Guard In Shadow

Guard In Shadow
Chapter 11


__ADS_3

Setelah menyimpan ponselnya, pria itu melewati kerumunan dan berjalan ke sebuah gang di pinggir jalan seorang diri. Ketika melewati sebuah tong sampah, dia mengambil sebuah kantong plastik berwarna hitam dari dalamnya, lalu berjalan ke ujung gang, di sana ada sebuah rolling door yang sudah begitu usang.


Begitu masuk ke dalam, pria itu membuka lampu, dibawah cahaya lampu yang remang, didalamnya adalah sebuah ruang yang luasnya tidak sampai 10 meter persegi, didalamnya penuh dengan barang, sehingga menimbulkan bau yang begitu menyengat.


Pria itu membuka kantong plastik dengan wajah tanpa ekspresi, mengeluarkan sebuah koper jinjing dari dalamnya. Di dalam koper itu ada sebuah pistol M1911, bagian depannya terpasang peredam suara dan beberapa batang peluru cadangan…


Pagi pukul 9.40, masih ada 50 menit sebelum prosesi tanda tangan kontrak.


Tubuh Jacky saat ini penuh dengan tanah, dia melewati jembatan tinggi dengan cepat bagaikan orang gila, cuaca begitu panas, dalam waktu singkat tubuh Jacky sudah dibasahi keringat, ditambah lagi melewati jurang, tubuhnya penuh dengan tanah, membuatnya terlihat begitu berantakan!


Rasanya Jacky ingin sekali memaki, daerah Loco begitu kacau, kalau dia adalah pembunuh bayaran, dia pasti akan memilih tempat itu untuk beraksi.


Selama di perjalanan, Jacky tidak hentinya menelepon Henry dan Kezia, namun sama sekali tidak ada yang mengangkat, sehingga dia memutuskan untuk menelepon Leon, meminta Leon mencari cara untuk memberitahu Kezia.


Jacky sangat panik, setelah berpikir cukup lama, akhirnya dia memilih untuk lapor polisi, untuk statusnya, sebenarnya lapor polisi bukanlah pilihan yang tepat, namun demi Kezia, dia sudah tidak punya pilihan lain lagi.


Pagi pukul 10.10 di tengah acara.


Henry meletakkan ponsel dan berbisik di samping Kezia: “Presdir, barusan kepala pelayan menelepon, Tuan besar meminta Anda segera kembali, dia mengatakan kalau ini adalah perintah Tuan besar.”


“Apakah dia mengatakan alasannya?”


“Jacky melapor kepada Tuan besar melalui Leon, mengatakan kalau ada pembunuh bayaran yang mengincar Anda, Tuan besar mengkhawatirkan keselamatan Anda, sehingga…”

__ADS_1


“Prosesi akan dimulai 20 menit lagi, semua orang penting dari pemerintahan juga sudah tiba, kalau aku pergi sekarang dari sini, bagaimana aku mempertanggungjawabkannya?”


Bicara sampai disini, dia menghentikan ucapannya dan bertanya kepada Henry: ”Kalau sampai benar-benar muncul pembunuh bayaran, apakah kalian bisa menjamin keselamatanku?”


“Presdir tenang saja, kami tidak akan membiarkan hal buruk terjadi pada Anda.”


“Itu sudah cukup, aku percaya pada anak buahku.”


Henry mundur ke samping, lalu memberikan isyarat ke arah Panji, Panji segera mendekat.


“Ketua tim, ada apa?”


“Ketika kamu memeriksa sekeliling, apakah sudah memastikan tidak ada yang mencurigakan?”


Mendengar ini, Panji berkata dengan nakal: “Ketua tim, apakah kamu juga percaya pada omong kosong si Jacky? Orang awam sepertinya bagaimana mungkin bisa dibandingkan dengan orang profesional seperti kita, aku ini mantan anggota tim tentara khusus, tidak perlu khawatir, tidak akan ada masalah.”


“Semoga demikian!” Henry mengangguk.


Namun pada saat ini, beberapa sekretaris pada petinggi pemerintahan naik ke atas panggung, mereka berbisik di samping pimpinannya dengan wajah tegang.


“Ada kejadian seperti itu?” wakil pemerintahan memasang wajah yang begitu panik dan marah.


“Nona Kezia Sudibyo, maaf sekali, barusan ada yang melapor kalau ada yang membuat onar di daerah Loco, dan saat ini mereka sedang menuju ke area prosesi. Anggota mereka sangat banyak, demi keselamatan Anda, sebaiknya Anda pulanglah terlebih dahulu, urusan di sini biar kami yang urus.”

__ADS_1


Henry yang mendengar ucapan ini dari samping, langsung terkejut, entah kenapa tiba-tiba dia merasa sangat cemas!


Tepat ketika Kezia sedang bicara dengan para petinggi pemerintahan, Henry melihat sekelompok preman datang berbondong-bondong, mereka semua membawa tongkat besi, siapa pun yang mereka temui akan langsung mereka pukuli.


Para penonton yang berkerumun melihat hal ini langsung bubar tanpa banyak bicara lagi.


Lalu, tatapan para preman itu langsung terpusat pada rombongan Henry.


“Gawat!”


Wajah Henry langsung menjadi serius, tubuhnya langsung menegang, dia yakin sekali ada yang tidak beres dengan kondisi saat ini.


“Lindungi Presdir!”


“Teman-teman, maju, serang mereka!”


Preman yang memimpin di depan berteriak, dia berdiri di belakang dan memerintahkan anak buahnya.


Melihat rombongan preman yang jumlahnya mencapai 50 orang menyerbu ke arah mereka, Panji dan yang lainnya segera menarik Kezia ke belakang.


Dan pada saat bersamaan, Henry membawa 6 orang lainnya maju dan berbaris membentuk benteng manusia, sehingga Kezia dikelilingi oleh mereka.


Sebagai tentara, terutama tentara khusus, ketangkasan mereka tentu saja tidak diragukan lagi.

__ADS_1


__ADS_2