Genk ABJAD

Genk ABJAD
18 ( Musim Nikah )


__ADS_3

Astrid dan Bara duduk berdampingan di mobil yang dikendarai Bara.


" Maksud Lo aneh-aneh tadi apaan sih Bar...?" tanya Astrid membuka percakapan.


" Ga ada, sorry gue ga bisa cerita. Ini urusan laki-laki...," kata Bara dingin sambil memandang ke depan.


" Ooo..., Ok dehh...," kata Astrid sambil menggedikkan bahunya.


" Udah sampe nih," kata Bara sambil turun dan menyerahkan kunci mobil Astrid.


" Pake aja dulu...," kata Astrid menawarkan.


" Ga usah lah, kan rumah gue di gang sebelah. Jalan kaki juga sampe. Udah masuk gih...," kata Bara menyuruh Astrid segera masuk.


Di halaman tampak kedua orangtua Astrid sedang menunggu kedatangan Astrid. Mereka tersenyum dan menyapa Bara.


" Ga mampir dulu Bar...? tanya ayah Astrid.


" Udah malem Om, nganterin Astrid aja kok. Bara pulang dulu ya Om, Tante...," pamit Bara sopan.


" Makasih ya Bar udah mau repot nganterin Astrid," kata Bunda Astrid ramah.


" Sama- sama Tan. Assalamualaikum...,"


" Wa alaikumsalam, hati-hati Bar...," kata bunda Astrid lagi.


" Bunda ga salah nyuruh Bara hati-hati ?, ga terbalik. Mereka yang harus hati-hati kalo ketemu Bara...," kata Astrid tertawa sambil melangkah masuk ke dalam rumah.


" Kamu nih. Itu namanya basa basi, gimana sih, udah gede tapi masih aja kaya anak kecil...," gerutu bunda Astrid sebal.


\=\=\=\=\=


Pernikahan anggota genk Abjad, tidak merubah hubungan persahabatan diantara mereka. Apalagi mereka juga terikat urusan bisnis dalam usaha galeri dan resto Abjad.


Usaha yang mereka rintis pun berkembang pesat. Membuat kelimanya sibuk dalam menjalankan peran mereka masing-masing.


Charlie dengan cepat melupakan peristiwa di malam resepsi pernikahan David dan Ellea. Namun ia tak mengabaikan peringatan Bara melalui kejadian itu.


Setelah peringatan Bara waktu itu, membuat Charlie mulai hati-hati dan menjaga jarak dengan Astrid. Semula Astrid tak menyadari perubahan sikap Charlie, tapi lambat laun ia pun mulai menyadari ada yang berbeda dari sikap Charlie padanya.


" Lo kenapa sih Charlie...?, gue punya salah ya sama Lo ?" tanya Astrid bingung.


" Ga, Lo ga salah kok. Gue yang salah...," jawab Charlie santai.

__ADS_1


" Salah apaan...?" tanya Astrid tak mengerti.


Charlie hanya tersenyum dan meninggalkan Astrid di meja kerjanya.


" Ada mantan asisten Lo dateng tuh...," kata Charlie.


Ya, sejak Astrid berhenti dari dunia modelling, asistennya Ubay, ikut berhenti bertingkah ajaib. Ubay mulai belajar menjadi seorang laki-laki sejati.


" Ubay...!" jerit Astrid sambil memeluk Ubay dari belakang.


" Maaf Astrid...," kata Ubay sambil melepaskan pelukan Astrid.


Astrid memandang Ubay dari atas ke bawah. Dilihatnya banyak perubahan pada diri Ubay. Ubay yang sekarang terlihat lebih santun, lebih alim dan lebih macho.


" Ehm..., duduk Bay. Gimana kabar Lo sekarang ?" tanya Astrid setelah berhasil menetralisir rasa canggungnya.


" Alhamdulillah baik. Aku mau nganter ini...," kata Ubay sambil menyodorkan kartu undangan pernikahannya.


" Haahh..., ini..., Lo...," ucapan Astrid terhenti.


Ubay mengangguk sambil tersenyum.


" Dateng yaa...," pinta Ubay dengan tulus.


Setelah kepergian Ubay, Astrid masih berdiri di depan pintu galeri pakaian. Ia nampak termenung. Ingatannya berkelana pada saat ia dan Ubay sebagai partner kerja. Astrid menghapus air mata yang mengalir di pipinya.


" Semoga Lo selalu bahagia Ubay...," doa Astrid dalam hati.


\=\=\=\=\=


Bara datang dengan mengajak Winda untuk dikenalkan pada empat sahabatnya.


" Ehm, ini kenalin Winda, calon istri gue...," kata Bara dengan bangga.


" Apa...? calon istri ?, kapan Lo pacarannya ?" tanya Charlie tak terima.


" Gue ga pake pacaran, capek," kata Bara singkat.


Astrid dan Ellea menyambut kabar ini dengan memeluk Winda hangat. Mereka menepuk pundak Winda sambil tersenyum.


" Hebat Lo Win, bisa naklukin babon kita...," kata Ellea memuji Winda.


" Hei, mulut Lo tuh ya...," kata Bara melotot.

__ADS_1


" Sayang..., Aku dimarahin sama Bara...," rengek Ellea pada David.


" Eehh..., berani Lo marahin istri gue...?" tanya David gagah.


Brakk..!!


Meja digebrak keras oleh Bara, membuat kelima orang dihadapan Bara terlonjak kaget.


" Kenapa, Lo ga suka ?" tanya Bara lagi.


" Sayang..., Aku juga takut sama Dia..., Liat tuh, tampangnya udah kaya monster gitu...," bisik David pada Ellea yang masih bisa didengar oleh semuanya.


Ellea hanya cemberut melihat respon suaminya.


" Ha ha ha..., iya kaya monster kodok," kata Charlie tertawa.


" Sssttt..., jahat Lo ya. Bukan monster kodok tapi gorila...," kata Astrid sambil tertawa keras diikuti Ellea dan David.


Bara bangun dari duduknya dan langsung mengejar Charlie dan Astrid. Ellea yang sedang hamil muda dan David duduk di kursi sambil tertawa makin keras.


Sedangkan Winda nampak bingung melihat adegan di depannya.


Lelah mengejar Astrid dan Charlie, Bara kembali duduk di samping Winda dengan keringat di sekujur wajah dan tubuhnya.


" Kamu kenapa ?" tanya Winda.


" Abis ngejar bandit," jawab Bara singkat.


Astrid dan Charlie juga duduk di tempat semula dengan nafas terengah-engah.


" Jadi kapan ?" tanya David santai.


" Insya Allah bulan depan. Lo berempat harus kasih hadiah buat gue, harus !!" kata Bara tegas.


" Dasar aneh, minta hadiah kok maksa," gerutu Astrid sambil meneguk minumannya hingga tandas.


" Gue kan lagi siapin dana buat Ellea melahirkan...," ucap David menghiba sambil mengelus perut Ellea yang belum membuncit.


" Gue lagi bokek. Kalo Lo married abis gue, baru gue kasih hadiah," kata Charlie cuek.


Bara menghela nafas kesal. Lalu ia menarik tangan Winda lembut, dan membawanya pergi dari tempat itu tanpa pamit.


Winda hanya mengikuti dengan diam. Sementara itu di belakang mereka terdengar suara empat sahabat Bara sedang tertawa.

__ADS_1


bersambung.


__ADS_2