
David masih tersenyum sendiri saat mengingat kedekatannya dengan Ellea. Dulu David sangat takut dengan wanita. Semua berawal saat David sedang menunggu temannya di atas pohon. David bisa memperhatikan siapapun yang lewat karena ia duduk di atas batang pohon yang tinggi.
Tiba-tiba seorang wanita cantik berjalan ke gang sempit. Kemudian dengan mata kepalanya sendiri David menyaksikan wanita cantik itu pipis dengan posisi berdiri menghadap dinding. Hal yang tak lazim bagi David diusianya saat itu.
Kemudian wanita itu membuka wig dan pakaiannya lalu berganti pakaian dengan pakaian laki-laki. Setelahnya laki-laki itu berjalan keluar dari gang sempit itu. Pria itu terlihat santai saat mengganti identitasnya tanpa khawatir ketahuan orang lain.
Semua tak lepas dari perhatian David saat itu. Tubuh David gemetar saking takutnya. Dia segera turun dari pohon dan langsung lari terbirit-birit. David mengira telah melihat allien berwujud wanita cantik.
Sejak saat itu David merasa semua perempuan, kecuali ibu dan kakak perempuannya, adalah makhluk jadi-jadian jelmaan alien yang nyasar di bumi.
Saat lulus SMP, David lebih memilih masuk STM untuk menghindari interaksinya dengan perempuan. Dan masa itu adalah awal terbentuknya Genk Abjad yang membuatnya terpaksa berinteraksi dengan Astrid dan Ellea. Tapi ia tetap menjaga jarak dengan dua sahabat perempuannya itu.
Keadaan David membuat kedua orangtuanya juga kakaknya merasa prihatin. David yang bertekad sembuh pun mulai menjauhi keluarganya. Ia pergi merantau ke Bali dan tinggal di rumah kerabat ayahnya disana.
Dan untuk mengisi waktu luang, David mulai menjadi tour guide.
Karena menjadi tour guide mengharuskan David berinteraksi dengan banyak wanita, perlahan phobia David pun benar-benar hilang. Sekarang David sudah bisa menilai kecantikan seorang wanita secara objektif, termasuk Ellea.
David menyukai Ellea sejak tiga hari yang lalu saat mereka berlibur bersama. Melihat Ellea membuat detak jantungnya berdetak cepat tak beraturan. David suka penampilannya, senyumnya, cara bicaranya, suaranya dan semua yang ada pada Ellea seolah magnet yang menarik David untuk terus menatapnya.
David ingat bagaimana ia memeluk Ellea dan menghapus air matanya. David tak berencana melakukan itu semua. Tapi respon Ellea akan tindakannya membuat David yakin untuk mendapatkan hati Ellea.
\=====
Di tempat lain terlihat Bara sedang menghukum bawahannya karena kesalahan yang dilakukannya. Bara adalah pria yang tegas. Meskipun ia dekat dengan bawahannya, tapi jika ada pelanggaran yang dilakukan, maka seperti ini lah jadinya.
" Kamu tau kesalahan Kamu...?" tanya Bara sambil menatap sang bawahan dengan tatapan mengintimidasi.
" Siap tau Pak...," jawab sang bawahan.
" Kamu sudah melanggar peraturan perusahaan, maka kebijakan perusahaan saja yang bisa menolong. Sekarang Kamu pergi ke ruang direksi dan terima hukuman yang akan diberikan nanti...!" kata Bara lagi.
" Siap Pak...," sahut sang bawahan lalu melangkah gontai meninggalkan Bara.
Tiba-tiba seorang security menghampiri Bara sambil berlari dan menyampaikan sesuatu.
" Siap lapor, ada tamu untuk Bapak...," kata sang security.
__ADS_1
Bara mengangguk dan meninggalkan lapangan. Kemudian Bara bergegas menghampiri tamunya. Ternyata atasan Bara dari militer yang datang.
" Siap Ndan...," kata Bara dengan posisi sempurna sambil memberi hormat.
" Santai aja, Saya kesini bawa perintah Komandan. Tugas Kamu disini sudah selesai dan Kamu ditarik ke markas...," kata atasan Bara sambil memberikan surat resmi berlogo kesatuannya pada Bara.
Bara membacanya sejenak dan mengerti. Bara ditugaskan disini hampir delapan bulan. Dia diperbantukan oleh kesatuannya sebagai kepala security dan menjalankan tugas dengan baik. Bara bisa mengayomi bawahannya, menjadi teman sekaligus atasan yang menyenangkan, walau sedikit galak.
" Lanjutkan, dan lusa kamu harus sudah ada di markas...," kata atasan Bara sambil berlalu.
"Siap Pak...," sahut Bara tegas.
Para security mulai kasak kusuk membicarakan kepindahan Bara.
" Waah ga seru deh kalo Pak Bara ga ada...," keluh seorang security.
" Emang Pak Bara mau kemana...?" tanya yang lain.
" Dipanggil pulang...," jawab yang lain.
" Ini biasa dalam tugas. Sebagai abdi negara, kita harus siap ditugaskan dimana pun. Yang penting kita melaksanakan tugas dengan baik dan maksimal...," ujar Bara sambil menepuk pundak bawahannya.
" Siap Pak...," jawab bawahan Bara kompak.
" Kalian harus tetap menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab, siapapun pemimpin kalian nanti...," kata Bara mengakhiri nasehatnya.
\=====
Bara tiba di gerbang markas kesatuannya. Saat itu Bara mengenakan seragam kebanggaannya dengan lengkap hingga tampak gagah dan berwibawa. Tapi anehnya sikap ini akan berubah 180° saat berkumpul dengan anggota genk Abjad.
Saat tengah menapaki anak tangga menuju ruang Komandan Datasemen, tiba-tiba Bara refleks menangkap anak kecil yang hampir terjatuh dari tangga lantai atas. Suara pekikan mengiringi tindakan Bara yang langsung menggendong sang bocah dengan kedua tangannya.
" Masya Allah, ya ampuun..., hampir copot jantungku...!" seru seorang wanita cantik yang mendekat kearah Bara.
" Ini anaknya Bu...?" tanya Bara sopan.
" Enak aja panggil saya Ibu. Ini keponakan saya bukan anak saya...!" sahut wanita itu ketus.
__ADS_1
" Ooo maaf...," kata Bara sambil tersenyum.
" Win, mana si Ade ?, udah selesai nih. Ayo kita pulang...," ajak seorang pria berseragam yang baru keluar dari sebuah ruangan.
" Ya Bang, nih lagi digendong sama...," ucapan Winda terputus karena tak mengenal Bara.
" Lho kok bisa sama Om Bara ya...?" tanya si pria yang ternyata teman seangkatan Bara.
" Apa kabar ...," kata Bara ramah sambil menyerahkan anak kecil yang digendongnya.
" Alhamdulillah baik, wah udah kelar tugas lo ?, tambah seger aja...," sindir Pramono, nama pria teman Bara.
" Bisa aja lo, ini siapa...?" tanya Bara sambil melirik Winda.
" Adik gue, namanya Winda. Win, kenalin nih temen Abang...," panggil Pramono.
Winda nampak mendekat dengan enggan. Kemudian Bara terlihat mengulurkan tangannya mengajak Winda bersalaman, tapi Winda hanya menatap Bara dengan jutek.
" Winn...," tegur Pramono.
" Iya Bang...," sahut Winda malas sambil membalas jabat tangan Bara yang tersenyum simpul melihat sikap Winda.
" Boleh lah kalo mau mampir ke rumah, Adik gue masih jomblo lho...," bisik Pramono pada Bara.
Bara menoleh dan tersenyum senang seolah mendapat lampu hijau dari rekannya.
" Siipp..., tunggu aja, gue bakal dapetin Adik lo...," bisik Bara sambil mengedipkan sebelah matanya ke arah Winda.
Winda yang melihat aksi dua pria dihadapannya mendengus kesal dan berlalu sambil menuntun bocah kecil yang hampir terjatuh tadi.
" Winda, besok sore jangan kemana-mana ya...," pesan Bara.
" Emang kenapa ?" tanya Winda malas.
" Kan saya mau ke rumah Kamu besok...," kata Bara dengan gombalannya, membuat Winda melotot. Sedangkan Pramono tertawa keras melihat interaksi Bara dengan adiknya itu.
bersambung
__ADS_1