
Rencana pernikahan Astrid dan Charlie tak berjalan mulus. Masih tersandung restu kedua orangtua mereka.
Orangtua Astrid tak mempercayai kesungguhan Charlie pada putri mereka, Astrid. Sementara orangtua Charlie juga tak mau hubungan baik mereka dengan keluarga Astrid rusak karena ulah Charlie nanti.
" Jadi orangtua Lo ga setuju karna kawatir Lo nyakitin Astrid?" tanya Bara.
Saat itu Bara, Charlie dan David sedang ngobrol di teras belakang resto Abjad.
" Iya...," jawab Charlie sambil memijit pelipisnya.
" Masuk akal sih...," kata David santai.
" Maksud Lo ?!" tanya Charlie marah.
" Kan selama ini Lo tuh ga pernah serius, dalam hal apapun. Jadi wajar kalo orangtua Lo juga Astrid ga percaya sama niat Lo. Gue juga kalo anak perempuan gue mau nikah sama orang ga jelas, pasti mikir seribu kali. Nah Lo coba liat dari sisi mereka...," nasehat David yang tak terpancing oleh kemarahan Charlie.
" Bener juga kata David. Dia kan udah mau jadi Bapak, pasti lebih ngerti lah dibanding Lo...," kata Bara membela David.
" Jadi gue harus gimana...?" tanya Charlie frustasi.
" Gini aja. Lo buktiin sama semua, kalo Lo siap nikahin Astrid. Beli rumah kek, tanah kek, mobil kek, atau apa gitu. Jangan cuma ditabung aja. Orang kan ga tau jumlah tabungan Lo, tapi kalo Lo beliin rumah, mereka bisa menilai keseriusan Lo...," usul David.
" Pinter juga Lo. Ok, gue bakal beli rumah yang mewah buat gue tinggal sama Astrid nanti," tekad Charlie.
" Ga usah terlalu mewah, Lo masih perlu modal buat ngembangin usaha kan. Yang penting bagus, letaknya strategis, dan yang paling penting, Astrid mau Lo ajak tinggal disana...," kata Bara.
" Bener Bar. Buat apa kita beli rumah bagus, kalo istri ga nyaman tinggal disana, ga enak. Ada baiknya Lo ajak Astrid buat cari rumah...," kata David lagi.
" Jangan berdua doang !" kata Bara dengan sorot mata penuh ancaman.
__ADS_1
" Ck, kapan sih Lo berhenti ngancam gue Bar...?" keluh Charlie.
David tertawa mendengar ucapan Charlie yang bosan diawasi Bara. Sedangkan Bara melengos cuek.
\=\=\=\=\=
Siang itu di sebuah taman, Astrid dan Charlie nampak menikmati es campur. Mereka duduk dibawah pohon yang rindang, sehingga sinar matahari yang terik tak mengenai mereka.
" Sayang, coba Kamu liat ini deh...," kata Charlie sambil menyodorkan brosur yang dibawanya.
" Ini apa sayang, Kamu mau beli rumah ?. Buat siapa...?" tanya Astrid heran.
" Buat kita dong. Kita ga mungkin tinggal sama orangtua kan, harus mandiri. Apalagi kita udah punya usaha yang Alhamdulillah berjalan lancar...," kata Charlie.
" Mmm..., Ok. Aku ikut urunan ya, kita bagi dua aja, Kamu 50%, Aku 50%...," kata Astrid semangat.
" Ga usah !, Aku aja yang bayar, kamu yang pilih rumahnya. Deal kan...?" kata Charlie tersenyum.
" Ayo lah sayang, Aku punya uang kok. Kasih Aku kesempatan buat ngebuktiin keseriusan Aku sama Kamu...," pinta Charlie.
" Iya sihh...," Astrid menatap mata Charlie seolah masih ragu.
" Mungkin dengan begini, kedua orangtua kita bakal cepet memberi restu," kata Charlie yakin.
" Iya deh, Aku setuju...," jawab Astrid mantap.
Siang itu mereka mulai memilih rumah yang akan mereka tempati setelah menikah nanti. Charlie menghubungi agen pemasaran, setelah menemukan rumah yang cocok sesuai keinginan Astrid.
\=\=\=\=\=
__ADS_1
" Ayo Bun, silakan masuk...," kata Astrid pada Bunda dan Ayahnya.
" Ayo Ma, kita masuk dulu ya...," ajak Charlie pada mama dan papanya.
" Ini rumah siapa ?" tanya bunda Astrid dan mama Charlie bersamaan.
" Ini rumah Kami...," kata Charlie malu-malu.
" Belum, insya Allah jadi rumah Kami kalo Kami menikah nanti. Charlie lho yang beli Bun, Ma, pake uangnya sendiri. Astrid mau bantu ga boleh...," kata Astrid sambil menggamit lengan Charlie.
Suasana hening sejenak. Kedua orangtua mereka saling berpandangan. Tiba-tiba mereka bersorak dan saling berpelukan.
" Akhirnya jadi juga kita besanan...," seru mama Charlie sambil memeluk bunda Astrid.
" Iya, lama banget sih nikahnya...," kata bunda Astrid membalas pelukan calon besannya.
" Anak muda jaman sekarang...," kata papa Charlie sambil merangkul pundak ayah Astrid yang tertawa bahagia.
Astrid dan Charlie bingung mendapati respon kedua orangtua mereka.
" Ini..., maksudnya gimana ?" tanya Charlie hati-hati.
" Kalian menikah dua minggu lagi, persiapan sudah beres semua. Kalian berdua tinggal duduk manis aja," jawab bunda Astrid.
" Kami udah restuin Kalian kok, cuma mau liat seberapa besar tekad Charlie menikahi Astrid, ternyata...," ucapan mama Charlie terhenti karena mengusap air matanya.
Astrid memeluk Bunda dan Mama Charlie bersamaan. Ia ikut menangis terharu mendengar pernyataan Bunda dan calon mertuanya.
Ayah Astrid dan papa Charlie menepuk pundak Charlie dengan bangga.
__ADS_1
Charlie dan Astrid saling melempar senyum bahagia, karena impian mereka untuk menikah sudah di depan mata. Charlie senang karena perjuangannya untuk menikahi Astrid tidak sia-sia.
bersambung