
Sudah seminggu Habibi merawat dan menjaga Anugrah, Anugrah belum sadar-sadar sampai sekarang. Hari ini adalah hari ke8 Habibi merawat dan menjaga Anugrah.
"(Habibi selesai memeriksa Anugrah)"
"knok knok knok" mengetuk pintu.
"silahkan masuk" ucap Habibi.
"bagaimana kondisi Anugrah? Habibi"
"masih belum ada reaksi..."
"(Adam menghampiri Anugrah dan memeriksanya)"
"haaa..." menghelan napas.
"kau benar... Anug (mengelus kepala) cepatlah siyuman"
"Habibi... Boleh aku bertanya"
"apa itu?"
"biolamu sekarang ada dimana?"
"kenapa anda membahas itu"
"aku hanya bertanya ada diman itu sekarang?"
"..."
"Habibi..."
"ada di rumah...kenapa anda bertanya?"
"aku bukan mengingatkan insiden itu... Tapi jangan membuang biola itu"
"kenapa? "
"yang aku tau... Anugrah tipekal orang yang tidak mau barang kesayangan seseorang hancur terutama hancurnya karena dirinya... Dia pasti akan terus menanyakannya (biola yang hancur) dan akan berusaha untuk memperbaiki atau mencari barang yang sama, jadi jangan di buang biola itu"
"baiklah..."
"Habibi ajak Anugrah jalan-jalan ke luar"
"apa tidak apa-apa?"
"tidak apa-apa... Biarkan dia mendapat udara segar"
"baiklah"
Habibi mengendong Anugrah dan mendudukannya di kursi roda, lalu pergi ke taman yang ada di samping rumah sakit, Habibi membawa Anugrah ke arah pohon besar yang banyak bunga.
"(menatap Anugrah)"
"..."
"(memegang tangan Anugrah dan mengelusnya agar hangat)"
"tubuhmu dingin nona nurlatifah..."
"..."
"saya tau anda mendengar apa yang tadi saya dan Adam bicarakan"
"..."
Author : "yang saya dengar katanya kalau orang koma itu bisa mendengar apa yang kita bicarakan kepadanya walau orang yang koma itu tidak berbicara atau berinteraksi tapi mereka mendengar dengan sangat baik, makanya orang yang sedang koma sering di ajak ngobrol agar cepat sadar"
"saya tidak membuang biola itu... Tapi saat melihat biola itu saya terus mengigat insiden yang mengakibatkan dirimu seperti ini, saya minta maaf nona nurlatifah"
"..."
"huh... " mengigat sesuatu.
"aku suka lagunya profesor" Anugrah tersenyum.
"anda ingin saya menyayikannya? "
"apa boleh?"
"yaa... Kalau anda mau"
"mau..."
"..."
"(menyayikan lagu mine)"
"..." mengigat apa yang Anugrah katakan.
"(menatap Anugrah)"
"hhh...mmm...hhmm...mmhh...hmm...mhh" Habibi bersenandung lagu mine"
"(Anugrah mendengarkan)"
Selama merawat Anugrah, Habibi menjalin ikatan semakin dalam dengan Anugrah, lambat laut ia merasakan perasaan yang tak pernah ia rasakan selama ini, yaitu ia mulai menyayanggi Anugrah.
"(Gisel sedang menyisir rambut Anugrah)"
"emm... Kak Gisel" Habibi baru masuk kamar Anugrah.
"ehk...Habibi..."
"maaf saya tidak tau kalau kak Gisel sedang menganti pakaian nona nurlatifah" Habibi menunduk.
"tidak apa... Aku sudah menganti pakaiannya kok, sekarang hanya sedang menyisir rambut Anugrah dan memasang perban baru, kemari bantu kakak"
"(Habibi menghampiri)"
"tolong pegang tubuh Anugrah"
"(memegang tubuh Anugrah)"
"(Gisel menyelesaikan sisirannya dan memasang perban baru di kepala Anugrah)"
"sudah selesai, baringkan lagi dia"
"Habibi mebaringkan tubuh Anugrah perlahan)"
"mmm..." mengelus pipi Anugrah.
"baiklah jaga dia kakak harus pergi ke kamar pasien yang lain"
"baik"
"(Gisel pergi)"
"tidak terasa... Ini sudah tiga minggu anda belum siyuman juga nona nurlatifah" menatap sedih.
"apa saya harus melakukan itu? Mengalirkan energi spiritual saya kepada Anugrah? Tidak ada salahnya untuk mencoba"
"(Habibi mendekatkan wajahnya ke wajah Anugrah)"
"..."
"(menempelkan keningnya ke kening)"
Habibi yang menempelkan keningnya ke kening Anugrah lalu menyalurkan energi spiritualnya ke tubuh Anugrah, saat menyalurkan energi spiritualnya Habibi merasakan perasaan yang belum pernah ia rasakan yaitu... Rasa sayang, peduli, khawatir, takut kehilangan dan masih banyak lagi setelah ia kehilangan sahabatnya, sekarang ia merasakan perasaan itu lagi dan itu kepada Anugrah.
"(Habibi fokus menyalurkan energi spiritual)"
"..."
Percakapan Habibi mulai
"semua perasaan itu sudah tidak perna ada lagi semenjak saya kehilangan sahabat saya" merasa sedih
"tapi... kehadiran Anugrah mengembalikan lerasaan itu"
""dimana saya merasakan mulai menyayangi Anugrah, peduli kepadanya, mengkhawatirkan dia, takut kehilangan dirinya... Dan masih banyak lagi yang saya rasakan"
"(mengigat Anugrah)"
Percakapan Habibi selesai
Habibi yang masih fokus menyalurkan energi spiritual kepada Anugrah...
"..." Anugrah masih belum siyuman.
"nona nurlatifah bangunlah... Anda sudah sangat lama tidak sadarkan diri..."
"saya mohon... Banvunlah..."
"Anugrah..." ucap Habibi dengan lembut.
"(Habibi menangis)"
"..."
"tes" air mata Habibi menetes ke wajah Anugrah.
"(tangan Anugrah mulai bergerak)"
"mmm..." Habibi masih fokus menyalurkan energi spiritual.
"(mata Anugrah berkedu)"
"..." Habibi masih fokus dan terus meneteskan air mata.
"(Anugrah membuka mata perlahan)" merasakan ada yang menetes ke wajahnya.
"..." Habibi masih fokus.
"(Anugrah menatap Habibi yang meneteskan air mata)"
"Haa...bbi...bii..." suara Anugrah pelan.
"Huh?!!"
"(menjauhkan keningnya dari kening Anugrah)"
"Anugrah..."
"(Anugrah tersenyum)" walau masih kondisi lemas.
"(Habibi menghapus air mata)" baru sadar kalau dirinya menangis.
"..." menatap Anugrah.
"(Anugrah mengangkat tangan kanannya perlahan dan memnempelkan jari telunjuknya di bibirnya)"
__ADS_1
"aku akan menjaga rahasia ini kalau kau barusan menangis" ucap Anugrah dalam hati.
"Huh??!" Habibi yang membaca pikiran Anugrah.
"(Anugrah mengangguk pelan)"
"hm..." mengangguk.
Habibi langsung memeriksa kondisi Anugrah, setelahnya dia memangil Adam dan Gisel. Saat Adam dan Gisel masuk ke kamar rawat Anugrah, mereka berdua langsung memeluk Anugrah dan menangis haru karena bahagia Anugrah akhirnya sadar dari komanya, Habibi yang melihat dari belakang juga merasa senang melihatnya.
"(Habibi tersenyum)"
"..." Anugrah melihat ke arah Habibi.
"Huh???"
"(Anugrah tersenyum)"
"hmm..." Habibi tersenyum.
Keesokan Harinya Bunda Habibah dan Ayah maulana datang ke rumah sakit membesuk Anugrah, saat melihat Anugrah Bunda langsung memeluknya dan menangis haru Ayah menenangkan Bunda agar tidak terlalu kencang memeluk Anugrah, hari berikutnya yang membesuk Anuhrah adalah Adit dan Siti. Sudah seminggu setelah siyuman kondisi Anugrah belum pulih total ia masih di rawat di rumah sakit.
"knok knok knok" mengetuk pintu.
"masuk" ucap Anugrah.
"(membuka pintu dan masuk)"
"hup hup hup" melompat.
"(melompat ke pelukan Anuvrah)"
"(menangkap)"
"Banny... "
"(Banny manja di pelukan Anugrah)"
"..." Anugrah senang.
"dia benar-benar merindukan anda nona nurlatifah..."
"kelinci yang lainnya"
"sama... Mereka semua merindukanmu..."
"terimakasih profesor"
"untuk apa?"
"karena mau merawat dan menjagaku..."
"hm(iya)"
"dan aku minta maaf"
"untuk apa?"
"(Anugrah mulai meneteskan air mata)"
"!!!"
"nona nurlatifah ada apa?" menghampiri Anugrah.
"karena aku...biola kesayangan mu hancur..." Anugrah menangis.
"(terdiam)"
"maafkan aku..."
"..."
"sudahlah jangan di pikirkan..."
"tapi tetap saja! Itu adalah biola kesayangan mu! Kenangan mu bersama sahabatmu! Karena aku biola itu hancur sekarang"
"ini bukan salah anda"
"(Anugrah menatap Habibi dengan masih menangis)"
"(duduk di samping Anugrah)"
"tidak apa..." menghapus air mata Anugrah.
"apa kau membuangya?!"
"...tidak..."
"kau tidak membuangya kan?"
"tidak... Biolanya masih ada..."
"dengarkan saya"
"(menatap Habibi)"
"ini bukan salahmu, itu kecelakaan dan yang harusnya meminta maaf adalah saya... Karena biola saya... Kepala anda masih di perban sekarang... Maaf..."
Habibi menceritakan apa yang terjadi setelah Anugrah jatuh koma dan mengenai biola miliknya yang ia simpan, mendengar kalau biola itu di simpan, Anugrah sedikit tenang bahkan ia meminta Habibi untuk membawanya kepada Anugrah, awalnya Habibi menolak karena biola itu dia terus teringat insiden yang menimpa Anugrah sebaliknya Anugrah terus memohon meminta Habibi membawa biola itu, pada akhirnya Habibi mengiyakannya.
Besoknya Habibi benar-benar membawa biolanya yang hancur, saat di tunjukan kepada Anugrah, Anugrah sangat sedih nelihat biola yang indah itu hancur (terutama karena dirinya) Anugrah menyentuh biola itu dengan lembut.
"..." menatap Anugrah.
"bagaimana kepala anda?"
"sudah tidak terlalu sakit" tersenyum.
"(mendekati Anugrah dan mengelus kepalanya)"
"huh?" menatap Habibi.
"saya senang dan bersyukur... Karena anda baik-baik saja nona nurlatifah"
"bluss" wajah Anugrah memerah.
"anda salah satu orang yang di berikan keajaiban dari Allah..."
"maksudnya?"
"biasanya orang yang kepalanya di pukul oleh benda keras, kebanya kan akan langsung meninggal..."
"Deg!"
"tapi ada juga yang hanya cedera dan ada yang baik-baik saja"
"(Anugrah terdiam)"
"dan anda adalah orang yang beruntung karena masih di beri kesempatan, hanya cedera walau harus koma selama 3 minggu"
"..."
"anda ini kepala empuknya?"
"(Anugrah cemberut)"
"(Anugrah mencubit pinggang Habibi)"
"aow! auuwww! Sakit nona nurlatifah!"
"(Anugrah mengebungkan pipinya dan memalingkan wajahnya)"
"hmm..." tersenyum.
"manisnya... Meskipun anda sedang cemberut, anda masih sangat mengemaskan... Kelinci kecilku..." ucap Habibi dalam hati.
Percakapan Habibi mulai
"(Habibi tersenyum)"
"Huh!?" melihat ke arah pembaca.
"hahehe..." tertawa.
"yaa... Mau bagaimana lagi... Saya sangat suka mengoda Anugrah dia benar-benar mengemaskan..."
"mau saat dia memakai kerudung atau pun tidak memakai kerudung... Anugrah sangat cantik..."
"Hah?!"
"iya saya tau... Sebenarnya Anugrah tidak menunjukan auratnya kepada orang yang bukan muhrimnya, tapi di sinih kondisi Anugrah... Kepalanya yang sedang cedera dan belum sembuh, malahan kepalanya masih sering mengeluarkan darah..."
"jadi untuk sementara waktu Anugrah tidak memakai kerudung (gunta-ganti perban di kepala karena selalu sudah basah karena darah) awalnya dia mengirai rambutnya tapi kak Gisel tidak mau rambut Anugrah terurai dan di lihat semua orang, jadi kak Gisel mengepang rambut Anugrah agar tidak terurai"
"jujur Anugrah yang rambutnya di kepang..."
"juga terlihat cantik"
"(tersenyum dan mengigat Anugrah)"
Percakapan Habibi selesai
Sudah 4 minggu Anugrah di rawat di rumah sakit dan hari ini Anugrah sedang melakukan terapi, terapi yang Anugrah jalani adalah untuk mensetabilkan tubuhnya karena kepalanya yang cedera dia tidak bisa keluar kamar karena kepalanya terus mengeluarkan darah dan dia terus mendapat donor darah dari Habibi. Dan hari ini alhamdulillah kepala Anugrah tidak mengeluarkan darah lagi, sekarang makanya dia akan melakukan terapi.
"(Anugrah mencoba berdiri)" Anugrah sedang duduk awalnya.
"..." Gisel dan Habibi melihat Anugrah.
"(Anugrah berhasil berdiri tegak)"
"(Anugrah tersenyum)"
"kau berhasil Anug" ucap Gisel bahagia.
"sekarang berjalan perlahan menuju kak Gisel Anug" ucap Adam.
"(Anugrah melangkah perlahan menuju Gisel)" dengan masih di rangkul Adam.
"hmm..." Habibi tersenyum.
"(Anugrah berhasil berjalan kembali)"
Habibi yang melihat Anugrah sudah bisa berdiri dan berjalan kembali merasa senang dan perawatan yang dia berikan berhasil sedikit memulihkan Anugrah. Saat masih membantu Anugrah terapi, Adam dan Gisel di pangil untuk melakukan operasi ginjal pasien kecelakaan, Adam dan Gisel berpamit kepada Anugrah dan Habibi. Anugrah melanjutkan terapinya bersama Habibi, 3 menit sudah berlalu Anugrah yang sudah selesai terapi sekarang kakinya sedang di pijat oleh Habibi, awalnya Anugrah tidak mau Habibi memijat kakinya karena tidak enak kepadanya sebaliknya Habibi tidak keberatan.
Selama Habibi memijat kaki Anugrah, Anugrah terus memandang ke luar jendela, Habibi yang menyadarinya langsung bertanya kepada Anugrah.
"apa anda ingin keluar?"
"huh?!"
"(menatap Anugrah)"
__ADS_1
"mmm... Yaa aku ingin, tapi kan kak Adam dan kak Gisel pasti melarang aku untuk keluar..." Anugrah menatap luar jendela.
"..." Habibi menatap Anugrah.
"haaa... Boleh..."
"(Anugrah melihat Habibi)"
"anda boleh keluar? Apa mau?"
"(tersenyum) iya aku mau"
Habibi membantu Anugrah untuk duduk di kursi roda dan mereka pergi ke taman rumah sakit (untuk menghirup udara segar) Habibi memilih tempat yang ada pohon besar yang di tengah-tengah rumput dan bunga-bunga, Anugrah yang duduk di kursi roda dan merasakan suasana di taman rumah sakit.
"(menarik napa dan menghembuskan napas)"
"rasa yaa... Nyama..." tersenyum.
"akhirnya bisa keluar dari kamar pasien juga" Anugrah meregangkan tubuhnya.
"kayaknya seneng banget yaa?"
"ya iyalah! Senang akhirnya bisa keluar juga, rasanya rumek! dan jenuh! di dalam kamar terus"
"memangnya anda selalu masuk-keluar rumah sakit?" Habibi penasaran.
"(melihat Habibi)"
"..."menunggu jawaban.
"yaa... itu benar" sambil tersenyum melihat Habibi.
"!??"
"kenapa malah tersenyum?"
"terus aku harus bersedih?"
"..."
"aku menerimanya..."
"menerima?" penyakit misterius.
"yaa... Aku masuk-keluar... keluar-masuk... Rumah sakit... di rawat... dan masih banyak lagi..."
"kenapa anda masih bisa tersenyum dan ceria seperti ini?"
"emm... entahlah... Aku tidak pernah merasa sedih dengan kondisi ku..."
"(tersenyum ke arah Habibi)"
"..." menatap Anugrah.
Percakapan Habibi mulai
"..." terdiam.
"saat saya mendengar Anugrah mengatakan kalau dia sering masuk-keluar rumah sakit dan mengatakannya dengan tersenyum"
"saya tidak habis pikir... Dia tetap bisa tersenyum, tertawa, walau dirinya tau fisiknya lemah, masuk-keluar rumah sakit, di rawat, selalu melakukan terapi dan masih banyak lagi..."
"..."
"sekarang saya mengerti kenapa Adam sangat protektip dan meminta saya menjaga Anugrah di universitas..."
"karena fisik Anugrah yang lemah dan tidak boleh kelelahan..."
"..." terdiam.
Percakapan Habibi selesai.
Habibi terus memandang Anugrah yang menutup mata, merasakan udara segar di taman rumah sakit.
"(memandang Anugrah)"
"..." Anugrah membuka mata.
"syuuuuuuu..." hembusan angin sejuk.
"hmm... Sejuknyaa..." Anugrah merasakan sejuknya angin.
"(Habibi pun menikmati angin sejuk juga)"
"..."
"(kelopak bunga lily terbang tertiup angin)"
"..." Anugrah melihat kelopak bunga terbang tertiup angin.
"(Anugrah menangkap kelopak bunga lily)"
"???" Habibi menatap Anugrah.
"(Anugrah memegang kedua ujung kelopak dan menempelkan bibirnya di tengah-tengah kelopak bunga seakan akan meniup peluit)"
"..." Habibi menatap Anugrah.
"(Anugrah meniup kelopak bunga)"
"(suara suling dari kelopak bunga)"
"Hah?!"
"(Anugrah bermain suling mengunakan kelopak bunga lily dan lagu yang dia mainkan karena susayang)"
Habibi yang melihat Anugrah bermain suling mengunakan kelopak bunga lily dan suara yang di hasilkan sangat merdu, Anugrah yang menutup mata sambil memainkan suling mengunakan kelopak bunga lily.
"(Anugrah bermain suling)"
"mmm..." Habibi mendengarkan.
Percakapan Habibi mulai
"saat mendengar alunan musik yang Anugrah mainkan sangat merdu... Saya terpukau dengan suara suling yang di mainkannya, saya terus menatap Anugrah dan mendengar suara misik yang di mainkan"
Percakapan Habibi selesai
Anugrah masih memainkan suling, suara merdu yang di mainkan oleh Anugrah (bermain suling dari kelopak bunga lily) terdengar oleh semua orang yang ada di taman rumah sakit dan yang ada di gedung rumah sakit pun mendengar juga, semua orang menikmati alunan musiknya dan merasa tenang.
"(Anugrah berhenti main suling)"
"bagaimana anda melakukannya?"
"huh? Entahlah... Aku bisa sendiri"
"Hah? Gak masuk akal..."
"tapi buktinya memang begitu... "
"..."
Tidak terasa hari pun menuju sore hari, Anugrah masih di taman rumah sakit, Habibi dalam menghampiri Anugrah (Habis menerima telepon) Anugrah yang mengelus Banny di pangkuannya terus menatap lagit.
"sudah sore... Kita kembali ke kamarmu yaa"
"hm..." Anugrah mengangguk.
Habibi dan Anugrah kembali ke kamar pasien (rawat inap Anugrah) di dalam kamar Anugrah terus memandang ke arah keluar jendela, memandang lagit.
"apa yang anda lakukan?" Habibi masuk ke dalam.
"(melihat ke arah Habibi)"
"saya sudah bilang untuk istirahat, kenapa anda malah berdiri di sana"
"(Anugrah berjalan pelan ke arah tempat tidur)"
"auk!!" memegang kepala.
"nona nurlatifah" Habibi menghampiri.
"aammm... Aku baik-baik saja..."
"yakin?"
"ya..."
"(Anugrah tersandung dan kehilangan keseimbangan)"
"gbruk!" suara terjatuh.
"(Anugrah menatap Habibi)"
"(Habibi menatap Anugrah)"
Saat Anugrah terjatuh Habibi menangkapnya, tapi ia ikut kehilangan keseimbangan dan ikut terjatuh. Posisi jatuh mereka, Anugrah terjatuh di pelukan Habibi dan Habibi menangkap Anugrah (posisi Habibi di bawah dan Anugrah di atas) mereka berdua masih saling bertatapan dan tidak bersuara sedikit pun sampai Anugrah merasakan sakit kembali di kepalanya, Habibi tersadar.
"(Habibi mengendong Anugrah dan merebahkannya di tempat tidur)"
"(Anugrah menahan rasa sakit)"
"(Habibi langsung memeriksa Anugrah)"
5 menit kemudian...
Habibi yang sudah memeriksa Anugrah dan sekarang Anugrah sudah meminum obatnya.
"(selesai minum obat)"
"merasa lebih baik?"
"yaa..."
"istirahatlah..."
"hm..."
"(Anugrah berbaring)"
"selamat malam profesor" Anugrah tidur.
"yaa... Selamat malam..."
"(Anugrah tertidur lelap)"
"(duduk di samping Anugrah)"
"zzzzzz"
"..." menatap wajah tidur Anugrah.
__ADS_1