
Setelah memasukkan nomor handphone, Jacky mengembalikan ponsel Kezia lalu berkata: “Nanti ketika aku mengatakan tembak, kamu langsung telepon nomor ini. Ingat ya, nyawa gue ada di tangan lu!”
Kezia mengangguk, meskipun tidak suka dengan pria di hadapannya, namun masalah ini menentukan nyawa mereka berdua, dia tidak boleh gegabah.
Setelah mengatur tempat persembunyian untuk Kezia, Jacky berjalan seorang diri ke tengah gang dan melihat ke sekeliling dengan tenang.
Tidak butuh waktu lama, seorang pria bertopi yang mengenakan ransel muncul di hadapannya.
“Ternyata elu.”
Melihat sekejap, Jacky sama sekali tidak memperlihatkan ekspresi terkejut, dia juga tidak memperlihatkan reaksi lain, hanya berkata dengan singkat dan ekspresi datar.
“Lu kenal gue rupanya?”
Pria bertopi itu merasa terkejut, dia memperhatikan Jacky dan berkata.
Jacky berkata sambil tersenyum: “Siapa yang tidak kenal dengan pembunuh bayaran yang terkenal, berada di urutan ke-11 dunia pembunuh bayaran, Foxran?”
Jacky tidak pernah bertemu dengan Foxran, namun dia tahu persis bagaimana cara kerja Foxran. Dia adalah pembunuh bayaran bergaya aneh, dia paling suka memicu keributan, lalu membunuh targetnya di tengah situasi ricuh yang dia buat secara diam-diam, gerakannya akan sangat sulit untuk terlacak, bahkan untuk menangkapnya pun tidak akan bisa.
“Bahkan informasi gue saja lu tahu sedetail itu, kelihatannya kita seprofesi!”
__ADS_1
“Gue hanya orang kecil, tidak akan ngefek untukmu.”
Jacky mengangkat bahunya dan berkata dengan acuh.
Namun Foxran malah melirik tumbukan barang bekas yang ada di sudut gang lalu berkata dengan dingin: “Serahkan orangnya, memandang kita seprofesi, mungkin gue bisa membiarkanmu tetap hidup.”
“Seorang pembunuh bayaran mengatakan hal seperti ini, menurutmu hal ini bisa dipercaya?”
“Kelihatannya lu sangat memahami pembunuh bayaran. Kalau begitu, biar gue antar lu ke alam baka terlebih dahulu.”
Setelah mengatakan ini, Foxran mengangkat pistolnya dan membidik kening Jacky.
Jacky mengangkat bahunya: “Bisa mati di tangan Foxran adalah sebuah kebanggaan, tembaklah.”
Seketika, terdengar suara yang begitu kencang dari belakang Foxran, diiringi oleh suara yang begitu manis: “Bang, bojomu telpon… Bang, bojomu telpon…”
Sekejap membuat Kezia malu juga kesal, wajahnya memerah sampai ke telinga, dasar Jacky tidak tahu malu, beraninya dia menyimpan nomor kontaknya sebagai istrinya…
Dan mendengar suara yang begitu tiba-tiba, Foxran refleks menoleh dan mendapati ada sebuah ponsel yang diletakkan di atas tumpukan barang bekas, dan suara itu berasal dari sana.
Jebakan! Dia langsung sadar dan menoleh kearah Jacky segera, tangannya juga menarik pelatuk pada saat bersamaan.
__ADS_1
Tetapi, belum sempat menembak, pistolnya sudah terhantam oleh sebuah benda, pistol di tangannya meleset dan menembak dinding. Tanpa menunggunya membidik lagi, sebuah serangan kembali dilayangkan.
“Cari mati!”
Foxran mengumpat lalu mundur satu langkah, dia mengarahkan pistolnya dan membidik ulang sambil menarik pelatuk. Namun ketika dia menarik pelatuk, tangan kanan Jacky sudah terjulur dan mencengkram peredam suara yang terpasang di pistol, dengan satu gerakan pistol tertahan dan tidak bisa menembak.
Setelahnya Jacky memutar pergelangan tangannya, bagaikan sedang bermain sulap, dia melepaskan peredam suara dan jarum pegas pistol.
Tanpa jarum pegas, maka pistol ini sama sekali tidak bisa digunakan.
“Cepat sekali.”
Foxran begitu terkejut, dia tidak pernah melihat orang yang begitu cekatan, bisa mempreteli pistolnya dalam waktu yang begitu singkat, ini jauh lebih pro daripada pembunuh bayaran.
Dia berpikir dengan cepat dan melemparkan pistolnya, lalu mengeluarkan sebilah pisau yang tersemat di pinggangnya dan menyerang leher Jacky.
Jacky menengadahkan kepalanya ke belakang untuk menghindari pisau yang tajam itu, dia melangkah dengan cepat ke depan dan mengangkat bahunya dengan kuat, bahunya membentur dada Foxran dengan kuat. Membuatnya menahan sakit dan mundur beberapa langkah.
“Foxran, menyerahlah. Meskipun pembunuh bayaran yang berada di urutan sepuluh besar pun tidak pantas untuk bertarung dengan gue, mereka saja tidak punya kesempatan, apalagi elu yang berada di urutan belasan.”
“Sebenarnya siapa lu?”
__ADS_1
“Gue kasih tahu juga lu gak akan kenal!”
Jacky hanya menggeleng dan berkata dengan datar.