Genk ABJAD

Genk ABJAD
8 ( Sembuh )


__ADS_3

Setelah beberapa jam di puncak Suroloyo, mereka berlima pun kembali ke mobil dan langsung tancap gas menuju tempat makan untuk mengisi perut mereka yang sudah lapar. Charlie dan David menaiki mobil yang berbeda, yang dikendarai oleh Charlie.


"Lo serius sama omongan lo tadi Vid...?" tanya Charlie.


" Omongan yang mana ?, Gue kan ngomong banyak tadi...," sahut David cuek sambil mengecek hasil jepretannya.


" Ck, jangan pura-pura ga tau deh, diantara kita berlima kan lo yang paling cerdas. Soal pujian lo sama si Ellea tadi...," kata Charlie sambil menaik turunkan alisnya.


" Emang Ellea cantik kok...," kata David sambil menatap keluar jendela.


" Alhamdulillah, udah sembuh lo...," kata Charlie yang berusaha meraba dahi David.


" Apaan sih lo, garing tau ga...," kata David sambil menepis tangan Charlie.


Charlie tertawa keras melihat respon David.


Tibalah mereka di rumah makan yang direkomendasikan oleh Bara. Yakni sebuah rumah makan lesehan. Charlie pun memarkir mobilnya di samping mobil yang dikendarai Bara, lalu turun. David pun segera mengikuti Charlie.


Di dalam terlihat tiga sahabatnya sudah duduk sambil melihat-lihat buku menu. Charlie dan David duduk di samping Bara. Suasana di dalam rumah makan sangat nyaman. Dekorasi ruangan dibuat sesimple mungkin dan terbuat dari bahan yang sederhana pula.


" Udah pada mesen belom...?" tanya Charlie sambil meneguk teh manisnya.


" Nih lagi liat-liat...," jawab Bara.


" Ayam penyet, sambel ijo, nasi putih, lalapan, krupuk, sop jagung, es jeruk...," kata Ellea cepat.

__ADS_1


Terlihat sang pramusaji mencatat pesanan Ellea dengan gesit.


" Yang lainnya...?" tanya sang pramusaji.


" Gue sate kambing, nasi putih, pepes tahu, krupuk, Sop iga, es teh manis...," sahut Bara.


" Gue nasi goreng sea food sama es campur...," kata Astrid yang masih berusaha menjaga berat badannya.


" Gue samain sama pesenannya Ellea aja...," kata David sambil menunjuk kearah Ellea.


" Kalo gue samain kaya Bara deh...," kata Charlie pada sang pramusaji sambil menunjuk ke arah Bara.


" Baik Pak, mohon ditunggu sebentar. Trimakasih...," kata sang pramusaji dengan sopan kemudian berlalu.


Mereka pun duduk menunggu. Astrid dan Ellea nampak meluruskan kaki mereka yang lelah karena naik turun tangga tadi. Sedangkan Bara, Charlie dan David asyik membicarakan pekerjaan mereka masing-masing.


" Eh Bar, lo kan kepala security. Ga takut jadi gendut lo makan banyak gitu, ntar kegendutan didepak lo dari tempat kerja...," kata Astrid yang melihat semangat Bara menyantap makanan.


" Gue bisa jaga badan kok. Gue jarang makan enak kaya gini. Semangat gue bertambah apalagi makan bareng lo pada..., " sahut Bara sambil menyantap sate dengan lahap.


Keempat sahabatnya hanya terbengong melihat cara makan Bara. Peluh sudah membasahi wajah, leher dan pakaiannya. Belum lagi mulutnya yang terus mendesis kepedasan. Namun Bara terlihat cuek dan itu membuat keempatnya ikut cuek sambil menyantap makanan mereka masing-masing.


Setelah selesai makan, mereka bergantian sholat maghrib di musholla kecil yang ada di rumah makan itu.


Mereka masih duduk disana dan baru beranjak pergi saat jam tujuh malam. Mereka pun berjanji untuk bertemu lagi besok di tempat yang telah disepakati.

__ADS_1


\=====


Astrid dan Ellea tidur di kamar yang sama. Ellea baru saja melipat sajadahnya usai sholat Isya. Astrid keluar kamar mandi, mengambil sesuatu dari dalam tasnya, lalu masuk lagi ke kamar mandi.


" Kenapa lo, sakit...?" tanya Ellea.


" Mmm..., biasa, tamu bulanan dateng...," sahut Astrid sambil tersenyum kecut.


" Ooo...," kata Ellea membulatkan bibirnya sambil mengangguk.


" Si David tuh emang udah sembuh beneran dari phobia cewek cantik ya El...?" tanya Astrid penasaran.


" Yang gue denger sih gitu...," jawab Ellea santai.


" Lo tau dari Bara...?" tanya Astrid lagi.


" Iya. Si David itu kan kerja jadi tour guide, otomatis harus berinteraksi sama cewek dong. Kalo dia masih phobia, gimana mau dapet uang, kan traveler kebanyakan cewek...," kata Ellea menjelaskan.


" Iya juga ya..., tapi kok sama kita masih jaga jarak...?" tanya Astrid bingung.


" Ga jaga jarak, cuma jaga perasaan aja. Secara, kita berdua ini kan lumayan cantik, jadi dia takut tergoda sama kita...," sahut Ellea dengan nada sombong.


" Ck, itu mah bisa-bisanya lo aja...," kata Astrid sambil melempar bantal ke wajah Ellea.


Mereka pun tertawa bersama, sambil terus ngobrol hingga dinihari.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2