Guard In Shadow

Guard In Shadow
Chapter 9


__ADS_3

Keluar dari area parkir, sebuah mobil Range Rover memimpin, Kezia berada di dalam mobil Rolls Royce yang diapit oleh Range Rover, tim pengawal membentuk formasi yang ketat, sementara Jacky mengikuti dari belakang di kejauhan.


Bukannya dia tidak ingin berjalan dengan cepat, tetapi mobil tua ini sama sekali tidak bisa berjalan cepat, begitu menginjak gas maka asap hitam akan mengepul.


Setelah melewati beberapa jalan, tiba-tiba mata Jacky memicing, dia melihat ada sebuah mobil sedan berwarna putih di belakangnya.


Sejak keluar dari gedung, dia sudah menyadari keberadaan mobil sedan ini, dan sudah begitu lama, mobil ini masih saja mengikuti dari belakang.


Dia tidak menyangkal bahwa mobil ini mungkin sejalan dengan mereka, namun pengalaman sekian tahun memberitahunya, selama tidak yakin 100%, segala kemungkinan tidak boleh diabaikan.


Memikirkan hal ini, dia melepaskan pedal gas dan menurunkan kecepatan mobil, membiarkan mobil sedan itu menyalip ke depannya.


Mobil yang dipakai oleh Henry dan yang lainnya adalah Range Rover dan Roll Royce, mobil Santana tuanya ini tidak akan menarik perhatian, tidak akan ada yang menyangka ada pengawal Ferdu Group di dalam mobil tua ini.


Karena kaca jendela mobil itu menggunakan kaca film, supir yang menyetir tidak bisa terlihat dengan jelas, hanya saja bisa dipastikan itu adalah seorang pria.


“Jacky, dimana kamu?”


“Ketua tim, aku menemukan sebuah mobil yang mencurigakan.”


“Berapa nomor platnya.”


Jacky melihat nomor plat mobil dan menyebutkannya, setelah sesaat, terdengar suara Henry di intercom: “Sudah diselidiki, tidak masalah, segera ikut iringan, jangan sembarangan meninggalkan regu.”

__ADS_1


“Baik.”


Jacky merubah jalur, lalu berencana menyusul dari samping. Dan dalam waktu singkat, mobil Santana Jacky langsung menyusul mobil sedan putih dan sejajar dengan mobil itu.


Memanfaatkan kesempatan kali ini, Jacky menoleh ke arah kursi pengemudi mobil sedan putih. Dan disaat bersamaan, supir mobil sedan putih juga seolah memperhatikannya, matanya juga melirik kearah mobil Santana miliknya.


Meskipun mereka berdua tidak bisa melihat dengan jelas, namun entah kenapa, Jacky merasakan rasa cemas yang sangat kuat.


Berdasarkan instingnya selama bertahun-tahun, dia yakin supir mobil sedan ini bermasalah!


Pada saat ini, supir di dalam mobil mengalihkan pandangannya dan melihat ke depan, tangan kanannya memegang lehernya secara refleks, senyum yang mengembang di sudut bibirnya terasa begitu dingin dan kejam.


Alis Jacky mengkerut, dia mengeluarkan teleponnya dan menghubungi sebuah nomor: “Wolf Stone, apakah di Jakarta masih ada orang mu?”


“Tidak, aku hanya bertanya!”


“Oh iya Shadow King, aku sudah mengikuti perintahmu untuk menyebarkan kabar di dunia pembunuh bayaran bahwa Shadow sudah mati, sebagian besar orang sudah tahu bahkan percaya!”


“Hm, kerja bagus!”


Setelah menutup telepon, mata Jacky memicing: “Tidak disangka akan bertemu dengan rekan seprofesi di Jakarta ini, wanita ini sebenarnya menyinggung siapa, kelihatannya pembunuh bayaran yang disewa lebih dari satu!”


Dan pada saat ini, mobil sedan yang berada disampingnya melesat cepat.

__ADS_1


“Ingin kabur?”


Jacky tidak banyak bicara, dia langsung mengganti gigi dan meningkatkan kecepatan, Santana menyemburkan asap hitam, bahkan body mobilnya terasa akan lepas berantakan, namun Jacky tetap mengikuti mobil itu dari belakang.


Jacky mengendarai Santana dan mengejar dari belakang, tidak hentinya berpindah jalur untuk menghindari mobil di depan.


Tidak lama, kecepatan kedua mobil sudah mencapai 100 km/jam, meninggalkan mobil Rolls Royce Keiza jauh di belakang.


“Jacky, lu gila ya, cepat kembali.”


“Ketua tim, sepertinya ada pembunuh bayaran, jaga keselamatan Presdir dengan ketat!”


Mendengar teriakan Henry dari intercom, Jacky menjawab singkat dan langsung mematikan intercom agar tidak terganggu.


“Jacky! Jacky! Presdir, sepertinya Jacky mematikan intercomnya!”


Henry begitu kesal dan berkata pada Kezia yang duduk di kursi belakang.


Kezia melirik Henry, lalu mengingat penculikannya dua hari lalu, dia berkata dengan ragu: “Apakah benar ada pembunuh bayaran?”


“Tidak mungkin, di dalam tim ada yang pernah menjadi tim khusus, sama sekali tidak menemukan hal yang mencurigakan!”


Henry menggeleng dan berkata dengan yakin.

__ADS_1


__ADS_2