
Saat tiba di pelataran candi Borobudur, Ellea dan Astrid merasa sangat gembira. Mereka antusias sekali ingin masuk ke area dalam candi.
" Bukannya si Astrid bilang kalo dia sering kesini ya...?" tanya Charlie bingung.
" Kenapa emangnya ?" tanya Bara.
" Kan dia marah-marah ga mau kesini karna udah bosen kesini. Tapi coba lo liat tuh. Keliatan happy banget, sama kaya Ellea yang emang udah lama ga kesini...," sahut Charlie menganalisa.
" Dia happy karna baru aja baikan sama si Ellea. Sekedar ngimbangin aja, supaya Ellea ga ngambek...," kata David sambil meneguk minuman botolnya.
" Hmmm..., bener juga ya...," sahut Charlie tersenyum.
Lalu ketiga orang cowok itu ikut bergabung bersama Ellea dan Astrid.
Kali ini, David yang biasa bekerja sebagai tour guide, harus rela menjadi tour guide gratisan buat empat sahabatnya. Tapi David tetap bahagia bisa memberi informasi pada keempat sahabatnya.
" Candi Borobudur ini dibangun oleh dinasti Syailendra pada kisaran tahun 780-840 Masehi. Borobudur dibagi tiga bagian atau zona untuk membedakannya. Zona 1, disebut Kamadhatu berada dibagian bawah candi. Zona 2, disebut Rupadhatu, berada di bagian tengah candi. Zona 3, disebut Arupadhatu, yang berada di bagian atas candi...," kata David menjelaskan.
" Terus tadi di luar gue denger orang-orang ngomongin candi Pawon sama candi gendut. Dimana tuh Vid...?" tanya Charlie.
" Yang bener tuh candi Mendut...," kata Bara meralat ucapan Charlie.
" Masih satu kawasan sama Borobudur, dan dianggap berhubungan juga dengan Borobudur. Namanya Candi Pawon dan Candi Mendut....," sahut David.
" Jauh dari sini...?" tanya Ellea.
" Lumayan jauh, Candi Pawon dari sini sekitar 1,15 km, kalo Candi Mendut kira-kira 3 km lah dari sini...," sahut David menyudahi keterangannya.
Mereka berempat manggut-manggut mendengarkan ucapan David.
" Ayo kita foto dulu lah...," ajak Bara tiba-tiba.
Semua setuju dan langsung ambil posisi. Mereka menikmati kebersamaan mereka hari itu. Sesekali ada keributan kecil lagi diantara mereka. Tapi akan segera netral kembali.
" Kalo suatu saat balik lagi kesini, gue mau ke candi Pawon sama candi Mendut ya...," kata Ellea.
" Kenapa kita ga keluar negri aja sih El, kan lebih seru tuh...," kata Astrid.
__ADS_1
" Kenapa harus jauh-jauh sih...?. Kalo bukan kita yang bangga sama pariwisata dalam negri, siapa lagi ?, Orang-orang luar negri aja mau kesini, masa kita cari yang laen. Itu namanya ga bersyukur...," celoteh Ellea panjang.
Tawa meledak di antara mereka setelah Ellea usai menasehati Astrid. Yang dinasehati hanya memonyongkan bibirnya.
" Ha ha ha..., rasain Lo..., " kata Bara di sela tawanya.
" Lucu banget sih lo berdua, kaya emak lagi marahin anaknya...," kata Charlie yang diikuti tawa David.
" Rese lo pada...!" kata Astrid sambil menghentakkan kakinya lalu berjalan menjauh dari empat sahabatnya itu.
Melihat sikap Astrid yang kekanakan membuat mereka berempat tertawa terpingkal-pingkal.
\=====
Setelah usai cuti alias liburan bersama. Semua kembali ke rutinitasnya masing-masing.
Saat ini Charlie tengah mengerjakan tugasnya sebagai staf keuangan di kantor tempatnya bekerja. Charlie yang muda, tampan, ramah, berbakat, sangat menarik perhatian atasannya yang kebetulan wanita
" Tolong panggilkan Pak Charlie ke ruangan saya...," pinta bu Nadia sang atasan.
Sinta keluar dari ruangan bu Nadia dan menghampiri meja kerja Charlie. Sebenarnya Sinta juga menaruh hati pada Charlie. Tapi melihat gelagat atasannya yang nampaknya juga tertarik pada Charlie, Sinta pun mundur teratur.
" Charlie dipanggil bu Nadia sekarang...," kata Sinta yang berdiri di depan meja Charlie.
" Ada apaan ya...?" tanya Charlie bingung.
" Mana gue tau...," sahut Sinta sambil melengos.
Charlie pun berdiri dan menuju ruangan bu Nadia. Beberapa menit lagi sudah memasuki jam istirahat kantor. Jadi karyawan lain nampak sudah merapikan meja untuk segera ishoma (istirahat sholat dan makan siang).
Tok tok tok
" Masuk...," kata bu Nadia.
" Selamat siang Bu, maaf sebelumnya, Sinta bilang Ibu...," Charlie belum selesai bicara tapi bu Nadia segera memotong cepat.
" Iya, saya panggil kamu kesini. Silakan duduk, santai aja sekarang kan jam istirahat...," kata bu Nadia tersenyum sambil melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.
__ADS_1
Charlie pun duduk di hadapan bu Nadia yang dibatasi meja kerja bu Nadia. Charlie merasa tak nyaman saat bu Nadia mulai mendekatinya. Bu Nadia membelai rambut Charlie lembut, membuatnya bergidik dan langsung berdiri menghindar.
" Kenapa, kamu takut...?" tanya bu Nadia sambil terus berusaha menyentuh Charlie.
" Maaf Bu, tapi ini ga pantas Bu...," kata Charlie.
" Saya tuh suka banget sama Kamu Charlie. Mau ga kalo Kamu jadi pacar saya...?" tanya bu Nadia sambil menatap Charlie penuh harap.
" Maaf, saya udah punya pacar Bu. Ini fotonya...," kata Charlie sambil memperlihatkan foto Astrid di ponselnya.
Saat melihat foto itu, bu Nadia pun marah.
" Tinggalkan dia dan menikah lah dengan Saya !. Kamu pasti bahagia karena Saya bisa jamin hidup Kamu selamanya, tanpa perlu bekerja keras Kamu bisa dapatkan apapun yang Kamu mau...!" bentak bu Nadia marah sambil berusaha mencium Charlie.
Charlie sigap menghindar lalu bergegas membuka pintu ruangan bu Nadia.
" Saya ga bisa Bu...," tolak Charlie sambil melangkah keluar setelah mendorong tubuh bu Nadia hingga jatuh ke lantai.
" Jika Kamu menolak, saya akan pecat Kamu sekarang juga...!" ancam bu Nadia sambil bangkit.
" Ga perlu capek-capek pecat saya Bu. Saya resign saat ini juga...!" kata Charlie sambil membanting pintu.
" Charlie tunggu !, saya belum selesai bicara sama Kamu...!" teriak bu Nadia hingga suaranya terdengar dari luar ruangan.
Beberapa karyawan yang masih ada dekat meja Charlie ikut terkejut mendengar teriakan bu Nadia. Apalagi saat melihat Charlie bergegas keluar tanpa membawa apa pun.
" Kenapa tuh bu Nadia, sampe histeris gitu...?!" kata seorang karyawan.
" Ga tau, kayanya marah banget sama si Charlie...," sahut karyawan lain.
Tiba-tiba pintu ruangan bu Nadia terbuka lebar. Tampak raut wajahnya merah padam menahan marah. Para karyawan memilih segera pergi dari tempat itu karena tak mau menjadi pelampiasan kemarahan sang atasan.
\=====
Charlie menstarter mogenya, lalu melaju meninggalkan perusahaan tempatnya bekerja selama ini. Tak lama kemudian Charlie menepi di sebuah rumah makan pinggir jalan untuk mengisi perutnya yang terasa lapar.
bersambung
__ADS_1