Guard In Shadow

Guard In Shadow
Chapter 7


__ADS_3

Melihat Leon yang membungkuk dan mengangguk, Jacky mengusap hidungnya, apakah gadis ini begitu  menakutkan?


Dan setelah memastikan posisi Jacky di sini, Kezia mengetatkan rahangnya dan berkata pada Leon: “Keluarlah, di sini sudah tidak membutuhkanmu!”


“Eeee, Presdir, rak dokumen ini…”


“Besok-besok saja baru ganti!”


“Kalau begitu Jacky…”


“Dia tetap di sini! Kamu pergilah, mengerti maksud saya kan?”


“Baik, baik, baik!”


Mana mungkin Leon berani menunda lagi, dia hanya melayangkan tatapan ‘jaga dirimu’, lalu segera keluar.


“Dasar berandal kurang ajar, sekarang sudah jatuh ke tanganku, kita lihat lu bisa kabur kemana!”


Mata Kezia menatap Jacky seolah ingin mencari ekspresi cemas di wajah Jacky.


“Aku sudah di sini, katakanlah, mau bunuh mau siksa, atau menyerahkan seumur hidupku?”


Jacky dengan santai mendekat dan mengangkat gelas yang ada di atas meja dan meminum air di dalamnya.

__ADS_1


“Kau… lu berani pakai gelas gue?”


Kezia kesal dan juga malu, gelas yang baru saja dia minum malah diambil dan diminum oleh Jacky, bukankah ini sama dengan berciuman dengan perantara?


“Waduh, maaf cantik, kalau gak gini aja, besok-besok kamu juga pakai gelas yang sudah kuminum saja gimana? Dengan begitu kita impas kan!”


Jacky tersenyum dengan acuh.


“Kau… kau… dasar tidak tahu malu!”


Kezia sepertinya dibuat kesal oleh sikap Jacky, dia berbalik dan mengambil telepon yang ada di atas meja kerjanya, lalu menelepon sebuah nomor: “Security Jacky ini siapa yang merekrutnya, langsung kirim ke tim satu, biar Henry yang memberi pelajaran padanya!”


Kezia mematikan telepon dengan kesal lalu berkata pada Jacky dengan nada yang galak:”Hei kamu yang bernama Jacky Dinata, gaji Ferdu Group tidaklah mudah untuk didapatkan!”


Ucap Jacky sambil mengerutkan alisnya ketika menyadari niatan Kezia.


“Jelas-jelas ucapanmu yang tidak sopan dan sikapmu yang urak-urakan…”


Entah mengapa ekspresi wajah Kezia terlihat begitu rumit.


“Karena kamu sudah berkata demikian, maka tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, lagi pula ini baru hari pertama kerja, kita bisa berpisah sampai di sini, bye!”


Jacky melambaikan tangannya dan langsung berbalik ingin pergi.

__ADS_1


“Dasar berandal kurang ajar, kau… berhenti!”


Kezia tidak menyangka Jacky akan benar-benar pergi, entah mengapa dia merasa panik dan kesal sampai menghentakkan kakinya, melihat Jacky menghentikan langkahnya, kelopak mata Kezia langsung memerah, dia berkata dengan kesal: “Gaji tim satu jauh lebih tinggi, namun syaratnya kemampuanmu harus memenuhi standar! Air susu dibalas dengan air tuba, sia-sia baik padamu!”


“Kalau begitu terima kasih Presdir, tenang saja, di seluruh Ferdu Group tidak akan ada yang lebih unggul dariku, oh iya, warna pink!”


Jacky terdiam sejenak, dia tidak menyangka Kezia memiliki rencana seperti ini, sehingga berkata sambil tersenyum.


“Hm? Apanya yang warna pink?”


Wajah Kezia terlihat kebingungan.


“Bukan apa-apa, saya pindahkan lemari Anda dulu!”


……


Setelah memindahkan lemari, Jacky menggerakkan alisnya sebelum pergi, memberi isyarat ke arah rok pendek Kezia.


“Kau… pergi sana!”


Wajah Kezia merona sampai telinga dan lehernya juga ikut memerah, akhirnya dia mengerti warna pink yang dimaksud oleh Jacky.


Dan disaat bersamaan terdengar suara benda berserakan, setumpuk dokumen kembali melayang, Jacky segera kabur dengan cepat.

__ADS_1


Di dalam ruangan, jantung Kezia malah tidak hentinya berdegup kencang, ekspresinya terlihat begitu stress, dia sungguh tidak mengerti, dia sebagai seorang presdir kenapa tidak mampu mengendalikan emosinya di hadapan Jacky.


__ADS_2