
Di dalam mobil Winda mencoba bertanya pada Bara untuk mencairkan suasana.
" Mmm..., Mas Bara. Kita gapapa ya pergi gitu aja kaya tadi ?, ga pake pamit atau apa gitu...," ucap Winda hati-hati.
" Gapapa, santai aja. Mereka juga ga masalah kok, " kata Bara.
" Tadi itu..., kenapa Kamu pake minta hadiah segala sih...? Aku malu tau...," kata Winda sambil memandang keluar jendela.
Bara menghentikan mobilnya. Meraih Winda kedalam pelukannya, dan berkata, " Sayang..., kita cuma bercanda tadi."
Winda hanya menatap Bara bingung, dan baru tersadar saat Bara menciumnya.
Bara mengajak Winda untuk mampir ke rumah orangtuanya. Sedikit membahas tentang konsep pernikahan mereka.
" Terserah Winda, Mama sih setuju aja...," kata Mama Bara tersenyum menatap calon menantunya.
Winda tersenyum puas. Karena perubahan konsep pernikahannya dengan Bara disetujui oleh mama Bara.
Setelah berpamitan pada calon mertuanya, lalu Bara mengantar Winda pulang.
" Mama senang, Winda keliatannya sangat mengerti Bara...," kata mama Bara pada suaminya.
" Ya Ma, kita patut bersyukur. Bara yang sulit jatuh cinta akhirnya menemukan jodohnya disaat kita masih bisa menyaksikan pernikahannya...," kata papa Bara sambil meneguk kopi hitam buatan mama.
\=\=\=\=\=
Pesta pernikahan Bara dan Winda tidak semeriah pesta pernikahan Ellea dan David. Tapi tetap tidak mengurangi maknanya.
Winda makin mengenal genk Abjad dan semua tingkah absurdnya. Winda senang karena kehadirannya sebagai istri Bara tidak mengganggu persahabatan mereka berlima, bahkan diterima dengan tangan terbuka.
Sikap anggota genk Abjad yang absurd sering membuat Winda tertawa hingga terkencing-kencing. Jika sudah begitu, giliran genk Abjad yang balik menertawakan Winda.
Winda akan berjalan malu-malu keluar dari kamar mandi karena ketauan ngompol. Dan Bara akan memeluknya erat untuk menghindari kejailan empat sahabatnya itu.
\=\=\=\=\=
Sore itu genk Abjad berkumpul di rumah David - Ellea, yang dibeli oleh David sebelum ia menikahi Ellea.
Rumah sederhana yang nyaman. Meski pun tak sebesar rumah keluarga Ellea, tapi Ellea sangat bahagia tinggal di sana.
__ADS_1
" Jadi kita pake seragam, gitu ?" tanya Astrid.
" Iya lah, warna sama bahannya aja," jawab Ellea.
" Pink...?" tanya Charlie ragu.
" Iya...," jawab Ellea singkat.
" Ga bisa warna lain ya sayang...?" rayu David.
" Ini tuh bukan mau Aku, tapi kemauan si baby, Kamu ngerti ga sihh...?" kata Ellea sambil menghentakkan kakinya, lalu ia pun beranjak masuk ke dalam rumah.
Astrid melotot kearah Charlie dan David, lalu mencoba mengejar Ellea.
" El..., tunggu. Jangan ngambek dong, nanti keponakan Aku yang cantik ini jadi ga keliatan cantik...," rayu Astrid sambil mengelus perut Ellea dengan sayang.
" Abis Aku kesel sama mereka. Mereka tuh ga tau ya kalo ini nih ngidam, pengen liat mereka pake baju pink tuh maunya baby Aku...," kata Ellea lirih.
" Lo tenang aja, mereka pasti mau kok nurutin permintaan si baby," kata Astrid yakin.
\=\=\=\=\=
Sesuai permintaan bayi Ellea, atau Ellea sendiri, maka pihak keluarga dan panitya mengenakan seragam warna pink. Termasuk David, Charlie dan Bara !.
Kehadiran para pria berseragam pink juga mengundang tawa ibu-ibu anggota pengajian. Mereka tak menyangka bahwa para pria itu bersedia mengikuti permintaan sang bumil. Dengan badan tegap berbaju pink, mereka terlihat mondar mandir di tengah acara itu. Lucu sekali.
Ellea terlihat makin cantik dengan perut besarnya. Selalu menebar senyum pada semua yang hadir. David pun tampak berjaga di belakang Ellea dengan penuh cemas, karena kawatir Ellea kelelahan.
Usai acara tasyakuran, Ellea yang kelelahan tertidur di kamar.
Semua tamu pun pamit pulang, termasuk genk Abjad. Tinggal David yang duduk di samping Ellea menemaninya tidur.
David memijit betis Ellea yang bengkak dengan perlahan, kawatir membangunkan Ellea.
" Maaf, Aku ketiduran...," kata Ellea sambil bangun dan duduk bersandar pada bahu suaminya.
" Gapapa, Kamu pasti capek kan...," kata David sambil mengecup kening Ellea lembut.
" Aku udah mendingan kok, ayo kita keluar, ga enak sama tamunya," ajak Ellea.
__ADS_1
" Tamunya udah pulang...," kata David, " Kamu lanjutin istirahat aja," ujar David mulai membujuk Ellea.
Ellea mengagguk dan merebahkan tubuhnya kembali. Tak lama kemudian, Ellea pun sudah terlelap.
David mengambil selimut dan menyelimuti tubuh Ellea. Memandangnya sesaat. Lalu David pun keluar menemui kedua orangtua dan mertuanya.
" Gimana keadaannya ?" tanya Mami Ellea kawatir.
" Alhamdulillah, bayi dan ibunya sehat kok Mi...," jawab David tenang sambil mengupas kacang kulit lalu memakannya.
" Kamu harus sabar ya..., Wanita hamil itu moodnya turun naik. Jangan ditanggapi emosi, senyum aja...," nasehat mami Ellea.
" Biar Kamu tau, gimana sakitnya dan capeknya pas hamil itu. Jangan bikin Ellea kesel, bikin hatinya selalu happy...," kata ibu David menambahkan.
\=\=\=\=\=
" Mas...," panggil Winda pada suaminya.
" Hmmm..., ada apa ?" tanya Bara.
" Apa Kamu sama temen Kamu ga ada niat buat jodohin Mbak Astrid dan Bang Charlie ?" tanya Winda.
" Lho kenapa harus dijodohin...? mereka kan udah dewasa, bisa nentuin sikap dong, jadi ga perlu dijodohin segala...," kata Bara sambil mengusak rambut Winda.
" Iya udah tau. Tapi apa ga kasian sama Mbak Astrid...?"
Bara menghela nafas. Lalu mulai cerita.
" Sebenernya Charlie naksir sama Astrid. Tapi Aku larang, karena Aku ga mau Astrid sakit hati. Apalagi Charlie ga serius. Beda sama David ke Ellea, " kata Bara datar.
" Apa Mbak Astrid tau Mas...?" tanya Winda.
" Dulu sih Astrid ga tau. Tapi kalo sekarang, Aku yang ga tau...," kata Bara sambil merangkul Winda.
" Mmm..., Boleh ga kalo Aku bantuin supaya mereka bisa jadian ?" tanya Winda hati-hati.
" Boleh aja, tapi jangan maksa ya. Aku ga mau Kamu kena sifat ajaib mereka kalo lagi stress...," kata Bara lagi.
" Iya, Aku janji ga akan maksa mereka...," kata Winda tersenyum.
__ADS_1
bersambung