Guard In Shadow

Guard In Shadow
Chapter 20


__ADS_3

“Sudah tidak apa-apa, kamu pulanglah, terima kasih!” tiba-tiba wanita yang sedang membuat keterangan tadi berdiri dan mengucapkan terima kasih pada Jacky, lalu memintanya pulang.


“Kamu adalah?” saat ini Jacky baru benar-benar memperhatikan wanita ini, tinggi badan wanita ini kurang lebih sama dengan Kezia, dia juga sangat cantik, bahkan memiliki aura yang sulit Jacky jelaskan.


Sebuah aura seperti nona orang kaya yang begitu anggun dan berkelas.


Wanita itu menjawab: “Saya adalah teman sekolah Presdir kalian, pak polisi sekalian, Anda sekalian juga sudah boleh pulang, Kezia mengalami shock, besok pasti akan jauh lebih baik, nanti saya akan mengajaknya datang ke kantor polisi untuk membuat keterangan, saat ini dia belum bisa diganggu.”


“Baiklah kalau begitu, kalian berhati-hatilah.” Kedua polisi yang duduk berdiri lalu berjabat tangan dengan wanita itu dan Jacky, setelah itu berbalik dan langsung turun keluar.


Sementara Jacky juga melihat Kezia yang terbaring di bangsal seberang, sepertinya dia sudah tertidur, saat ini dia sama sekali tidak bergerak, rambutnya masih agak basah dan berantakan, namun sama sekali tidak ada luka di wajahnya, hanya lengannya yang diperban.


Melihatnya tidak terluka parah, Jacky baru merasa tenang dan disaat bersamaan duduk di sana.


Ketika wanita ini melihat Jacky bukan hanya tidak pergi, dan malah duduk di sana, langsung mengerutkan alisnya dan berkata sambil menggeleng dengan wajah tersenyum: “Kamu tidak dibutuhkan di sini, terima kasih atas niat baikmu, nanti setelah Presdir mu sadar, saya akan memberitahunya kalau kamu sempat datang.”


“Istirahat dulu sebentar, gak usah peduliin saya, setelah istirahat sebentar saya akan pergi.” Jacky mengeluarkan rokok dan hendak menyalakannya, namun melihat ada tulisan dilarang merokok di koridor, dia akhirnya menyimpan kembali rokoknya.


Pria tampan berwajah dingin yang berdiri di depan tangga mendekat perlahan, lalu berdiri di depan Jacky tanpa bergerak sedikitpun.


Dan Jacky bisa menebak, seharusnya pria ini adalah seorang pengawal, bahkan pengawal wanita ini.


Wanita ini tidak bicara lagi, dia berbalik dan kembali ke bangsal, setelah Jacky duduk sekitar 10 menit lebih, dia berdiri lalu pergi dari sana.


Disini memang tidak tidak membutuhkan bantuannya, apalagi hubungannya dengan Kezia tidaklah akrab, kalau tetap berada disini terasa kurang pantas.

__ADS_1


Namun, ketika dia belum keluar dari koridor, wanita itu tiba-tiba berjalan keluar dari bangsal dan memanggilnya: “Itu… kamu tunggu sebentar.”


“Ada apa?” Jacky berbalik dan berkata.


“Kamu bisa menyetir? Punya SIM?” tanya wanita itu.


Jacky mengangguk: “Bisa, punya, kenapa?”


“Ini kunci mobil Presdirmu, antarkan ke bengkel, besok kamu kembalikan setelah selesai di service, total biaya perbaikan kamu talangi dulu, nanti baru kamu reimburse.”


“Mobilnya rusak? Saya hanya punya uang 8 juta, cukup untuk service tidak?” Jacky menerima kunci sambil bertanya.


Mendengar ucapan Jacky, wanita ini sempat mengerutkan alis lalu berbalik masuk ke dalam bangsal, setelahnya dia keluar dari bangsal dengan membawa tasnya keluar.


Melihat Nila yang begitu santai dan juga acuh, Jacky hampir tidak percaya dengan apa yang wanita ini lakukan, wanita ini tidak takut dia menilep uang 60 juta ini?


“Baiklah, besok saya akan mengantar mobilnya kembali ke kantor setelah selesai di service.” Jacky menerima uang dan kunci lalu pergi.


Pada saat bersamaan, dia juga merasa begitu senang, kendaraan pribadi presdir cantik loh, dia masih belum pernah mengendarai mobil semewah ini.


Dia menuruni anak tangga dengan langkah cepat lalu mengarahkan remot mobil ke area parkiran.


“Jack, di sini, di sini, lihat ke mana lu.” Supir taksi muda itu ternyata belum pergi dan sedang menunggunya.


“Buset, kenapa lu masih di sini?” umpat Jacky dengan mata terbelalak.

__ADS_1


“Gak ada tarikan, nunggu tarikan, jadi sekalian tungguin lu turun.” Ucap anak muda itu dengan wajah tersenyum.


“Kalau begitu kayaknya lu bakal kecewa, gue sekarang bawa mobil.”


“Bipp… bipp…” terdengar suara Audy yang terparkir di area parkiran, lalu Jacky lari dengan cepat kesana.


Anak puda itu begitu heran sehingga mengikuti dengan mobilnya.


“A8, gile, mobil A8 bro, mobil ini paling gak 2 miliar kali ya?” ketika Jacky sampai di samping mobil, dia terlihat begitu terkesima.


“Paling murah 4 miliaran, tapi bukannya ini mobil presdir kalian? Yang digigit anjing presdir kalian rupanya, eh tar dulu, kok kaca mobilnya pecah.” Pemuda itu turun dari mobil lalu melihat ke bagian dalam mobil melalui jendela yang pecah.


“Kok banyak darah?” ucap anak muda itu dengan wajah yang sangat terkejut.


“Iya, kok darahnya banyak sekali? Jangan-jangan pembuluh darahnya terluka?” Jacky juga melihatnya, bahkan bagian kursi samping pengemudi juga dashboard dipenuhi oleh bercak darah yang sangat banyak.


“Tunggu dulu, ini bukan darah.” Tiba-tiba anak muda ini menyentuh bekas darah yang ada di pintu mobil, lalu menciumnya: “Bau tinta.”


“Bahkan ini saja bisa tercium olehmu?” Jacky cukup terpukau, anak muda ini lumayan juga, bahkan aroma tinta saja dia bisa mengenalinya?


“Sepertinya iya, kalau gue gak salah tebak, pasti presdir kalian diserang ya? Ada yang memecahkan kaca mobilnya lalu menyiram sekujur tubuhnya dengan tinta?”


“Aku tidak tahu, presdir tertidur, gue ditugaskan untuk membawa mobilnya ke bengkel, oh iya, lu tahu gak dimana bengkel resmi Audi, gue gak tahu.”


“Gue bisa cari tau, tapi bengkel resmi gak buka malam-malam begini, besok aja, besok pagi gue antar.”

__ADS_1


__ADS_2