menghilangkan kepenatan.

__ADS_1


Setelah lelah berlarian, mereka berpose berbagai macam gaya di depan kamera. Kemudian mereka pun masuk ke dalam mobil untuk melanjutkan perjalanan mereka menuju Candi Borobudur.


bersambung


__ADS_2