Habibi Anugrah

Habibi Anugrah
Terbuka satu sama lain


__ADS_3

"mengenai kristal yang ada di kepala... Tidak! Lebih tepatnya di otak Anugrah"


"!!!" Adam dan Gisel terkejut.


"(masih menatap Adam)"


"..." Adam terdiam.


"saya sudah tau Adam... Dari Anugrah sendiri"


"(Adam menatap Habibi)"


Habibi menceritakan mejadian di kebun petani waktu kemarin kepada Adam dan Gisel, saat mendengarnya Adam sanvat terkejut Anugrah mengatakan semua itu.


"apa semua itu benar Adam?"


"iya! Semua itu benar!"


"Deg!"


"hidup Anugrah hanya hitungan waktu"


Adam mengajak Gisel dan Habibi duduk di bangku taman dan dia pun menceritakan penyakit Anugrah.


"Anugrah sudah berfisik lemah sejak dia lahir ke dunia ini"


"..." Habibi mendengarkan.


"hanya gejala penyakit nya belum terlihat, tepat usia 5 tahun Anugrah, sudah muncul gejala... Kalau dia tidak boleh kelelahan atau tidak boleh banyak pikiran. Alm. Ayah ku menjadi dokter pribadi Anugrah dan aku menjadi satu-satunya teman Anugrah, karena kami sodara sepupu aku lebih sering bermain bersamanya.


"..."


"Anugrah itu gadisnya cerita, periang, sering tersenyum, terkadang pendiam juga dan jarang bicara, dan saat dia kesal atau marah dia akan memanggil orang yang membuat dia kesal atau marah dengan nama lengkapnya"


"hmm..." Habibi tersenyum.


"tapi semua itu berubah saat usia 7 tahun" Adam sedih.


"(Habibi menatap Adam)"


"tepat usianya yang ke 7 tahun kondisi Anugrah semakin memburuk, saat itu keluarga kami sedang berkumpul dan aku bersama Anugrah sedang bermain. Anugrah mengeluh kalau kepalanya sakit, dia terus memengangi kepalanya, aku hanya meninggalkan dia sebentar untuk mengambilkan air minum, di telapak tangan Anugrah (batuk, menutup mulit dengan tangan) ada darah!"


"!!!" Habibi terkejut.


"dia batuk darah, hidungnya mimisan dan kepalanya juga mengeluarkan darah, aku langsung mengendong Anugrah dan membawanya ke Ayah ku dan kedua orang tua Anugrah mereka terkejut melihat kondisi Anugrah, kami langsung ke rumah sakit"


"Anugrah masuk ruang gawat darurat! Saat di periksa... Ternyata ada sebuah kristal di otak belakangnya, antara menancap, menempel, tertanam, atau tumbuh"


"(Gisel mengengam tangan Adam mencoba menguatkan dirinya)"


"kenapa tidak di angkat saja kristalnya!" tanya Habibi.


"andai saja bisa!"


"andai?"


"kristal itu seukuran jari kelingking Anugrah, saat Ayah ku akan mengangkat kristal itu, dia tidak bila melakukannya. Anugrah di pindahkan ke kamar rawat inap, lalu Ayah memberitau kami semua... Kalau Anugrah memiliki penyakit misterius yaitu ada krostal di otak belakang nya"


"kami sangat terkejut, bibi (ibu Anugrah) bertanya mengapa tidak di angkat saja kristalnya, Ayah mengatakan 'andai saja bisa'Ayah menjelaskan kalau kristalnya itu menancap atau tertanam di otak Anugrah"


"semua saraf otak Anugrah ada di kristal itu!"


"!!!"


"jika kristal itu di angkat Anugrah akan meningal!" Adam menangis.


"(Habibi meneteskan air mata)" mata bagian kiri.


"tapi jika kristal itu tidak di angkat Anugrah akan menderita dan juga akan meninggal!" Adam memegang kepalanya.


"dan Ayah mengatakan kalau Anugrah sudah di vonis masa hidupnya hanya hitungan waktu! Bukan hari! Bukan minggu! Bukan bulan! Bukan tahun! Tapi waktu! Kau tau! Saat aku mendengarnya aku sangat... Sangat..."


"sangat hancur! Habibi! Setiap jam! Menit! Atau detik! Aku khawatir kalau aku akan kehilangan adikku! Orang tua Anugrah akan kehilangan putrinya! Betapa hancurnya perasaan kami saat itu!" Adam menangis.


"..." Habibi terdiam.


"(Gisel menangis)"


"saat kami membicarakan semua itu, ternyata Anugrah mendengarnya!"


"Apa! Dia mendengarnya?!"


Flash back mulai...


"(Anugrah kecil membuka pintu)"


"Anugrah!" ucap Adam kecil.


"(semua orang melihat Anugrah)"


"hmm..." tersenyum.


"tidak apa... Kalian tidak perlu bersedih... Aku baik-baik saja... Bukan kah itu artinya Allah sangat menyayagiku? Menitipkan kristal ini di dalam kepalaku. Tidak apa... Aku iklas... Aku menerimanya... Aku tidak keberatan... Aku menerima kristal ini... Jadi kalianjuga harus menerimanya" ucap Anugrah kecil, tersenyum me arah keluarganya.


"(ibu Anugrah memeluk Anugrah dan mulai menagis)"


"jangan menangis... Semua baik-baik saja" menenangkan ibu dan keluarga.


"(Anugrah tersenyum)"


"..." Adam menatap Anugrah dan menangis.


Flash back selesai...


"..." Habibi terdiam.


"apa kau bisa membayangkan nya? Anak berusia 7 tahun mengatakan semua itu! Bagaimana perasaan mu Habibi?!" tanya Adam.


"..."


"sakit bukan!?"


"(menatao Adam)"


"Anugrah yang masih kecil mengatakan semua itu untuk menenangkan kami, kami masih berpikir! Kami masih berusaha untuk tegar! Tapi belum bisa... Sedangkan yang menderita penyakit nya sudah bisa menerima kondisi nya"


"(Adam menagis)"


"..." Habibi menutup mata dan menagis.


Percakapan Habibi mulai


"..."


"setelah memdengar cerita dari Adam... Hati saya sangat hancur..."


"kenapa tidak! Gadis yang kau sukai sedang sekarat! Dan hidupnya hanya hitungan waktu, bisa kapan saja Anugrah meninggal"


"haaa..." menghelan napas dengan berat.


"..."


Percakapan Habibi selesai


Adam terus bercerita kepada Habibi mengenai penyakit Anugrah, dari Ayahnya yang merawat Anugrah sampai Ayahnya meninggal, Anugrah yang berobat ke berbagai kota dan negara dan masih banyak lagi. Sedangkan di apartemen Habibi, Anugrah terbangun dan melihat di meja samping tempat tidur ada sarapan dan sebuah catatan.


"kalau sudah bangun makanlah sarapannya dan kau boleh memakai pakaian saya yang lain, tetaplah di apartemen jangan kemana-mana, saya akan segera kembali" isi catatan dari Habibi.


Anugrah memakan sarapan yang habibi masak untuknya, lalu mandi setelahnya dia berkeliling apartemen dengan Banny mengikutinya di belakang.


Ruang tamu...


"(Anugrah melihat vas kaca yang ada di meja)"


"..."

__ADS_1


Flash back mulai...


Di ruang tamu


"saya kan sudah bilang jangan banyak bergerak! Kau belum sembuh!"


"aku bosan duduk saja"


"dengarkan kata doktermu ini"


"hmm..."


"(Anugrah berdiri dan berjalan ke arah dapur)"


"mau kemana?" Habibi berdiri dan menghalangi Anugrah.


"aku mau ke dapur untuk membuat sarapan untuk kita"


"tidak duduk saja!"


"oh ayolah aku sudah mendingan" melewati Habibi.


"(Habibi menatap vas kaca dan mengesernya agar jatuh)" mengunakan kekuatannya.


"(vas kaca jatuh ke lantai)"


"(melihat ke arah lantai)"


"kok vasnya bisa jatuh?"


"...yaa sudah kau bersihkan saja..."


"hah! Saya yang bersihkan?"


"iya... Kalau ke injak kan bahaya, aku akan ke dapur" pergi ke dapur.


"(bunyi hp Anugrah)"


"Hp mu berbunyi angkat sanah!"


"nanti saja..."


"angkat! Mungkin saja penting!"


"haaa... Baiklah..."


"(mengangkat telepon dari seseorang)"


"(Habibi duduk di sebelah Anugrah)" sofa yang sebelahnya yang satu, anugrah di yang panjang.


"(Anugrah mulai merasa kesal dan menutup telepon)"


"ada apa?"


"aku akan pergi keluar"


"mau kemana?" menahan tangan Anugrah.


"aku ingin menyelesaikan apa yang membuat ku kesal!"


"(menahan tangan Anugrah)"


"kau baik-baik saja?"


"tidak! Aku tidak baik! Aku kesal! Mereka terus menganggu ku! Aku tidak mau memperdulikannya tapi! Mereka terus menganggu mu!"


"maksud saya... Kakimu..." melihat ke arah bawah.


"(Anugrah melihat ke arah bawah)"


Anugrah yang tidak memakai sandal untuk di dalam ruangan menginjak pecahan vas kaca.


"(Anugrah terdiam melihat kakinya, telapak kakinya tertusuk pecahan kaca)"


"tahan" mengendong Anugrah.


Habibi mengambil kotak p3k dan mengobati luka di kaki Anugrah.


"sudah selesai"


"..."


"(melihay Anugrah)"


"kalau kau punya masalah... Kau bisa memberitau saya... Saya akan membantumu..."


"terimakasih..." menatap Habibi.


Flash back selesai...


Anugrah yang ada di ruang tamu mengigat semua kebersamaannya bersama dengan Habibi, Anugrah terduduk di lantai dan mulai menangis.


Di taman kota...


Adam selesai bercerita, mereka bertiga terdiam, samapi...


"jadi itu alasan anda mengatakan semua itu kepada saya dan sangat menjaga Anugrah"


"iya dan sampai sekarang orang tua Anugrah masih di luar negeri memcari obat untuk Anugrah"


"..."


"ada satu hal lagi Habibi..."


"apa itu?"


"beberapa dokter dari luar negeri yang pernah merawat Anugrah mengincar dirinya"


"apa?!!"


"mereka mengincar kristal yang ada di otak Anugrah! Karena itu aku sanvat membatasi Anugrah berteman!"


"kenapa kristal itu di incar?"


"lristal itu memiliki nilai uang yang besar"


"apa?!!"


"dan anehnya kristal itu bertambah besar... Bertambah usia Anugrah kristal itu pun bertambah besar"


"(Habibi tidak habis pikir)"


"Habibi... Maukah kau juga menjaga Anugrah?"


"tentu saja... Saya akan menjaga kebahagiaan kita semua"


"terimakasih... Teman"


"..."


Selesai berbicara dengan Adam (menceritakan tentang lenyakit Anugrah) Habibi lulang ke apartemen, sebelumnya dia berbelanja bahan makana. Saat Habibi masuk ke apartemennya ia melihat Anugrah sedang terduduk di lantai sambil menangis (wajahnya di tutup kedua tangannya) Habibi langsung menghampiri Anugrah dan memeluk Anugrah, menenangkan dirinya agar tenang.


"(melepas pelukan)"


"(Anugrah menghapus air matanya)"


"cup" Habibi mencium mata Anugrah.


"Deg"


"(wajah Anugrah memerah)"


"kau baik-baik saja? Matamu samapi sedikit memerah... Apa kau terus menangis?" mengelus wajah Anugrah.


"..." Anugrah diam.

__ADS_1


Habibi mengendong Anugrah dan berjalan me arah kamar, Habibi menduduk kan Anugrah di tempat tidur dan menguruh Anugrah menunggunya, Habibi pergi untuk mandi, selesai mandi Habibi menghampiri Anugrah ia duduk di samping Anugrah.


"(sama-sama diam dan tidak berbicara)"


"saya sudah tau semuanya dari Adam..."


"(Anugrah menatap Habibi)"


"Anugrah... Izinkan saya melindungi, menjagamu dan mengobati mu juga" menatap Anugrah.


"..."


"saya serius!"


"apa kau mau menghabiskan waktu mu dengan gadis yang sedang sekarat ini?"


"iya"


"kau sudah tau semua rahasiaku... Apa aku boleh tau rahasiamu?"


Anugrah mengizinkan Habibi melindungi, menjaganya dan bahkan mengobatinya. Habibi yang mendengarnya senang dan ia pun memberi tau rahasia dirinya.


"saya terlahir dengan memiliki kemampuan istimewa, selain mewarisi kekuatan keluarga saya..."


"(Anugrah mendengarkan)"


"penglihatan, pendengaran bahkan indera lain milik saya 7x lebih tajam dari manusia normal, selain itu saya bisa di bilang seorang Cenayang"


"Cenayang... Itu artinya kau bisa melakukan banyak hal kan?"


"ya... Begitulah..."


"(Anugrah mengerti)"


"sekarang saya akan bertanya satu hal"


"???"


"jadi... Kau pun menyukai saya..." menatap Anugrah.


"Blusss" wajah Anugrah memerah.


"Anugrah..." mendekati Anugrah.


"...mmm...iiyyaa...aku juga menyukaimu..." ucap Anugrah dengan malu-malu.


"hmm..." tersenyum.


"terimakasih... Tapi saya tau kau pasti tidak mau memiliki hubungan pasangankan?"


"(menatap Habibi)"


"kalau begitu... begini saja..."


"(mengulurkan tangan)"


"???"


"hay... Nama saya Habibi maulana royal crystal flower lily, mau kah kau menjadi sahabat saya?"


"hahehehe..." Anugrah tersenyum dan tertawa kecil.


"(menerima uluran tangan)"


"hai juga... Nama ku Anugrah nurlatifah, aku mau menjadi sahabatmu"


"(saling tersenyum)"


Sejak hari itu saya dan Anugrah menjadi sahabat, kami memang saling suka samalain tapi Anugrah tidak ingin memiliki hubungan berpasangan karena dia tidak ingin menyakiti perasaan saya, saya menghormati keinginan Anugrah. Anugrah menjadi terbuka kepada saya, begitu juga dengan saya, apapun yang kami rasakan atau alami kami saling bertukar pikiran. Kami menjadi dekat kembali, malahan saya sering sengaja menunjukkan kedekatan kami di depan umum, bahkan di hadapan murid-murid saya yang lain.


Jam pelajaran Habibi... Membuat kerajinan tangan.


"profesor!"ucao salah satu mahasiswa.


"Hm?"


"sebenarnya apa hubungan antara kau dan Anugrah?" ucap salah satu mahasiswi.


"(Habibi dan Anugrah saling melihat)"


"hubungan antara kami?"


"(mendekati Anugrah)"


"..."


"(meletakan satu tangan di kepala Anugrah dan dagu di atas tanganya)"


"(Anugrah sedikit terteken)"


"(semua murid bengong)"


"kami berdua sahabat" ucap Habibi.


"hah!!! Sahabat???"


"iya"


"oi! Berat! Singkirkan tanganmu!"


"..." Habibi tidak bergerak.


"(Anugrah menduk dan berpindah)"


"adudu... Anugrah!"


"apa?"


"kalau saya jatuh bagaimana?"


"biarin..."


"Eeee..."


"kau likir kepalaku ini tempat sandaran?!"


"iya..." goda Habibi.


"Habibi maulana..." menatap Habibi dengan melotot.


"iya sahabatku sayang..." menatap Anugrah.


"(semua murid-murid Habibi bengong)"


"berhenti mengodaku!"


"baiklah... Saya akan berhenti..."


"(mengoleskan warna di wajah Anugrah)"


"hahh!??"


"setelah kau menangkap saya... Hahaha" Habibi berlari.


"AHabibi awas ya!" Anugrah mengejar Habibi.


Habibi dan Anugrah kejar-kejaran di halaman luar kelas kerajinan tangan, semua murid-murid Habibi tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Kedekatan Habibi dan Anugrah tergambarkan, bahkan Habibi tertawa dan tersenyum. Semua orang yang melihat pun tidak percaya dengan yang mereka lihat tapi sebagian dari mereka juga senang melihat kebersamaan Habibi dan Anugrah.


"(Habibi dan Anugrah masih kejar-kejaran)"


"(Habibi menangkap Anugrah dan mereka jatuh bersama)" Anugrah menabrak Habibi yang tiba-tiba berhenti.


"..." saling melihat.


"(tersenyu bersama)"

__ADS_1


"Hahaha...hahaha" tertawa bersama.


"..." saling menatap.


__ADS_2