Guard In Shadow

Guard In Shadow
Chapter 19


__ADS_3

Dan ketika dia menoleh, dia langsung menjerit dengan kencang, karena pengendara motor yang berhelm hitam itu sedang mengayunkan palu dengan kuat ke arah kaca jendela mobilnya.


“Bamm~” mobilnya bukan mobil anti peluru, sehingga kaca pintu pengemudinya langsung hancur begitu menerima pukulan yang begitu keras.


Dia berteriak, dia hanya bisa berteriak tanpa tahu harus bagaimana.


Dan setelah orang itu menghancurkan kaca jendela mobilnya, dia mengeluarkan sebuah pistol air berukuran besar, seperti pistol air yang biasa digunakan oleh anak-anak, lalu menyemprotkannya ke wajah Kezia.


“Aaaaaa…” dia terus mengibaskan tangannya dan meringkuk.


Dan pada saat ini, lampu hijau sudah menyala, motor itu menderu dengan kencang dan langsung melesat dengan cepat.


Orang yang ada di belakang berlarian menghampiri, dari sisi lain ada yang membuka pintu mobil dan melihat, di dunia ini ternyata masih banyak orang baik.


Hanya saja… hanya saja… ketika mereka melihat Kezia yang berada di kursi pengemudi, mereka nyaris dibuat mati ketakutan, karena saat ini rambut Kezia berantakan, wajahnya, rambutnya, tubuhnya, penuh dengan darah yang menetes, sangat menakutkan dan menyeramkan.


Kezia meringkuk dan terus berteriak, sekujur tubuhnya gemetar dengan tatapan yang kosong.


Pejalan kaki di sana menelepon polisi, ada juga yang menanyakan kondisinya, apakah perlu diantar ke rumah sakit, namun Kezia seolah tidak mendengar apa yang mereka katakan, dia tidak hentinya menjerit.

__ADS_1


Air dalam pistol air itu bukanlah darah, melainkan cairan merah yang warnanya sama seperti darah!


Pukul 00.20, tiba-tiba ponsel Jacky bergetar lagi, yang menelepon adalah Kezia.


“Cewek ini jangan-jangan naksir sama gue? Sudah sampai rumah aja masih harus laporan?” kalau dihitung-hitung, bukankah seharusnya Kezia sudah sampai di rumah?


Dia menerima dengan heran, dan suara yang terdengar dari dalam telepon bukan suara Kezia, melainkan suara seorang pria.


“Halo, apakah Anda kenal dengan pemilik nomor ini?”


“Hee… kamu siapa ya? Iya saya kenal dengan pemilik nomor ini, dia adalah bos saya.” Jawab Jacky dengan perasaan yang lebih heran lagi.


“Saya segera tiba.” Tanpa menunggu polisi menyelesaikan ucapannya, Jacky langsung berlari turun ke lantai bawah.


“Presdir kembali diserang!!!


Tentu saja satu sisi dia juga merasa heran, apakah di ponsel presdir tidak ada nomor keluarganya?


Dia turun ke lantai bawah dengan cepat, begitu sampai di depan hotel dia segera memanggil sebuah taksi, saat ini dia sama sekali tidak peduli dengan uang taksi, dia tahu jelas hal mana yang harus menjadi prioritas!

__ADS_1


“Hei, Jack, mau kemana!” supir taksi kenal dengan Jacky, karena di depan Hotel Ferdu selalu ada taksi yang menunggu penumpang di malam hari, dan Jacky selama satu bulan ini hampir selalu piket malam, membuatnya akrab dengan beberapa supir taksi, biasanya mereka sering merokok bersama, sehingga membuat mereka saling mengenal nama masing-masing.


“Gue mau pergi ke Rumah Sakit Persada, cepat, ada urusan mendesak!” Jacky mengenali supir ini, usianya masih cukup muda, sekitar 25 tahun, dan sepertinya dia bukan orang Jakarta, namun kelihatannya sudah menetap lama disini.


“Ada apa? Kenapa tengah malam pergi ke rumah sakit dengan terburu-buru?” anak muda ini merasa heran, kenapa Jacky begitu tergesa-gesa pergi ke rumah sakit? Siapa yang masuk rumah sakit?


“Teman gue digigit anjing, gue mau pergi nengok.” Jacky tidak mengatakan Kezia diserang, masalah ini cukup gawat, dia tidak boleh sembarangan bicara.


Dalam waktu sekejap, tidak sampai setengah jam dia sudah sampai di Rumah Sakit Persada, ketika Jacky turun dari taksi dia memberikan uang 200 ribu pada anak muda itu dan berkata: “Nanti pas gue piket malam temui gue ya!”


Pemuda itu membuka jendela mobil sambil tersenyum, sejujurnya dia tidak berencana memungut bayaran dari Jacky, namun Jacky langsung pergi setelah meletakkan uangnya, sehingga dia sama sekali tidak sempat menolak.


Jacky segera menuju Unit Gawat Darurat yang ada di gedung dua, setibanya di sana dia langsung melihat beberapa polisi yang sedang bertanya pada seorang wanita, sepertinya sedang membuat laporan, dan di depan tangga gedung dua, ada seorang pria tampan berjas yang berdiri di sana, ketika Jacky mendekat, pria itu langsung menatapnya dengan begitu tajam.


Dan polisi juga wanita itu menyadari ada yang datang, sehingga menoleh ke arahnya pada saat yang bersamaan.


“Anu, nama saya Jacky Dinata, tadi ada pak polisi yang menelepon saya, mengatakan kalau bos saya diserang? Dimana bos saya?” ucap Jacky di depan tangga.


“Oh, itu saya yang telepon, kamu datangnya cepat juga.” Seorang polisi langsung berdiri dan berkata.

__ADS_1


“Masa mau ditunda-tunda pak? Dimana bos saya?” Jacky berkata sambil melangkah maju ke depan.


__ADS_2