
Esoknya di pagi hari yang cerah.
Setelah sarapan pagi di restoran yang ada di hotel. Astrid, Bara dan Ellea pergi menggunakan mobil sewaan yang dikendarai oleh Bara. Perjalanan yang ribut, karena diantara mereka bertiga tak ada yang mau mengalah.
" Kita ke Borobudur aja dulu...," kata Ellea.
" Iih kok kesana sih, gue udah sering kesana. Males ah. Lagian panas, apanya yang enak, kulit gue bisa hitam dong...," keluh Astrid.
" Tapi gue jauh-jauh dari Jakarta emang mau ke Borobudur Trid...," kata Ellea tak mau kalah.
" Ga bisa dong, kita disini ga cuma buat jadi kacung lo ya, inget itu...!" kata Astrid judes.
" Lo...," Ellea tak melanjutkan ucapannya karena Bara memotong cepat kalimatnya.
" Berisik...!!. Bisa diem ga lo berdua, atau mau kita berhenti di pinggir jurang aja...?!" kata Bara kesal sambil menghentikan mobilnya.
Astrid dan Ellea melengos mendengar ucapan Bara. Setelah keadaan mulai tenang, Bara pun mulai bicara, " Kita ke suatu tempat yang bikin lo berdua senang, gue jamin itu...," kata Bara datar.
" Jamin kulit gue ga bakal item ? atau jamin abis pulang dari sini kontrak kerja gue dipending gara-gara kulit gue rusak kena panas matahari...," batin Astrid sambil cemberut.
" Jamin apanya ?, omongannya mana ada yang bener sih dari dulu, dasarr baboonn...," jerit hati Ellea.
" Lo berdua ga pada lagi nyumpahin gue kan...?" tanya Bara sambil melirik kaca spion, memperhatikan Astrid dan Ellea yang duduk di kursi belakang.
" Iya...!" kata Ellea dan Astrid kompak.
Bara tersenyum puas mendengar jawaban kedua gadis itu. Sambil bersiul-siul gembira Bara melajukan mobil yang dikendarainya ke suatu tempat. Rupanya Bara mengajak kedua sahabatnya itu pergi ke puncak Suroloyo,yang merupakan puncak tertinggi di pegunungan Manoreh yang terdapat di Jawa Tengah.
Bara dan kedua sahabatnya turun dari mobil. Lalu dari sana mereka menaiki anak tangga yang tersedia untuk bisa sampai ke puncak. Perjalanan yang melelahkan, tapi mereka mengisinya dengan berfoto untuk menghilangkan lelah.
Setibanya di puncak Suroloyo Astrid dan Ellea nampak tersenyum bahagia. Dari ketinggian 1019 mdpl, tampak pemandangan yang menakjubkan hingga membuat rasa lelah yang mereka rasakan saat naik tadi lenyap seketika.
Bara, Astrid dan Ellea segera menuju ke sebuah gazebo yang ada disana untuk istirahat. Mereka menikmati pemandangan dari tempat itu dengan perasaan puas. Karena perjalanan yang agak melelahkan terbayar dengan pemandangan yang tersaji indah di depan mata.
Tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara makian dari dua orang pria yang baru saja tiba.
__ADS_1
" Hei kampret, ditungguin malah udah nyampe sini lo...!" kata Charlie sambil menepuk punggung Bara dengan kesal.
" Untung gue pinter, ngajakin dia buat naik kesini, kalo ga, bisa jadi krupuk kita di bawah nungguin lo sampe kering...," kata David sambil melonggarkan syal yang dipakainya.
Astrid dan Ellea menoleh kearah kedua sahabatnya itu. Astrid dan Ellea tampak menatap kagum kearah dua pria yang semakin menawan diusia mereka. Charlie si flamboyan dan David si jenius.
David dan Charlie memang diajak oleh Bara untuk menemani dua sahabat mereka yang sedang berlibur di Magelang. Saat menerima telephon, David yang baru saja tiba dari Bali, langsung meluncur ke Magelang. Sedangkan Charlie sudah tahu jika Ellea menuju ke Magelang dari Reni, sekretaris Ellea, saat ia menelephon ke kantor Ellea kemarin.
Bara nampak menyambut kedatangan mereka dengan pelukan selamat datang yang dibuatnya sendiri. Yaitu tendangan dan tinju yang dilayangkan ke wajah Charlie dan David.
" Orang gila, kumat lo ya...?!" kata David yang berhasil menghindar.
" Woiii babon, masih aja pake cara gini...," maki Charlie sebal karena Bara berhasil meninju wajahnya.
Bara tertawa kemudian mereka bertiga saling rangkul entah apa maksudnya. Sedangkan Ellea dan Astrid cuma melihat tanpa tertarik untuk bergabung.
" Eh, ada foto model, pa kabar cantik ?. Apa kabar juga Ellea yang manis...?" sapa Charlie pada Astrid dan Ellea.
" Seperti biasa...," sahut Ellea singkat.
" Masih belom apa-apa kalo belom berani foto syur di majalah play*o*...\," kata David enteng menyindir Astrid.
Mendengar itu Astrid kesal lalu melempar satu sepatunya kearah David dan tepat mengenai kepala David.
" Mulut lo tuh ga pernah sekolah ya, sini biar gue didik pake sepatu mahal gue ...!" kata Astrid geram sambil memegang sepatu sebelahnya lalu mengejar David. Ia bermaksud menampar David karena kesal dengan ucapannya tadi.
David berusaha menghindar. Tapi dihadang Ellea yang berdiri sambil bersedekap. Ia menatap David dengan tatapan yang dingin dan tanpa senyum. David berhenti karena tak mungkin mendorong Ellea.
" Hah, ma**us lo, mau lari kemana sekarang, ada gue sama Ellea yang bakal cium lo...," kata Astrid sambil meletakkan sepatunya di tanah.
Selangkah demi selangkah Astrid dan Ellea maju mendekati David yang mulai pucat. Phobia wanitanya sudah sembuh. Tapi menghadapi dua wanita didepannya membuat phobianya mendadak kambuh, hingga ia mengeluarkan keringat dingin.
" Stop !, berhenti di situ. Stop...!" teriak David panik.
Ellea dan Astrid tak peduli dan terus merapat kearah David.
__ADS_1
" Ampuunn..., gue minta maaf, gue salah, gue nyerah...," kata David sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dada.
Ellea dan Astrid berhenti sejenak lalu berbalik menuju gazebo tempat mereka duduk. David pun menghela nafas panjang sambil mengusap keningnya yang berkeringat. Saat melihat sekeliling, didapatinya Bara dan Charlie yang sedang ngobrol tanpa terganggu dengan aksi ketiga sahabatnya tadi.
" Dasar orang-orang aneh...," gerutu David sambil menggelengkan kepalanya.
Kelima sahabat itu duduk santai di gazebo sambil berbincang-bincang. Tak ada ungkapan kangen meski pun mereka lama tak bersua. Sesekali David memberi informasi tentang tempat itu sambil menunjuk kejauhan.
" Nah coba liat di sebelah sana, itu Gunung Merapi, yang itu Gunung Merbabu, kalo itu Gunung Sumbing...," kata David sambil menunjuk kearah tiga gunung yang menjulang di kejauhan.
" Waah cantik banget...," gumam Ellea kagum.
" Iya kaya lo...," kata David spontan.
Ucapan David membuat empat pasang mata menoleh kearahnya. David yang asyik berfoto dengan kamera digitalnya, tak menyadari dirinya sedang jadi objek tatapan empat sahabatnya. Karena suasana mendadak dingin, David pun menoleh.
" Kenapa...?!" tanya David santai.
" Ehm gapapa. Lo ga sadar ya kalo lo tadi bilang Ellea cantik...," sahut Bara.
David bingung sambil memandang mereka satu per satu. Semua mengangguk mengiyakan ucapan Bara.
" Lah salahnya dimana?. Ellea kan cewek, cantik lagi. Kalo gue bilang Ellea ganteng itu artinya gue abnormal dong...," sergah David berusaha menyembunyikan rasa malunya karena memuji kecantikan Ellea tadi.
" Eh kadal, basi banget sih gombalan lo, receh...," kata Astrid sambil memakai sepatunya .
Ucapan Astrid membuat empat sahabatnya tertawa.
" Itu Borobudur ya...?" tanya Ellea tiba-tiba seperti pada dirinya sendiri.
" Iya, itu candi Borobudur...," jawab David cepat.
" Waahh, bagus banget diliat dari sini. Ga rugi gue jauh-jauh kesini...," kata Charlie puas yang diikuti anggukan kepala empat sahabatnya.
bersambung
__ADS_1