Guard In Shadow

Guard In Shadow
Chapter 4


__ADS_3

Dan pada saat bersamaan, ponsel Cobra tiba-tiba berdering, menatap Wolf Stone yang sedang berlutut dan Jacky yang sedang menatapnya dengan dingin, Cobra mendadak tidak tahu dirinya harus mengangkat telepon ini atau tidak.


“Cobra, gimana sih, sudah berapa hari ini, orangnya udah lu bunuh belum? Bukannya lu janji sama gue bakal beres dalam dua hari, apa-apaan ini? Jadi duitnya lu masih mau gak?”


Jacky melihat Cobra yang termenung, langsung tersenyum dingin dan berjalan mendekat, lalu menekan tombol speaker pada layar ponsel.


Dan ketika mendengar suara di seberang sana, Cobra langsung bergidik, ekspresinya juga langsung berubah drastis, dan karena ketakutan suaranya juga langsung kehilangan kendali, dia berteriak pada ponselnya: “Bedebah brengsek!”


Setelah memaki, Cobra langsung mematikan telepon lalu merangkak ke hadapan Jacky, dia menyembah tiada henti sambil memohon: “Shadow King, ampuni aku, aku sungguh tidak tahu kalau dia adikmu!”


Sampai di sini, Wolf Stone sudah bisa mengira-ngira apa yang sedang terjadi, ketika mengetahui Cobra menangkap adik Jacky, ekspresinya langsung berubah tegang dan begitu putus asa.


“Shadow King, ampunilah aku, aku tidak akan berani lagi…”


Tubuh Cobra bergetar hebat, bahkan celananya sampai basah, namun sebelum dia menyelesaikan ucapannya, sebilah pisau sudah menancap di dadanya, tatapan mata Cobra perlahan menjadi kosong, wajah yang tumbang itu masih memperlihatkan ekspresi memohon yang sudah membatu.


“Shadow King, ini adalah kecerobohan hamba, hamba bersedia mati untuk menebus dosa hamba…”


Wolf Stone mendorong jasad Cobra perlahan, lalu mencabut belati untuk menusuk dadanya sendiri, namun Jacky malah menahannya.

__ADS_1


“Tidak perlu begitu, Wolf Stone, mulai sekarang, tidak ada lagi Shadow di dunia pembunuh bayaran, dan kamu adalah murid yang aku latih dengan tanganku sendiri, posisi raja pembunuh bayaran kuserahkan padamu, hanya saja, aku berharap kabar mengenai aku mengundurkan diri dan menetap di Jakarta bisa kamu jaga, selain kamu tidak ada yang boleh mengetahuinya, mengerti maksudku?”


Jacky menghela nafas dan merebut belati yang ada di tangan Wolf Stone, dia menunjuk ke sekeliling: “Siapkan mobil untukku, lalu atur sebuah rumah sakit, bersihkan tempat ini, jangan sampai meninggalkan jejak, mulai sekarang kamu harus menjaga dirimu dengan baik!”


“Baik! Kabar King Shadow mengundurkan diri tidak akan hamba bocorkan, mulai sekarang, selama aku masih hidup, anak buahku tidak akan masuk ke Jakarta satu langkah pun!”


Jacky mengangguk, setelah Wolf Stone selesai mengatur mobil dan rumah sakit, Jacky menggendong Jocelyn dan Kezia ke dalam mobil, lalu pergi.


……


Setibanya di rumah sakit, setelah Jacky memastikan Jocelyn dan Kezia baik-baik saja, hanya mengalami shock berlebih, dia baru merasa tenang, untuk menghindari masalah yang tidak diinginkan, setelah menjalani pemeriksaan, Jacky mengantar adiknya kembali ke asrama, meminta tolong bantuan beberapa teman asramanya untuk menjaganya sementara waktu.


Setelah memesan kamar, Jacky memberikan glucosa pada Kezia, lalu Jacky duduk di samping memikirkan rencana untuk kedepannya, hal yang paling penting baginya sekarang adalah mencari sebuah pekerjaan.


Ketika langit sudah hampir terang, akhirnya Kezia sadar.


“Penjahat.. dasar penjahat, mau apa kamu?”


Setelah Kezia sadar, dia langsung menyadari dirinya berada dalam penginapan, lalu melihat Jacky yang berada disampingnya, reaksinya yang pertama adalah menganggap Jacky komplotan orang jahat itu, kelopak matanya langsung memerah, dia refleks memaki Jacky sambil menangis.

__ADS_1


“Aku…”


Jacky baru ingin menjelaskan sesuatu, wanita itu langsung mengambil gelas yang ada di samping ranjang dan melemparkannya ke arah Jacky.


“Dasar wanita sialan, aku ini sedang menolongmu, coba kamu pikir yang benar, sebelumnya ada kejadian apa!”


Jacky berhasil menghindari gelas yang melayang, gelas itu jatuh di lantai dan pecah berantakan.


“Kau… kau itu orang jahat!”


Kezia menunjuk bahu Jacky sambil menangis sedih.


Jacky tercengang, saat ini dia baru sadar kalau luka tembak di bahunya menganga, luka tembak adalah hal yang sangat sensitif di dalam negeri, dia tidak berani mengobatinya di rumah sakit, sehingga mengobatinya sendiri ala kadarnya, namun karena tenaga yang dia pakai terlalu kuat, membuat lukanya kembali terbuka dan berdarah lagi.


Jacky menghela nafas, dia mengabaikan Kezia dan berbalik masuk ke dalam kamar mandi, dia membersihkan darah dan menggunakan alkohol untuk mensterilkan lukanya, mengeluarkan peluru sambil bercermin, dan rasa sakit yang begitu menusuk membuat Jacky dipenuhi oleh keringat.


Luka seperti ini bukanlah hal pertama bagi Jacky, sehingga dia sangat mahir dalam penggunaan obat juga saat membungkus luka, setelah satu jam berlalu, dia berjalan keluar dari kamar mandi, Kezia yang berada diatas ranjang sudah berhenti menangis.


“Kamu baik-baik saja, keluarlah untuk makan sedikit lalu kamu boleh pergi! Oh iya, uang sewa penginapan sudah dibayar, tentu saja itu uang yang ada di dalam dompetmu, sisanya aku ambil, anggap saja aku pinjam, nanti setelah mendapat pekerjaan baru kukembalikan!”

__ADS_1


__ADS_2