
Yang pertama kali dilihat oleh Jacky adalah Jocelyn yang basah kuyup, dan ketika melihat tubuh adiknya yang penuh luka, aura yang begitu menakutkan langsung terpancar keluar dari dalam tubuhnya, matanya juga langsung berubah menjadi semerah darah.
“Heh bocah, jangan buru-buru, nanti lu bakal kami antar buat nemenin mereka kok!”
Ketika melihat Jacky, semuanya sempat tercengang, kemudian tersenyum dengan dingin, salah seorang pria berbaju hitam mencabut pedang pendek yang bergerigi yang tersemat di pinggangnya, lalu menusukkannya ke arah Jacky.
Cobra mendengus pelan, dia berbalik dan berniat menuangkan semua bensin yang ada di sampingnya ke lantai, dimatanya, Jacky adalah orang yang pasti akan mati.
Namun dia baru berbalik, terdengar suara erangan yang diiringi oleh suara tulang remuk yang membuat orang bergidik.
Cobra menoleh, ekspresinya langsung berubah, pergelangan tangan anak buahnya itu saat ini sedang dicengkram oleh Jacky dengan satu tangan, bahkan posisinya terlihat aneh, jelas lengannya sudah patah saat ini.
“Hmmph!”
Jacky menendang dada pria berbaju hitam itu, membuat orang itu langsung terpental keluar.
Melihat cap telapak tangan yang sudah mulai membiru di wajah Jocelyn, api amarah terpancar dari mata merah Jacky, dia berteriak dengan keras: “Udah gue bilang, kalau sampai terjadi sesuatu sama adek gue, gue bakal bikin kalian hidup segan mati tak mau!”
“Maju semuanya, gue pengen lihat gimana cara bocah tengik ini bikin kita hidup segan mati tak mau!”
Cobra tersenyum dingin dan sinis, orang-orang berbaju hitam lainnya langsung mencabut pedang pendeknya dan menebaskannya ke arah Jacky.
__ADS_1
Namun, dalam waktu yang begitu singkat, kembali terdengar erangan, dan orang-orang berbaju hitam itu kembali terpental, dadanya sampai cekung ke dalam, kaki dan tangannya terpulir, dan darah segar yang dimuntahkan dari mulut mereka terlihat dipenuhi potongan darah beku seperti serpihan hati yang hancur.
Perubahan yang begitu mendadak membuat ekspresi Cobra begitu buruk, dia segera mencabut belati berbentuk taring ular dan menyerang Jacky dengan cepat.
Dia sangat percaya diri pada kecepatannya sendiri, bahkan pembunuh bayaran ternama pun tidak banyak yang bisa menandingi kecepatannya!
Ketika belatinya mendekati Jacky, tiba-tiba ada sebuah tenaga yang begitu kuat mengikat pergelangan tangannya, dan Cobra mendapati belatinya sudah tidak bisa mendekat lagi sedikitpun.
“Traaang__”
Tangan Jacky mencengkram gagang belati, dengan sedikit tenaga saja, belatinya sudah patah menjadi dua, setelah sekelibat bayangan muncul, Cobra tiba-tiba merasakan sakit di kakinya dan tersungkur di tanah sambil mengerang, berikutnya cairan hangat mengalir turun, entah sejak kapan urat kakinya diputus oleh Jacky.
“Gue udah pernah bilang, kalau sampai terjadi sesuatu sama adek gue, gue akan buat lu mati segan hidup tak mau! Cobra, sebagai seorang pembunuh bayaran, kalau sampai urat kaki dan tangan elu gue putus, menurut lu gimana akibatnya?”
“Bagaimana lu bisa kenal sama gue? Siapa lu sebenarnya? Jangan-jangan lu juga pembunuh bayaran…”
Ada ekspresi tidak percaya yang muncul sekelibat di wajah Cobra, lalu dia mundur dengan penuh ketakutan, darah tidak hentinya mengalir menyusuri kakinya, dan tepat pada saat ini, tiba-tiba terdengar suara derap langkah dan suara dari luar.
“Hahaha… Wolf Stone datang, lu tahu siapa Wolf Stone? Dia adalah pembunuh bayaran nomor empat di dunia, setelah Shadow menghilang, gak akan ada yang sanggup menandingi Wolf Stone di dunia pembunuh bayaran, kalau lu berlutut sekarang, gue akan mempertimbangkan untuk membiarkan lu mati dengan sedikit lebih mudah…”
Mendengar suara derap langkah, Cobra bagaikan melihat sinar pengharapan, wajahnya terlihat begitu senang dan tertawa dengan begitu keras ke arah Jacky.
__ADS_1
“Wolf Stone?”
Alis Jacky langsung mengkerut.
“Haha, takut? Cepat berlutut, sujud tiga kali ke gue, kalau gak, setelah Wolf Stone sampai, lu bakal gue iris-iris…”
Cobra melihat Jacky mengerutkan alisnya, dia semakin yakin Jacky takut pada jati diri Wolf Stone.
“Ada apa? Ada masalah apa?”
Pada saat ini, Wolf Stone masuk ke dalam, dan yang pertama kali terlihat olehnya adalah Cobra yang terbaring bersimbah darah.
Cobra melihat Wolf Stone masuk, langsung menunjuk Jacky dengan sorot mata yang begitu kejam: “Wolf Stone, bunuh dia, cepat, bunuh dia, asalkan lu bunuh dia, gue bersedia melakukan apa pun untuk lu…”
Tepat pada saat ini, Jacky mendekat sambil memainkan belati yang ada di tangannya, dia berkata sambil menatap Wolf Stone yang ada di depan pintu: “Wolf Stone, lu mau ngebunuh gue dengan cara apa?”
Nada bicara Jacky begitu tenang, namun Wolf Stone yang mendengar ini malah gemetar, setelah menoleh dan melihat wajah Jacky, dia tiba-tiba jatuh berlutut dihadapan Jacky dengan wajah panik: “Shadow King yang terhormat, hamba… hamba tidak berani…”
Dooooong… begitu melihat ini, Cobra merasa seperti habis diterjang ombak raksasa…
“Kau… kau adalah… kau adalah Shadow?”
__ADS_1
Cobra menatap Jacky dengan wajah begitu terkejut, nada bicaranya terdengar penuh dengan ketakutan.